My Bos CEO

My Bos CEO
46


Paginya Della tengah terduduk lemas di sofa ruang tamu, menyalakan televisi sebagai temannya begadang semalaman. Ia benar benar hanya tidur dua jam saja dan itu membuat lingkaran hitam di matanya tambah kelihatan dari sebelumnya.


Della merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut siapa tau jika ia tiduran begini bisa tidur walaupun cuma tersisa waktu dua jam lagi untuk berangkat kerja, pikir Della.


Della terus berusaha memejamkan mata lelahnya namun tidak berhasil sama sekali. Ia mendengus frustasi sembari mendudukkan tubuhnya kembali.


Sedangkan Aiden ia baru saja membuka matanya dan melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia segera bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi tentunya tanpa mandi untuk sementara karena baginya untuk apa mandi kalau belum waktunya untuk bekerja toh nanti juga akan berkeringat lagi jadi ia memilih mandi di waktu yang mepet supaya lebih fresh tubuhnya dan semangat untuk mengerjakan tumpukan dokumen nantinya.


Setelah selesai dengan aktivitas ringannya di pagi hari, Aiden segera keluar dari kamarnya untuk mengambil air putih untuknya. Ketika ia sampai di ruang tamu, matanya sekilas menatap Della yang penampilannya seperti orang yang tingkat kewarasannya berkurang.


Aiden segera mengambil segelas air putih dan mendekati Della yang terduduk lesu di sofa. Ia mendudukkan dirinya tepat disampai Della sembari menengguk setengah gelas air putih tadi.


Aiden menatap diri Della yang terpejam namun tidak tidur.


"Kalau ngantuk tidur di kamar sana jangan di sini," ucap Aiden yang mampu membuat Della membuka matanya dan menatap sayu kearah Aiden.


"Mata kamu kenapa?" tanya Aiden sedikit takut.


"Ini semua gara gara bapak tau," ucap Della sembari meluruhkan tubuhnya kesofa benar benar seperti orang yang kehilangan tulangnya untuk saat ini. Aiden memincingkan sebelah alisnya.


"Kok saya?" tanya Aiden tak mengerti.


"Iya gara gara bapak pokoknya, ish dah lah jangan di bahas lagi," tutur Della dengan suara lemas.


"Aneh," gumam Aiden yang masih bisa di dengar oleh Della.


"Saya dengar Pak," ucap Della ketus. Sedangkan Aiden ia mengedikan bahunya bodo amat dan kemudian meraih ponsel di dalam saku piyamanya.


Ia terus mengotak atik ponselnya dan sesekali melirik Della yang sudah tidak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka.


"Tidur saja Della," ujar Aiden sembari menatap kembali ponselnya.


"Nanggung Pak bentar lagi juga berangkat kerja dan saya tadi belum buat sarapan," ucap Della dan dengan tubuh lemas ia berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Aiden yang sudah meletakan ponselnya keatas meja.


"Masak," ucap Della singkat dan segera melangkahkan kakinya gontai menuju dapur.


Namun langkahnya terhenti ketika tangan Aiden mencekal lengannya.


"Kita libur hari ini, kamu tidur saja sana. Urusan sarapan nanti bisa beli di luar," ucap Aiden yang mendapat anggukan kepala oleh Della dan ia segera berjalan menuju kamarnya namun entah kenapa kamarnya serasa jauh dari jangkauan dia untuk sekarang. Ia menghembuskan nafas kasar dan berbalik arah kembali ke sofa ruang tamu.


"Kenapa balik lagi kesini?"


"Kamar saya jauh Pak, jadi saya tidur disini aja lah gak papa kan," ucap Della sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di depan Aiden hanya saja ada meja yang menjadi pembatas dari keduanya.


Tak berselang lama Della pun terlelap dalam mimpinya. Aiden melangkahkan kakinya mendekati Della.


"Saya tau kalau kamu gak bisa tidur gara gara omongan saya tadi malam yang sebenarnya itu jujur dari hati saya buat kamu Del," ucap Aiden sembari mengelus kepala Della.


"Maaf karena sudah buat kamu gak bisa tidur semalaman," tutur Aiden, kemudian ia membopong tubuh Della menuju kamar Della. Setelah sampai di dalam kamar, Aiden segera merebahkan tubuh Della dan menyelimutinya.


Aiden kembali mengelus puncak kepala Della lembut sembari tersenyum manis yang selalu terbit di bibirnya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah damai Della dan cup, ia mengecup kening Della.


