
Masih ditempat yang sama kedua keluarga pun berkumpul menjadi satu.
"Oh iya Del, Mama mau ngasih tau kalau pernikahan kalian akan di adakan satu minggu lagi," ucap Mama Yoona.
Della membelalakkan matanya mendengar ucapan Mama Yoona.
"Maaf Ma, apa gak terlalu cepat kalau satu minggu lagi," ucap Della.
"Lebih cepat lebih baik sayang," ucap Mommy Geva.
"Tapi Mom. Pernikahan kan juga butuh waktu untuk persiapan yang sangat lama," ucap Della.
"Persiapannya sudah 99% selesai, tinggal kalian berdua fitting baju aja," ucap Airen menimpali sembari mulut yang terus saja mengunyah makanan.
"Tenang sayang. Semua udah dipersiapkan oleh Mama sama Mommy. Kita tinggal nunggu beres aja," tutur Aiden mengelus puncak kepala Della lembut.
"Heh aku juga ya. Dan jangan lupa gaji aku setelah acara selesai. Semua gak ada yang gratis," ucap Airen tak terima. Aiden yang mendengar cuitan Airen pun hanya memutar bola mata malas. Sama kembaran sendiri masih saja perhitungan, dasar Airen.
"Baiklah kalau begitu," tutur Della final.
Mereka semua pun terus berbincang mengenai acara yang akan diselenggarakan satu minggu lagi hingga tak terasa waktu pun semakin larut. Kedua belah pihak dan juga sahabat Della dan Aiden pun pulang ke rumah masing-masing.
Tak terkecuali Della dan Aiden yang sekarang tengah didalam mobil Aiden untuk mengantar Della ke rumahnya.
Aiden terus menggenggam tangan Della seakan-akan kalau dia melepas genggamannya Della akan pergi dari sampingnya.
"Terimakasih kasih sayang," ucap Aiden sembari mencium tangan Della.
"Buat?" Tanya Della tak mengerti.
"Buat semuanya, terutama udah maafin aku yang pergi gitu aja dan sempat bohong sama kamu."
"Emang aku udah ngomong kalau maafin kamu?" Ucap Della dalam mode jahil.
"Kan kamu nerima lamaran aku, berarti kan kamu udah maafin aku dong," tutur Aiden sembari melirik Della yang duduk manis di sampainya.
"Nerima belum tentu maafin." Aiden menghentikan mobilnya. Ia menatap Della dalam.
"Kok gitu," ucap Aiden memelas.
"Kan udah dijelasin sama Airen tadi. Masak gak percaya dan kalau aku gak pakai cara itu namanya bukan surprise lagi dong sayang. Sekarang maafin aku ya," sambung Aiden.
Della membalas tatapan Aiden dengan senyum yang ia tahan.
"Kamu tau. Bohong itu kesalahan terbesar dalam sebuah hubungan," ucap Della dramatis. Aiden menganggukkan kepalanya mengerti. Memang sih dalam hubungan harus jujur dengan pasangan tapi ini kan sekali lagi buat surprise.
"Iya tau. Aku janji gak akan bohong lagi," ucap Aiden sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke, tapi kalau bohong lagi akibatnya tau sendiri kan?" Ucap Della sembari menautkan kedua jari kelingking mereka.
"Iya, aku tau kok. Maafin kesalahan calon suamimu ini ya sayangku, calon istriku," ucap Aiden sembari tersenyum dan di balas anggukan oleh Della.
"Terimakasih sayang. Sini peluk dulu." Aiden merentangkan kedua tangannya dan Della pun berhambur ke tubuh hangat Aiden.
"Kamu tau. Saat kamu cuekin aku bahkan ngelepas cincin itu rasanya aku udah gak ada harapan lagi buat hidup sama kamu," ucap Aiden tanpa melepaskan pelukannya.
"Lebay," tutur Della walaupun wajahnya sekarang tengah merona.
"Ini bukan lebay sayang. Tapi aku benar-benar takut kehilangan kamu dan kamu gak akan pernah lagi aku lepaskan dari hidupku," ucap Aiden yang sudah melepas tubuh Della dan berpindah menangkup kedua pipi Della.
"Kalau ada masalah di dalam hubungan kita apapun itu, kecil maupun besar. Jangan asal bilang kata pisah, selidiki dulu semuanya dan jangan pernah percaya omongan orang lain karena banyak orang di luar sana menginginkan kita untuk pisah. Untuk kedepannya apapun bentuk kerikil yang menimpa kita alangkah baiknya kita selesaikan dengan kepala dingin dan kita cari solusi bersama. Paham sayang," sambung Aiden. Della pun mengangguk mengerti dan kembali memeluk tubuh Aiden.
