
Setelah menyelesaikan makannya mereka bergegas untuk pergi ke salah satu mini market yang kebetulan dekat dengan apartemen Aiden.
Dengan mata berbinar Della memasuki mini market tersebut. Ia segera menuju kesalah satu tempat yang terdapat beberapa bahan makanan disana. Sedangkan Aiden ia lebih memilih untuk mengikuti kemana Della pergi dengan mendorong troli belanjaan.
"Pak, bapak mau makan apa besok?" tanya Della semangat.
"Apa aja terserah kamu Del yang penting bisa di makan," ucap Aiden.
"Ck baiklah." Della memasukan beberapa daging sapi dan ayam kedalam keranjang dan segera melanjutkan jalannya ke arah bahan lainnya.
"Eh bentar pak." Della menghentikan langkahnya secara mendadak dan memutar tubuhnya menghadap Aiden yang berada tepat di belakangnya. Aiden yang mendapat Della berhenti pun dengan refleks ia mengerem dirinya dan troli tadi supaya tidak menabrak tubuh Della.
"Kalau mau berhenti tuh ngomong dulu Della," tutur Aiden tegas sedangkan Della hanya menanggapinya dengan cengiran tak bersalahnya.
"Kenapa?" tanya Aiden.
"Ini semua bapak kan yang bayar bukan saya? kalau saya yang bayar nanti pulangnya ke Indonesia saya gak punya uang dong pak buat ongkos naik pesawatnya," alasan Della sembari mengedipkan matanya beberapa kali.
"Biasa aja jangan kayak gitu mukanya. Saya culik nanti baru tau rasa kamu," tutur Aiden yang tak kuat melihat tingkah Della yang begitu menggemaskan.
"Ck saya itu sama aja udah diculik bapak tau. Di paksa kesini tanpa bawa apa apa dari rumah dan gak bilang orang tua lagi. Kan sama aja" tutur Della yang memang ia tak izin keluarganya selain Rina tentunya dan ia juga meminta Rina untuk merahasiakan ia sekarang tengah ke London.
"Beda Della, kalau saya sekarang sedang menculik kamu, pasti kamu gak akan bisa jalan jalan kesini. Belanja, makan dan kekantor tadi."
"Hmmm bener juga sih. Ah udah lah pak yang penting belanjaan ini nanti bapak yang bayar bukan saya hehehe," ucap Della sembari berlari kecil menjauh dari Aiden. Sedangkan Aiden menatap Della dengan senyum manis di wajahnya.
"Kuatkan hati hamba ya Allah. Jangan sampai saya khilaf nanti," batin Aiden.
Sudah hampir satu jam mereka berada di mini market tersebut.
"Pak Aiden," panggil Della yang membuat sang empu menengok ke arahnya.
"Apa?" tanya Aiden yang tengah memilih buah di depannya.
"Hmm boleh gak saya beli cemilan yang saya suka tapi bapak yang bayarin sekalian hehehe." Aiden menghentikan aktivitasnya dan memincingkan sebelah alisnya keatas.
"Emang mau beli cemilan apa?" tanyanya penasaran.
"Coklat pak hehehe, boleh ya pak please," rengek Della seperti anak kecil yang memohon kepada Ayahnya supaya apa yang ia inginkan bisa di turuti olehnya. Tak lupa Della juga mengeluarkan jurus andalannya yaitu puppy eyes yang membuat siapa saja tak tega melihatnya. Aiden menghembuskan nafas panjang setelah itu ia mengangguk pasrah.
"Yes, thanks Pak Aiden yang paling baik hati dan sedikit tidak somong," ucap Della dengan refleks memeluk lengan kekar Aiden.
Aiden yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa terbengong dan menikmati gejolak aneh di dalam tubuhnya.
Della melepas pelukannya tadi, "Pak Aiden tunggu di sini aja, jangan kemana mana sebelum saya kembali oke," ucap Della dan segera meninggalkan Aiden yang masih mengatur nafasnya.
Della sekarang sedang mencari coklat yang sangat ia rindukan di deretan berbagai aneka coklat dengan jenis berbeda beda. Ia terus mencarinya tapi hasilnya sama saja ia tak menemukan satu potong pun coklat itu.
