
Setelah Della selesai dengan kegiatan memasukan semua barangnya kedalam koper ia pun segera turun kebawah berniat hendak memasak dengan hati yang benar benar senang saat ini.
Namun ketika ia hendak ke dapur matanya menangkap Aiden yang tengah sibuk dengan laptop di pangkuannya dan televisi yang menyala seakan akan benda mati itu yang sedang menonton kegiatan Aiden bukan sebaliknya.
Della pun menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aiden.
"Ehem, Pak ini tv diangguri gitu aja?" Aiden yang tengah menatap layar laptopnya dan sesekali mengetik entah apa hanya Aiden yang tau di buat kaget dengan suara Della yang tiba tiba duduk disampingnya.
"Astaga Del, bisa gak kalau bicara tuh pakai permisi dulu gak tiba tiba ngomong kayak gitu tadi," gerutu Aiden sambil mengelus dadanya.
"Bisa jantungan dan mati muda kalau kamu terus terusan kayak tadi," sambung Aiden.
"Alhamdulillah sih Pak kalau bapak mati muda kan saya enak punya atasan baru gak kayak bapak yang pastinya," tutur Della dengan enteng, Aiden pun melototkan matanya ke Della.
"Mulutmu Del." Aiden memukul pelan bibir Della yang telah berbicara sembarangan dan sama aja itu mendoakan Aiden untuk di panggil yang kuasa secepatnya, kurang ajar bukan karyawannya yang satu ini.
"Ish Pak sakit tau," jawab Della sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mangkanya kalau ngomong tuh di filter dulu jangan asal nyeplos gitu aja, ingat Del ucapan adalah doa dan kamu tadi sama aja doain saya supaya cepat mati," tutur Aiden tak terima.
"Ck tadi kan refleks Pak saya bicaranya. Mana bisa orang refleks bisa di filter dulu dan kan bapak tadi yang bilang duluan yang kayak gitu jadi saya gak salah dong," ucap Della dengan senyum manisnya.
"Ya gak gitu juga kali Della ah sudah lah ngomong sama kamu itu bagaikan ngomong sama kudanil yang tengah mencelupkan kepalanya kedalam air gak bakal kedengaran, masuk telinga kanan keluar telinga kiri gak diserep dulu sama otak yang hanya buat pajangan sama kamu gak di pakai," sewot Aiden.
Della mendengus dengan kesal. Apa apaan dia dikatain Aiden kudanil yang tuli dan apa lagi tadi ah iya otaknya gak di pakai lah terus selama ini dia kerja pakai apa selain tangan emang dengkul bisa mikir. Della pun berdiri dari duduknya dan kembali menuju ke arah dapur niatnya tadi ia ingin menanyakan apa yang Aiden akan makan saat ini karena moodnya tadi benar benar senang sekali eh gak taunya malah di buat hancur moodnya sekarang oleh bos kutu kupretnya itu.
Belum sampai dapur Della sudah dibuat kagum dengan pemandangan di depannya, bahkan ia hampir meledak dibuatnya. Piring masih berserakan di atas meja makan dan beberapa sisa makanan serta bungkus cemilan tercecer dimana mana dan apa lagi ini saat Della sudah menginjakkan kakinya masuk ke dapur bubuk kopi dan tumpahan gula astaga Della sekarang sudah benar benar geram di buatnya.
Della mengambil nafas dalam sambil memejamkan matanya dan dengan sekuat tenaganya Della berteriak sangatlah kencang, "AIDEN!!" yang membuat sang empu terperanjat kaget dan dengan segera ia menghampiri Della yang sudah mengeluarkan tanduk gaibnya.
"Apaan sih Del teriak teriak terus bisa budek saya kalau begini," ucap Aiden setelah berada disamping Della dengan sesekali ia menggosok kupingnya yang pengang oleh ulah Della barusan.
"Budek mata lo somplak, lihat ini kenapa bisa berantakan kayak gini sih astaga." Della sudah tidak menghiraukan lagi sopan santun saat ini ia hanya ingin memaki pria yang tengah berdiri di sampingnya tanpa rasa berdosa sama sekali hanya cengiran kuda yang ia tunjukkan. Astaga Della ingin sekali membunuh Aiden saat ini juga memotong menjadi beberapa bagian dan dagingnya ia berikan ke ikan cupangnya di rumah.
