My Bos CEO

My Bos CEO
94


Pria yang mendengar jatuhnya sendok dari tangan Della itu pun mengalihkan pandangannya dari Airen. Ia sama tak percayanya dengan Della. Bagaikan mimpi di siang bolong ketika ia melihat wajah Della kembali.


"Kak Della kenapa?" Ucapan Airen mampu mengembalikan kesadaran dari Della. Della mengatur ekspresinya dan memaksakan senyuman kepada Airen.


"Gak papa kok cuma tanganku licin tadi jadinya jatuh deh sendoknya," ucap Della sembari berusaha untuk mengambil sendok kembali namun kesusahan dan dengan sigap pria tersebut menjongkokan tubuhnya untuk mengambil sendok yang jatuh itu dan menyerahkan kembali kepada Della.


Della dengan segera mengambilnya dari tangan pria tersebut. "Terimakasih," ucap Della tanpa tersenyum sedikitpun.


"Itu jangan dipakai lagi Kak. Biar aku minta ke pelayan lagi untuk mengganti sendok Kakak, tunggu sebentar sama pacar aku," ucap Airen sebelum beranjak pergi dari hadapan Della dan pria tersebut.


Setelah menjauhnya Airen dari jangkauan mereka berdua. Pria tersebut pun membuka ucapannya.


"Apa kabar?" Tanyanya sembari melihat wajah Della. Namun tak dijawab oleh Della ia memilih untuk terdiam. Sebenarnya Della ingin sekali pergi dari hadapan pria brengsek itu tapi tak enak hati dengan Airen.


"Aku tau kamu masih benci sama aku. Maaf Del aku benar-benar minta maaf. Aku selama ini selalu memikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa memanfaatkan kesalahanku walaupun aku yakin kamu tak akan pernah memaafkan kesalahan bejatku dulu," ucap pria tersebut. Della tetap merapatkan bibirnya tak ada niatan sama sekali menjawab ucapan demi ucapan yang terlontar dari pria dihadapannya hingga Airen telah kembali dengan membawa sendok untuk Della.


"Terimakasih," ucap Della sembari menerima sendok yang diajukan oleh Airen. Airen mengangguk dan tersenyum.


"Oh ya kak kenalin pacar aku Dion. Dion kenalin ini kakak ipar aku namanya kak Della," ucap Airen. Dion mengarahkan tangannya kepada Della dan disambut oleh Della. Dion sudah tak kaget lagi waktu melihat kondisi Della saat ini karena sedari ia bertemu dengan Della di sebuah minimarket di London ia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti kegiatan Della. Namun ia tak tau jika pria yang menikahi Della itu ternyata saudara kembar dari kekasihnya yang sekarang. Jangan tanya siapa dulu yang memanggil Dion dengan sebutan "Baby" karena itu tak lain dan tak bukan adalah Airen yang tengah berlibur di London pada saat yang bersamaan. Dan Della waktu itu tak sempat melihat wajah Airen dengan detail karena ia lebih memilih memanfaatkan kelengahan Dion pada saat itu.


"Della," ucap Della memperkenalkan dirinya.


"Dion, senang sekali bisa berkenalan dengan calon Kakak ipar," ucap Dion sembari menyunggingkan senyumannya.


Mereka melepas jabatan tangan keduanya dan kembali bersikap seperti orang yang baru kenal, mengalihkan untuk sementara waktu masa lalu yang membuat Della takut pada Dion sampai sekarang. Jangan sampai Airen jadi korban Dion sama seperti dirinya dulu.


Della menyelesaikan makannya saat mereka berdua tengah bermesraan. Della mengelap mulutnya sebelum beranjak dari duduknya.


"Kalian masih mau main disini kan?" Tanya Della basa-basi dan diangguki oleh Airen.


"Ya sudah aku pulang dulu. Airen jangan pulang malam-malam. Jaga diri baik-baik," ucap Della sembari menepuk pundak Airen.


"Siap Kakak ipar. Hati-hati," ucap Airen dan diangguki oleh Della.


Della melenggang meninggalkan mereka berdua tanpa berpamitan bahkan melirik sedikitpun kearah Dion. Sedangkan Dion hanya bisa menghembuskan nafas panjang menatap kepergian wanita yang dulu pernah ia cintai dan sekarang ia tengah berusaha untuk mendapatkan maaf darinya.


"Apa aku harus mati dulu baru kamu mau maafin aku Del," batin Dion.


