
Seogok tubuh yang Velicia kenal tengah berjuang antara hidup dan matinya dalam kondisi koma.
Perban yang melilit sebagian besar kepalanya serta tangan kanan yang telah dipasang gips, membuat wanita itu meringis melihat penampilan Davin yang sangat memprihatinkan.
Ada beberapa titik lebam pada wajah tampannya yang rupawan namun tidak mengurangi rasa yang sebenarnya telah timbul sejak lama dalam benak Velicia.
Keheningan ruangan itu hanya menyisakan bunyi detikan dari mesin yang membantu suaminya untuk bernafas. Menyalurkan oksigen pada pria yang belum lama berdebat dengannya tadi.
Namun rasa khawatirnya belum sampai disitu saja. Terdapat satu nama lagi yang ingin Velicia pastikan keberadaan dan kondisinya.
Vania Lavina Putri Mayndra
Putrinya bersama Davin yang ia lahirkan setelah mengandung bayi perempuan itu lebih dari sembilan bulan.
Velicia: "Dimana Vania?" tanyanya langsung pada wanita yang tadi menarik paksa lengannya untuk segera datang ke salah satu ruang ICU yang ditempati oleh Davin suaminya.
"Huh?!" sahutnya spontan karna merasa terkejut.
Velicia: "Dimana putri kecil ku Vania?!" tanyanya lagi lebih menuntut karna sudah tidak sabar ingin melihat bayi kecilnya.
"Aku.. aku.. aku tidak tahu" sahutnya terbata saat Velicia mengguncang kuat kedua lengannya.
Velicia: "KAU?!" serunya kuat di dalam ruang ICU.
Velicia: "Bagaimana mungkin kau bisa tidak tahu!" bentaknya.
Velicia: "Kau saja tahu Davin di rawat di ruangan ini pastinya kau juga tahu dimana putri ku sekarang berada. Karna mereka pergi bersama, Davin membawa putri kecilku bersamanya tadi. Jadi dimana putri ku sekarang?!" serunya sudah mulai hilang kendali.
Seorang ibu tidak akan bisa tenang jika anak yang ia kandung, anak yang ia lahirkan, anak yang ia besarkan dengan kasih sayang yang begitu melimpah tidak diketahui akan keberadaannya oleh dirinya sendiri.
"Vel?" panggil lirih seorang wanita lain yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Kakak iparnya Celine datang lalu menggandeng tangannya pelan. Menuntun tubuh itu untuk ikut keluar dari ruangan yang ikut melindungi raga Davin. Begitu pula dengan wanita yang pertama kalinya Velicia temui pun ikut turut keluar mengekorinya.
Velicia membeku, tubuhnya serasa kaku saat pintu yang baru ia lewati telah tertutup dengan rapat.
Derai air mata yang jatuh dari pipi ibu mertuanya tidak pernah henti untuk mengalir. Bagaimana wanita itu menangis tersedu sedu dalam pelukan putri bungsu keluarga Mayndra yang ikut turut bersedih karenanya.
Celine: "Yang tabah ya Vel?" tiba tiba suara itu terdengar bergetar, menyisakan tanda tanya bagi pendengarnya.
Sosok tegas yang berdiri tegap di hadapannya menampilkan raut wajah suram. Mulutnya terkunci rapat, menatap lurus ke arah Velicia berada.
Serta menggendong sesuatu di depan badannya menggunakan dua tangan dengan kain yang menutupinya.
Velicia: "Kak?" panggilnya lirih dengan melihat ke arah Celine berada yang memeluk Velicia dari arah samping kirinya.
Namun sang kakak ipar meresponnya dengan semakin derasnya air mata. Menaruh keningnya di bahu sebelah kiri Velicia.
Velicia: "Apa maksudnya ini kak?" tanyanya ingin mengetahui akan hal yang sama sekali tidak bisa terbaca oleh Velicia sendiri.
Namun lagi lagi dirinya tidak mendapatkan respon dari sang kakak ipar, Celine malah semakin hanyut dalam tangisannya yang bahkan semakin erat memeluk Velicia.
Velicia: "Mommy?" panggilnya meminta penjelasan dari orang lain.
Velicia: "Dad?" panggilnya lagi tapi hanya dibalas dengan gelengan kepala pelan oleh ayah mertuanya.
Akan tetapi saat Velicia meminta penjelasan pada wanita asing yang baru pertama dia lihat dengan cara melihat ke arah wanita itu, wanita itu langsung berjalan pelan ke arah David berada.
Menarik nafas dalam sebelum membuka kain putih yang cukup sangat lebar hingga bisa menutupi tangan ayah mertua dari Velicia sampai sebatas siku.
Velicia terdiam tanpa kata, segurat rasa yang membuncah menamparnya bertubi tubi dari relung hati terdalamnya.
Bagaikan sebuah fatamorgana, dirinya tidak langsung bisa menerima apa yang sedang ia lihat.
