Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 72



"Sejak kapan kamu mencintaiku?"


"Bukankah dulu kau bilang belum mencintaiku?"


"Lalu sejak kapan?"


"Atau ini kau sedang berbohong lagi karna ingin membujukku?"


"Iya?!"


Davin pikir dengan sedikit membujuknya bahwa dirinya sangat mencintai Velicia seorang akan cukup menenangkan amukan istrinya. Namun sayangnya semua sama saja, wanita itu malah lebih merambah permasalahan ketika dulu Davin sangat keras pada Velicia.


Davin: "Intinya aku mencintaimu. Hanya kamu dan tidak ada wanita lain" bujuknya lagi semakin ingin meyakinkan wanita hamil yang sangat labil akan perasaannya.


Davin: "Tentang kapan waktunya cukup aku saja yang tahu. Kamu hanya perlu merasakan kasih sayangku dan tidak perlu mempertanyakannya"


Velicia: "Sungguh kau mencintaiku?"


Davin: "Ya"


Velicia: "Hanya aku?"


Davin: "Iyaa"


Velicia: "Tidak ada yang lainnya?"


Davin: "Tidak ada Vevei ku sayang"


Wanita hamil itu bersorak gembira setelah menangis dengan derai air mata. Meloncat kesenangan dan menubruk Davin saat usahanya yang ingin memeluk suaminya.


Velicia: "Aku mencintaimu" ucapnya dengan terus memeluk suaminya dengan sangat gembira.


Davin: "Hmm" sahutnya tak mau berucap.


Velicia: "Kau tidak mencintaiku?!"


Davin: "Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu" sahutnya yang mulai waspada saat wajah sang istri mulai tidak sedap dipandang karna siap menerkam dirinya kapan saja jika sampai salah bicara.


Velicia: "Kalau begitu cium aku" katanya yang telah memajukan bibirnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah pria yang akan menjadi ayah dari anaknya.


CUP


Davin: "Sudah. Aku mandi dulu" katanya yang telah mengecup bibir istrinya.


Velicia: "Bukan seperti itu!" serunya menolak saat Davin hendak melepaskan diri.


Velicia: "Cium aku!"


Velicia: "Yang ciumannya lama. Yang lidahnya berantem di dalam. Yang membuat kehabisan nafas masa kamu tidak tahu" pintanya menjelaskan yang membuat Davin terkejut akan ucapan Velicia yang sangat terdengar vulgar.


Meski begitu, Davin tetap menuruti keinginan Velicia. Memberinya ciuman lembut yang sesuai dengan gambaran Velicia.


Velicia: "Lagi" pintanya lagi dengan terus menempelkan diri.


Davin: "Aku mau mandi Vei"


Velicia: "Lagi!"


Keintiman itu berlangsung lama, atau mungkin sangat lama saat Velicia menunda waktu mandinya Davin karna terus meminta lagi dan lagi saat mereka baru saja menarik nafas.


Menyudutkan Davin pada gelora yang harus ditahan karna kehamilan Velicia yang masih sangat muda.


🍂🍂🍂


Cobaan memang silih berganti.


Menerpa lalu menghilang saat umat manusia mampu untuk menghadapinya.


Sama halnya dengan masalah dalam hubungan Davin dan Velicia.


Awal hubungan mereka terjadi karna tidak adanya cinta. Davin yang memaksa kehendak tanpa sebuah rasa mengantarkan Velicia pada rasa kecewa yang tidak berkesudahan kala itu.


Lalu mengandung Vania dengan sikap otoriter Davin yang kian meningkat disetiap waktunya membaut Velicia kadang tertekan dan seperti boneka hidup yang hanya dikurung dalam sangkar emas yang selalu terawat oleh Davin.


Setelah semua bisa mereka lewati dengan rasa yang mulai timbul antara satu sama lain, munculan para barisan manusia yang menjadi cobaan kedua bagi hubungan mereka.


Namun rasa percaya itu timbul lagi diantara keduanya. Karna satu dasar yang kuat dan satu pegangan yang kokoh. Yaitu hadirnya anak kedua meraka dan saling adanya pengakuan cinta diantara mereka secara langsung yang semakin menguatkan hubungan mereka lagi.


Akan tetapi..


