My Bos CEO

My Bos CEO
51


Paginya seperti biasa Della sudah bangun lebih dulu daripada Aiden. Wajahnya pagi ini sangat lah berseri ketika mengingat kembali moments saat Aiden tiba tiba melamar dirinya walaupun tidak sesuai dengan harapannya. Namun ia tetap bahagia setidaknya sekarang ada orang yang akan selalu melindungi dirinya ketika ia jauh dari orangtuanya.


Della mendudukkan dirinya di atas kasur king size. Ia menatap cincin pemberian Aiden dengan senyum mengembang. Ia mencium cincin itu sebelum beranjak dari duduknya, dan menuju dapur untuk memulai aktivitasnya yang semula jadi babu Aiden untuk sementara kini berubah menjadi calon istri seorang Aiden yang aktivitasnya ini akan menjadi aktivitas yang akan selalu ia lakukan ketika ia sudah resmi menyandang status nyonya muda Abhivandya.


Setelah sampai di dapur Della bergegas untuk memasak secepat mungkin. Hanya ada suara percikan minyak yang menemani dirinya saat ini, hingga suara langkah kaki Aiden membuyarkan kesunyian di ruangan tersebut.


"Pagi calon istri," sapa Aiden sembari mengelus rambut Della sekilas dan segera melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin.


"Pagi juga," sapa Della kembali.


"Cuma pagi juga gitu jawabnya?" tutur Aiden yang sudah duduk manis di meja makan.


"Lah terus harus gimana jawabnya?" tanya Della.


"Harusnya tuh gini jawabnya, pagi juga calon suamiku sayang. Gitu," ucap Aiden yang membuat Della bergidik ngeri.


"Alay," gerutu Della yang masih bisa didengar Aiden.


"Bukan alay tapi romantis," tutur Aiden membela.


"Ck terserah kamu lah," ucap Della sembari meletakan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk ke hadapan Aiden.


Dengan semangat Aiden melahap makanannya hingga tuntas begitu juga dengan Della.


"Mau pulang kapan?" tanya Aiden sesudah mereka menyelesaikan sarapan paginya.


"Kalau kamu tanya aku, aku maunya sih besok tapi kalau urusan kantor belum beres ya udah beresin dulu baru pulang," jawab Della sembari mengambil piring kotor dan segera menyucinya. Aiden beranjak dari duduknya menyusul Della yang tengah sibuk dengan piring piring kotor yang ada dihadapannya.


Aiden mensejajarkan dirinya di samping Della.


"Besok kita pulang, urusan kantor disini juga udah selesai semua. Hari ini kita gak perlu ke kantor nikmatin di apartemen aja atau kamu mau jalan jalan?" tanya Aiden. Della melirik sekilas Aiden.


"Di apartemen aja, sekali kali jadi anak rumahan," tutur Della. Aiden pun menganggukkan kepalanya setuju. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Della dan tanpa Della sadari Aiden mengecup singkat pipi kanan Della yang membuat dia kaget dan dengan seketika warna kedua pipinya menjadi merah muda.


"Aku mandi dulu," ucap Aiden setelah melancarkan aksinya tadi dan ia segera melarikan diri sebelum Della mengamuk padanya.


"Dasar main nyosor aja, untung sayang kalau gak udah gue cincang tuh manusia." Gerutu Della sembari tersenyum manis.


Sesuai dengan ucapan Aiden tadi bahwa mereka tidak perlu untuk berangkat kekantor. Maka kesempatan ini Della gunakan untuk bersantai ria di dalam apartemen, kapan lagi ia bisa leha-leha dan terhindar dari puluhan berkas yang selalu menguras pikirannya.


Della merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari menonton TV di hadapannya. Jangan tanya Aiden dimana, ia masih sibuk pacaran dengan laptopnya saat ini di dalam kamarnya. Aiden terus berkutik dengan beberapa kerjaannya yang kebetulan orang kepercayaannya tadi kirimkan ke dia. Hingga dering ponsel menganggu konsentrasinya. Ia segera meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas nakas. Ia membuka pesan dari salah satu temannya. Setelah membaca pesan tersebut Aiden tersenyum dan segera menemui Della yang masih setia dengan posisinya tadi.


Aiden mendekati Della dan dengan segera ia mendudukkan tubuhnya dilantai tepat di depan Della. Aiden merebahkan kepalanya sehingga perut Della menjadi bantalan untuknya.


Della menundukkan kepalanya menatap Aiden yang tengah menatapnya juga.


"Minggu depan kita dapat undangan," tutur Aiden.