Kulit putih pucat dengan beberapa goresan meninggalkan jejak bagi sang pemilik.
Velicia: "Siapa dia?" ucapnya.
Velicia: "Aku mencari putriku. Aku mencari Vania kecilku. Dimana anakku?"
Mendengar akan hal itu Melliza semakin hanyut akan perasaan sedihnya.
Sedangkan Celine semakin mempererat pelukannya, mencoba menahan dan menenangkan Velicia dari sebuah bencana yang melanda rumah tangganya.
Velicia: "Dimana putriku?!" suaranya kian memperjelas akan keputusasaannya.
"Ini putri mu Vel, Vania" sahut wanita yang tadi membuka penutup kain yang menutupi tubuh kecil dalam gendongan sang kakek.
Velicia: "Dia bukan anakku!"
Velicia: "Dia bukan Vania ku! Dimana Vania ku?!"
Velicia: "DIMANA?!"
Tubuhnya melemas, akan tetapi tertahan akan dekapan Celine yang tetap berusaha menopangnya.
Pandangannya mulai kosong, dirinya belum bisa menerima kenyataan bahwa putri kecilnya, putri kesayangannya telah tiada untuk selama lamanya.
Bagaimana wajah putih yang biasanya merona kini telah pucat tak bersisa.
Bibirnya yang kian menggelap, matanya yang sudah tertutup rapat benar benar menjatuhkan Velicia ke dalam dasarnya jurang yang sangat curam.
Bagai dibidik oleh beribu ribu anak panah membuat luka yang tidak akan bisa sembuh ataupun hilang pada dirinya untuk jangka waktu yang sangat lama.
Baru beberapa saat lalu bayi kecil itu mengoceh meminta susu pada Velicia, bermanja ria pada bundanya untuk memperhatikan tingkah polanya. Namun kali ini bayi kecil yang ceria itu terus saja diam, tidak bersuara atau setidaknya Velicia berharap bahwa bayi dalam gendongan ayah mertuanya itu bisa menangis. Berharap bayi itu menangis dengan sekuat tenaga, menangis sekencang kencangnya.
Velicia: "Dia bukan putri ku kan kak?"
Velicia tergeletak, menutupkan matanya sedikit demi sedikit yang diiringi dengan air matanya yang tiba tiba menetes ke lantai.
Seolah ia ingin beristirahat sejenak dan berharap setelah bangunnya nanti suami serta putrinya berada di sampingnya. Mencoba menggangu tidurnya seperti yang biasa Davin dan Vania nya lakukan pada dirinya saat tidur siangnya.
🍂🍂🍂
Wanita yang telah kehilangan sosok putri kecil yang manis itu hanya bisa terduduk diam dengan badan lemas di atas kursi roda.
Dengan selang infus yang membantu dirinya untuk tetap bertahan dari rapuhnya tubuh yang telah lama tidak beristirahat dengan benar.
Menunjang pula karna pola makan yang tidak teratur lagi seperti sebelumnya.
Sudah tujuh hari berlalu, sudah tujuh hari pula Vania bayi kecil yang ia sangat sayangi menutupkan matanya dan tidak ada kepastian akan terbuka kembali. Dan sudah tujuh hari juga Velicia tanpa henti berdoa pada Tuhan nya untuk melindungi putri kesayangannya disana.
Berharap Tuhan memberikan tempat yang paling terbaik untuk putrinya hingga nanti dirinya suatu saat akan menyusulnya.
Dan telah tujuh hari pula belum ada kabar dari pihak rumah sakit akan perkembangan Davin yang masih dalam kondisi koma.
Vania telah dimakamkan meninggalkan Velicia sendiri karna Davin juga masih berjuang sendiri akan hidupnya.
Celine: "Vel?" elusan lembut pada bahu sebelah kanannya tidak mampu mengalihkan pandangan kosong Velicia yang terduduk manis di sebuah kursi tunggu yang tak jauh dari ruangan Davin berada.
Celine: "Kamu yang sabar ya.. kakak yakin Vania bahagia disana" hiburnya dari mulut kakak iparnya.
"Iya sayang.. masih ada yang butuh kamu disisinya. Davin masih butuh kamu, kamu harus melawan rasa kosongmu demi suamimu" lanjut sang ibu dari Velicia memberi petuah.
Celine: "Iya benar. Masih ada Davin, masih ada kita dan masih akan ada anak anak mu dan Davin untuk kedepannya. Jadi jangan murung dan sedih berlarut larut itu tidak baik untuk kesehatanmu"
Dirinya tetap tidak ingin meresponnya.
Bagaimana mungkin bisa Velicia merasa tenang setelah kehilangan putri yang ia lahirkan sendiri.
Meski bukan terbentuk dari dasar cinta, namun pada akhirnya Vania tetap anaknya, tetap darah dagingnya. Bayi yang telah membuat Velicia mengorbankan segalanya hanya demi mengurusi Davin versi perempuan kecil yang imut dan lucu.
