My Bos CEO

My Bos CEO
101


Della berjongkok kembali menghadap ke arah makam anaknya. Air mata tak dapat di hentikan lagi oleh Della.


"Assalamualaikum sayang. Mommy datang nemuin kamu. Maafin Mommy yang gak bisa pertahanin kamu untuk lahir dan hidup di dunia ini. Maafin Mommy yang sempat egois tanpa memikirkan keselamatanmu. Maafin Mommy untuk semua kesalahan yang Mommy perbuat. Maaf sayang maaf," tutur Della menyesal. Andaikan waktu itu ia tak keluar dari rumah dan tak menolak tawaran Airen atau bik Fitri untuk mengantar dirinya mungkin semuanya tak akan terjadi dan bayinya akan terlahir dengan keadaan sehat saat ini. Kini hanya penyesalan yang menyelimuti Della tak ada hal lain lagi.


Aiden mensejajarkan tubuhnya disamping Della, mengelus punggung Della.


"Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir sayang. Allah lebih sayang dia. Sekarang kita pulang yuk. Kamu harus istirahat," tutur Aiden tak tega.


"Tapi aku masih mau disini lebih lama lagi."


"Sayang kesehatanmu saat ini masih belum pulih sempurna. Besok kalau sudah pulih lagi kita akan kesini setiap hari. Aku janji." Della menatap wajah Aiden.


"Aku udah sehat sekarang," tutur Della tak mau mengalah.


"Huh ya sudah," ucap Aiden pasrah.


Aiden terus memperhatikan ucapan Della yang seakan-akan ia tengah bercerita dengan anak mereka dan sesekali menghapus air matanya. Hingga tak terasa 1 jam mereka berdua berada di makam tersebut dan Della nampaknya tak mau beranjak sedikitpun dari sana.


Aiden mengelus puncak kepala Della.


"Sayang kita pulang yuk. Kita besok kesini lagi," tutur Aiden mulai cemas dengan kondisi Della. Dan Della hanya menjawab ucapan Aiden dengan gelengan kepala.


"Ayo lah sayang jangan keras kepala seperti ini. Apa kamu mau membuat Aila disana sedih karena melihat kamu yang gak memperhatikan kesehatanmu sendiri?" Della menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Aiden.


"Makanya kita pulang dulu sekarang dan besok kita kesini lagi ya." Della nampak menghela nafas berat. Ia meraih keranjang yang berisi bunga tabur tak jauh dari dirinya dan ia menaburkan bunga tersebut keatas makam Aila. Setelah menaburkan bunga, Della menaruh boneka kecil yang sedari tadi tak lepas dari pelukannya dan juga buket mawar dibawah batu nisan tersebut.


"Sayang tenang di surga ya nak. Jadilah malaikat cantik disana. Mommy sekarang iklhas kamu ninggalin Mommy selama-lamanya. Tidur yang nyenyak ya princess. Mommy akan selalu merindukanmu. Mommy pamit pulang dulu. Assalamualaikum little angelnya Mommy," pamit Della. Aiden setidaknya bisa bernafas lega ketika mendengar keikhlasan Della menerima takdir ini.


"Sayang, Daddy pamit pulang ya. Tenang di surga my little angel. Assalamualaikum," ucap Aiden.


Mereka akhirnya bergegas untuk kembali ke rumah. Selama perjalanan Della hanya terdiam sembari memeluk boneka dengan ukuran lumayan besar dipangkuannya.


Tak berselang lama mobil Aiden memasuki halaman rumah mereka. Setelah memastikan mobil tersebut terparkir dengan sempurna Aiden keluar dari mobilnya dan Della tak menunggu Aiden untuk membukakan pintu ia lebih dulu membukanya sendiri.


Aiden memeluk pinggang Della dan menuntunnya hingga kedalam rumah. Dan tak mereka sangka ketika pintu rumah terbuka, para maid dan juga Airen tak lupa Dion tengah memberikan kejutan atas kepulangan Della saat ini namun itu semua tak membuat bibir Della terangkat ia malah justru merasa sedih kembali.


"Welcome home Kakak ipar," teriak Airen sembari mendekati Della dan memeluk tubuhnya.


"Terimakasih," tutur Della tanpa semangat.


Airen yang mendengar ucapan lemah Della pun segera melepaskan pelukannya dan menatap bingung Della dan bergantian menatap Aiden.


"Kenapa?" Tanya Airen kepada Aiden hanya dengan gerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


"Bolehkah aku keatas dulu?" Tanya Della.


"Eh ah silahkan Kak," ucap Airen dan memberi jalan Della. Della berjalan menaiki tangga tanpa menghiraukan semua orang disana tak lupa tangannya masih membawa boneka tadi.