Hanya tinggal tergantung setiap individu manusia itu sendiri tentang bagaimana cara mereka untuk menyelesakannya.


Karna sesungguhnya manusia dan ujian hampir hidup berdampingan.


Tidak akan pernah ada kata cobaan berhenti bagi umat manusia. Selagi mereka bernafas, mereka masih menjalani hidup, maka ujian yang Tuhan berikan tidak akan pernah ada hentinya terkecuali jika manusia itu meninggal dan menemui Tuhannya.


Bila manusia bisa melewati ujian yang pertama maka Tuhan akan memberikan yang lebih berat.


Bila mereka bisa melewatinya lagi maka Tuhan akan semakin meningkatkan ujian itu pada tingkatan yang lebih tinggi lagi.


Davin: "Aku pergi dulu ya Vei" pamit Davin yang telah rapih dengan baju perginya yang sedikit lebih tertutup.


Velicia: "Kemana?" tanyanya sudah memasang mode siaga.


Davin: "Aku ada janji temu dengan seseorang"


Velicia: "Seorang wanita?" tanyanya terus semakin curiga.


Davin: "Iya" sahutnya singkat yang sedikit memberi perasaan curiga pada wanita hamil yang tengah mengandung anak keduanya.


Velicia: "Kalau begitu aku ikut"


Davin: "Tidak boleh" jawabnya yang semakin membuat Velicia semakin diliputi rasa curiga.


Velicia: "Aku mau ikut, berarti harus ikut" sahutnya tak mau kalah dari suaminya.


Davin: "Tidak boleh!" tolaknya tidak ingin dibantah.


Velicia: "Mau ikut!" kekehnya dengan keputusannya.


Velicia: "Siapa yang tahu kalau wanita itu mungkin bisa saja selingkuhan kamu. Iya kan?" tuduhnya tak beralasan.


Davin: "Jangan mulai lagi Vei" ucapnya merasa jengah setiap istrinya menuduh Davin yang bukan bukan.


Velicia: "Ya kan bisa saja"


Velicia: "Kalau memang bukan. Ya sudah aku harus ikut, apa masalahnya kalau aku ikut"


Velicia: "Lagi pula tidak baik berduaan dengan wanita lain secara diam diam di belakang istri yang lagi hamil" sindirnya semakin membuat kepala Davin pening.


Davin: "Aku tidak hanya berdua, dia bersama dengan anaknya"


Velicia: "Anak?"


Velicia: "Anak kamu?!"


Kehamilan sang kakak saja yang belum bisa ia pastikan bahwa janin itu bukan anak dari suaminya sudah membuat Velicia tidak nyaman untuk menjalani hari hari, ini ditambah lagi pria yang berstatus sebagai suaminya hendak menemui wanita lain di belakangnya dengan membawa seorang anak.


Davin: "Oh astaga Vei!"


Davin: "Bisa tidak kamu percaya dan tidak menuduhku yang aneh aneh?!"


Velicia: "Maka dari itu, aku mau ikut"


Davin: "Tidak boleh!" tolaknya lagi.


Davin: "Sudah dibilang tidak boleh juga, masih saja memaksa ingin ikut"


Pria itu mulai bisa memahami bahwa wanitanya mulai menjadi keras kepala sejak kehamilan anak kedua mereka.


Memaksa, menuduh dan berpikiran sempit tentang dia bila Davin melakukan segala hal di belakangnya.


Davin: "Kamu di rumah saja"


Davin: "Maksudku kamu di kamar saja, jangan keluar. Jangan menemui kakakmu atau yang lainnya saat aku pergi. Ok?" terangnya menjelaskan ultimatumnya.


Velicia: "Aku mau i...


Davin: "Di rumah!" selanya langsung benar benar tidak ingin dibantah.


Davin: "Dengarkan apa kata aku Vei. Menurutlah"


Davin: "Dia bukan selingkuhanku, bukan wanita simpananku apalagi istri kedua ku. Dia hanya wanita yang aku kenal dan anak laki laki yang seumuran denganku"


Davin: "Meraka berdua hanyalah salah satu manusia yang mencari perkara denganku. Jadi kamu jangan sampai terlibat atau aku bisa gila untuk yang kedua kalinya"