*****


Paginya terpaksa tidur cantik Della harus terganggu karena ulah Airen yang teriak-teriak tak jelas didalam rumahnya. Della pun memutuskan untuk menemui Airen di lantai bawah.


"Berisik sekali. Ada apa?" Tanya Della setelah sampai di depan Airen.


"Tak ada apa-apa hanya sedang menonton film horor," jawab Airen dengan cengiran kudanya. Della berjalan mendekati Airen dan mendudukan tubuhnya disamping adik iparnya itu.


"Sejak kapan kamu sampai disini?" Tanya Della.


"Kamu dapat dari mana cemilan itu?" Tanya Della.


"Di lemari makanan dapur," tutur Airen santai. Dengan cepat Della merebut cemilan dari tangan Airen.


"Ish kenapa diambil sih Kak. Kalau kamu mau ambil di dapur sana kan masih banyak," ucap Airen sembari berusaha untuk merebut kembali cemilan ditangan Della.


"Beli sendiri dong jangan ambil punya orang," ucap Della ngegas. Kalau masalah makanan ia akan sangat tempramen sekalian tak ada seorang pun yang ia perbolehkan untuk menyentuh makannya sedikitpun.


"Pelit banget sih," tutur Airen.


"Bodo amat," ucap Della dan beranjak pergi dari hadapan Airen.


Tapi tanpa diduga oleh Della, Airen malah mengambil semua cemilan yang ada di dalam lemari makanan setelah memastikan Della tak terlihat lagi.


"Otw puas makan cemilan gratis," ucap Airen sembari membuka satu persatu cemilan dihadapannya.


1 jam telah berlalu dan kini Della sudah tampak cantik walaupun dengan daster yang sedikit sobek di bagian ketiaknya. Della tengah berjalan untuk makan paginya dan saat di dapur ia harus bertemu dengan Airen yang tengah mengambil minuman di lemari pendingin. Airen menatap Della dari atas sampai bawah.


"Ya ampun apa Aiden gak bisa beliin kamu baju sih Kak astaga," ucap Airen histeris.


Airen mendekati Della dan memutar tubuh Della perlahan.


"Astaga, Aiden. Kakak ipar gue kenapa gak lo urus kayak gembel gini pakaiannya. Astaga astaga astaga. Malu-maluin banget sih punya kembaran yang gak tanggung jawab sama istri sendiri," ucap Airen. Della memutar bola mata malas dan membungkam mulut cerewet Airen ketika adik iparnya itu ingin membuka suaranya kembali.


"Berisik," ucap Della dan melepas bungkamnya dari mulut Airen.


"Ya ampun Kak. Ayo kita belanja baju buat kamu. Hah keterlaluan emang Aiden tuh, awas aja kalau pulang aku omelin dia, tenang aja," tutur Airen sembari menggandeng tangan Della.


"Mau kemana?"


"Beli baju buat kamu lah, kan aku tadi udah bilang."


"Gak usah pakaian ku udah banyak di kamar," tolak Della.


"Kalau banyak kenapa yang dipakai baju yang udah sobek gini," ucap Airen tak percaya.


"Ini tuh trend tau," ucap Della sembari mendudukkan tubuhnya di kursi makan.


"Trend apaan kayak gini. Baju daster yang udah sobek di bagian ketiaknya," ucap Airen.


"Kalau gak sobek di bagian ketikan ya gak bisa di pakai dong," tutur Della menyebalkan.


"Hah terserah kamu lah Kak. Tapi kalau Aiden gak ngasih nafkah bilang sama aku biar aku tuker sama yang lebih ganteng lagi nanti," ucap Airen dan diangguki oleh Della yang sedang makan.


Mana ada Aiden gak ngasih dia nafkah sedangkan uang yang belum habis pun selalu mengalir terus tanpa Della minta dan apapun yang ia inginkan pasti dipenuhi oleh suaminya itu. Kalau masalah baju yang ia pakai saat ini karena Della sangat suka memakai daster apalagi saat dia tengah hamil besar begini rasanya bisa bernafas dengan lega tanpa tekanan karena memakai pakaian yang ketat. Dan Della kalau sudah suka dan nyaman dengan jenis baju apapun ia tak akan membuang baju itu sejelek apapun bentuknya kalau masih bisa diperbaiki dan masih layak untuk ia kenakan akan terus ia gunakan sampai ia bosan dan baju itu sudah benar-benar tak layak untuk ia pakai.