"Aku nyusul Della dulu. Terimakasih untuk surprise hari ini dan kalian sudah boleh bubar," ucap Aiden dan segera bergegas menghampiri Della yang sudah berada di tangan paling atas.


"Hey are you oke?" Tanya Aiden yang sudah berhasil menyusul langkah Della. Della mendongakkan kepalanya dan seketika memeluk tubuh Aiden dengan erat.


"Hey katakan, kamu kenapa sayang?" Tanya Aiden sembari membalas pelukan Della.


"Kenapa kenyataan ini sangat menyakitkan? Aila pergi tanpa mengizinkan aku melihat wajahnya." Aiden menghembuskan nafas panjang. Ternyata sang istri masih saja bersedih.


"Jika kamu tanya seperti itu maka aku akan menjawab bahwa aku sangat ingin melihat wajah Aila walaupun sedetik saja, namun sepertinya aku hanya bisa melihat dia di dalam mimpi saja," tutur Della putus asa.


Aiden mengelus pipi Della lembut.


"Jika kamu mau melihat wajah Aila aku akan menunjukkannya walaupun itu tidak nyata tapi setidaknya kamu tau secantik apa malaikat kita, tapi nanti setelah kamu makan siang," ucap Aiden dan diangguki oleh Della.


Waktu itu Maxime dengan sengaja memfoto wajah pucat Aila untuk berjaga-jaga ketika Della nanti menanyakan bagaimana rupa anaknya dan akhirnya hal itu terjadi dan untungnya foto tersebut Aiden sudah memintanya dari Maxime dan mencetaknya hingga memudahkan dia dan Della selalu mengenang anak pertama mereka.


Della dengan lahap memakan makan siangnya hingga tuntas yang membuata Aiden tersenyum bahagia.


"Aku udah selesai makan. Sekarang tunjukan wajah Aila," tutur Della antusias. Aiden beranjak dari duduknya dan menghampiri Della untuk menggandeng tangan sang istri menuju kesuatu tempat.


Della menatap satu pintu di depannya yang bersebelahan dengan kamar mereka. Aiden meraih kunci kamar tersebut dari dalam sakunya dan membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya Della melihat kedalam kamar yang dulu Aiden rancang sendiri untuk anak mereka. Dan selama itu Della tak pernah membuka ruangan tersebut sehingga tak mengetahui isi di dalamnya.



Della berjalan masuk dan melihat keseluruhan kamar tersebut hingga matanya menatap foto yang terbingkai indah diatas meja. Della menghampiri foto tersebut dan mengambilnya.


"Apakah ini Aila?" Tanya Della tanpa mengalihkan pandangan ke foto tersebut. Aiden yang berdiri di belakang segera mendekati Della.


"Iya dia Aila," jawab Aiden.


"Cantik sekali."


"Dia cantik karena Mommy juga cantik," puji Aiden.


"Bolehkah aku tidur disini malam ini?" Tanya Della. Aiden menganggukkan kepalanya. Untung saja kamar tersebut Aiden beri kasur untuk orang dewasa yang memang sengaja disiapkan untuk Della supaya memudahkan Della menjaga Aila ketika sudah lahir, pikir Aiden dulunya.


"Terimakasih," ucap Della sembari mencium pipi Aiden sekilas.


"Tapi janji gak boleh sedih lagi ya," tutur Aiden dan diangguki oleh Della.


"Senyumnya mana dulu dong," goda Aiden yang berhasil membuat Della tersenyum walaupun tak seperti biasanya.


Aiden mengacak rambut Della gemas. Ia hanya bisa berdoa supaya dalam waktu dekat ada pengganti Aila di kehidupan mereka nantinya yang bisa membuat Della tak kalut dalam kesedihan lagi.


"Aku tinggal keluar dulu. Kamu disini sendirian gak papa kan?" Tanya Aiden.


"Gak papa kok." Aiden tersenyum dan mencium kening Della sebelum keluar dari kamar tersebut meninggal Della yang tengah menatap foto Aila di hadapannya.


Setelah keluar dari kamar anaknya Aiden mengusap wajah kasar. Ia sebenarnya keluar dari kamar tersebut karena tak tega melihat ekspresi wajah sedih Della yang membuat hatinya hancur dan sakit.


"Lebih sakit melihat Della sedih dari pada diselingkuhin," gerutu Aiden.


Aiden berjalan menuju lantai bawah namun baru saja ia menginjakkan kaki di tangga, tangannya di cekal oleh Dion.


"Kenapa?" Tanya Aiden.


"Ada hal penting yang harus kamu tahu." Aiden mengerutkan keningnya.


"Hal penting apa?"


"Kita temui Airen dulu. Biar dia yang menjelaskan semuanya," ucap Dion sembari berjalan lebih dulu dari Aiden menuju lantai bawah dimana kamar Airen berada.