
Hari ini adalah hari weekend dan hari yang selalu Della tunggu tunggu pasalnya dia akan bermalas malasan sehari penuh sama seperti sekarang ini matahari sudah menampakkan dirinya, jarum jam sudah menunjukan pukul 10 pagi dan dia masih setia terlelap dalam tidurnya.
Disisi lain Aiden tengah merencanakan dan menata keperluan yang ia akan gunakan untuk melamar sang kekasih, mulai dari bunga, pakaian yang akan ia kenakan dan kalung yang telah ia siapkan jauh jauh hari.
"Tunggu aku sayang," gerutu Aiden sendiri, menatap kalung yang sebentar lagi akan terpasang di leher sang kekasih, sungguh dia tidak sabar untuk memasangkannya, dengan senyum bahagia yang selalu terukir di bibirnya ia yakin lamarannya tidak akan ditolak oleh Cika.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mampu mengalihkan pandangannya Aiden.
"Masuk aja pintu gak di kunci," teriak Aiden yang tetap di tempatnya tanpa beranjak sama sekali.
"Wah bagus sekali kalungnya," ucap mama Aiden yang sudah masuk ke kamar bahkan duduk disebelah Aiden yang tengah duduk di sofa kamarnya.
"Bagus kan ma?" tanya Aiden bangga.
"Iya bagus banget sayang, emang itu kalung mau buat siapa sih, mama aja gak pernah di beliin kalung sebagus itu sama kamu, pasti buat orang spesial ya hayo cie anak mama, siapa sih kenalin dong sama mamamu yang cantik ini," seru mama Aiden dengan senyum bahagia.
"Rencananya Aiden mau lamar dia ma, do'ain Aiden supaya diterima oke," ucap Aiden.
"Mama pasti do'ain kamu terus sayang gak kamu minta pun mama do'ain," ucap mama Aiden sembari mengelus kepala anaknya sayang.
"Emang siapa sih orangnya yang mampu meluluhkan hati anak mama satu ini sampai sampai membatalkan perjodohannya segala?" sambung mama Aiden.
"Hmmm Cika ma" ucap Aiden pasti, raut wajah mamanya seketika berubah mendengar nama yang anaknya sebut tadi dan berniat untuk melamarnya.
"Gak mama gak setuju" ucap mama Aiden lantang.
"Ayolah ma, dia orangnya baik kok," tutur Aiden meyakinkan.
"Baik dari mananya sih Aiden, apa kamu gak inget waktu kamu disakiti sama si Cika Cika itu ha?" tanya mama Aiden yang sudah menitikkan air matanya mengingat kembali kejadian yang pernah menimpa Aiden waktu itu.
"Please lah ma jangan di ungkit ungkit lagi toh itu juga udah lama dan dia juga udah berubah kok yakinlah ma," ucap Aiden dengan menggenggam erat tangan mamanya.
"Buka matamu Aiden kamu itu hanya di manfaatkan oleh dia, dia cuma ingin menguras habis harta kamu setelah harta kamu habis dia akan mencampakkan kamu begitu saja kamu mau ha," ucap mamanya yang sudah mulai histeris.
"Ma percaya sama Aiden, Aiden udah gede ma udah tau mana yang baik buat Aiden dan mana yang gak baik buat Aiden."
"Kamu gak mau dengerin mama nak, kamu gak mau nurut sama mama, mama yang udah ngelahirin dan mengandung kamu, mama yang udah ngerawat kamu sampai sekarang hiks."
"Aiden gak minta buat dilahirkan dari rahim mama, Aiden gak minta buat dirawat sama mama, Aiden gak minta itu semua ma," bentak Aiden yang sudah mulai emosi, entahlah akhir akhir ini ia sering sekali marah marah tidak jelas pada orang lain dan ucapannya tadi mampu menusuk relung hati sang mama, sakit yang mamanya rasakan sekarang.
