My Bos CEO

My Bos CEO
102


Aiden dan Dion masuk kedalam kamar Airen tanpa permisi membuat sang empu terperanjat kaget.


"Astagfirullah. Masuk ke kamar orang tuh permisi dulu gitu kek. Jangan kayak maling yang tiba-tiba nyelonong masuk," cerocos Airen.


"Berisik. Diem," ucap Aiden yang membuat Airen mencebikkan bibirnya.


Aiden berjalan menuju kasur Airen dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Hal penting apa yang mau kalian katakan?" Tanya Aiden penasaran.


Airen yang belum paham maksud ucapan Aiden pun menatap wajah Dion yang berdiri tak jauh dari Aiden.


"Katakan saja," ucap Dion mengerti dengan tatapan bingung Airen.


"Apanya yang harus dikatakan aku aja gak paham maksud dan tujuan kalian berdua?" Tanya Airen masih bingung.


"Haish sayang apa kamu udah lupa sama cerita yang kamu ceritakan ke aku setelah anak Aiden dan Della dimakamkan?" Ucap Dion yang membuat Airen mengangguk paham. Owh jadi maksud mereka berdua kesini ingin mendengar cerita kecurigaannya. Airen tak akan membuang-buang waktu lagi dan ia bergegas untuk duduk disamping saudara kembarnya.


"Nih ya, dengerin baik-baik aku mau cerita," ucap Airen.


"To the point please," tutur Aiden mulai jengah dengan ucapan Airen yang bertele-tele.


"Jadi gini. Pada saat hari dimana Kak Della kecelakaan dan dia sedang berjuang di dalam ruang UGD dan saat Dion habis dipukuli bang Maxime, kan aku keluar buat ambil pakaian untuk Dion," tutur Airen.


"Terus," potong Aiden.


"Ck jangan di potong dulu lah. Jadi lupa aku nanti kalau kamu motong ceritanya," ucap Airen sebal.


"Oke-oke baiklah lanjutkan," tutur Aiden mengalah.


"Huh menyebalkan. Nah pada saat aku keluar dari rumah sakit aku sempat lihat orang mencurigakan."


"Orang mencurigakan?" Tanya Aiden mulai curiga.


"Iya, gimana gak mencurigakan coba kalau orang itu natap ruang UGD yang didepannya ada keluarga kita tengah berduka dan dia berpenampilan serba hitam hingga mukanya saja tertutup rapat cuma kelihatan matanya saja dan saat aku mengetahui keberadaannya, dia seolah-olah ingin menghindar dan melarikan diri dan sayangnya pada saat itu aku pakai heels jadi gak bisa ngejar dia. Huh andaikan aku waktu itu pakai sendal jepit pasti udah kekejar orang misterius itu dan mengetahui wajah di balik pakaiannya yang serba hitam," ucap Airen menyesal. Mungkin kedepannya ketika dia dalam kondisi yang tak formal ia lebih memilih pakai sendal jepit atau sepatu saja, lebih baik untuk jaga-jaga siapa tau ada orang misterius yang harus ia kejar lagi nantinya.


"Dan ada lagi saat di pemakaman Aila aku juga lihat orang misterius itu dan aku curiga dia orang yang sama dan mungkin orang itu adalah dalang dari kecelakaan Della saat itu," sambung Airen.


"Kenapa kamu gak langsung bilang pada waktu itu Airen," geram Aiden.


"Mana bisa aku bilang pada saat itu kalau kamu masih sedih dan berduka," tutur Airen. Aiden mengepalkan tangannya. Masalah yang hampir tiga bulan ini tak ada kepastian kini mendapat sepercik titik terang. Membuat Aiden sedikit lega namun juga tak tenang jikalau orang itu akan datang lagi sebelum ia membinasakannya.


"Apa kalian mau bantu cari orang itu sampai ketemuan?" Tanya Aiden sembari menatap Dion.


"Eh tapi aku kan cewek mana bisa cari orang misterius itu tapi kalau ini demi Kakak ipar dan membalas dendam atas kematian keponakanku akan aku usahakan sampai dia bertekuk lutut di hadapanku," ucap Airen penuh percaya diri.


"Jangan gegabah dulu. Kita harus cari bukti-buktinya dan melacak keberadaannya," ucap Dion menimpali. Aiden menganggukkan kepalanya.


"Thanks kalian udah ngasih tau informasi ini," tutur Aiden.


"Sama-sama. Tapi peluk dulu dong sini." Airen merentangkan tangannya ingin memeluk tubuh Aiden di sampingnya namun Aiden lebih dulu mengindari Airen membuat tubuh Airen terjatuh di atas kasur tersebut.