Celine: "Terima kasih karna kamu telah membantu menjaga Davin selama kita semua sibuk dengan proses pemakaman dan doa untuk Vania" ucapnya terdengar tulus pada wanita yang baru saja keluar dari arah pintu ruangan Davin berada bersama dengan seorang dokter pria.
"No problem kak, sebagai gantinya aku meminta maaf karna tidak bisa hadir ke pemakaman saudara kembarku" ucapnya sedikit bercanda.
Celine: "Ya kalian memang kembar, tapi hanya dalam hal nama. Karna keponakanku itu jauh lebih baik darimu pastinya" sahutnya membanggakan putri dari adiknya.
"Ya kau benar Vania yang ini apalah daya, tidak akan mampu bersa...
Belum juga selesai akan kalimatnya, tiba tiba seseorang menyerang tubuhnya. Menjambak rambut panjang yang terurai indah dengan sangat kencang membuat sang empu mengaduh kesakitan.
Velicia: "Semua gara gara kamu!" teriaknya sambil terus menarik rambut Vania dengan sangat kuat.
Celine dan sang ibu dari Velicia yang melihatnya pun ikut terkejut akan aksi Velicia yang tiba tiba menyerang Vania.
Menjambaknya bahkan hingga Vania berteriak kesakitan.
Velicia: "KAMU HARUS MATI!" teriaknya semakin frustasi.
Namun sang dokter itu bertindak cepat dan memisahkan Velicia yang terus ingin menggapai Vania. Vania pun dengan rasa takutnya berdiri di belakang sang dokter dengan air mata yang sudah mengalir karna merasakan sakit di kulit kepalanya.
Velicia: "Mati kau!" teriaknya lagi saat Celine dan ibu dari Velicia menahan wanita yang tengah dalam rasa frustasinya karna kehilangan seorang putri yang dilahirkannya.
"Kamu ini kenapa Veli?" ibunya menahan sekuat tenaga dengan berusaha menenangkannya juga.
"Dia baik padamu dan ikut menjaga suami mu saat kita semua sibuk, tapi ini balasan mu padanya?"
Velicia: "Dia bukan orang baik! Dia perebut suami orang! Dia j*lang! DIA J*LAAANG!"
PLAK
Tamparan kuat yang melayang pada pipi sebelah kiri oleh tangan lebar yang mendarat pada permukaan kulit mulus Velicia membekas merah.
"Siapa yang kau sebut j*lang?" suara tegas yang begitu mengintimidasi keluar dari mulut seorang pria yang menjadi tameng bagi Vania.
Celine: "Apa yang kamu katakan tadi?" bisiknya lirih pada telinga Velicia yang masih termakan akan emosi.
Velicia: "Dia pelakor! Dia perebut suamiku! Dia yang membuat putriku meninggalkan ku untuk selamanya. Dia penyebabnya!" tunjuknya pada Vania yang semakin bingung akan ucapan Velicia.
Celine: "Kamu ini ngomong apa?"
Celine: "Tidak mungkin Vania merebut Davin darimu. Itu tidak akan pernah mungkin terjadi Velicia"
Celine: "Untuk apa dia menginginkan pria seperti Davin jika dia sudah memiliki suami yang hebat seperti dr. Gunawan?"
Velicia: "Dia sudah menikah?"
Celine: "Sudah. Vania telah memiliki dua anak, dan ini adalah suaminya dr. Gunawan. Dokter yang ikut mengawasi perkembangan Davin selama ini" terangnya yang membuat Velicia merasa bingung.
Celine: "Harusnya kita bersyukur dan berterima kasih pada mereka. Karna tanpa dr. Gunawan dan Vania kita tidak akan pernah tahu kalau Davin masuk rumah sakit karna kecelakaan"
Velicia: "Bu.. bukannya Vania adalah mantan kekasih Davin yang dulu?" tanyanya ragu ragu.
Celine: "Kamu ini ngelantur kemana lagi?"
Celine: "Dia ini Vania putri dari dr. Marsya teman lama mommy yang sudah aku dan Davin anggap seperti saudara sendiri" terangnya lagi yang membuat Velicia semakin gelagapan saat mendengarnya.
Celine: "Dia dulu waktu umur satu tahun sering ditinggal tugas oleh tante Marsya hingga kerap dititipkan di rumah kita. Berebut ASI mommy dengan Davin karna usia mereka yang tidak jauh berbeda"
Vania: "Maaf waktu acara pernikahan kalian aku tidak bisa hadir. Karna waktu itu aku tengah hamil tua putra kedua ku yang tidak mengijinkan ku melakukan penerbangan" ucapnya lirih dengan masih sedikit agak takut.
Celine: "Wajar jika kamu salah paham, terlebih pasti Davin tidak menceritakan apapun padamu. Karna jika mereka berdua sampai sudah bertemu, bagaikan langit dan awan tidak akan terpisah dan akan terus berbincang melupakan orang lain yang berada disekitarnya"