
Waktu semakin lama semakin melambat ketika rasa sakit yang Della alami semakin tak tertahankan dan tepat pada pukul 3 pagi Della mau tak mau harus membangunkan Aiden yang tengah tertidur pulas di sebelahnya.
Mereka tak jadi menginap dirumah sakit karena Della yang memaksa untuk pulang saja tuh pembukaannya masih ditahap awal dan ia yakin dengan prediksi Miko jika ia akan melahirkan dihari berikutnya. Awalnya Aiden menolak mentah-mentah namun karena Della sangat menginginkan bahkan sampai merengek untuk pulang akhirnya hati Aiden luluh dan mereka kembali kerumah pada pukul setengah satu. Setelah di rumah Della hanya tidur 1 jam walaupun itu tidur tak nyenyak dan setelahnya ia tak tidur sama sekali hingga sekarang.
Della meringis sesekali untuk menahan rasa sakitnya dan dengan lembut ia mengelus rambut Aiden.
"Sayang," ucap Della lemah.
Untungnya Aiden kalau tidur tak sekebo dirinya. Kalau ada pergerakan sedikitpun ia akan terusik dan membuka matanya terkecuali jika ia harus lembur kerja di kantor atau di ranjang ia akan sangat sulit dibangunkan.
Aiden dengan perlahan membuka matanya dan menatap Della yang sudah pucat pasi. Tanpa mengumpulkan nyawa terlebih dahulu Aiden bergegas mendudukkan tubuhnya dan menangkup wajah Della.
"Kita kerumah sakit sekarang ya," tutur Aiden dan dijawab anggukan oleh Della.
Aiden segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu ia mengambil Hoodie dan mengganti celana dengan celana jeans panjang.
"Bisa jalan?" tanya Aiden saat sudah siap dengan segala keperluan yang akan mereka bawa kerumah sakit karena sebelumnya Della dan bik Fitri sudah menyiapkannya.
Della menganggukkan kepalanya sembari berpegang ke tangan Aiden. Aiden yang tak tega melihat Della yang tengah lemah pun tanpa persetujuan dari sang istri, ia membopong tubuh Della hingga kedalam mobilnya. Di ikuti bik Fitri yang ternyata juga terjaga diruang tamu sejak tadi.
Aiden pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit kembali dan sebelumnya ia telah menyuruh bik Fitri untuk menghubungi dokter Alisa setelahnya menghubungi orangtuanya maupun orangtua Della.
Tak berselang lama mereka sudah sampai di rumah sakit lagi. Dengan sedikit berlari Aiden mengambil kursi roda yang telah disiapkan oleh dokter Alisa yang ternyata tak pulang sama sekali dan memilih untuk menginap di rumah sakit itu dari pada ia pulang dan sewaktu-waktu Aiden telpon seperti tadi dan mengharuskan ia menyetir motor dipagi-pagj buta dengan resiko yang sangat bahaya.
Della keluar dari mobil Aiden dengan dibantu oleh bik Fitri dan setelah Aiden sampai dengan kursi roda di tangannya baru Della mendudukkan tubuhnya di sana. Aiden mendorong kursi roda tersebut ke kamar khusus untuk Della. Dengan sigap dokter Alisa pun membukakan pintu tersebut untuk memudahkan Aiden membawa Della segera masuk.
Namun baru juga mereka masuk kedalam sudah disuguhkan oleh pemandangan yang benar-benar membuat Aiden jengkel.
"Aduh jangan ribut dulu please," batin Della saat Aiden menghampiri Miko yang tengah tertidur dikasur ruangan tersebut dengan nyenyaknya.
Aiden memukul keras paha Miko yang membuat sang empu langsung terperanjat kaget.
"Enak sekali ya kamu tidur disini tanpa permisi dulu," gerutu Aiden.
"Kan gak ada orangnya juga. Apa salahnya coba toh ini tuh juga boleh aku tempatin karena kan ini ruangan khusus untuk keluarga dan aku ini masih keluarga kamu kalau kamu lupa," jawab Miko tak mau kalah.
"Amit-amit aku punya keluarga bentuknya kayak kamu gini."
"Emang bentukku gimana? terlalu ganteng ya," ucap Miko. Aiden menatap Miko dengan tatapan jijik.
