
"Kenapa lagi?" Tanya Aiden yang sudah tak tahan.
"Maaf, tapi aku lagi datang bulan hari ini." Ucapan Della bagaikan mala petaka buat Aiden. Jadi sedari tadi Della tak mengizinkan dirinya untuk meminta haknya karena dirinya tengah kedatangan tamu bulanannya yang tak bisa Aiden ajak kompromi.
Aiden menggeram kesal dan beranjak dari kasur tersebut menuju kamar mandi untuk menuntaskan dirinya sendiri. Kalau begini siapa yang akan ia salahkan. Mana mungkin ia menyalahkan Della karena tamu bulanan itu tak bisa diatur oleh Della sendiri apalagi Aiden.
"Arkh sial. Kenapa datang disaat yang tak tepat sih. Mana gue udah boking semua hotel ini dan memerintah semua bodyguard gue untuk memastikan tak ada satu orang pun yang menempati kamar di hotel ini terutama si curut-curut itu biar gak di ganggu mereka. Tapi malah tamu bulanan yang menggagalkan semuanya. Arkh," gumam Aiden frustasi.
Sedangkan Della, ia tengah membenarkan bajunya yang sudah tak rapi lagi. Della hanya bisa terdiam, ia paham bagaimana perasaan Aiden sekarang.
Tak berselang lama Aiden sudah keluar dari kamar mandi dan menuju kasur kembali dengan wajah ditekuknya.
Della yang tengah terduduk menatap kearah Aiden sampai suaminya itu tidur disampingnya dengan membelakangi dirinya bahkan Aiden tadi tak meliriknya sedikitpun.
Della menghembuskan nafas panjang dan merapatkan tubuhnya ke Aiden. Ia mengelus rambut Aiden lembut.
"Maaf,"ucap Della sembari menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah kepada Aiden yang telah gagal melakukan haknya.
"Sabar dikit ya," ucap Della kembali walaupun tak dijawab oleh Aiden.
"Aku juga gak tau kenapa tadi sehabis mandi malah keluar dan biasanya siklus datang bulanku mundur tapi sekarang malah maju. Sekali lagi maaf ya sayang." Della memejamkan matanya sebentar. Bagaimana caranya ia merayu Aiden sekarang? Arkh sudahlah ia juga tak salah jika di pikir-pikir lagi.
Della terus mengelus rambut Aiden hingga mata Aiden tertutup yang entah itu beneran tidur atau hanya untuk mengelabuhi Della supaya tak menyentuhnya lagi.
Della pun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Aiden singkat.
"Good night dan sekali lagi maafkan istrimu ini," ucap Della sebelum ia merebahkan dirinya disampaing Aiden dengan posisi tubuhnya menghadap punggung Aiden.
Ketika Della baru saja menutup mata, ia merasakan tangan Aiden sudah melingkar indah di pinggangnya. Della kembali membuka matanya. Ia menatap wajah Aiden yang juga tengah menatap dirinya.
"Belum tidur?" Tanya Della. Aiden menggelengkan kepalanya dan malah mengeratkan pelukannya hingga kepalanya tepat di dada Della seperti anak kecil yang tengah dipeluk ibunya. Della pun mengelus kepala Aiden.
"Maaf," ucap Aiden.
"Buat apa?"
"Karena sempat marah sama kamu dan mendiamkan kamu ditambah aku terlalu menuntut untuk meminta hakku sekarang," ucap Aiden menyesal.
Della pun tersenyum.
"Sudahlah, kamu gak salah. Karena emang itu hak kamu hanya saja saat ini waktunya belum tepat," ucap Della.
Aiden mendongakkan kepalanya menatap Della yang tengah menunduk.
"Sampai kapan aku harus menunggu lagi?" Ucap Aiden tak sabaran.
"Mungkin satu mingguan," jawab Della.
"Hah, kenapa lama sekali?" Ucap Aiden lesu.
"Bisa juga 3 hari udah selesai. Tinggal tunggu sebentar aja kok gak sampai 1 bulan," ucap Della memberi penjelasan.
"Baiklah," ucap Aiden sembari menenggelamkan wajahnya ke dada Della.
"Stop jangan kayak gitu. Tar kamunya gak tahan lagi. Sekarang tidur aja ya," ucap Della.
Aiden pun membenarkan posisi walaupun masih memeluk tubuh Della hanya bedanya sekarang Della yang berada di dadanya.
"Good night sayang," ucap Aiden sembari mengecup puncak kepala Della.
