
Jam makan siang itu sungguh berbeda dari biasanya dalam keluarga bapak David Setya Mayndra dan ibu Melliza Clara Utomo.
Kelengkapan anggota keluarga yang kini telah berkumpul semua membuat dirinya senang karna bisa berkumpul bersama semua anak anaknya.
Hari libur nasional telah menetapkan suaminya begitu pula Celine untuk tetap berada di rumah. Dan tanggal merah itu juga telah memaksa Satya dan Kanya untuk libur dari kegiatan belajarnya dari kampus dan juga sekolah menengah yang Kanya biasa lakukan.
Sedangkan putri kedua dalam keluarga itu mendapat libur semester hingga Melliza pun dengan senang hati menyambut kepulangan sang putri Viana anak ketiga dari dirinya dan suaminya yang telah menimba ilmu di salah satu universitas di Jogja yang mumpuni dan telah mendapat sertifikasi nomor satu terbaik di negri ini.
Namun kelengkapan itu masih harus bertambah lagi dengan adanya satu sosok yang telah lama Melliza ingin lihat.
Sosok wanita yang belum lama tadi dia jumpai dalam kondisi tanpa busana dan dalam situasi yang tidak ibu lima anak itu harapkan.
Kursi yang biasa kosong dan tak berpenghuni di meja makan keluarga David kali ini memiliki pengunjung baru.
Meja makan yang melengkapi delapan kursi dengan meja yang begitu lebar dengan ukuran sama sisi dengan sisi yang masing masing berukuran dua meter itu sungguh sangat cukup untuk menampung keluarga yang dijaga baik baik akan keharmonisannya oleh Melliza.
"Kamu sudah keluar dari kamarnya? Apa itu berarti kamu telah mengandung anaknya?" kalimat pertama yang keluar dari mulut suaminya pada sosok wanita yang baru saja mengisi kursi kosong yang berada di sebelah Davin.
Velicia tak menjawab dan hanya duduk diam dengan pandangan kosong.
Davin: "Jangan ganggu dia dad" sela Davin memberi peringatan.
Daddy: "Daddy tidak menggangunya, hanya bertanya. Apa salah kalau daddy bertanya padanya?"
"Bilang saja kalau kak Davin takut kakak ini direbut oleh daddy untuk dijadikan istri kedua" celetuk anak bungsu itu membuat semua orang melihat ke arahnya termasuk Velicia sendiri yang merasa kaget saat mendengar ucapan gadis berusia enam belas tahun itu.
Kanya: "Apa?" tanyanya pada semua penghuni meja makan itu.
Dan karna merasa dipandangi oleh semua orang termasuk kakak kakaknya, Kanya melanjutkan kalimatnya yang kali ini membuat semua mata berpindah melihat pada pria paruh baya yang diam dalam ketegasannya.
Kanya: "Jangan melihat Kanya seperti itu. Jika mau bertanya, tanyakan saja pada daddy. Daddy yang bilang akan menikah lagi dengan kakak ini kalau kak Davin tidak mau bertanggung jawab dan hanya main main dengan kakak ini. Ya itu yang waktu itu Kanya dengar secara langsung karna Kanya memang ada saat daddy mengatakan itu pada kak Davin. Bahkan ada mommy juga" terangnya.
Daddy: "Kenapa?" tanyanya pada saat Celine, Viana dan Satya melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.
Daddy: "Apa salah kalau daddy mau bertanggung jawab atas kesalahan anak daddy yang telah menyekap anak gadis?"
"Jelas salah!" kalimat yang langsung menyambar setelah baru saja David menghentikan perkataannya dari kedua anaknya itu terutama Celine yang paling mengeluarkan suara lantangnya.
Celine: "Masih harus ditanya salah atau tidak? Memangnya daddy tidak tahu jawabannya?" lanjut Celine menolak penuturan daddy nya yang biasa ia hormati itu.
Satya: "Iya! Daddy ini ingat umur tidak?" anak keempatnya ikut menimpali.
Daddy: "Daddy kan hanya akan menikahi dia kalau Davin tidak mau bertanggung jawab"
Celine: "Tetap saja tidak boleh!" serunya menentangnya pemikiran daddy nya.
