
Setelah menunggu drama makan ibu hamil yang membutuhkan waktu bahkan hingga satu jam lamanya Melliza, David begitu pula dengan Celine harus sabar menunggu untuk mulai membahas sebuah pembahasan yang lebih penting.
Sebuah topik yang harus segera diperundingkan mengenai hubungan antara Davin dan Velicia yaitu wanita yang berhasil Davin hamili setelah hampir dua minggu lamanya ia kurung dalam kamarnya tanpa menghiraukan segala ucapan mommy dan kakak perempuannya Celine.
Mommy: "Jadi? Apa yang akan kamu lakukan untuk berikutnya setelah menghamili Veli?" kalimat pertama saat wanita hamil itu baru saja meneguk setengah gelas air minum yang dipaksa oleh pria yang berada di sebelahnya.
Davin: "Habiskan" katanya tak menjawab pertanyaan Melliza dan malah menyuruh Velicia untuk menghabiskan air minum yang masih berada dalam gelas milik wanita itu.
Velicia: "Tidak mau" sahutnya menolak saat Davin berusaha menempelkan bibir gelas pada mulut mungilnya.
Davin: "Kamu harus banyak minum air supaya tidak dehidrasi" katanya memaksa.
Celine: "Dia pasti sudah kenyang. Nanti bagaimana kalau Veli muntah? Bagaimana kalau makanan yang tadi dia makan malah jadi keluar semua" seru anak sulung keluarga Mayndra.
Mommy: "Dilihat dari caramu tadi memberinya makan apa menurutmu perut kecilnya masih bisa menampung bahkan setetes air saja Davin?" ibunya menimpali.
Celine: "Benar! lagi pula masih ada yang harus kita bahas"
Daddy: "Jadi hal apa yang telah kamu persiapkan untuk kedepannya sebelum perut gadis ini kian membuncit nantinya. Kau pastinya tidak berniat untuk mempermalukan keluarga kita kan Davin?"
Sindiran dari ayah yang teramat tidak disukainya itu sungguh langsung tertanam dalam pikiran Davin. Bagaimana kata kata itu keluar dengan jelas dan lancar dari mulut yang telah mulai mengeriput.
Davin: "Yang pertama aku akan ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi janinnya dan usia kandungannya terlebih dahulu. Kemudian untuk selanjutnya...
Kalimatnya tergantung saat dirinya tak kunjung juga melanjutkan.
Saling melempar pandangan antara anak dan ayah yang sudah biasa terjadi bahkan sebelum adanya kelahiran Viana yaitu adik Davin sekaligus anak ketiga Melliza dan David.
Davin: "Cukup aku saja yang tahu" lanjutnya membuat Velicia menatapnya heran.
Celine: "Tapi kamu pasti akan bertanggung jawab kan Vin?" sela sang kakak masih menaruh rasa keraguan sekaligus penasaran atas tindakan adiknya yang berikutnya.
Alih alih takut saudara laki lakinya hanya bermain main pada seorang wanita, membuat Celine khawatir bukan hanya pada wanita yang dihamili secara paksa oleh adiknya. Tapi Celine juga khawatir akan mommy nya yang akan tertekan atas tindakan Davin, terlebih lagi Davin adalah putra yang menyayangi mommy nya melebihi dari ketiga saudaranya yang lain bahkan dirinya sendiri.
Davin: "Apa caraku menjaga cara makannya tadi masih kurang membuktikan bahwa aku tidak ingin terjadi apa apa antara dia dan calon anakku?"
Mommy: "Davin?" panggilnya dengan begitu tenang.
Mommy: "Apa mommy boleh tahu apa yang kamu pikirkan dan rencanakan?" ucapnya begitu pelan berusaha mencari keterbukaan pada putranya.
Davin: "Mommy hanya perlu percaya pada Davin" sahutnya sambil tersenyum ramah pada wanita yang telah menyayanginya sedari dulu tanpa rasa letih sedetik pun.
Mommy: "Apa mommy bisa mempercayaimu kali ini?"
Davin: "Bukankah sedari dulu mommy selalu percaya akan keputusan Davin? Mengapa kali ini ucapan mommy terdengar ragu?"
Mommy: "Karna kamu telah membuat kesalahan dengan menghamili Velicia terlebih dahulu dari pada menikahinya"
Velicia hanya diam saja saat mendengar suatu kenyataan bahwa keluarga Davin ternyata memiliki rasa empati terhadapnya.
Tapi apa yang Velicia bisa dapat setelah mendengar pernyataan ibu lima anak yang tadi pagi baru saja memeriksa tubuhnya?
Bahkan meski mommy Davin memiliki sifat yang lemah lembut dengan tutur bicara yang begitu elok dan kakak perempuan Davin yang begitu cantik dan menawan saat tersenyum itu tidak menjadi jaminan bahwa Davin adalah orang baik seperti mommy nya atau tegas dalam ber ucap seperti daddy nya.
Davin: "Apa menurut mommy dia mau menikah dengan Davin jika Davin tidak menghamilinya terlebih dahulu?" dari ucapannya Davin mendapat tatapan tajam dari wanita yang sedang diperbincangkan di atas meja makan itu.
