
Seperti biasa pukul 17:00 WIB Aiden sudah siap untuk kembali kerumah. Sejak kehadiran triplets, Aiden lebih memilih untuk membawa kerjaannya pulang dari pada ia harus menghabiskan waktunya di kantor seorang diri. Kalau dirumah kan dia bisa sambil memantau orang-orang tersayangnya secara langsung tanpa terhalang layar monitor.
Aiden langsung menancapkan gas mobilnya membelah jalanan yang sedikit longgar. Hingga mobil Ferrari LaFerrari Aperta berwarna hitam berhenti di dalam garasi rumahnya.
Para art yang dilalui oleh Aiden menunduk hormat dan ada salah satu artnya sudah membukakan pintu untuk dirinya.
Aiden dengan langkah tegap memasuki rumah tersebut bertepatan dengan triplets yang baru keluar dari ruang dapur. Aiden memincingkan matanya kala melihat kaos ketiganya tengah terangkat untuk membantu mereka membawa barang yang entah Aiden tak ketahui.
Aiden berdehem dan berhasil membuat triplets tersandar akan kehadirannya.
"Hay Dad," sapa ketiganya.
"Hay juga sayang. Anak Daddy bawa apa sih kok harus disembunyikan di kaos kalian?" tanya Aiden penuh selidik.
"Oh itu cokl... AW sakit bang!" Kaki Edrea dengan keras diinjak oleh Erland supaya sang Adik tak membocorkan apa yang tengah mereka bawa.
"Kita gak bawa apa-apa kok Dad."
Aiden memutar bola matanya malas, "Orang gila pun tau kalau kalian saat ini lagi menyembunyikan sesuatu di kaos kalian. Emang kalian pikir Daddy kalian ini buta. Dasar anak piyik," batin Aiden.
"Coba sini biar Daddy lihat." Mereka bertiga nampak mengeratkan dekapannya dengan barang di kaos mereka.
"Ini bukan apa-apa Daddy. Udah ih Daddy minggir sana. Daddy disini cuma menghalangi jalan kita tau. Mending Daddy ke kamar terus mandi sana badan Daddy udah bau banget tuh hampir sama dengan bau bunga raflesia," ucap Erland. Aiden memelototkan matanya.
"Hey Daddy gak bau ya. Kalau gak percaya cium Daddy sini." Triplets memundurkan tubuhnya sembari menggelengkan kepalanya serempak.
Aiden yang gemas pun menghampiri mereka dan langsung memeluk tubuh triplets sebelum ketiga anaknya tersebut berusaha berlari menghindari dirinya.
"Nih nih nih Daddy gak bau kan?" Triplets yang berada dipelukan Aiden pun menutup hidungnya menggunakan satu tangannya.
"Daddy ih lepasin," berontak Azlan namun tak menggoyahkan pelukan Aiden yang begitu erat.
"Gak mau. Sebelum kalian kasih tau Daddy apa yang kalian bawa." Mereka bertiga diam sembari memikirkan strategi apa supaya Aiden bisa melepaskan pelukannya. Namun sepertinya strategi mereka kalah cepet dengan ide Aiden. Tanpa menunggu lama Aiden langsung meluncurkan aksinya dengan menggelitiki tubuh anak-anaknya.
"Hahahaha Daddy stop geli," ucap mereka bersautan hingga tak mereka sadari genggaman tangan yang tadi mereka gunakan untuk menyembunyikan sesuatu pun terlepas dan seketika barang yang mereka bawa tadi tumpah berserakan kebawah.
Aiden melongo melihat sekitarnya. Sedangkan disisi lain, Della yang tadinya memperlihatkan interaksi antara anaknya dan juga Aiden sembari ikut tertawa kini berubah menjadi muram.
"Triplets!" teriak Della.
Triplets dan juga Aiden pun serempak menoleh kearah belakang tepat dimana Della tengah berdiri dengan mengeluarkan tanduk tak kasat mata.
Aiden melepaskan pelukannya triplets dan segera berdiri dari duduknya. Della melangkahkan kakinya menghampiri suami dan juga anak-anaknya.
"Hayo lho dimarahin Mommy," ledek Aiden kepada triplets yang sudah menundukkan kepalanya.
"Permen, coklat, gula pasir, gula merah, gulali dan apa lagi ini susu bubuk! astaga nak buat apa ini semua?" Tanya Della dengan lembut walaupun terdengar menyeramkan ditelinga triplets.
"Mau kalian makan?" Dengan polosnya triplets menganggukkan kepala.
Della memijit pelipisnya. Aiden yang paham dengan kepusingan sang istri pun segera menenangkannya.
