My Bos CEO

My Bos CEO
108


Setelah 3 hari berlalu kini Della dan Airen sudah diperbolehkan pulang sedangkan Dion ia masih harus tetap di rawat di rumah sakit tersebut hingga beberapa hari kedepan.


Della di bantu oleh Aiden membereskan keperluannya.


"Sayang," panggil Della.


"Iya, ada apa sayang?" Tanya Aiden.


"Sebelum pulang kita keruangan Dion dulu ya dan aku mau jelasin ke kamu dan Airen mengenai masa lalu aku dengan dia. Biar kalian berdua tak akan salah paham lagi," ucap Della. Aiden tersenyum dan mendekati Della yang tengah terduduk di sofa ruangan tersebut.


"Baiklah. Tapi aku sudah percaya sama kamu walaupun kamu gak cerita masalah kalian berdua. Toh itu juga masa lalu kamu dan sekarang masa depan kamu adalah aku," tutur Aiden sembari menangkup kedua pipi Della yang sekarang hanya tertutup plester.


Aiden yang baru menyadari akan luka di pipi Della pun dengan refleks melepas tangannya.


"Maaf sayang. Aku lupa. Apa sakit hmm katakan!" Tanya Aiden panik. Della tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ini udah gak sakit lagi sayang kan udah sembuh," tutur Della.


Aiden menghembuskan nafas lega. Ia kembali mengarahkan tangannya ke pipi Della dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Apa yang lainnya masih sakit sayang?" Tanya Aiden memastikan.


"Enggak sayang. Tenanglah istrimu ini wanita kuat nyatanya sudah bertaruh nyawa dua kali masih diberi kehidupan sampai saat ini," ucap Della.


Aiden yang mendengar ucapan Della pun dengan gerakan cepat memeluk tubuh Della dengan erat.


"Jangan katakan itu lagi dan aku percaya kamu istriku yang bernama Fredella Genoveva Abhivandya adalah seorang bidadari yang sangat kuat dan sungguh beruntungnya diriku telah memilikimu. Jadi jangan pernah kamu mengatakan atau berpikir untuk meninggalkan suamimu ini sendirian," tutur Aiden. Della mengusap punggung Aiden.


"Iya, aku janji akan tetap disampingmu," ucap Della.


Aiden melepaskan pelukannya dan kini ia tengah menatap lekat mata Della dan dengan gemas Aiden mencium bibir Della sangat dalam untuk menyalurkan kerinduan yang terpendam walaupun hanya beberapa hari saja tak melakukan morning kiss dan hari ini akhirnya Aiden kembali mendapatkan morning kissnya.


Cukup lama mereka berdua bergulat dengan ciuman tersebut hingga Della merasa pasokan oksigen di dirinya habis dan mengharuskan ia mencubit perut Aiden supaya Aiden segera melepas ciumannya.


"Kasih nafas juga kali Dad. Main nyosor terus sampai mau bunuh bini sendiri," ucap Della setelah ciuman mereka berhenti.


"Coba ulangi kamu tadi manggil aku apa?" Tanya Aiden memastikan.


"Dad," ulang Della.


"AW lemah hati Daddy Mom," tutur Aiden dengan memegang dadanya sendiri penuh dramatis.


"Apaan sih. Lebay banget. Dah ah kita ke kamar Airen aja habis itu ke kamar Dion," ucap Della sembari berdiri dari duduknya dan mendahului langkahnya tanpa menunggu Aiden yang masih mencari keberadaan ponselnya.


"Sayang, tunggu bentar!" Teriak Aiden. Della pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kearah Aiden.


"Lama. Kamu lagi cari apaan sih sayang?" Tanya Della tak sabaran.


"Ponselku kemana ya? Aku lupa naruhnya," ucap Aiden.


Della menggelengkan kepalanya dan membantu mencari keberadaan ponsel sang suami.


"Kamu tadi udah cari di laci sebelah kasur gak?" Tanya Della.


"Udah. Tapi gak ada," jawab Aiden.


"Lah kalau gak ada terus ini apa?" Tutur Della dengan mengacungkan ponsel Aiden ditangannya.


Aiden nyengir kuda. Kebiasaan memang kalau dia kehilangan barang dirumah atau lupa menaruh benda, ia hanya akan berkoar-koar saja dan walaupun dia sudah mencarinya sama saja tak akan ketemu tapi disaat Mama Yoona atau Della yang mencarinya pasti langsung ketemu.


"Terimakasih sayang," ucap Aiden setelah mendapat ponselnya kembali. Della menganggukkan kepalanya.


"Ayo sekarang kita otw ke kamar Airen," sambung Aiden sembari menggandeng tangan Della.


Hanya beberapa langkah saja setelah keluar dari ruangan Della mereka berdua telah sampai di depan ruang inap Airen yang ternyata sudah menunggu mereka untuk menjemput dirinya sendiri karena Mama Yoona sudah di suruh pulang lebih dulu oleh Airen bahkan dia sejak dirawat di rumah sakit tak mau ada yang menunggunya. Jika ditanya alasannya pasti Airen akan menjawab, "yang sakit cuma lenganku bahkan hanya satu lengan saja bukan dua-duanya dan aku masih bisa jalan, makan bahkan mandi sendiri karena aku bukan sakit yang sangat parah atau demam yang mengharuskanku untuk istirahat total," begitu alasan yang akan mereka dengarkan.