"Aku udah punya istri ya, jadi jangan berani peluk-peluk sembarangan nanti kalau biniku lihat terus cemburu aku gak mau. Jadi lebih baik kamu simpan saja pelukan itu," tutur Aiden sembari beranjak keluar dari kamar Airen.


"Aku bisa nanganin istri aku sendiri," balas Aiden membuat Airen geram dan menyusul langkah Aiden dan saat ia mengikis sedikit jarak dari Aiden, Airen melancarkan aksinya dengan melempar Aiden dengan sendal rumah miliknya hingga mengenai kepala Aiden. Sedangkan Dion yang melihat tingkah kedua manusia beda jenis kelamin itu bertengkar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hal itu sudah biasa bagi Dion jadi ia tak perlu kaget lagi dengan sepasang saudara kembar dihadapannya ini.


"Yess kena," teriak Airen senang seperti anak kecil yang baru dibelikan permen kapas. Sedangkan Aiden ia sudah menatap tajam Airen yang tengah berjingkrak-jingkrak dibelakangnya.


"Airen!" Teriak Aiden dan ia melangkahkan kakinya menuju kearah Airen namun ketika ia ingin membalas perbuatan saudara kembarnya itu tiba-tiba anak buahnya masuk dengan berlari menuju kehadapannya.


"Maaf tuan saya masuk tanpa permisi," ucap anak buah Aiden dengan terengah-engah.


"Katakan ada apa?" Tanya Aiden to the point.


"Ada kabar mengenai peristiwa yang melibatkan nyonya muda." Aiden membelalakkan matanya dan menyuruh anak buahnya mengikuti dirinya keruang kerjanya tak lupa dengan Airen dan Dion yang juga berada disana.


"Katakan!" Perintah Aiden.


"Kami mengetahui nomor plat mobil yang menabrak nyonya muda dari salah satu cctv warga setempat yang sama sekali tak dirusak oleh pelaku dan menurut analisa saya dan tim kalau kecelakaan tersebut disengaja dan sudah direncanakan dengan baik," tutur anak buah Aiden.


"Ada salinan cctvnya?" Tanya Aiden.


Anak buah Aiden memberikan salinan cctv dan Aiden langsung memutarnya.


"Sepertinya tak asing dengan nomor plat itu," ucap Aiden. Airen dan Dion pun juga ikut nimbrung melihat rekaman cctv itu.


"Ah aku juga pernah lihat nomor plat mobil itu tapi aku lupa dimana ya," teriak Airen yang membuat Aiden dan Dion disampingnya kaget.


"Sayang, bisakah suara kamu di pelankan sedikit," ucap Dion.


"Sepertinya mulut kamu itu harus aku sumpal pakai kaus kaki," ujar Aiden.


"Ck gak Kakak, gak pacar sama aja menyebalkan," gerutu Airen.


Semua orang disana tengah berfikir dengan solusi masalah ini yang harus segera di selesaikan dan sang pelaku menerima pembalasan tentang apa yang ia perbuat.


"Airen. Coba kamu katakan dimana kamu melihat mobil dengan plat itu," ucap Aiden tiba-tiba. Airen memutar bola matanya malas.


"Bukannya tadi aku disuruh menutup mulutku yang cerewet ini tapi kenapa sekarang disuruh bersuara lagi," ucap Airen protes.


"Katakan saja."


"Haish kan aku tadi udah bilang kalau aku lupa lihat mobil itu dimana. Ah dasar punya kuping gak pernah dibersihin." Aiden memelototkan matanya kearah Airen. Astaga mereka berdua benar-benar tak tau situs dimana pun dan kapan pun selalu bertengkar tak ada habisnya.


Aiden tak menanggapi ejekan Airen hingga membuat ruangan tersebut sunyi mencekam. Namun suara Airen kembali memecahkan suasana tersebut.


"Ah aku ingat sekarang. Yes pikiranku ternyata bisa diandalkan," teriak Airen membanggakan diri.


"Cepatlah! kalau tau katakan dimana kamu melihatnya. Jangan bertele-tele," ujar Aiden tak sabaran.


"Aku pernah lihat mobil itu terparkir di basement apartemen kamu yang semenjak kamu nikah sama Kak Della gak pernah kamu sambangi," ucap Airen.


Kata-kata Airen tersebut langsung membuat pikiran Aiden mengarah kesalah satu manusia tak beradab dimuka bumi ini. Namun ia tak akan gegabah dia harus lebih mencari bukti yang kuat dan jika benar orang yang dicurigai Aiden itu yang sudah mencelakai Della dan membuat putri pertamanya meninggal. Aiden tak akan pernah memaafkannya dan ia akan memastikan orang tersebut kalau tidak mati ditangannya, akan mati didalam penjara.