"Ambil nafas jangan dibuang!" perintah Aiden namun malah dapat geplakan dari Della.
"Mati dong istri kamu gimana sih."
"Mommy kan sudah bilang sayang. Jangan makan yang terlalu manis. Kalian mau gigi kalian habis hingga tak tersisa didalam mulut kalian? Dan kalau kalian gak punya gigi, kalian gak bisa makan lagi. Mau kalian?" Triplets menggelengkan kepalanya.
"Kalau gak mau kenapa masih makan coklat, permen, dan lain sebagainnya hmm?" Mereka bertiga nampak terdiam tak tau harus membalas ucapan Della bagaimana.
"Kalau kalian pengen makan ini semua bilang sama Mommy atau Daddy. Apa Mom and Dad pernah larang keinginan kalian?" Triplets lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Lain kali bilang sama Mom atau Dad. Jangan diam-diam gini. Jika kalian minta baik-baik Mom and Dad akan kasih sesuai takaran sayang," ucap Della.
"Maaf Mom, Dad," tutur Azlan.
"Kita janji gak ulangi lagi," kini giliran Erland yang angkat bicara.
"Rea juga minta maaf Mom, Dad. Rea janji gak akan ngulangi lagi kok." Della menghela nafas panjang.
"Baiklah Mom sama Dad maafin kalian dan janji kalian harus ditepati. Kalau sampai diulang awas aja Mom gak mau ajak kalian ke Timezone."
"Jangan Mom."
"Makanya jangan makan kayak gini lagi ya sebelum disetujui sama Dad atau Mom," tutur Aiden. Dan lagi-lagi triplets mengangguk.
"Ya udah kalian ke kamar sana. Kerjain tugas sekolahnya. Nanti Mom akan cek kerjaan kalian." Dengan langkah lesu triplets menaiki anak tangga satu persatu.
"Aku juga kekamar dulu ya sayang. Biar mbak aja nanti yang bersihin ini semua," ucap Aiden. Setelah itu ia mengecup pipi Della sebelum menyusul triplets ke lantai atas.
Aiden tersenyum menang.
"Emang enak dimarahin Mommy. Makanya jangan nakal kalau dibilangin tuh. Nurut sama orangtua. Bandel sih jadi anak kecil," tutur Aiden setengah mengejek.
Triplets menatap Aiden dengan wajah yang ditekuk.
"Belajar yang pintar ya anaknya Daddy. Bye bye Daddy mau mandi habis itu berduaan sama Mommy buat Adik bayi buat kalian." Triplets menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Aiden tadi.
Setelah itu teriakan mereka menggelar, "Daddy!!!"
"Triplets jangan teriak-teriak!" Tutur Della dari bawah. Aiden tambah merekahkan senyumnya, benar-benar sangat menyenangkan ketika mengerjau triplets.
"Siap-siap besok kalian udah punya dedek bayi baru yuhuuuu. Nanti kalau dedek bayinya udah jadi jangan dinakalin ya. Bye sayang Daddy mau mandi dulu," ucap Aiden. Dan ketika triplets ingin berteriak lagi Aiden lebih dulu menghentikannya.
"Jangan teriak-teriak Triplets kalau gak mau mom nanti tambah marah sama kalian." Mulut mereka yang tadinya sudah mengangga kini tertutup rapat lagi. Setelah itu mereka bertiga melanjutkan langkahnya hingga di kamar masing-masing.
"Hahahaha enak juga ngerjain anak sendiri. Biar tau rasa mereka gimana rasanya dikerjain orang lain," gumam Aiden setelah memasuki kamarnya.
Sedangkan Della menatap kekacauan didepannya.
"Andai kau tau nak harga susu formula kalian tuh mahal dan sekarang malah kalian hambur-hamburkan kelantai. Rasanya Mom mau nangis aja hiks. Mana coklatnya Mom juga jadi korban," tutur Della yang tengah meratapi nasib coklat-coklat kesayangannya ditambah susu formula sang anak yang telah berhamburan kelantai tak terkecuali dengan gula pasir dan sebagiannya yang ikut tumpah.
...*****...
Extra Part ini hanya dipenuhi oleh kenakalan triplets saja ya sayang-sayangku. Tak ada konflik kok selama part berlangsung 🤠Dan karena masih banyak yang belum rela melepaskan triplets kecil, ya jadilah author nulis lagi deh. Apa kalian sudah puas? katakan!!! Demi kalian lho ini 🙄
Dan Baca Juga "Young Mother" lah kalian ini 📢📢📢
Ah udah lah bye....