
Della terus berusaha untuk menghubungi Aiden namun nampaknya Aiden tengah sibuk karena ponselnya tak aktif sama sekali. Della menghembuskan nafas panjang. Ia berfikir art sebanyak itu harus ditempatkan dimana. Sedangkan dalam rumah yang Della tempati ini hanya ada beberapa kamar yang kosong di lantai bawah dan ada beberapa kamar di lantai atas.
Della terus memutar otaknya sembari berharap ponsel Aiden aktif kembali. Butuh 30 menit Della mencoba menghubungi Aiden dan pada akhirnya ponsel sang suami sudah aktif kembali. Della sekarang setidaknya bisa bernafas lega.
"Angkat!!!" Teriak Della sebal. Dua kali Della mencoba dan dua kali pula Aiden tak mengangkat telepon itu.
"Oke. Ini yang terakhir kalinya. Kalau sampai gak diangkat, aku pastiin nanti malam tidur diluar," ucap Della. Setelah ancaman Della yang tak bisa didengar Aiden dan dengan ajaib setelah ancaman terlontar dari mulut Della, Aiden langsung mengangkat telepon tersebut.
📞 : "Assalamualaikum sayang," sapa Aiden dari sebrang.
"Waalaikumsalam. Pulang sekarang!" Perintah Della to the point.
📞 : "Lho kok disuruh pulang sekarang, kan ini belum waktunya jam kerja berakhir sayang. Kalau kangen tahan bentar ya sayangku. Aku usahain nanti pulang lebih awal."
"Ini bukan masalah kangen. Ini masalah art yang akan kamu pekerjakan," tutur Della mulai ngegas.
📞 : "Ya ampun sayang bicaranya jangan teriak-teriak dong. Kasihan babynya tar kena goncangan. Emang artnya kenapa?"
Della menarik hembuskan nafasnya perlahan untuk menetralkan emosinya yang sudah sampai puncak.
"Kamu mending pulang sekarang, urus semua art kamu itu mau ditaruh dimana. Kalau 30 menit kamu gak sampai dirumah, aku pastiin kamu nanti malam tidur diluar," ucap Della dan tanpa menunggu jawaban dari Aiden, Della lebih dulu mematikan sambungan telepon tersebut.
Sedangkan Aiden dikantor ia bergegas membereskan dokumen-dokumennya setelah mendengar ancaman dari Della tadi dan sebelum ia keluar dari kantor. Aiden terlebih dahulu menemui Reiki dan meminta sahabat yang merupakan tangan kanannya itu untuk meneruskan pekerjaannya yang terpaksa harus tertunda.
Aiden berjalan kearah lift dengan tergesa-gesa bahkan sampai berlari kecil. Setelah didalam lift, Aiden langsung menuju area basement. Ia pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untungnya kondisi jalanan hari ini tak padat sama sekali yang tidak seperti biasanya, padat merayap.
Hanya butuh waktu 15 menit Aiden sudah sampai dirumahnya. Sangat singkat perjalanan Aiden kali ini. Biasanya ia harus menghabiskan waktu hampir 1 jam baru sampai rumah kalau macet dan 35 menit waktu biasa yang sama sekali tak macet di jalan. Sedangkan sekarang ia memecahkan rekor baru yaitu 15 menit dari kantor hingga rumahnya.
Tanpa menunggu lama Aiden memasuki rumah tersebut dan ketika Aiden membuka pintu ia dikagetkan dengan beberapa art yang terduduk dilantai. Art yang menyadari keberadaan Aiden pun tersenyum dan berdiri untuk menyambut sang tuan rumah. Aiden dengan memaksakan diri membalas senyum mereka dan tanpa berbicara sedikitpun ia beranjak dari depan pintu menuju kamar pribadinya untuk menemui Della yang saat ini masih didalam kamar sembari memikirkan nasib art barunya.
Aiden membuka pintu kamar tersebut dan langsung menghampiri Della yang nampak mondar-mandir. Aiden mencopot jasnya dan setelah itu ia mendekati Della dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Ada masalah apa sih sayang," ucap Aiden sembari bergelayut manja di tubuh Della. Della dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyingkirkan tubuh Aiden.
"Kamu masih tanya ada masalah apa? Astaga, apa kamu gak lihat para art di bawah?"
"Lihat. Terus apa yang salah sama mereka? Toh itu juga buat bantuin kamu ngurus rumah ini."
"Niat kamu emang bagus, tapi ya gak sampai 20 art juga kali. 2 aja udah cukup buat bantuin aku," ucap Della kesal.