"Cih menjijikkan. Muka pas-pasan gitu ganteng. Ck siapa yang bilang coba palingan juga gak ada."
"Heh ada ya. Emak ku yang bilang mau apa kau," tutur Miko. Della menggeram kesal ketika dua manusia tak tau aturan itu terus berdebat tanpa memperdulikan dirinya yang tengah menahan sakit yang luar biasa.
Aiden dan Miko yang mendengar ancaman dari Della pun langsung mengunci mulut masing-masing. Dokter Alisa dan bik Fitri yang menonton pun hanya diam dengan pikiran masing-masing. Dan setelah mendengar ucapan Della tadi, dokter Alisa pun segera mendorong kursi roda hingga mendekati kasur yang diatasnya masih ada Miko.
Della berusaha berdiri dan saat sudah berdiri sempurna ia memukul punggung Miko dengan keras bahkan pukulan Della lebih menyakitkan dibanding dengan Aiden tadi.
"Tega sekali kau Kakak ipar," ucap Miko dramatis.
"Minggir," usir Della. Miko pun tanpa protes langsung turun dari ranjang rumah sakit dan berdiri disamping dokter Alisa yang tengah membantu Della.
"Jangan ribut dulu lah kalian berdua tuh. Bikin tambah sakit tau gak," gerutu Della.
"Maaf sayang. Sekarang gimana masih sakit?" tanya Aiden.
"Masih lah malah tampah parah nih makanya kalian tuh diem dulu jangan ribut mulu. Kalau bisa malah doain aku biar segera lahiran." Aiden mengangguk dan mengelus puncak kepala Della untuk menenangkan.
"Maaf dokter Miko dan bik Fitri boleh kalian berdua keluar dulu. Saya mau periksa keadaan Kak Della," ucap dokter Alisa dengan sopan dan tanpa jawaban Miko langsung keluar begitu saja dengan muka super duper datar.
Setelah memastikan dua orang yang tak berkepentingan keluar, dokter Alisa memeriksa keadaan janin dan tahap pembukaan Della saat ini.
"Baru pembukaan ke 7 Kak," ucap dokter Alisa setelah memeriksa Della.
"Masih berapa pembukaan lagi biar si baby keluar?" tanya Aiden.
"Masih 3 pembukaan lagi," tutur dokter Alisa.
"Kenapa lama sekali?"
"Kak Della termasuk cepat untuk tahap pembukaan dari yang tadi jam setengah 1 masih pembukaan 2 dan sekarang pukul 3 sudah pembukaan 7. Dan biasanya orang lain merasakan pembukaan itu hingga 5 jam bahkan lebih," jawab dokter Alisa.
"Tapi kalau Kak Della udah gak kuat, kita bisa lakukan operasi Caesar" sambung dokter Alisa. Aiden menatap penuh harap ke Della supaya sang istri mau dengan rekomendasi dokter Alisa yang terakhir tadi karena terus terang ia tak sanggup melihat tulang rusuknya kini tengah kesakitan.
"Operasi Caesar aja ya sayang," ucap Aiden sembari mengelus pipi Della.
"Gak. Pokoknya aku mau normal sayang." Aiden mendengus pasrah. Mau gimana lagi kalau orang yang melakukannya saja tau mau maka ia yang akan mengalah dan Aiden akan berusaha untuk terus menguatkan Della dengan caranya sendiri.
"Tapi sakit," sambung Della sembari menggigit bibir bawahnya.
"Jangan gigit bibir bawah Kakak kayak gitu tar yang ada tambah sakit tubuh Kakak. Kalau sakit Kakak atur pernafasan. Ambil nafas dalam-dalam dan buang, lakukan seperti itu. Jangan lukai diri Kakak lagi oke kalau mau gigit, gigit aja sesuatu yang tak membahayakan bagi Kakak," sambung dokter Alisa.
Della pun menuruti ucapan dokter Alisa dengan mengatur pernafasannya hingga perlahan rasa sakitnya hilang.
"Kalau gitu saya pamit undur diri dulu Tuan buat ambil barang-barang saya yang masih diruang saya. Setelah itu saya akan kembali lagi kesini." Aiden pun menganggukkan kepalanya setuju setelah itu dokter Alisa keluar dari ruangan Della dan Miko serta bik Fitri bergantian masuk kedalam.