"Good night juga sayang," jawab Della.
Mereka berdua pun tertidur dengan tubuh yang saling berpelukan. Kalau di tanya Aiden kecewa? Aiden akan menjawab sangatlah kecewa karena keinginannya harus tertunda lagi. Tapi ia juga sadar bahwa disini tak ada yang salah antara dirinya ataupun Della dan dia juga mencoba untuk bersabar sebentar, toh nanti secepatnya ia juga akan mendapatkan hak dia. Aiden hanya perlu berpuasa untuk sementara waktu saja.
Paginya Aiden lebih dulu bagun dari tidur nyenyaknya. Ia mengerjabkan mata ketika melihat wajah Della yang pertama kali ia lihat ketika bangun. Sungguh pemandangan yang sangat lah menyegarkan untuk matanya.
Aiden menyelipkan rambut Della yang menutupi paras cantik istrinya itu di daun telinga Della. Ia menatap wajah Della dengan tatapan hangat sembari mengelus wajah Della.
Aiden mengecup seluruh wajah tersebut hingga membuat sang empu menggeliatkan tubuhnya dan sedikit demi sedikit membuka matanya. Ia menatap bingung kearah Aiden yang tengah tersenyum kepadanya.
"Pagi sayang," sapa Aiden. Namun Della tak menjawab sapaan dari Aiden. Ia sekarang malah tampak berfikir dan mengingat kejadian kemarin.
"Kenapa kamu tidur disini?" Tanya Della dengan mode polosnya.
"Kamu gak inget. Aku ini suami kamu Del," jawab Aiden.
"Hah masak sih?" Tanya Della lagi.
"Kamu kenapa sih sayang? Jangan jail dulu ini masih pagi," ucap Aiden.
Della masih terus berfikir hingga Aiden mengangkat tangan Della dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis Della.
"Kalau kamu gak percaya. Ini cincin nikah kita," ucap Aiden. Della pun meringis kala ia sudah mengingat kembali memori di otaknya.
"Hehehe maaf, otak aku kalau pagi suka loading dulu," ucap Della merasa bersalah.
Aiden menghembuskan nafas panjang. Ada ya orang yang melupakan kejadian sakral bahkan peristiwa itu baru kemarin di lakukan. Ada-ada saja istrinya ini.
"Hmmm dasar. Lain kali jangan lupa sama suami sendiri," ucap Aiden dan di jawab anggukan oleh Della.
"Ya udah mau kamu dulu yang mandi apa aku dulu atau kita sama-sama aja mandinya biar enak selesainya bisa barengan dan gak nunggu lama," tutur Aiden.
"Aku dulu aja. Sabar dikit kalau mau mandi bareng," ujar Della sembari bangun dari tidurnya tak lupa sebelum beranjak dari tempatnya ia mencium bibir Aiden sekilas.
Della berjalan santai kearah kamar mandi beda sekali dengan ia tadi malam yang harus berlari untuk menghindari tatapan Aiden karena ia sedang memakai baju dengan bahan jaring ikan yang sangatlah tembus pandang. Namun sekarang ia tak peduli lagi. Toh Aiden juga sudah melihatnya.
"Pulang kerumahku dulu ya. Ambil barang-barang aku yang disana," ucap Della yang sudah duduk manis di mobil Aiden. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang lumayan penuh dengan kendaraan bermotor.
"Iya sayang," jawab Aiden sembari mengelus singkat rambut Della.
Tak berselang lama mobil mewah Aiden memasuki halaman rumah Della yang tampak ramai tak seperti biasanya.
Della keluar dari mobil dan menuju ke dalam rumahnya di ikuti Aiden di belakangnya.
"Assalamualaikum," ucap Della dan Aiden berbarengan.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di dalam rumah tersebut yang ternyata ada keluarga Aiden juga di sana.
"Eh pengantin baru kebetulan sekali," ucap Mama Yoona sembari berjalan menghampiri Della dan Aiden yang masih berdiri diambang pintu.
"Duduk dulu." Mereka berdua pun menuruti perintah sang Mama.
"Ada apa ya Ma kok ngumpul semua disini?" Tanya Aiden tak mengerti.
"Jadi gini. Kita lebih tepatnya Mama dan Mom mau ngasih kalian hadiah buat pernikahan kalian," ucap Mommy Geva antusias dan diangguki oleh Mama Yoona.
"Hadiah?" Tanya Della.