Della sekarang tengah duduk di kursi meja makan, memijat pelan kepalanya yang sudah pusing tujuh keliling sambil sesekali memperlihatkan Aiden yang tengah menyapu tumpahan gula dan kopi yang ada di lantai.
"Kayaknya gue sampai rumah harus cek tensi deh siapa tau gue darah tinggi karena beberapa hari tinggal satu atap sama tuh kutil monyet," gerutu Della pelan.
"Del ini di buang dimana?" tanya Aiden yang sudah selesai menyapu gula tadi.
"Di tempat sampah lah Pak, gitu aja gak tau," ketus Della.
"Masalahnya tempat sampahnya udah penuh Del" jawab Aiden.
"Ya cari tempat sampah lain dong Pak. Inisiatif dikit kek jangan banyak tanya sama saya," ucap Della sebal dan Aiden pun hanya mengangguk mengerti dengan segera ia pergi dari hadapan Della menuju ruang tamu mencari tempat sampah. Baru kali ini Aiden di perintah oleh karyawannya sendiri sebelum sebelumnya mana berani mereka memerintahkan Aiden seperti sekarang ini hanya Della yang cukup berani melakukannya dan anehnya Aiden hanya bisa pasrah menjalani perintah Della.
Butuh waktu 30 menit Aiden berhasil membersihkan kekacauan yang ia buat.
"Huft akhirnya selesai juga," ucap Aiden yang sekarang duduk di depan Della dengan tangan yang terus di kipas kipas kan ke badannya. Della yang melihatnya pun sedikit kasihan dengan kondisi Aiden saat ini yang penuh dengan keringat padahal dia hanya bersih bersih saja bukan angkat beban berat.
"Hm lain kali jangan gitu lagi Pak. Main seenak jidat berantakin rumah buang sampah gak di tempatnya tinggal di hambur hamburkan di lantai lagi dan kalau bapak numpahin sesuatu juga harus di bersihkan jangan di biarin ngundang semut tau gak pak," ucap Della dengan menatap tajam Aiden.
"Hmm," jawab Aiden singkat.
"Ya udah gih bapak mandi sana masih ada waktu 2 jam lebih buat santai." Aiden pun tak menjawab ucapan Della, dia berdiri dari duduknya dan nyelonong gitu saja meninggalkan Della di meja makan.
Della hanya bisa menggelengkan kepalanya, sabar satu kata yang mampu Della ucapkan sekarang. Della beranjak dari duduknya mencoba menetralkan emosinya yang sebenarnya masih meluap lupa, tarik nafas buang begitu seterusnya sampai ia berhasil menghilangkan emosinya saat ini dan dengan segera Della meracik bumbu di hadapannya dengan telaten. Dia berencana akan membuat nasi goreng saja yang sangatlah simpel dan praktis karena kalau dia memilih memasak masakan yang terlalu membuang banyak waktu Della pastikan dia akan pingsan begitu saja sebelum masakannya matang. Entahlah Della rasa sekarang dia benar benar lapar mungkin karena efek emosi yang menguras tenaga tadi kali ya pikir Della.
Ketika Della sudah selesai dengan acara memasaknya begitu pula dengan Aiden yang sudah selesai dengan ritual mandinya dan kini ia tengah berjalan menuju ruang makan. Setelah ia sampai di meja makan Aiden sempat melirik sekilas Della yang tengah menyiapkan makanannya sembari menarik salah satu kursi dan segera mendudukkan tubuhnya.
"Nih Pak di makan dulu," ucap Della sembari meletakan piring yang sudah berisi nasi goreng buatannya.
"Terimakasih," jawab Aiden yang dengan senang hati menerima masakan Della, ia mulai memasukkan makanannya kedalam mulut dan lagi lagi Aiden tidak bisa mengelak dengan rasanya yang benar benar istimewa bagi dirinya. Mereka berdua menikmati makanannya tanpa bersuara hanya ada dentingan sendok dan piring yang memecah keheningan saat ini.