My Bos CEO

My Bos CEO
125


Aiden yang mendengar ucapan dokter Alisa pun bergegas masuk kedalam ruang periksa meninggalkan Miko dan perdebatan mereka berdua yang tak terhenti ketika Della dan dokter Alisa pergi.


Aiden yang mendadak khawatir pun langsung masuk kedalam ruangan tersebut tanpa permisi terlebih dahulu dan dorongan pintu yang kuat berhasil menimbulkan bunyi dobrakan yang sangat nyaring. Della dan dokter Alisa terperanjat kaget.


"Kebiasaan," protes Della. Aiden tak menghiraukan ucapan dari sang istri. Ia lebih memilih untuk mendekatkan dirinya lebih dekat kearah Della dan dokter Alisa sembari matanya tak lepas menatap layar monitor USG tersebut. Hingga Aiden sampai di dekat mereka berdua.


"Katakan anak saya gak kenapa-napa kan Dok?" Tanya Aiden tiba-tiba sembari mengalihkan pandangannya ke dokter Alisa dengan tatapan dingin. Dan tatapan itu mampu membuat dokter Alisa menciut.


Della mengelus lengan Aiden supaya sang suami lebih tenang.


"Tenanglah sayang. Baby kita gak akan kenapa-napa kok," ucap Della sembari menatap wajah Aiden yang kini sudah menatapnya dengan tatapan cemas.


"Yakinlah semua akan baik-baik aja," sambung Della yang masih berusaha menenangkan Aiden hingga sang empu terlihat lebih tenang sedikit.


"Dokter Alisa lanjutkan USG-nya. Gak usah takut sama Aiden. Dia gak gigit orang kok. Kalaupun dia gigit tar aku yang balas. Tenang aja oke," ucap Della sedikit bergurau supaya suasana mencekam dengan perlahan bisa mencair karena candaannya. Walaupun ia yakin candaannya tersebut benar-benar garing dan mengundang banyak jangkrik di sekitarnya.


Dokter Alisa tersenyum dan meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia dengan ragu menempelkan alat USG kembali ke atas perut Della.


"Jadi gimana Dok?" Tanya Aiden tak sabaran.


"Sebenarnya saya tadi berkata seperti itu bukan karena ada masalah dikandungan Kak Della melainkan saya hanya kaget saja karena ternyata baby di dalam perut Kak Della ada dua atau orang sering menyebut dengan twins atau juga kembar," ucap Dokter Alisa dengan memperlihatkan posisi kepala bayi di dalam perut Della dan juga gambaran muka baby tersebut walaupun masih terlihat kurang jelas.


Aiden dan Della terus menatap monitor tersebut tanpa berkedip sedikitpun.


"Jadi baby kita kembar Dok?" Tanya Della memastikan. Dokter Alisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Benar sekali Kak. Kan tadi sudah aku tunjukan posisi baby di dalam perut Kakak. Dan dua-duanya dalam keadaan sehat. Berat badan pas tak kebesaran. Posisi juga sudah baik. Insyaallah tak ada kelainan di dalam kandungan Kakak maupun babynya dan Alhamdulillah semuanya sehat." Della terlihat menghela nafas lega setidaknya kekhawatiran para orangtua kemarin salah semua. Malah ia tengah mengandung dua baby sekaligus dan perut besarnya juga wajar-wajar saja buat ukuran orang hamil baby twins.


Aiden yang juga mendengar keterangan dari dokter Alisa pun tersenyum lega. Akhirnya apa yang ia khawatirkan tadi tak kejadian.


"Oh ya dok. Kalau boleh tau jenis kelaminnya apa ya?" Tanya Aiden penasaran. Dokter Alisa kembali memutar alat USGnya.


"Aha ketemu," ucap dokter Alisa girang.


"Apa dok? Katakan!" Tutur Della yang juga tak sabar.


"Yang satu ini prince," ucap dokter Alisa yang menambah senyum Aiden melebar karena ia sangat menginginkan anak laki-laki yang nantinya akan menggantikan posisinya dikantor. Walaupun ia juga tak masalah jika memiliki anak perempuan. Aiden juga sangat senang bahkan wajah Aila yang sudah tak ada pun masih berada di memori otaknya yang kapan ia mau wajah Aila akan muncul tiba-tiba di dalam matanya.