"Selamat tidur My Queen," ucap Aiden sebelum pergi dari kamar Della dan kembali berkutik dengan ponselnya yang sudah mendapat notifikasi email dari orang kepercayaan di kantor dan saat ini ia akan bekerja di apartemen. Walaupun ia tadi berucap libur di depan Della namun itu semua tak berlaku buat dirinya ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya secepatnya baru bisa bersantai-santai tanpa beban.


📖📖📖📖📖


Hari ini tepat satu minggu mereka berdua berada di London dan hari ini Della baru bangun dari tidurnya dan seperti biasa ia akan menjadi babu untuk Aiden.


Della keluar kamar setelah ia membereskan keperluan pribadinya. Ia segera menuju ke dapur untuk memasak dan kebetulan sekarang tengah weekend yang membuat dia sedikit santai melakukan pekerjaan rumah.


Tak perlu membutuhkan waktu lama, nasi goreng dan telur pedas manis sudah siap di hidangkan. Bertepatan itu pula Aiden keluar dari kamarnya dan seperti biasa ia langsung mengambil air putih dan meminumnya.


"Pagi," ucap Aiden setelah duduk di meja makan sedangkan Della ia masih memindahkan masakannya tadi di atas piring.


Della melirik sebentar kearah Aiden.


"Pagi juga Pak," tutur Della sembari tersenyum manis kearah Aiden. Ia berjalan mendekati Aiden dan menaruh makanan tadi di atas meja makan.


"Sarapan dulu Pak," ucap Della sembari mendudukan tubuhnya di kursi tepat di depan Aiden. Aiden menganggukkan kepalanya dan segera menyambar piring dan memasukan nasi goreng dan telur pedas manis ke piringnya.


Mereka berdua makan dengan nikmat tanpa adanya percakapan dari keduanya.


"Nanti malam kita pergi ke salah satu undangan rekan bisnis saya," ucap Aiden yang telah menyelesaikan makannya.


"Nanti malam Pak?" Aiden hanya menjawab deheman saja. Della menatap Aiden di depannya.


"Tapi Pak kenapa undangannya harus nanti malam, kenapa gak besok aja gitu?"


"Kamu tanya saya? terus saya tanya siapa? ya terserah dia dong mau bikin acaranya kapan pun toh itu acaranya bukan acara saya," tutur Aiden.


"Ck slow Pak gak usah ngegas, masih pagi ini tar bensinnya habis kalau buat ngegas mulu."


"Kamu pikir saya motor atau mobil gitu pakai bensin segala," ujar Aiden tak terima.


"Ish canda kali Pak, segitunya. Bapak lagi pms ya bawaannya emosi mulu dari tadi," ucap Della yang mendapat pelototan dari Aiden.


"Saya cowok Della mana bisa pms. Saya masih normal," ucap Aiden kesal.


"Iya iya Pak," ucap Della. Aiden berdiri dari duduknya tapi ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba suara Della menghentikan niatnya.


"Pak, bapak mau kemana?" tanya Della sembari mengelap mulutnya dengan tisu.


"Mandi. Kenapa nanya? Mau ikut saya mandi? Ya udah ayok mandi bareng," tutur Aiden sembari menyeringai kearah Della. Tanpa aba-aba Della melempar bekas tisu yang ia gunakan kearah Aiden.


"Dasar mesum," ucap Della ganas.


"Jorok Della," ucap Aiden tegas sembari melototkan mata tajamnya kearah Della sedangkan Della ia meringis ngeri melihat tatapan Aiden.


"Pak Aiden tunggu bentar," tutur Della ketika Aiden hendak melangkahkan kakinya lagi.


"Apa lagi?"


"Hehehe woles Pak woles. Saya cuma mau bilang kalau saya gak punya gaun buat nanti malam," tutur Della sembari menampilkan cengiran di bibirnya.


"Nanti kita beli," ucap Aiden santai.


"Tapi Pak say..." belum sempat Della melanjutkan ucapannya, Aiden lebih dulu memotongnya.


"Saya yang akan beliin. Pakai uang saya bukan uang kamu," tutur Aiden yang rupanya sudah hafal dengan pikiran Della saat ini. Della berbinar bahagia uangnya akan aman lagi saat ini, lumayan kan tabungannya berkembangbiak di dalam bank. Hitung hitung buat masa depan dia bahkan anaknya nanti.


Aiden telah berlalu dari hadapan Della. Sedangkan Della ia sudah berjingkrak kegirangan. Membereskan semua apartemen pun dengan bersenandung riang terasa tak ada beban sama sekali di pundaknya.


💜💜💜💜💜


HAPPY READING GUYS 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🤭 biar author semangat lagi nulisnya okey guys 😚


Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