Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 49


"Apa yang kau cari tahu?!"


Bentakan demi bentakan meluncur dengan sempurna dari mulut pedas Davin pada wanitanya yang tengah hamil muda.


Setelah mengusung istrinya untuk masuk secara paksa ke dalam kamar mereka, Davin pun mulai melancarkan aksinya.


Seperti lupa akan kondisi Velicia, seakan buta dan menutup rapat hal lain hanya meluapkan amarahnya karna kesalahan yang tidak seberapa Davin lagi lagi memaksa Velicia untuk melakukan hubungan suami istri setelah sekian lama tidak melakukannya.


Memaksa tubuh wanitanya harus kuat dan harus sanggup menerima dirinya di dalam tubuh wanita itu.


Davin: "Harus berapa kali lagi aku mengucapkannya Vei?" kalimat pertamanya saat Davin duduk dengan membelakangi seogok tubuh yang bergetar karna tangisannya.


Davin: "Aku tanya harus berapa kali hingga kau bisa mengerti akan maksudku?!"


Davin: "Berapa kali Vei?!"


Davin: "Berapa kali!"


Davin: "BERAPA?!" bentaknya semakin membuat tubuh Velicia terguncang karna merasa takut.


Davin: "Jika aku bilang jangan cari tahu. Maka jangan! Kamu tahu arti kata jangan atau tidak?!"


Davin: "Hah?! Jawab aku!!!"


Davin melirik sedikit dari ekor matanya, menelisik kondisi istrinya yang juga merasakan sakit di perutnya.


Davin: "Jika sudah seperti ini, kau terlihat seperti


korban dan aku adalah penjahatnya. Kau ingin membuktikan pada calon anak kita bahwa aku bukanlah ayah yang baik? Iya?! Padahal kau sendiri yang membuat masalah denganku"


Velicia: "Aku hanya...


Davin: "Hanya apa?! Hanya ingin mencari tahu? Iya?!"


Davin: "Tapi aku sudah melarang mu Vei, aku sudah melarangmu! Kamu tahu betapa baiknya jika kamu tidak tahu segalanya?"


Davin: "Tidak bisakah kau hidup tenang dan jangan mencari masalah denganku? Cukup turuti ucapanku maka kau akan bahagia. Apa kau tidak mengerti akan tujuanku yang ingin membuatmu bahagia bersamaku?"


Velicia: "Aku minta maaf"


Wanita itu menggenggam erat selimut yang menutup sebagian payudaranya. Seolah berusaha menyalurkan akan rasa takut yang tengah melandanya.


Ini bulanlah kali pertamanya Velicia membangkang dan tidak menuruti perkataan Davin suaminya, namun ini adalah kali pertama Davin marah besar terhadapnya. Bahkan amarahnya kali ini lebih tidak terkendali, tidak seperti saat wanita itu pergi secara diam diam menemui Evan mantan kekasihnya saat sebelum resmi menjadi istri Davin.


Atau mungkin karna telah terbiasa akan perhatian dan kasih sayang pria itu terhadap dirinya dan juga calon anak mereka membuat Velicia dirundung rasa takut yang teramat.


Davin: "Masih akan ada kata maaf berapa kali lagi untuk ke depannya dengan kasus dan permasalahan yang sama?"


Velicia merangkak perlahan dan berusaha mendekati Davin yang masih duduk membelakanginya di atas ranjang. Merangkak dan terus merangkak hingga akhirnya melemparkan diri untuk memeluk tubuh pria yang bertelanjang dada itu dari belakang dengan kondisi Velicia yang kini seutuhnya tanpa sehelai kain yang menutupi.


Velicia: "Aku benar benar minta maaf" lirihnya memeluk Davin dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa.


Velicia: "Sebagai bentuk penyesalanku, aku akan mulai mengambil peranku sebagai istri mu. Apa ini bisa membuat kau memaafkan ku Vin?" lanjutnya lagi.


Davin: "Jangan lakukan itu lagi" terdengar begitu dingin dari nada suaranya, begitu datar dan tanpa ekspresi.


Velicia: "Baik"


Wanita polos itu semakin erat memeluk suaminya, seakan rasa takut yang belum lama melandanya bisa tiba kapan saja.


Rasa takut yang tiba tiba timbul dalam perasaannya dan mengusik ketenangannya. Rasa takut akan kehilangan, rasa takut akan kesepian dan rasa takut tidak ada lagi perhatian yang begitu melimpah yang pria itu selalu berikan pada sang wanita.


Davin: "Apa perutmu masih sakit?"


