Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 8


Velicia merasakan tubuhnya yang lunglai tak berdaya seiring dengan pergerakan Davin yang semakin mendekatinya dengan maksud dan tujuan yang mulai bisa dipahami oleh Velicia sendiri.


Tak ada suara dari mulut manisnya yang keluar hanya gelengan kepala pelan yang menandakan tidak ingin adanya hal yang sama sekali tidak ia harapkan.


Tapi sayangnya, sepertinya senyum yang tak ramah tamah yang terlontar langsung dari bibir Davin sama sekali tidak menunjukan adanya pergerakan mundur atau mengerti atas apa yang diinginkan oleh Velicia.


Davin: "Hanya akan sakit di awal, aku janji" kata pria yang telanjang dada dengan senyum manisnya yang mengisyaratkan sebuah makna.


Sedangkan Velicia terus menggeleng meski tak bisa menggerakan tubuhnya karna lemas.


Sekilas bayangan itu muncul menghampiri kenangannya yang telah lama ia lupakan. Kenangan dimana dia untuk pertama kalinya mengenali Davin, dan ingin terus mengakrabkan diri bersama pria itu hanya untuk sekedar sebagai temannya. Ya hanya untuk sebagai teman.


Davin: "Tenanglah sayang.. ini juga yang pertama bagiku, jadi kau tidak perlu setakut itu karna aku juga tidak begitu pandai dalam masalah ****" terang Davin sambil terus tersenyum yang sambil mencoba melepas pakaian yang digunakan Velicia.


Sekuat apapun Velicia meronta dalam kondisinya yang saat ini sangat tidak bisa membantunya untuk menghajar pria ******** yang menyamar sebagai sahabat dekat dari kekasihnya itu.


Dan tak butuh waktu lama bagi Davin untuk melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.


Kekaguman, keindahan serta nafsu birahi mulai memenuhi isi otaknya.


Bagaimana tidak, apa yang dia inginkan telah berada didepan matanya. Wanita yang dia incar, kepuasan saat memilikinya akan segera terwujud setelah Davin menghamilinya.


Velicia Atmarini Ellena akan menjadi miliknya seutuhnya setelah Davin melancarkan aksinya.


Davin: "Aku sudah duga kau masih virgin" perkatannya yang diiringi dengan membuka sisa sisa pakaiannya membuat Velicia betambah ketakutan saat melihat milik seorang pria yang tegak berdiri tepat dihadapannya untuk pertama kalinya.


Meski Velicia dan Evan telah menjalin hubungan cukup lama, tapi mereka sama sekali belum pernah seterbuka ini saat dirinya bersama teman yang dikenalkan oleh Evan kekasihnya sendiri.


Saat rasa takut terus menjalar diraut wajah Velicia, Davin mulai melancarkan aksinya dengan membuka kedua kaki Velicia lebar lebar hingga dirinya bisa berada diantaranya.


Tak bisa terbendung lagi air mata Velicia saat Davin mulai menciuminya. Mulai dari bibir hingga menjalar ke perpotongan lehernya.


Tanpa bisa mengelak, Velicia hanya menggeliat antara jijik dan geli atas tindakan yang diberikan Davin pada tubuhnya.


Sedangkan Davin terus berusaha memberikan rangsangan rangsangan pada wanita yang dia anggap sebagai miliknya semampu yang dia bisa.


Tapi naasnya bukan desahan atau teriakan kenikmatan yang dikeluarkan mulut manis wanita yang dia cumbu melainkan tangis dalam diam sambil sesegukan seperti menahan apa yang dilakukannya.


Lambat mulai mempercepat saat mulai adanya reaksi fisik yang dia terima dari tubuh Velicia.


Tubuh Velicia mulai memanas, bukan hanya dorongan dari permainan Davin yang langsung mengincar intinya melainkan godaan lidah Davin yang ikut serta mengambil alih atensinya untuk terus hanyut dalam permainannya.


Lidahnya yang bertempur bebas dengan bukit kecil yang tertera disalah satu dadanya, dan juga miliknya yang terus diobrak abrik membuat tubuh Velicia benar benar tegang dan terangsang.


Jangan lakukan ini kak, Velicia mohon batinnya memohon tapi tak bisa didengar oleh pria bejad yang terus saja berusaha merusak tubuhnya.


Remasan pada seprai putih gading nan polos itu mempertandakan tentang rasa yang ingin dilontarkan Velicia saat Davin menerobos secara paksa meski teramat pelan tapi itu tetap menyiksa bagi Velicia.


Davin yang tertatih dalam mencari kepuasannya, mencari apa yang dia cari, mencari apa yang dia tuju menjadi kepuasan baginya saat Davin mendapatkannya.


Davin yang mengerang karna rasa yang belum pernah dia rasakan, menggeliat dalam deru nafas yang saling memburu dan keringat yang mulai mengucur tidak menjadi penghalangnya untuk terus mencumbu gadis impiannya selama ini.


Sedangkan yang dia cumbu, gadis yang berada dibawahnya terus menitikan air mata sambil sesekali megeluarkan desahan yang menurutnya sangat menjijikan.


Velicia terus berupaya menutup mulutnya dengan tangan kanannya untuk menghalangi suara laknat yang keluar dari mulutnya. Sedangkan tangan kirinya mencengkeram kuat lengan kanan Davin. Menyalurkan rasa yang diakibatkan oleh Davin sendiri atas perbuatannya.


Setelah dirasa Davin telah mencapai pada tingkat pertama dalam berhubungan. Dirinya tidak cukup puas hanya sampai disitu.


Lagi lagi dirinya mencoba untuk terus memasukinya agar apa yang dia rencanakan benar benar terwujud dengan cepat.


Tapi beda halnya dengan wanita malang itu yang telah kehilangan semua tenaganya bahkan hanya untuk sekedar membuka mata. Velicia ambruk dengan badan yang terus saja dicumbu.


Davin: "Sedikit lagi" erangnya saat melihat wanitanya mulai lemas dan tak ada suara.


CUP


Davin: "Mimpi indah sayang.. karna mulai besok hari harimu telah berubah" kecupan hangat yang tertera dia punggung polos yang berkilau karna secercah keringat menjadi pengantar tidur bagi Velicia yang kelelahan.


Davin: "Kamu harus hamil anakku Vei supaya aku bisa memilikimu, jika tidak pun aku masih punya banyak rencana yang tidak bisa kamu kira" ucapan terakhir itu terdengar seperti perintah tapi juga seperti sebuah keinginan.


Davin melenggang pergi setelah berpakaian rapih meninggalkan Velicia yang tertidur lelap dalam selimut tebal yang memiliki secercah darah segar keprawanannya.