My Bos CEO

My Bos CEO
Extra Part 13


Triplets kini tengah bermain bersama seperti biasanya. Tanpa ditemani oleh baby sitter mereka bertiga dan hanya Della saja yang berada disana.


"Sayang, Mom tinggal ke toilet sebentar ya. Kalian jangan kemana-mana!" Triplets menganggukkan kepalanya kompak. Setelah itu Della segera pergi ke toilet.


"Abang," panggil Edrea.


"Hmm," jawab kedua pria kecil tersebut berbarengan.


"Rea bosen nih. Pindah tempat yuk, jangan dikamar mulu."


"Pindah kemana?" tanya Azlan.


"Hmmm kemana ya?" ucap Edrea sembari menaruh jari telunjuknya di dagu seakan-akan tengah berpikir keras.


"Aha gimana kalau kita pindah di kamar yang didepan kamar Edrea," sambungnya.


Azlan dan Erland saling pandang lalu keduanya menatap Edrea.


"Kamar yang sering dikunci itu?" tanya Erland. Dengan sangat antusias Edrea mengangguk.


"Yang sering di masukin Mom sama Dad tanpa sepengetahuan kita?" kini Azlan yang bertanya.


"Iya ih, kamar itu. Ayo lah kesana. Edrea pernah lihat dikit isi kamarnya bagus banget," ucap Edrea.


"Tapi kamarnya dikunci Rea."


"Dan kalau Mom sama Dad tau pasti marah," imbuh Erland.


"Ck Abang mah gak seru ih. Padahal Dad lagi kerja dan Mom juga lagi pup yang pasti akan lama di dalam kamar mandi. Kalau masalah kunci, Edrea punya kuncinya," ucap Edrea kemudian ia melangkahkan kakinya menuju laci di nakas kamarnya.


Setelah mendapat apa yang ia cari, Edrea kembali menghampiri kedua Kakaknya.


"Tadaaa. Ini kuncinya." Erland menyaut kunci yang menggantung di tangan Edrea.


"Darimana kamu dapat kunci ini?' tanya Azlan penuh selidik.


"Hehehe aku ambil dari kamar Mommy sama Daddy tapi aku udah minta izin kok," jawabnya dengan cengiran di bibirnya.


"Terus Mom sama Dad udah kasih izin?" Edrea menggelengkan kepalanya.


"Lah terus?"


"Aku ambil kunci itu saat Mom sama Dad gak ada dirumah dan aku izinnya ke angin di kamar itu. Toh anginnya saat itu akan menyampaikan ke Mom dan Dad kalau mereka udah pulang," ucapnya polos.


Azlan maupun Erland menepuk jidatnya. Tak habis pikir dengan kepolosan sang Adik perempuan satu-satunya ini.


"Udah lah Bang jangan banyak mikirnya. Tar keburu Mom keluar dari kamar mandi lho. Buruan ih." Edrea berdiri dan menarik tangan kedua Kakaknya untuk segera mengikuti aksinya.


Dengan terpaksa dan juga rasa penasarannya, Azlan dan Erland pun mengikuti Edrea hingga akhirnya mereka bertiga telah sampai di depan kamar misterius itu.


"Buka gih Bang!" ucap Edrea tak sabaran.


"Sabar." Erland yang tadi membawa kunci kamar tersebut pun akhirnya maju dan berusaha untuk membuka kunci tersebut.


Klek klek klek


Bunyi kunci tersebut berhasil Erland buka.


"Siapa yang mau buka pintunya?" tanya Erland.


"Abang Azlan aja." Erland pun mengangguk dan mempersilahkan Azlan untuk bertukar posisi dengannya.


Tangan Azlan bergerak perlahan membuka kenop pintu tersebut agar tak menimbulkan suara sedikitpun.


Ceklek


Akhirnya pintu itu terbuka. Azlan melirik kedua Adiknya dan menyuruh mereka berdua segera masuk terlebih dahulu. Setelah keduanya masuk, ia memastikan situasi sekitar. Saat merasa aman, ia menyusul masuk keduanya dan kembali menutup pintu tersebut.


