Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 13


Davin masih tidak habis pikir, baru tadi siang dirinya sedikit terbuka padanya kakaknya. Tapi sekarang bahkan sebelum acara makan malam keluarga berlangsung dirinya telah ditarik paksa oleh kakak perempuannya untuk masuk kedalam kandang yang dulu sering terdengar suara suara jeritan dan rintihan mommy nya karna ulah daddy nya.


Davin dipaksa masuk kedalam kamar mommy nya dan disudutkan oleh pandangan yang tidak seperti biasa oleh mommy nya sendiri.


Sepertinya kakaknya telah berhasil menyampaikan apa yang tadi siang mereka perbincangkan didalam kamar Davin hingga membuat sikap mommy nya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya.


Ada raut wajah tak suka bercampur kecewa dan sedih menjadi satu saat menatap Davin yang berdiri didekat pintu kamar itu.


Sedangkan di sisi lain, yang tak jauh dari mommy nya. Dengan santai daddy nya merebahkan badan disalah satu sofa panjang berwarna hitam yang letaknya tak jauh dari sebuah kursi rias yang di duduki oleh mommy nya.


Mommy: "Apa benar yang dikatakan oleh kakak mu Davin? Bahwa wanita yang kamu perkosa adalah kekasihnya Evan?" kalimat pertama saat pintu baru saja ditutup pelan oleh sang kakak.


Davin tak langsung menjawab, dirinya menatap kakaknya dengan tajam dan tak suka.


Celine: "Apa? mommy yang bertanya bukan aku. Kenapa kau melihatku seperti itu?" katanya dengan melipat kedua tanganya didepan dada.


Mommy: "Davin? Jawab pertanyaan mommy"


Pandangan Davin teralihkan dari sang kakak kembali lagi menuju mommy yang meminta jawaban pasti dari dirinya.


Davin: "Ya benar, dia kekasihnya Evan"


Mommy: "Jadi kamu memperkosanya karna wanita itu adalah kekasihnya Evan? Kamu merusak masa depan seorang gadis karna ingin bersaing dengan Evan?"


Davin: "Tidak" jawab Davin langsung yang membuat Melliza sedikit menahan nafasnya.


Davin: "Jika dia bukan kekasihnya Evan pun aku tetap menginginkannya, karna aku sungguh hanya ingin dirinya. Apa Davin salah mom memiliki perasaan ini?"


Melliza terdiam dan menatap suaminya yang masih saja menutup kedua matanya.


Celine: "Memiliki sebuah perasaan pada lawan jenis itu bukan suatu kesalahan Davin, tapi cara kamu untuk memilikinya yang jelas salah"


Davin: "Lalu apa bedanya aku sama kakak?" debatnya merasa tidak terima.


Davin: "Mungkin cara kita terlihat jauh berbeda kak untuk memiliki yang kita inginkan, tapi tujuannya sama. Bahkan kakak berniat pindah agama kan hanya untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua pria itu?" sindirnya pada anak tertua dalam keluarganya.


Celine pun bungkam tak mampu membalas sindiran adiknya yang jelas benar adanya.


Celine memang sudah berniat untuk berpindah agama lantaran ini menjadi masalah pokok antara dirinya dan kekasih pujaanya yang berbeda keyakinan.


Davin: "Jika benar dia mencintai kakak seperti apa yang kakak bilang seharunya dia menerima kakak sepenuhnya bahkan juga tentang sebuah keyakinan yang telah dianut sejak lahir. Bukan malah menjadi penghalang dan beralasan bahwa harus seiman" sindirnya lagi.


Celine: "Kamu tidak tahu sepeti apa dia sebenarnya Vin. Jadi jangan menyalahkannya atas dasar yang belum pasti. Dan lagi, tentang aku yang berniat berpindah keyakinan itu bukan perkara karna dirinya yang meminta atau alasan dia menolakku. Tapi masih ada alasan yang sangat pasti hingga dia benar benar tidak ingin menemuiku lagi karna sebuah masa lalu"


"Jangan selalu menyalahkan masa lalu, karna jika tidak ada masa lalu maka tidak ada masa sekarang" suara tegas itu mulai menampakkan diri meski masih dengan mata yang tertutup.