"Undangan apa?" tanya Della tak mengerti.


"Pernikahan dari sahabat kita berdua," jawab Aiden.


"Sahabat? Siapa?"


"Kamu belum tau?" tanya Aiden memastikan. Della menjawab dengan gelengan kepala.


"Coba cek hp kamu gih," ucap Aiden.


"Hp aku lowbat dari semalam baru aku charger tadi pagi," tutur Della sembari nyengir kuda.


"Eh maaf, gak sengaja." Della meraih kepala Aiden dan ikut mengelusnya.


"Sakit," ucap Aiden dramatis padahal rasa sakitnya sudah hilang sedari tadi. Della yang mendengar ucapan Aiden tadi menjadi lebih panik.


"Mau aku kompres pakai air dingin? bentar aku ambilin." Della beranjak dari tempatnya namun dengan cepat Aiden menarik tangan Della cukup kuat sehingga membuat tubuh Della lunglai dan terjatuh tepat dipangkuan Aiden. Aiden segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang Della.


"Mau kemana?" tanya Aiden yang sepertinya tadi tak mendengar ucapan Della.


"Kan aku udah bilang, mau ngambil kompresan buat kepala kamu biar gak sakit lagi," jawab Della.


"Biar pun di kompres sakitnya juga nanti gak bakalan hilang," ucap Aiden.


"Kok bisa?" tanya Della tak mengerti.


"Ya bisa, hanya ada satu cara yang bisa buat sakitnya hilang," tutur Aiden sembari tersenyum kearah Della yang masih di depannya dengan posisi tubuhnya menyamping.


"Apa?" tanya Della penasaran.


"Cium," ucap Aiden sembari mengajukan bibirnya kearah wajah Della. Dengan segera Della menepuk pelan bibir manyun Aiden.


"Jangan mesum belum akad udah minta cium, gimana kalau udah akad nanti," tutur Della. Aiden berdecak sebal.


"Nanti kalau udah akad ya mintanya bukan cuma cium tapi tubuh kamu yang aku minta." Della membelalakkan matanya, astaga salah bicarakah dia tadi hingga membuat Aiden berkata terlalu fulgar menurutnya.


"Dah ah lepasin dulu," ucap Della sembari berusaha melepas pelukan Aiden.


"Mau sekuat apapun cara kamu buat lepasin tanganku gak akan bisa," ucap Aiden meremehkan. Della terus berusaha tanpa menanggapi ucapan Aiden tadi hingga sebuah ide muncul tiba tiba di kepalanya. Ia menyeringai dan segera melancarkan aksinya dengan menggigit lengan kekar Aiden cukup kuat hingga Aiden refleks berteriak dan melepaskan pelukannya dari tubuh Della.


"Rasain siapa suruh mesum," tutur Della sebelum beranjak meninggalkan Aiden yang masih kesakitan.


"Tega banget sih jadi calon bini," gerutu Aiden.


"Calon bini belum resmi," teriak Della dari dalam kamarnya. Aiden mendelikan matanya.


"Bentar lagi juga resmi, malah sekalian resmi jadi nyonya muda Abhivandya," jawab Aiden juga dengan berteriak.


"Emangnya aku mau jadi nyonya muda Abhivandya," ucap Della sembari menonggolkan kepalanya di balik tembok kamarnya.


"Kan aku maksa, jadinya ya mau lah. Walaupun gak maksa pun kamu juga mau, gak mungkin nolak punya suami masa depan yang ganteng dan juga kaya raya seperti aku ini," tutur Aiden PD yang membuat Della mencebikkan bibirnya.


"Udah maksa, Pdnya nauzubillah lagi. Amit amit anak aku nanti semoga gak kayak kamu," ucap Della sembari kembali ke dalam kamar.


"Kan anak kamu nanti juga anak aku, jadi wajar dong kalau anak kita nanti sama kayak daddynya," tutur Aiden.


"Terserah kamu lah, suka-suka kamu aja." Aiden tersenyum mendengar ucapan Della tadi hingga tak terasa rasa sakitnya masih aja berdenyut di lengannya. Ia mengalihkan pandangannya.


"Astaga sampai biru gini, pantesan sakitnya gak hilang-hilang," gerutu Aiden dan kemudian ia beranjak dari duduknya menuju kulkas untuk mengambil es di dalamnya dan setelah itu ia segera mengompres lengannya tadi.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Semoga kalian suka eps kali ini😚


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja kalian membangun tingkat kehaluan author absurd ini yang semakin hari semakin menipisπŸ˜‚


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