Celine: "Kalau daddy berempati seharusnya mengarahkan Davin putra daddy bukan malah beranggapan dan mencari solusi yang pastinya tidak akan kita semua setujui"
"Sebenarnya..
Kalimat yang terdengar menggantung itu mengalihkan semua pandangan termasuk Davin yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan.
"Sebenarnya daddy menikahi mommy karna mencintainya atau hanya karna dijadikan sebagai alat pembuat anak?"
Kalimat itu benar benar membuat seisi penghuni meja makan itu termasuk Velicia tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh salah satu anak di dalam keluarga itu.
Perkataanya yang datar, nada suaranya yang stabil serta ketenangan dalam berbicara dan pandangan mata yang hanya fokus pada sepiring makanan yang belum termakan dengan kedua tangan yang saling memegang sendok dan garpu itu menjadi pusat perhatian sementara di atas meja.
Satu satunya putri dalam keluarga David dan Melliza yang memiliki sifat pendiam tak banyak bicara seperti Kanya, tak seramah Celine saat menyapa.
Hampir memiliki kesamaan seperti Davin, tertutup pada sesama tapi bedanya Viana tidak seterbuka Davin pada mommy nya.
Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu yang memiliki selisih satu tahun dari Velicia terlihat begitu dewasa dari semestinya. Bukan penampilannya dari cara berpakaiannya melainkan dari raut wajah hingga cara bicaranya yang begitu tenang dan membingungkan lawan bicaranya.
Lebih suka menyendiri dan mendambakan ketenangan. Tak suka digangu dan hanya akan bicara jika diperlukan.
Sikap yang sangat membuat Melliza kadang bingung tentang bagaimana caranya untuk bisa mendekatkan diri pada salah satu putrinya itu.
Viana: "Jika sampai daddy menikah lagi, bukan hanya dengan wanita yang berada di sebelah kak Davin. Maka..
Kalimatnya terhenti saat tiba tiba arah pandangannya tertuju pada pria yang disebutnya sebagai seorang ayah.
Viana: "Maka bukanlah kak Davin anak pertama yang akan menentang pernikahan kedua daddy. Melainkan aku. Viana Destie Mayndra yang akan berada diurutan pertama yang akan menganggap bahwa aku tidak memiliki seorang ayah dan hanya terlahir dari seorang ibu"
Lirikan matanya tak mampu membuat David menjawab, dirinya hanya tersenyum pada putri ketiganya yang sangat jarang untuk mengeluarkan suara dan pendapatnya.
Bahkan saat Viana bangkit dan meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya yang sudah berada di piringnya itu, semua tak mampu menghentikan langkahnya atau hanya sekedar untuk memanggilnya termasuk Melliza sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya.
Menjadi satu satunya anak yang selalu dikirim oleh suaminya untuk berkelana menimba ilmu di berbagai tempat yang berada di negri ini bahkan pernah setahun lamanya di kirim menimba ilmu di negri paman sam saat usianya baru belasan tahun membuat Viana membentuk sikap yang sama sekali Melliza tidak bisa pahami.
Dan saat ditugaskan untuk melanjutkan keahlian ayah lima anak itu yang telah diterapkan oleh Celine anak sulung keluarga itu, Viana menolak telak meski telah mau melanjutkan kuliah kakak pertamanya itu yang dulu Celine tekuni disalah satu kota yang terkenal akan pendidikannya.
Viana mengambil fakultas hukum yang berbanding terbalik dari keinginan daddy nya.
Bahkan dirinya membantah bahwa Viana berhak atas apa yang menjadi masa depannya tanpa harus diatur seperti kemauan daddy nya itu.
Bahkan dia selalu membela diri dan membanding bandingkan dirinya dengan kedua kakaknya yaitu Celine dan Davin.
Viana:"Jika saja kak Davin boleh mengambil fakultas sesuai keinginannya kenapa aku tidak? Aku bukanlah kak Celine yang selalu daddy banggakan" katanya kala itu.
Dan sejak saat itu Melliza menyadari bahwa dirinya telah berada sangat jauh dari putrinya.