Celine: "Ah! Benar juga" sela kakak perempuannya.
Celine: "Apa menurut mommy Veli mau memilih antara Davin pria dingin yang jarang tersenyum pada wanita dan suka memaksa dengan Evan yang ramah, baik hati dan penyayang?" lanjutnya membuat rahang Davin mengeras dalam emosi yang melingkupi dirinya.
Sedangkan ibu hamil itu langsung terkesiap saat Celine menyebutkan nama seseorang yang Velicia tengah khawatirkan.
Rasa rindu yang tiba tiba muncul begitu saja, ada rasa ingin bertemu dan ingin menyalurkan rasa rindu yang belum berkesudahan.
Dirinya mulai memikirkan hal hal indah yang dulu sering ia lakukan dengan kekasihnya itu.
Bagaimana cara Evan yang begitu manis membuatnya bahagia dalam kasih sayang yang melimpah dari pria yang memiliki kesibukan yang tiada hentinya itu.
Bagaimana cara Evan tersenyum padanya, cara pria itu melawak yang selalu membuat Velicia tertawa dan cara Evan yang selalu menyempatkan diri diantara kesibukannya membuat bayangan bayangan itu muncul kembali dalam benak Velicia hingga mulai menimbulkan rasa perih kembali yang begitu teramat dalam.
Celine: "Mau bagaimana lagi mommy, Davin jelas dangkal dan tak memiliki cara lain untuk merebutnya dari Evan. Karna adik tersayang ku ini tahu bahwa dirinya berada jauh jika harus dibandingkan dengan Evan" sindirnya lagi kali ini membuat Davin menatapnya tajam.
Celine: "Evan seorang dokter yang tampan dan ulet dalam bekerja. Dia ramah dan murah senyum, banyak pasien yang menyukai cara pelayanannya saat aku singgah sementara waktu untuk membantu otopsi di rumah sakitnya. Sangat berbeda jauh dari Davin yang kita miliki, jadi mana mungkin Veli bisa dengan mudah berpindah hati dari seorang pangeran dan memilih seorang musuh dalam selimut" terangnya panjang lebar mulai membandingkan.
Davin: "Aku sarankan kakak jauh jauh dari Kharrel, bagiku sekarang kakak menjadi orang yang banyak bicara hal hal yang tak penting dan tak bermutu sejak kak Celine mengenalnya" seru Davin merasa tidak terima.
Caline: "Jangan bawa bawa dia dalam permasalahan yang kau perbuat! Semua tidak ada hubungannya dengan Kharrel, bahkan jika aku belum mengenalnya pun aku akan secerewet ini pada adik laki laki ku yang kurang ajar sepertimu dengan seenaknya memperlakukan seorang wanita dengan tidak baik" Celine mulai terpancing emosi saat nama seseorang ikut terseret dalam masalah yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pria yang kali ini berada jauh dari jangkauannya.
Daddy: "Cecel?"
Celine langsung diam dan mengatur nafasnya supaya bisa teratur kembali setelah meluapkan suara yang lumayan bisa terbilang lantang itu.
Daddy: "Davin memang berbeda jauh dengan Evan. Bahkan Davin tak bisa disamakan atau dibandingkan dengan pria teladan sepertinya"
Davin: "Daddy sedang menjatuhkan ku di hadapan calon istriku yang akan menjadi menantu daddy nantinya?" katanya menyela.
Daddy: "Yang dikatakan kamu memang semuanya benar" simpulnya membenarkan ucapan anak sulungnya.
Daddy: "Tetapi...
Daddy: "Meski Evan tampan apa dia bisa lebih tampan dari adik mu ini?" katanya yang membuat Celine, Melliza, Davin bahkan Velicia terbengong bengong mendengarnya.
Daddy: "Meski dia ulet dan gigih dalam bekerja, menjadi dokter yang teladan dan berpengalaman apa dia bisa lebih pintar dari Davin putra daddy? Menghasilkan dolar bahkan saat dia sedang tertidur, bisa bersenang senang dan bersantai ria dan tanpa mengeluarkan sekuat tenaganya untuk menghasilkan selembar uang untuk dirinya sendiri bahkan untuk orang lain. Apa Evan bisa seperti Davin kita?" lanjutnya lagi membuat Celine semakin kicep dibuatnya.
Daddy: "Permasalahannya bukan hanya disitu, mungkin Evan handal dalam ruang operasi dan segala bidang kedokteran. Tapi apa Evan masih bisa handal saat Davin terjun dan menangani hal yang sama perisis sepertinya saat daddy dengan sendiri langsung terjun mengajari Davin sama hal nya dengan apa yang daddy ajarkan padamu?"
Daddy: "Apa Evan masih patut untuk bisa dibandingkan dengan Davin kita?"
Daddy: "Bahkan jika kau sebut adik mu sebagai musuh dalam selimut dari seorang pangeran. Itu bukanlah salah dari seorang penghianat melainkan itu adalah suatu kebodohan mengapa pangeran itu bisa kecolongan memiliki musuh dalam selimut yang berhasil menghianatinya. Maka sebenarnya dia bukanlah seorang pangeran melainkan seseorang yang berhasil ditipu oleh seorang pangeran"