"Ya ampun gelap banget," ucap Edrea sembari mencekram kuat tangan Erland.


"Nyalain lampunya dong Bang!" perintah Edrea.


"Bang Azlan lagi cari. Kamu tenang dulu," kata Erland sembari menenangkan Edrea yang phobia dengan kegelapan.


Azlan dengan langkah kecilnya menyusuri ruangan tersebut sembari tangannya selalu meraba tembok untuk mencari saklar lampu disana namun hasilnya nihil, ia tak menemukan saklar tersebut.


"Bang Azlan lama ih," geram Edrea.


"Kayaknya saklarnya gak bisa kita jangkau deh," ucap Azlan yang sudah kembali disamping mereka berdua.


"Terus gimana dong?" tanya Edrea dengan suara kecewanya.


Mereka bertiga sama-sama terdiam hingga akhirnya Erland angkat bicara.


"Ha gimana kalau kita buka jendela di kamar ini," ucapnya.


"Boleh tuh. Tapi jalannya harus hati-hati jangan sampai kita menimbulkan suara," ucap Azlan.


Setelah mendapatkan ide tadi, mereka bertiga kompak bergerak dan saling bergandeng tangan menuju jendela yang sangat tertutup rapat.


Saat mereka berhasil sampai di jendela tadi, dengan perlahan Azlan dan juga Erland membukanya dan akhirnya kamar yang tadi gelap hanya ada sedikit pencahayaan kini tampak jelas dengan sinar mentari yang sudah redup. Walaupun begitu cahayanya masih bisa menerangi seluruh kamar tersebut.


"Wah serba pink kayak kamarnya Rea," ucap Edrea dengan berbinar.


Edrea berjalan melihat-lihat seluruh sudut ruangan tersebut hingga matanya menangkap satu bingkai foto diatas nakas.


Ia memincingkan alisnya.


"Ini foto siapa? Kalau foto aku waktu bayi gak kayak gini," gumamnya.


Edrea mengalihkan pandangannya kepada kedua Kakaknya yang mematung di depan foto bayi yang sama persis dengan yang dilihat Edrea tadi bedanya hanya foto yang dilihat Edrea berada di atas nakas dan berukuran kecil sedangkan yang ditatap Azlan dan Erland itu foto yang lebih besar dari foto tadi dan di gantung di tembok.


Edrea menghampiri Azlan dan Erland yang masih terus menatap foto tersebut dengan penasaran.


"Ini foto Bang Azlan atau Abang Erland?" tanya Edrea saat dirinya sudah ditengah-tengah mereka berdua.


"Ini bukan fotoku," ucap Azlan.


"Ini juga bukan fotoku," kata Erland.


"Rea pun juga yakin kalau ini juga bukan foto Rea. Tapi kalau bukan foto kita bertiga, foto siapa dong?" tanya Edrea. Mereka bertiga sekarang tengah berada di pikiran masing-masing sampai mereka tak tau kalau dibelakangnya ada dua orang yang tengah memperhatikan gerak gerik si triplets dari tadi.


"Mungkin ini udah waktunya," bisik salah satu orang tadi. Kedua orang tersebut mendekati triplets, hingga mereka tepat dibelakang ketiganya.


Triplets dengan kompak menengok kearah sumber suara dan bertapa kagetnya mereka saat melihat Della dan Aiden sudah berada didalam ruangan yang sama.


"Mom, Dad," ucap Edrea yang sudah ketakutan.


"Hey kenapa? Mom sama Dad gak akan marahin kalian kok," ucap Della sembari tersenyum.


"Jadi gimana kalian mau tau gak siapa dia?" tanya Aiden.


Ketiganya pun mengangguk.


"Baiklah Mom akan kasih tau ke kalian kalau foto itu adalah foto Kakak kalian."


