My Bos CEO

My Bos CEO
45


Setelah membayar belanjaannya tadi, mereka segera pulang ke apartemen Aiden. Di dalam perjalanan tak ada pembicaraan dari mereka berdua, hingga mereka sampai di apartemen.


Della segera berjalan lebih dulu meninggalkan Aiden yang sedang menurunkan belanjaannya.


"Tuh anak kenapa sih? Kok aneh gak kayak biasanya yang super duper gak bisa diem," gumam Aiden dan segera menyusul Della yang sudah jauh di depannya. Aiden sedikit kesusahan membawa belanjaan di kedua tangannya.


Setelah ia sampai di dalam apartemennya, Aiden menaruh belanjaan tadi kedalam dapur dan segera mencari keberadaan Della yang entah kemana sekarang.


Aiden mulai menelusuri setiap sudut ruangan namun tak ada Della di sana.


"Kemana sih tuh anak, perasaan tadi di depan dan udah masuk kedalam tapi kok gak ada. Apa jangan jangan ke kamar gue lagi?" gerutu Aiden dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.


Ia segera membuka pintu yang kebetulan tak di kunci namun sama saja tak ada sosok Della di dalam sana. Aiden mendadak khawatir dengan Della saat ini pikirannya sudah melayang entah kemana yang ada di pikirannya sekarang adalah Della sekarang dimana.


Aiden kembali keluar kamarnya dan hendak pergi keluar apartemen namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Della di belakangnya.


"Pak Aiden mau kemana malam-malam begini?" ucap Della yang mampu membuat Aiden bernafas lega. Ia membalikkan badan menghadap Della yang sekarang sedang duduk manis di sofa sembari memakan cemilan di tangannya.


Aiden mendekati Della dan mendudukan tubuhnya di sampingnya.


"Kamu tadi kemana? Saya cariin kamu dari tadi taunya muncul tiba tiba disini," ucap Aiden.


"Bapak nyariin saya?" tutur Della memastikan.


"Ck kuping kamu kemana, harus gitu ucapan saya tadi di ulang lagi," ucap Aiden kesal.


"Hehehe saya cuma memastikan Pak, gitu aja marah," tutur Della dengan cengiran tak berdosanya.


"Saya tadi salah masuk apartemen Pak hehehe," sambung Della jujur. Aiden mengangkat sebelah alisnya tak percaya dengan omongan Della.


"Jadi saya tadikan turun dari mobil, terus nyelonong gitu aja nah pas saya masuk lift itu ada laki-laki yang saya pikir itu bapak. Habis itu laki-laki tadi keluar dari lift terus saya ikutin dia sampai masuk apartemennya," cerita Della panjang lebar.


Dengan seketika Aiden yang mendengar penuturan Della dengan refleks menepuk jidat Della pelan yang membuat sang empu kaget.


"Ceroboh," ucap Aiden.


"Lain kali di pastikan dulu kalau itu saya atau bukan bahkan kalau kamu sama sahabatmu atau keluarga mu pastikan lagi itu mereka atau bukan. Jangan sampai kejadian ini keulang lagi, kalau kamu tadi di apa apain gimana hah," tutur Aiden.


"Ck iya iya pak, toh tadi mas bulenya juga baik banget kok."


"Belum tentu semua orang baik Della. Baru juga ketemu tadi kan kamu, udah menyimpulkan kalau itu orang baik. Emang kamu tau isi hati orang tadi hah," geram Aiden.


"Ya enggak sih pak, tapi kan dia tadi nawarin saya buat mampir dulu dan makan minum di apartemennya, berarti dia baik dong." Aiden memejamkan matanya sebentar menetralkan emosinya.


"Terus kamu mau makan sama minum disana?" tanya Aiden.


"Enggak pak," jawab Della sembari memasukan cemilannya kedalam mulut.


"Kenapa?"


"Hmm karena cowok tadi nawarin makanan yang gak halal sama minumannya beralkohol," ucap Della polos.


"Kalau makanan tadi halal terus minumnya gak beralkohol kamu mau menerimanya?"


"Iya dong pak. Lumayan kan gratis hehehe."