Daddy: "Jadi apa rencanamu selanjutnya Vin? Berdiam diri didalam rumah setelah melakukannya atau masih bingung harus berbuat apa tentang wanitamu itu?" katanya membuka mata lalu langsung melihat kearah putranya yang masih setia berdiri didekat pintu.


Davin: "Aku akan memperkosanya lagi" sahutnya yang membuat David terkekeh sedangkan Melliza terlihat begitu syok begitu pula kakak perempuannya.


Celine: "Apa kamu sudah gila Davin?!" bentaknya yang berada disebelahnya.


Davin: "Ya! aku sudah gila. Aku sudah gila karna ingin memilikinya. Aku bahkan sama gilanya seperti dirimu kak yang ingin memiliki orang yang paling kita cintai" sahutnua tak kalah lebih lantang dari suara kakaknya sendiri.


Daddy: "Kamu sungguh menginginkan gadis itu Davin?" kata daddy nya berusaha menengahi.


Mommy: "Dad?" panggil ibu rumah tangga itu lirih pada suaminya saat tubuh yang kian rentan itu mulai memposisikan tubuhnya untuk duduk.


Daddy: "Datang kerumahnya, dan temui orang tuanya. Katakan bahwa kamu ingin menjalin hubungan serius dengan putrinya"


Davin: "Sudah, bahkan aku jujur pada orang tuanya bahwa aku telah memperkosa putri mereka dan berencana bertanggung jawab. Tapi sialnya dia malah menolak ku dan mengusir ku dari rumahnya tepat didepan orang tuanya secara langsung" jelasnya panjang lebar.


Celine: "Kamu benar benar sudah gila Davin" gumam sang kakak masih bisa terdengar oleh telinga Davin.


Mommy: "Tapi mengulangi kesalahan yang sama itu bukan suatu solusi terbaik untuk mendapatkan jalan keluar Davin"


Mommy: "Mommy akan menemui gadis itu dan berbicara panjang lebar dengannya. Perihal dirinya mau atau tidak menerimamu itu adalah pilihannya, kamu tidak berhak memaksakan kehidupan orang lain Davin. Mommy tidak akan biarkan kamu memaksakan kehendakmu padanya" jelas sang ibu anak lima itu.


Davin: "Bukankah mommy bahagia?" katanya jauh dari pembahasan sebelumnya.


Davin: "Bukankah mommy sekarang sangat bahagia hidup bersama daddy dan kelima anak mommy?"


Mommy: "Kamu ini ngomong apa sih Vin, jelas mommy bahagia hidup bersama kalian semua putra putri yang mommy cintai terutama bersama daddy kalian yang juga mencintai mommy. Karna hidup...


Davin: "Karna hidup akan jauh lebih tentram dan damai saat kita dikelilingi dengan orang orang yang mencintai kita. Iya kan mom?"


Kata kata yang selalu Melliza ajarkan pada putra putrinya termasuk pada Davin kecil dulu yang tak pernah mau lepas jauh dari dirinya.


Davin: "Jika mommy saja akhirnya bisa bahagia bersama dengan daddy yang dulu suka memaksakan kehendaknya. Kenapa mommy ragu akan Davin? Bukankah Davin dan daddy sama saja?" Melliza bungkam tak menjawab.


Celine: "Tapi sayangnya setiap wanita itu berbeda beda Vin, tidak semua bisa seteguh dan sesabar mommy kita. Tak terkecuali wanita itu, bisa saja dia bunuh diri atas tindakanmu yang sesukamu sendiri" terang anak tertua itu berusaha menjelaskan pada adiknya.


Daddy: "Tapi pada dasarnya yang terpenting bagi seorang wanita adalah prioritas. Mereka hanya ingin menjadi prioritas utama, menjadi satu satunya. Asal seorang pria bisa mewujudkan itu, sangat mudah meluluhkan hati seorang wanita"


Daddy: "Jadilah pria yang bertanggung jawab akan tindakan yang kamu lakukan. Ambil jika kamu menginginkannya, rebut jika ada yang menghalanginya. Dan hasil dari jerih payah kamu harus kamu kurung dalam sangkar emas yang terawat bukan malah sehabis mendapatkannya kamu ikat dan biarkan begitu saja tanpa adanya timbal balik yang menyenangkan. Karna sesungguhnya hati seorang wanita mudah berubah ubah sesuai dengan perilaku seseorang terhadapnya"