"Dan yang satunya. Hmmm bentar," tutur dokter Alisa yang masih mencari posisi dimana jenis kelamin baby satunya lagi.


"Yah. Seperti baby yang ini sedikit pemalu. Lihat saja tangannya yang menghalangi kita untuk melihat jenis kelaminnya," sambung dokter Alisa.


Namun sepertinya usaha Aiden tak membuahkan hasil. Pergerakan dari baby pun tak Della rasakan dan dalam monitor pun juga tak memperlihatkan si baby bergerak.


"Sudah lah gak papa yang pentingkan sehat semuanya. Masalah jenis kelaminkan bisa nanti saat lahiran yang sudah jelas-jelas lihat dengan mata kepala sendiri tanpa adanya bantuan dari alat USG ini," ucap Della.


"Ya sudahlah aku nurut sama kamu aja sayang," tutur Aiden sembari mencubit gemas pipi Della yang mengembang dua kali lipat dari pertama mereka menikah dulu.


Dokter Alisa yang melihat keharmonisan dari pasangan terfavoritnya pun tersenyum. Dan tanpa sengaja otaknya membayangkan jika Aiden dan Della adalah dirinya dan laki-laki yang ia sukai namun nampaknya laki-laki tersebut sangat sulit untuk ia gapai bahkan sering menolak tegas dirinya walau hanya dalam bercandaan yang dilontarkan dari mulut orang lain bukan dirinya.


"Dok. Dokter Alisa," panggil Della sembari melambaikan tangannya didepan wajah dokter Alisa yang nampak sedang ngalamun dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Dokter Alisa pun tersedar dan menggelengkan kepalanya untuk menormalkan kembali pikiran gilanya saat ini.


"Eh iya ada apa Kak?" Tanya dokter Alisa sembari melanjutkan membereskan alat pemeriksa yang ia pakai tadi.


"Aku keluar dulu sayang," pamit Aiden sembari mencium puncak kepala Della. Stelah itu ia baru keluar dari ruang periksa tersebut.


"Dokter ada masalah atau sedang jatuh cinta. Sampai aku panggil beberapa kali gak ada jawaban. Mana lagi ngalamun sambil senyum-senyum pula," kepo Della.


"Gak ada apa-apa kok Kak. Cuma tadi ada bayangan aneh dan lucu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Jadi ya aku refleks senyum," alasan dokter Alisa yang hanya dijawab anggukan paham dari Della.


"Mari kita keluar Kak," ajak dokter Alisa sembari membantu Della turun dari ranjang rumah sakit.


Mereka berdua berjalan hingga sampai lagi diarea pertengkaran dari Aiden dan Miko yang tak ada habisnya.


"Debat mulu. Apa kalian gak capek?" Tanya Della yang sudah capek dengan tingkah mereka berdua walaupun ia terkadang juga menimpali perdebatan tersebut dan ujung-ujungnya Miko yang kalah.


"Ck yang buka perdebatan juga kamu Kakak ipar," gerutu Miko. Della memutar bola matanya malas. Tak ada niatan untuk membalas ucapan dari Miko. Lebih baik ia bertanya-tanya tentang dokter Alisa sembari bergosip sedikit atau sekedar curhat. Siapa tau kan dokter Alisa keceplosan tentang masalah tadi yang ia yakini bahwa bukan masalah besar yang dokter Alisa hadapi melainkan sedang jatuh cinta dengan seseorang lebih tepatnya cinta dalam diam.


Namun sayangnya baru juga ia ingin berucap. Tiba-tiba tangan Miko sudah berada di perutnya mengelus dengan lembut yang membuat Aiden memelototkan matanya tak terima.


"Heh tangannya," ucap Aiden sembari berusaha untuk menyingkirkan tangan Miko dari perut Della.


"Haish bentar doang. Cuma mau beradaptasi sama calon ponakan masa gak boleh toh ini juga pegangnya gak langsung," gerutu Miko.


"Oke kalau gitu aku kasih waktu 5 menit dari sekarang," ucap Aiden.


"Tapi kalau pegang gini tar ponakanku lama dong ngenalin Samchonnya. Jadi lebih baik kalau gak ada halangan baju. Mari kita lakukan," tutur Miko tanpa ia sadari tatapan Aiden yang sudah seperti harimau tak makan selama beberapa tahun dan siap menerkam mangsa kapanpun ia mau.