"Iya. Mom dan Mama Yoona mau kirim kalian ke Korea buat bulan madu dan kalian akan berangkat nanti siang," jawab Mama Yoona.
"Dan kalian akan tinggal disana selama dua minggu. Apartemen dan kebutuhan kalian berdua Mama udah siapin. Kalian tinggal berangkat sampai sana buat anak dan pulang-pulang sudah ada cucu pertama kedua keluarga di dalam perut Della. Gimana setuju kan kalian? Tapi walaupun kalian gak setuju, kalian harus tetap berangkat," tutur Mama Yoona.
Sedangkan Della dan Aiden tengah saling pandang. Sebenarnya Korea adalah cita-cita Della buat bulan madu juga tapi kan mereka baru saja kemarin menyelesaikan upacara pernikahan yang sungguh melelahkan dan lagi pula Della sedang berhalangan.
"Gimana?" Tanya Della berbisik ke Aiden.
"Kamu mau gak?" Tanya Aiden balik.
"Ya mau lah. Ini gratis, lumayan juga kan dan Korea tuh impian aku buat bulan madu sedari dulu," ucap Della.
" Ya udah terima aja," tutur Aiden.
"Kamu yang jawab," ucap Della dan diangguki oleh Aiden.
"Gimana?" Tanya Mommy Geva.
"Baiklah Mom kita terima hadiah dari Mom dan Mama," ucap Aiden yang membuat kedua perempuan berumur itu berjingkrak kegirangan.
"Ya udah kalau gitu Della pamit sebentar ke kamar," ucap Della.
"Kamu mau beres-beres kan?" Tanya Mama Yoona dan diangguki oleh Della.
"Mama dan Mom bantuin," ucap keduanya berbarengan.
Mereka bertiga pun naik ke lantai atas untuk membantu Della menyiapkan apa yang akan ia bawa nanti. Sedangkan Aiden ia baru saja hendak beranjak dari duduknya namun ucapan Papa Juan menghentikannya.
"Mau kemana kamu?"
"Mau pulang."
"Ngapain pakai pulang segala?"
"Mau beres-beres juga Pa," ucap Aiden.
"Gak perlu. Keperluan kamu udah Mama siapin di koper itu," ujar Papa Juan sembari menunjuk satu koper besar yang tak jauh dari Aiden.
Aiden memutar bola matanya malas dan ia kembali mendudukan tubuhnya di sofa.
"Oh iya gimana tadi malam?" Tanya Papa Juan sembari menghampiri anaknya.
"Apanya yang gimana Pa?" Tanya Aiden balik.
"Jangan sok polos kamu Aiden. Tadi malam enak kan," ucap Daddy Geno yang ikut duduk disebelah Aiden. Kini tubuh Aiden diapit dua pria yang berbeda umur tersebut.
"Enak apanya Dad? Aiden beneran gak paham dengan pembahasan Dad dan Papa," ucap Aiden mengelak walaupun sebenarnya ia tau arah pembicaraan dari keduanya tapi masa iya Aiden akan cerita kalau tadi malam dia gagal untuk melakukan malam pertamanya, huh pasti sangat memalukan.
"Kamu udah ngelakuin itu kan, ngaku aja sama kita. Kalau perlu nanti Papa kasih cara supaya lebih nikmat," ucap Papa Juan.
Aiden memejamkan matanya sebentar. Boleh tidak sih dia membungkam mulut dua pria di sampingnya ini biar tak lagi membahas malam pertama yang hanya akan membuat Aiden murung kembali.
"Papa dan Dad kenapa kalian mau tau sekali masalah itu?"
"Karena kita mau tau reaksi kamu saat pertama kali mencoba kejantananmu itu. Apakah perkasa atau tidak," ucap Daddy Geno. Aiden memijit pangkal hidungnya.
"Papa dan Dad gak perlu tau, tunggu saja seberapa lama Della akan mengandung dan disitulah kalian akan menilai keperkasaanku. Sudah dulu ya Dad dan Papa. Aiden mau makan dulu," ucap Aiden yang memilih untuk menghindari keduanya daripada ia akan ditanya lebih lagi yang akan membuat Aiden tambah tak sabar lagi untuk menunggu Della selesai tanggal merahnya.
*****
HAPPY READING GUYS 😘
Ehem dapat salam dari babang Aiden alias pacar author yang manja sekali kalau udah sama Della 🤭 Semangat puasanya 😚 Marhaban ya ramadhan 🙏
Dan jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga dong tentunya 🤗
Salam hangat dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