"Kakak?" tanya mereka.


"Iya. Namanya Aila William Abhivandya. Putri pertama Daddy sama Mommy," ucap Aiden.


Triplets semakin penasaran sehingga membuat tubuh ketiganya terduduk dilantai. Ingin rasanya Della dan Aiden tertawa dengan tingkah triplets yang menggemaskan.


Della dan Aiden pun ikut duduk dilantai bersama mereka.


"Terus Kakak sekarang kemana? Kok kita gak pernah ketemu?" tanya Azlan.


"Kak Aila sekarang sudah bersama Allah. Dia sudah disurga," jawab Della.


"Surga tuh jauh ya Mom?" kini Erland yang bertanya.


"Iya sayang. Bahkan sangat jauh diatas langit."


"Apa Kakak gak mau pulang kesini Mom?"


"Kakak gak bisa pulang sayang karena Kakak udah bahagia disana."


"Yah kalau Kakak gak pulang kita gak bisa ketemu dong," ucap Azlan dengan kecewa.


Aiden dan Della saling tatap namun setelahnya mereka tersenyum.


"Kalian mau ketemu Kak Aila?" tanya Aiden dan dengan serempak triplets mengangguk.


"Baiklah besok Dad sama Mom akan ajak kalian ketemu sama Kak Aila tapi sekarang kalian harus belajar dulu oke."


Triplets berdiri dari duduknya dan dengan sikap hormat mereka menjawab ucapan Aiden sebelum akhirnya keluar dari kamar yang dulu Aiden desain khusus untuk Aila.


...*****...


Paginya seperti yang dikatakan Aiden kemarin, mereka sekeluarga akan mengunjungi makam Aila.


"Triplets udah siap belum?" teriak Della dari lantai bawah.


"Sudah Mom tinggal turun ini," jawab Azlan dengan teriakan pula.


Tak berselang lama triplets menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orangtuanya.


"Let's go kita berangkat sekarang," ucap Edrea dengan semangat.


Mereka berlima pun menuju mobil dan Aiden pun menjalankan mobilnya setelah memastikan keluarga kecilnya sudah aman dan nyaman di dalam mobil tersebut.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit, mobil yang ditumpangi oleh keluarga kecil tersebut telah sampai disalah satu TPU daerah setempat.


"Lho Mom kok kita ke sini sih?" Tanya Edrea yang nampaknya belum paham dengan maksud Della dan Aiden kemarin. Sedangkan Azlan dan Erland sepertinya sudah tau maksud yang diucapkan kedua orangtuanya saat mereka telah sampai di area makan tadi.


"Katanya Rea kemarin mau ketemu Kak Aila." Edrea pun mengangguk.


"Ya udah disini tempat Kak Aila sekarang," ucap Della.


Edrea terdiam setelah itu ia mengikuti langkah kedua Kakaknya yang lebih dulu berjalan di depan bersama Aiden.


Sampai akhirnya mereka berlima sekarang berada tepat dimakam Aila.


Aiden dan Della menjongkokan tubuhnya diikuti oleh ketiga anaknya.


"Hay Kak Aila. Nama aku Erland," ucap Erland sembari menaburkan bunga ke atas gundukan tanah tersebut.


"Kalau aku Azlan. Abang dari Erland dan Edrea," kini Azlan yang memperkenalkan dirinya.


"Kak Aila pasti udah tau dong aku siapa, kan aku paling cantik diantara keluarga kita," tutur Edrea dengan sifat narsisnya yang tak pernah ketinggalan.


"Kita doa dulu yuk buat Kak Aila," ucap Aiden dan diangguki triplets. Dengan khusyuk triplets menutup matanya dengan mulut yang komat-kamit membaca doa untuk Aila.


Della dan Aiden saling tersenyum.