"Maafin aku yang kemarin sempat gak percaya sama kamu bahkan gak mau denger penjelasan kamu dulu," ucap Della menyesal.
"Sudahlah masalah kemarin jangan diungkit lagi dan kita buat pelajar untuk kedepannya," tutur Aiden sembari mengelus kepala Della.
"Ya udah kita pulang dulu, udah malam. Besok aku jemput untuk fitting bajunya." Della pun melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah Aiden.
"Hati-hati dijalan sayang," ucap Della sebelum keluar dari mobil Aiden namun ketika ia hendak membuka pintu mobil tersebut tiba-tiba Aiden mencekal tangannya.
"Bentar sayang," ucap Aiden. Della mengerutkan keningnya tak paham.
"Ada apa?"
"Mataku tiupin bentar. Kayaknya ada sesuatu yang masuk nih, perih banget," ucap Aiden sembari mengerjabkan matanya beberapa kali.
Della pun segera menuruti perintah Aiden. Ia mencondongkan tubuhnya kearah wajah Aiden dan membuka kelopak mata Aiden untuk melihat apakah ada sesuatu yang masuk sebelum ia meniupnya.
Namun ketika ia ingin meniup mata Aiden. Della dikejutkan oleh Aiden yang tiba-tiba mencium pipinya. Untung pipi bukan bibir, batin Della.
"Ih modus banget sih," ucap Della sembari memukul lengan Aiden.
"Kecupan selamat malam sayang," tutur Aiden sembari tersenyum.
"Ck udah ah." Della segera keluar dari mobil Aiden dan masuk kedalam pekarangan rumahnya seperti biasa ketika ia sampai di depan pintu ia akan melihat kearah mobil Aiden dan begitu juga Aiden akan menjalankan mobilnya setelah memastikan Della masuk kerumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Della setelah menginjakkan kaki di dalam rumahnya.
Della melihat sekelilingnya namun nampak sepi.
"Lah kenapa sepi. Masak udah pada tidur sih," gerutu Della. Ya walaupun memang jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.
Della melangkah menuju dapur untuk mengambil minum namun bayangan laki-laki menghentikan langkahnya. Della menelisik tubuh laki-laki itu dari atas sampai bawah. Memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan laki-laki tersebut.
"Kamu laper Dek?" Tanya Della setelah memastikan aktivitas yang dilakukan Felix sedari tadi.
Felix yang mendengar suara Della pun memutar tubuhnya untuk menghadap ke sumber suara.
"Hehehe iya," jawab Felix dan kembali fokus dengan mie instannya.
"Bukannya tadi kamu udah makan di restoran?"
"Masih laper," ucap Felix sembari menghidangkan makanannya.
"Astaga perut apa karet sih Dek?" Tanya Della heran pasalnya Felix itu tipe orang yang makan banyak tapi badannya stabil bahkan ada roti sobek di perutnya.
"Karet, dah ah sana pergi jangan ganggu," usir Felix. Della pun mencibirkan bibirnya dan segera mengambil satu botol air putih dan membawanya keatas kamarnya.
Namun ketika Della ingin membuka kamarnya, ia berhenti dan mengurungkan niatnya. Della memutar haluan menuju kamar sang Kakak pertamanya yang kebetulan pintu kamar tersebut belum sempurna ditutup.
Della pun segera masuk tanpa permisi dan melihat tubuh Maxime yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Della pun melepas sepatu yang tadi ia pakai dan segera naik keranjang Maxime. Della pun memeluk tubuh Maxime. Maxime yang merasa tidurnya terganggu, perlahan membuka matanya dan melihat tubuh Della tengah memeluknya dengan sangat erat.
"Kenapa?" Tanya Maxime dengan suara serak khas bangun tidur.
"Della tidur sama Abang malam ini. Gak ada penolakan pokoknya," ucap Della.
"Ck udah mau nikah juga masih kek anak kecil gini sih, tidur sendiri sana." Maxime mencoba melepas tubuh Della.
"Ya justru itu sebelum Della nikah dan Abang juga nikah. Della mau tidur sama Abang please ini yang terakhir," ucap Della memelas. Maxime menghembuskan nafas panjangnya, mana bisa dia menolak Della kalau sang empu sudah mengeluarkan jurus andalannya.
"Ya udah tapi bersihin tubuh kamu dulu sana," ucap Maxime pasrah. Della pun mendudukan tubuhnya dan memberi hormat ke Maxime setelah itu ia lari kearah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
*****
HAPPY READING GUYS ๐
Selamat menunaikan ibadah puasa ๐ค Marhaban ya ramadhan ๐
Tinggal jejak LIKE and VOTE, hadiah juga dong tentunya, biar author tambah semangat lho nulisnya๐คญ
See you next eps bye ๐