Della mendengus kesal, "Ish kok gak ada sih," ucapnya frustasi. Namun ia terus berusaha menelusuri bahkan membelah deretan coklat coklat yang tertata rapi di sana satu persatu siapa tau ada yang nyempil, pikir Della.
Dan akhirnya usahanya pun tak sia sia. Ia berhasil menemukan coklat yang dia incar di belakang deretan coklat yang hampir mirip dengan coklat The Belgian Milk Chocolat yang sekarang di tangan Della. Della berjingkrak kegirangan hingga ia menabrak orang di belakangnya.
"Fredella," ucap pria yang tadi di tabrak Della.
Panggilan pria tadi mampu mengembalikan kesadarannya dari bayang bayang masa lalunya. Ia berusaha menetralkan tubuhnya bahkan keringat dingin pun sudah mulai menenuhi tubuhnya.
"Kamu kemana aja?" tanya pria itu.
"Bukan urusanmu, permisi dan sekali lagi saya minta maaf," ucap Della dan ketika ia hendak meninggalkan pria tersebut tangannya lebih dulu di cekal olehnya.
"Lepasin tangan kotor anda dari saya," ucap Della sembari mengibaskan tangannya tadi namun hasilnya nihil ia tak bisa melepaskan genggaman tangannya pria itu.
"Gak akan," tutur pria tersebut sembari mendekatkan dirinya ke tubuh gemetar Della.
"Mau apa kamu?" ucap Della memasang alarm siaga satu di tubuhnya.
"Aku udah cari kamu kemana mana Del selama ini, tapi keberadaanmu bagaikan di telan bumi," ucapnya yang terus mendekatkan ke Della.
"Stop atau saya teriak," tutur Della bergetar. Namun ucapnya tadi tak di indahkan oleh pria tersebut, ia terus memepet tubuh Della hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Hembusan nafas dari pria itu bisa Della rasakan, aroma parfum yang dulu sering ia rindukan kini kembali ia cium lagi namun bukan lagi di rindukan melainkan memuakkan baginya sekarang.
"Teriaklah gak akan ada yang peduli." Della mulai meneteskan air matanya.
Hingga suara seorang wanita mampu mengalihkan perhatiannya pria tersebut, "Baby," panggilnya yang tak berada jauh dari tempat Della dan pria tadi. Dengan segera Della menendang aset pribadi pria tersebut dan bergegas berlari menjauh dari dirinya.
Della menghentikan langkahnya tepat di depan Aiden yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Hey kenapa?" tanya Aiden penasaran namun bukanya di jawab, Della malah berhambur kepelukan Aiden dan menangis sejadi jadinya di balik dada bidang Aiden.
Aiden yang secara tiba tiba mendapat pelukan dari Della awalnya syok tak menyangka seorang Fredella Genoveva yang biasanya di tatap oleh dirinya saja tidak mau, lah ini ia malah memeluknya dengan erat. Namun ia tersadar dengan kekagetannya tadi dengan suara Della yang menangis di pelukannya. Dengan perlahan Aiden membalas pelukan Della dan membelai lembut rambut Della.
"Ada apa?" tanya Aiden lembut namun Della hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Pulang," ucap Della samar.
"Oke kita pulang, tapi bayar ini dulu," ucap Aiden sembari meregangkan pelukannya.
Della menatap wajah Aiden dan mengangguk kepalanya. Aiden tersenyum manis ke arah Della yang menatapnya sedikit mendongak karena jarak tinggi badan mereka. Dengan refleks Aiden menghapus air mata Della dengan kedua tangannya.
"Jangan nangis lagi, saya gak suka lihat air mata kamu keluar," tutur Aiden dan segera menggandeng tangan Della menuju kasir guna membayar belanjaannya. Sedangkan Della ia tak menolak sama sekali perlakuan Aiden saat ini, ia hanya merasa nyaman dan aman ketika berada di sebelah Aiden.
💜💜💜💜💜
Sebenarnya kalian berdua tuh saling suka, tapi gak ada ngungkapin perasaan duluan ah dasar Aiden dan Della 😂. Dah ah author gak mau bacotðŸ¤
HAPPY READING GUYS 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, kasih hadiah juga boleh author ikhlas 🤠biar author absurd ini semangat nulisnya nghokey👌
Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