"Sayang, maafin Mom dan Dad yang baru ajak Adik-adik kamu kesini ngunjungi kamu. Mereka tampak sangat antusias kemarin saat ingin kesini dan melihat kamu. Tenang di surga ya sayang. Tunggu Mom dan Dad disana. Kamu akan selalu di hati Mom dan Dad kapanpun tak akan pernah hilang dari lubuk hati kita. Maafkan kita yang belum sempat merawat kamu sayang dan selalu bahagia disana. Mom dan Dad selalu sayang kamu. Love you more Little Angelnya Mommy dan Daddy," gumam Della. Aiden yang mendengar ucapan Della pun tersenyum dan memeluk tubuh Della.


"Terimakasih sayang karena kamu sudah pernah hadir di keluarga kita walaupun hanya sesaat. Keberadaanmu tak akan pernah kita lupakan. Love you Little Angel," batin Aiden.


Triplets yang sudah selesai dengan acara berdoanya pun segera beranjak dari jongkoknya dan kini tangan mungil mereka tengah menaburkan bunga ke atas makam Aila.


"Kak Aila bahagia selalu ya di surga. Azlan, Erland dan juga Edrea akan selalu mendoakan Kakak dan Kakak akan selalu dihati kita bertiga," ucap Azlan mewakili triplets sembari memeluk batu nisa tersebut diikuti oleh Erland dan Edrea.


Della dan Aiden yang melihat moments tersebut sempat menitikkan air mata namun dengan segera mereka hapus.


"Sini," ucap Della sembari merentangkan tangannya dan disambut oleh triplets. Keluarga kecil tersebut saling berpelukan disamping makam Aila.


"Dan terimakasih tuhan engkau telah menggantikan kepergian Aila dengan ketiga malaikat kecil saat ini. Entah apa yang aku perbuat dulu hingga engkau mau bermurah hati. Hanya rasa syukur yang selalu aku ucapkan atas kebahagiaan yang selalu engkau limpahan. Untuk malaikat kecilku yang sudah didalam pangkuanmu, aku harap engaku menjadikan dia sebagai bidadari kecil di surgamu yang akan selalu tersenyum bahagia bersamamu. Aku mohon kebahagian ini selalu berada di dalam rumah tangga kita Tuhan, tanpa ada penganggu yang akan merusak kebahagiaan ini. Pererat tali kasih sayang kita sehingga kita bisa bersama didunia maupun diakhiratmu nanti," batin Aiden penuh dengan pengharapan.


Mereka pun melepaskan pelukannya.


"Kita pulang yuk. Minggu depan kita kesini lagi," ucap Della.


"Kak Aila kita pulang dulu ya. Kakak tidur yang tenang. Minggu depan kata Mommy kita ketemu lagi. Bye bye Kak Aila," pamit Edrea sembari melambaikan tangannya.


"Sayang kita pamit pulang dulu ya. Assalamualaikum," pamit Aiden.


Mereka berlima pun berjalan meninggalkan makam Aila dengan bergandengan tangan satu sama lain dengan candaan dan tawa dari Triplets yang mengiringi perjalanan mereka. Harapan yang selalu mereka pinta adalah kebahagiaan yang tak akan lekang oleh waktu walaupun dengan adanya rintangan yang akan mereka hadapi namun tak akan pernah memisahkan keluarga kecil tersebut. Hidup bersama dengan damai dengan bumbu-bumbu sedikit didalamnya hingga maut memisahkan dan akan dipertemukan lagi di akhirat kelak dengan kebahagiaan juga tentunya bahkan lebih membahagiakan dari saat mereka di dunia. Aamiin...


...~END~...


Akhirnya Extra Partnya telah usai. Terimakasih untuk semuanya yang sudah dengan senang hati membaca cerita absurd ini.


Btw masih ada kah yang menunggu cerita Triplets versi dewasanya? kalau ada ngomong ya hehehe biar author segera up dan gak malas-malasan buat ceritanya hehehe 🤭 Jawab ya please 🤭 kalau masih banyak yang minat insyaallah besok author usahain buat revisi ceritanya🤭


Dah dulu ya bye bye👋