"Kak Del beneran udah gak papa kan?" Tanya Airen sembari melepaskan pelukannya.


"Tenanglah aku sudah tak apa-apa. Gimana dengan lengan kamu?" tutur Della.


"Syukurlah. Lenganku? Seperti yang kamu lihat sudah seperti dulu alias pulih," ucap Airen.


"Alhamdulillah. Ya sudah kalau gitu kita langsung ke ruangan Dion aja sekarang," tutur Della. Airen merubah ekspresi wajah ketika mendengar nama Dion diucapkan oleh Della.


"Muka kamu kenapa? Tenanglah Della gak akan merebut Dion dari kamu karena dia udah punya suami yang jauh lebih ganteng dari Dion," ucap Aiden penuh keyakinan.


"Bukan itu," ujar Airen lirih.


"Kalau bukan itu terus kenapa?" Tanya Aiden penasaran.


"Aku masih marah sama dia. Kenapa gak cerita dari awal kalau dulu pernah ada hubungan sama Kak Della sedangkan mantan pacarnya yang lain aku tau semuanya," tutur Airen.


Della mengelus rambut Airen yang membuat Airen mendongakkan kepalanya karena merasa sentuhan lembut dari sang kakak ipar.


"Yakinlah Dion hanya tak mau membuat hubungan antara aku dan kamu jadi renggang karena masalah kita dimasa lalu. Jadi sekarang mau ya ikut ke ruangan Dion kasihan dia sendiri di dalam kamarnya," ucap Della walaupun ia tak tau yang sebenarnya di kamar Dion saat ini ada orang atau tidak pasalnya sangat sunyi sekali ketika Della menuju ke kamar inap Airen tadi.


"Jangan kebanyakan mikir. Keburu siang ini," ucap Aiden saat melihat Airen yang tengah berpikir untuk ikut mereka berdua menjenguk Dion atau tidak.


"Huh baiklah aku akan ikut kalian," tutur Airen.


Mereka bertiga akhirnya menuju ke ruang inap Dion dan setelah sampai Aiden mengetuk pintu tersebut dan membukanya secara perlahan hingga pintu tersebut terbuka lebar.


"Masuk lah duluan," ucap Aiden membiarkan dua wanita cantiknya masuk lebih dulu.


Dion yang mengetahui siapa orang yang telah datang pun tersenyum menatap Della dan berganti menatap Airen yang seakan-akan membuang muka darinya. Dion menghembuskan nafas panjang, ia tau jika Airen sudah begitu maka akan sangat sulit untuk membuatnya melihat dirinya kembali.


"Sayang. Kamu gak kangen sama aku gitu? Gak mau peluk?" Ucap Dion yang tak mendapat jawaban dari Airen.


"Jangan kayak anak kecil gitu. Peluk sana!" Tutur Aiden.


"Apaan sih? Ogah," ucap Airen. Airen lebih memilih untuk berjalan kearah sofa dan mendudukkan dirinya di sana sembari bermain ponsel untuk mengalihkan pandangannya yang selalu menuntut dirinya melihat wajah Dion saat ini.


Della dan Aiden saling bertatapan dan mereka berdua pun mengangkat bahunya masing-masing. Setelah itu Della dan Aiden mendekati Dion yang masih menatap Airen dari kejauhan.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Aiden. Dion mengalihkan pandangannya kearah Aiden dan Della.


"Sudah mendingan," jawab Dion.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Aiden.


"Dion," panggil Della. Dion pun menatap Della, ia senang akhirnya Della menyebut namanya kembali di depannya.


"Iya."


"Terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Della tulus. Dion pun tersenyum.


"Tak perlu terimakasih Del. Itung-itung kejadian itu bisa menebus kesalahanku dulu walaupun yang aku lakukan kemarin tak seberapa untuk menebus semua kesalahanku dan aku sekali lagi mau minta maaf atas perbuatanku dulu ke kamu," tutur Dion.


"Sudahlah tak apa. Aku sudah memaafkanmu, jangan ungkit itu lagi. Biar itu menjadi pelajaran buat kita berdua dan kamu jangan pernah ulangi perbuatanmu yang seperti itu ke Airen atau orang lain," ucap Della. Dion pun menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih karena telah memaafkanku." Della menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Kini tatapan Dion kembali menatap Airen yang tanpa meliriknya sedikitpun.


"Sayang. Kamu gak mau denger cerita yang sebenarnya?" Tanya Dion namun masih sama saja tak dihiraukan oleh Airen.


Aiden yang geram dengan sikap Airen pun akhirnya menghampiri sang adik dan membopong dengan paksa tubuh Airen hingga sampai di samping kasur Dion. Aiden mendudukkan tubuh Airen di kursi.


"Thanks," ucap Dion berterimakasih kepada Aiden.


"Diam disini jangan berulah," ucap Aiden tegas. Airen memutar bola mata malas dan ia menuruti ucapan dari Aiden untuk tetap ditempat.