"Terserah kamu, mama gak akan peduli lagi sama kamu dan mama gak akan pernah merestui hubungan kalian berdua camkan itu karena restu dari orang tua adalah ridho dari sang maha kuasa," ucap mama Aiden sebelum pergi meninggalkan anaknya di dalam kamar.
"Arkh," Aiden menjambak rambutnya frustasi apa yang telah ia lakukan tadi sampai berani beraninya membentak ibunya dengan ucapan yang gak seharusnya ia ucapkan.
"Maafin Aiden ma, Aiden gak bisa lepasin dia, Aiden sudah terlanjur sayang banget sama dia dan Aiden sudah terjebak cintanya," sesal Aiden sembari mendudukkan dirinya kembali, mengusap air mata yang mengalir dengan kasar. Aiden menetralkan emosinya dan dengan segera dia masuk kedalam kamar mandi menyiram tubuhnya dengan air dingin, merilekskan tubuh tersebut dan tak butuh lama ia keluar dengan celana jeans hitam dipadu padankan dengan kaos putih ditambah jaket denimnya yang memberikan kesan kasual di dirinya, ia berdiri di depan cermin memastikan tampilannya sekarang sudah pas apa belum.
"Perfect," ucap dia puas, setelah itu ia nyambar ponselnya dari nakas berniat menghubungi seseorang untuk membantunya menyiapkan surprisenya nanti yang akan ia adakan di apartemen pribadinya.
Awalnya ia berniat melakukan aksinya di restoran romantis di kota ini namun ia urungkan karena Cika belum mengetahui kepulangannya maka dari itu ia akan menyiapkan semuanya di apartemen pribadinya yang sekarang tengah di huni oleh Cika.
Satu kali, dua kali sampai lima kali Aiden mencoba menghubungi seseorang tersebut namun nihil hanya ada sautan dari operator yang menjawabnya. Aiden berdecak sebal di buatnya, jalan satu satunya adalah datangi rumahnya. Dengan segera ia menyambar kunci mobilnya serta bunga dan tak lupa dengan kalung yang sudah ia siapkan tadi.
Aiden beranjak dari kamarnya, menuruni anak tangga satu persatu sampai pada anak tangga yang terakhir, ia berhenti sejenak melihat satu persatu sudut rumah tersebut namun ia tidak melihat mama dan papanya disitu, mungkin mereka sendang keluar atau di dalam kamar pikir Aiden, tanpa pikir panjang lagi ia bergegas keluar dari rumahnya, memasuki mobil LaFerrari miliknya dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan mansion keluarganya.
Disisi lain Della masih tetap saja molor tak menghiraukan suara bising yang mencoba mengganggunya bahkan teriakan abangnya ia hiraukan sama seperti sekarang ini Maxime tengah berusaha membangunkan Della dengan berbagai cara namun hasilnya nihil, benar benar Della seperti orang mati sekarang.
Maxime berdecak sebal melihat adiknya tak kunjung membuka matanya malah justru semakin tenggelam di dalam selimut tebalnya.
"Dasar kebo, bodo amat lah capek aing bangunin ini anak tar kalau lapar juga bangun sendiri," ucap Maxime sebelum meninggalkan kamar adiknya itu.
Baru saja ia sampai di tangga terakhir mbak Rina sudah menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Ada apa mbak?" tanya Maxime penasaran.
"Itu mas di depan ada cowok ganteng banget cariin non Della kayaknya sih pacarnya si non Della tapi gak tau juga sih mbak Rina hehehe masalahnya baru pertama dia kesini dan non Della gak pernah cerita sama mbak kalau punya pacar jadi ini hanya tebakan mbak aja lho mas," ucap mbak Rina cepat tanpa spasi sedikitpun, Maxime yang mendengarnya hanya mengangguk kepala mengerti.
"Ya udah mbak suruh masuk aja, aku yang bangunin si kebo itu lagi semoga aja itu anak bisa bangun," ucap Maxime dan di jawab anggukan kepala oleh mbak Rina. Maxime kembali menaiki tangga satu persatu dan kembali merencanakan cara apa yang bisa membuat Della terbangun dari tidur kebonya itu.