"Astaga Della Della, kamu tuh terlalu polos atau bodoh sih. Gimana kalau makanan tadi di beri obat tidur atau obat yang lain terus kamu di apa apain sama mereka gimana. Please lah Del jangan terlalu bodoh dan percayaan jadi orang lain apalagi ini di luar negeri. Dan terlebih lagi kamu itu seorang perempuan yang apa bila kamu lalai dan ceroboh sedikit saja bisa berakibat fatal," ucap Aiden dengan menggebu-gebu.


"Ck iya iya bapak, bawel banget sih," tutur Della sembari mengerucutkan bibirnya.


"Hah bapak khawatir sama saya?" tanya Della dan hanya di jawab deheman oleh Aiden.


"Ah cie Pak Aiden khawatirin saya sampai marah marah begitu tadi ciee," goda Della sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Ck kenapa emang gak boleh?" tanya Aiden ketus.


"Boleh aja sih Pak hehehe," jawab Della sembari cengengesan.


"Tadi kenapa nangis?" tanya Aiden yang masih penasaran dengan Della yang tiba tiba menangis bahkan ia baru pertama kali melihat Della menangis.


Della merubah ekspresinya menjadi terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Aiden. Ia nampak berfikir alasan apa yang akan ia katakan, tidak mungkin ia memberi tahu orang lain bahkan orang tersebut bukan siapa-siapanya. Della menghela nafasnya.


"Hmmm tadi kan saya cari coklat yang udah lama gak saya makan Pak. Terus awalnya saya gak nemuin tuh coklatnya eh tiba tiba ada satu yang nyempil diantara coklat lainnya yang berbeda nah saya jadi terharu mangkanya saya nangis," ucap Della berbohong.


Aiden mengernyitkan dahinya tak percaya dengan ucapan Della tadi.


"Jangan bohong Della," ucap Aiden yang membuat Della gelagapan.


"Eh mana mungkin saya berani berbohong Pak, saya jujur lho ini," jawab Della sembari mengigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Oke untuk saat ini saya percaya sama kamu." Aiden berdiri dari duduknya.


"Dan jangan sampai kejadian tadi terulang lagi paham," ucap Aiden tegas.


"Iya iya Pak, saya paham," ucap Della. Aiden mulai berjalan menuju kamar tidurnya namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Della walaupun hanya samar samar di telinganya.


"Bawel banget sih. Temen bukan, keluarga bukan, pacar jangan harap apalagi suami, mimpi," gerutu Della lirih.


Aiden menyunggingkan senyumnya tanpa berbalik arah.


"Kalau kamu mau jadi pacar saya, ayo kita pacaran sekarang," ucap Aiden lantang membuat Della tersedak ludahnya sendiri.


Sedangkan Aiden setelah berkata seperti itu ia meninggalkan Della yang sudah kelabakan mencari minum untuk menetralkan batuknya.


Setelah menemukan air putih yang terdapat di dalam kulkas, Della segera menyambarnya, meneguk hingga setengah botol.


"Hah, sakit banget tenggorokan gue. Ini semua gara gara Pak Aiden gak ada akhlak yang seenaknya ngomong gituan. Kalau emang mau ngajak pacaran tuh nembaknya yang romantis gitu lho kayak di drama drama Korea, ajakin kek ke tempat romantis, pemandangannya indah di kasih bunga dan lainnya. Lah ini ngajakin pacaran apa ngajakin buat nagih hutang," gerutu Della sebal.


"Eh bentar. Pak Aiden tadi ngomong kalau mau jadi pacarnya ayo gitu kan, berarti Pak Aiden suka sama gue dong," ucap Della menerka nerka.


"Tapi gak mungkin sih, gue kan orangnya bawel gini apalagi kalau sama Pak Aiden udah kaya Tom and Jerry ribut mulu gak ada yang mau ngalah. Tapi kalau beneran gimana."


"Arkh tau ah gak jelas," ucap Della sembari melangkah kakinya menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Della merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mencoba menutup matanya namun gagal karena ucapan Aiden tadi masih terngiang-ngiang di kupingnya bahkan sudah merambah di otaknya.


"Arkh sial, lemah banget sih gue baru juga ucapannya yang gue rasa itu cuma buat ngerjain gue doang udah bikin gue susah tidur apalagi kalau itu beneran bisa gila gue arkh." Della menutup wajahnya menggunakan bantal yang ada di sampingnya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Jangan bosen baca cerita dari author absurd okeπŸ€—


Dan jangan lupa beri author LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 karena itu merupakan salah satu dukungan buat author semangat untuk nulis😁


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