"Ya kan kalau 20 art bisa meringankan pekerjaan kamu sayang. Malah kamu bisa nonton drakor dan kalau kamu pengen apa-apa tinggal nyuruh mereka. Dan kamu gak akan kecapekan nanti," tutur Aiden tak mau kalah. Della sudah pusing sekarang dengan pikiran Aiden.
"Ya udah gini. Kalau kamu mau memperkerjakan semua art itu mau di taruh dimana? Rumah kita hanya bisa nampung 10 art karena kamar yang tersisa tinggal segitu itu pun terhitung sama kamar tamu dan kamar atas terus yang 10 lagi mau di kemanain?" Tanya Della yang sudah gemas pengen lempar Aiden dari kamar ini hingga jatuh ke bawah.
"Kan ada rumah lagi di belakang rumah utama ini sayang. Tempatin aja semuanya disana," ucap Aiden. Memang benar di belakang rumah mewah mereka itu terdapat rumah lagi di belakangnya dan itu hanya di tempati oleh 2 satpam dan 2 pengurus kebun.
Della memutar bola matanya jengah. Kalau Aiden sudah bilang begini mau bagaimanapun dia tidak bisa menolak lagi.
"Terserah kamu. Sekarang tempatin dan bagi tugas ke mereka karena ini yang punya inisiatif kamu jadi kamu yang urus semuanya aku tinggal terima beres," tutur Della final. Ia tak akan memikirkan masalah art yang segitu banyaknya sekarang. Biarlah Aiden yang berpusing-pusing ria memikirkannya.
Della berjalan menjauhi Aiden dan mendudukan dirinya di atas kasur king size dikamar tersebut. Sedangkan Aiden ia sudah mulai ingin membuka pintu kamar namun ia urungkan. Aiden berbalik arah kembali menuju Della yang tengah bersantai sembari memainkan ponselnya.
"Sayang," panggil Aiden. Della mengalihkan pandangannya. Della menatap tajam mata Aiden.
"Apa?" Tanya Della ganas. Aiden mencebikkan bibirnya ketika mendapat respon garang dari Della.
"Buruan ngomong!" Perintah Della tak sabaran.
"Temenin," ucap Aiden lirih.
"Nemuin art-art itu."
"Gak mau. Itu kan tanggung jawab kamu. Aku kan gak ikut campur masalah semua art itu dan siapa suruh cari art sampai 20 orang. Emang kita mau buat dua club sepak bola. Dah lah temuin sendiri sana," tutur Della.
Aiden dengan langkah gontai meninggalkan kamar tersebut. Namun Della tak tega melihat sang suami yang tengah tak bersemangat itu pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti sang suami dari belakang tanpa sepengetahuan Aiden.
Setelah sampai di tangga bawah Aiden merilekskan dirinya dan merubah raut wajahnya menjadi lebih cool dari sebelumnya saat berhadapan dengan Della.
"5 orang akan tinggal disini dan sisinya akan tinggal dirumah belakang. Disana sudah ada 4 orang. Mang Ujang sebentar lagi kesini dan kalian akan diarahkan oleh beliau mulai dari kamar yang akan kalian tempati dan juga pekerjaan kalian disini. Paham?" Tutur Aiden tegas dan seluruh art pun menjawab dengan serentak.
Tak lama setelah pembicaraan Aiden, mang Ujang telah berada di dalam rumah tersebut.
"Mang Ujang sini!" Tutur Aiden dan dengan patuhnya mang Ujang menghadap Aiden.
"Sudah tau kan apa yang saya bilang tadi pagi?" Mang Ujang pun menganggukkan kepalanya mengerti karena tadi pagi sebelum Aiden berangkat bekerja ia lebih dulu mengumumkan kepada 4 orang pekerja dirumahnya bahwa akan ada 20 art yang akan menempati rumah utama dan rumah kedua. Aiden juga tak lupa untuk membagai tugas mereka nanti dengan berunding bersama 4 orang tadi secara merata.
"Sudah tuan," ucap mang Ujang.
"Bagus kalau begitu. Atur semuanya, saya mau istirahat dulu," ucap Aiden dan berbalik arah meninggalkan mereka semua.
Aiden terus berjalan hingga sampai pada lantai dua. Aiden meregangkan otot-ototnya dan bergegas untuk kembali kedalam kamar. Bermanja-manja dengan Della adalah tujuan utamanya. Namun ketika ia baru melangkah suara Della menghentikannya.
"Bagus sekali semua tanggung jawab dilemparkan ke mang Ujang," ucap Della sinis.
Aiden memutar tubuhnya menghadap Della dengan cengiran kuda yang menghiasi wajahnya.
"Enggak gitu sayang. Aku tadi pagi udah rancang semuanya secara matang kok dan mang Ujang cuma tinggal ngatur mereka semua," ucap Aiden tak mau disalahkan.
"Alasan," tutur Della sembari berjalan meninggalkan Aiden. Aiden mengikuti langkah Della dengan terus mengoceh menjelaskan apa yang tadi pagi ia rencanakan.
Saat mereka sudah sampai didepan pintu kamar, Della lebih dulu masuk kedalam dan ketika Aiden ingin masuk juga Della lebih dulu menutup pintu dengan keras yang membuat Aiden mencium pintu tersebut.
"Arkh sakit," keluh Aiden sembari mengelus jidat dan hidung mancungnya.
"Sayang bukain," teriak Aiden sembari mengetuk pintu kamar tersebut.
Tak berselang lama Della membukakan pintu tersebut dan hanya memunculkan kepalanya saja.
"Malam ini kamu dilarang tidur di kamar ini," tutur Della. Setelah itu ia menutup kembali pintu tersebut sebelum Aiden meluncurkan protesnya.
"Sayang bukain. Biarin aku tidur sama kamu please. Kalau gak tidur sama kamu, aku gak bisa tidur nanti dan kalau aku begadang bisa memudahkan virus masuk kedalam tubuh, terus aku nanti sakit gimana dong tar babynya nangis lho karena tidur gak dipeluk Daddynya. Kasihan babynya sayang dan untuk menghindari semua itu izinin aku tidur sama kamu," rayu Aiden seperti anak kecil namun tak ada jawaban dari Della.
Waktu terus berlalu namun Aiden masih setia menunggu Della di depan pintu kamar tersebut tanpa beranjak sedikitpun. Ia sekarang tengah terduduk dengan bersender membelakangi pintu tersebut dengan sesekali mengetuk dan membujuk Della hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menunggu Della berbaik hati membukakan pintu untuknya. Namun hingga pukul 9 malam pintu itu tak kunjung terbuka dan Aiden pun sudah terlelap dalam tidurnya. Sungguh ini seperti seorang suami yang terlalu takut dengan Istrinya.
Della yang berada di dalam kamar dan tak lagi mendengar teriakan Aiden pun mulai khawatir dengan sang suami. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka pintunya. Kasihan juga kalau dia menghukum Aiden seperti itu padahal niatnya sangatlah baik, untuk meringankan beban Della dirumah bahkan itu bisa dibilang memanjakan istri. Tapi menurut Della itu terlalu lebay buatnya. Ia masih kuat mengurus rumah sendirian walaupun tak ada seorangpun yang membantunya dan kalaupun harus dibantu ia hanya butuh 2 orang saja gak sampai 20 orang juga.
Della terkejut ketika melihat tubuh Aiden terhuyung ke belakang dan untungnya kaki Della tepat dibelakang tubuh Aiden yang menyebabkan tubuh Aiden tak langsung mendarat di atas lantai. Della menggelengkan kepalanya. Ia duduk dan meluruskan kakinya supaya bisa menjadi bantalan untuk Aiden. Della mengelus rambut Aiden.
"Sayang bangun. Kalau mau tidur pindah dikasur sana jangan disini," ucap Della yang mampu membuat Aiden membuka matanya perlahan. Bukannya langsung beranjak dan pindah ke kasur Aiden malah memeluk tubuh Della.
"Berdiri ih, pindah dulu kekasur jangan dilantai seperti ini," ucap Della. Aiden menggelengkan kepalanya di balik perut Della hingga gesekan kepala Aiden bisa Della rasakan di perutnya.
"Kalau mau tidur disini ya gak papa tapi aku gak temenin kamu. Kamu tidur sendiri," ucap Della. Aiden mendongakkan kepalanya menatap wajah Della.
"Jadi kalau aku pindah ke kasur kamu bakal nemenin aku tidur kan?" Della menganggukkan kepalanya. Aiden tersenyum senang dan ia bergegas untuk masuk kedalam kamar mereka tak lupa sebelum melanjutkan tidurnya ia lebih dulu membersihkan tubuhnya yang sebenarnya sudah lengket sedari tadi.
"Dasar bayi gede. Makin lama makin manja aja. huh untung sayang kalau gak udah gue tuker sama sapi, kambing atau kerbau," batin Della yang merasa gemas dan juga kesal dengan tingkah Aiden akhir-akhir ini. Semoga saja ini tak berlanjut hingga baby mereka launching nanti. Kalau sampai berlanjut Della pastikan ia akan menua sebelum waktunya.