Velicia: "Sedikit"


Davin: "Aku akan panggilkan mommy, mommy pasti tahu apa yang bisa menghilangkan rasa sakitmu saat ini"


Davin yang berniat hendak berlalu terhalang akan pelukan yang tidak mau dilepaskan. Velicia semakin erat bahkan memberikan tatapan sayunya, seolah ingin menyampaikan bahwa wanita itu tidak butuh siapa pun selain suaminya saat ini. Meski pada kenyataannya rasa sakit yang kini ia tengah rasakan adalah pemberian Davin yang belum lama murka, namun seolah rasa kecewanya atas tindakan suaminya yang terus memaksanya tadi hilang dan tergantikan dengan rasa ingin diperhatikan.


Velicia menggeleng pelan saat Davin berdiri dan menatap Velicia yang masih duduk dengan sedikit mendongak ke arahnya.


Velicia: "Bisakah kita ulangi lagi?"


Davin: "Apa?"


Davin merasa bingung dengan tingkah istrinya, belum lama wanita itu menangis karna rasa takut yang teramat padanya, lalu wanita yang mengandung anaknya tiba tiba terlihat begitu manja terhadapnya. Tidak mau ditinggalkan bahkan tidak mau lepas dari dirinya.


Velicia: "Bisakah kau melakukannya lagi namun dengan kelembutan, seperti kemarin kemarin"


Davin: "Aku tidak bisa Vei" sahutnya cepat tanpa pikir panjang.


Davin: "Kau tahu bukan kehamilanmu berada di masa yang masih rentan"


Velicia: "Maka dari itu, aku pinta kau melakukannya dengan kelembutan"


Velicia menarik Davin agar jatuh menimpa tubuhnya.


Velicia: "Aku mohon, aku sungguh menginginkannya"



🍂🍂🍂


Menemani tidur lelap sang istri menjadi hal baru yang harus Davin lakukan disetiap saat Velicia menginginkannya.


Bagaimana letihnya Velicia yang telah mendapatkan hal yang diinginkannya membuat dirinya tidur dalam dekapan Davin dengan sangat nyaman.


Davin pun tidak bisa menolak, selain ini bisa ia pergunakan untuk membuat Velicia semakin bergantung pada dirinya, ini juga menjadi kemajuan tersendiri diantara hubungan mereka berdua.


Tapi sayangnya sebuah gangguan telah menghancurkan setiap kedamaian Davin yang sedang mengelus perut istrinya yang telah memiliki sedikit perubahan.


Dering ponselnya berkali kali berbunyi dan telah mengusik wanitanya yang sedang bermanja padanya. Velicia sedikit terganggu dan membuka kelopak matanya dengan begitu perlahan, menampakan bola mata hitamnya yang begitu memikat.


"Vin?" panggil Velicia masih dengan nada suara seraknya khas orang bangun tidur dengan dilanjuti sedikit menguap.


Davin: "Tidurlah apabila masih mengantuk, aku akan mematikan ponselku" dari ucapan Davin, Velicia hanya menggeleng dan bangun dari tidurnya.


Wanita itu lantas duduk dan berjalan menjauh menuju kamar mandi dengan membawa baju baju yang telah lama tergeletak di lantai.


Sedangkan Davin dengan aura membinasakan lawannya secara paksa mengangkat panggilan yang sedari tadi menggangu ketentraman ponselnya.


Nama orang kepercayaannya langsung tertera di layar ponselnya.


Fero


Teman seangkatan dulu sewaktu dirinya menimba ilmu di Universitas Nasional Singapura.


Davin: "Berikan aku alasan mengapa aku harus tidak mencekik mu?" ucapnya sebagai salam pembuka.


Fero: "Hai sobat, mengapa kau lebih sensitif lagi setelah menikah? Apa aku telah mengganggu hal yang sedang menyenangkanmu?"


Fero: "Sebelumnya aku minta maaf karna tidak bisa turut hadir memenuhi undanganmu, tapi sebagai teman yang baik aku selalu memberikan doa terbaikku untukmu"


Davin: "Ada urusan apa?" tanyanya ingin langsung pada intinya.


Fero: "Aku harus memulainya dari mana dulu ini?" lawan bicaranya seperti sedang merasa kebingungan dan berusaha menata kosa kata terbaiknya.


Fero: "Jadi seperti ini Vin, aplikasi yang kita kembangan telah menunjukan progres yang sangat signifikan dan diluar ekspektasi kita ternyata. Tanpa kita duga banyak peminat di kota Jakarta yang ikut turut menggunakan aplikasi ojek online yang kamu rancang sendiri" jelas lawan bicaranya.


Davin: "Jadi?" tanyanya lagi lagi ingin langsung pada inti yang dibicarakan.


Fero: "Jadi kamu harus datang ke Jakarta dan mendampingi aku sebagai pimpinan sementara karna hak cipta aplikasi mengatas namakan dirimu"


Davin: "Ok besok aku kesana" sahut Davin lalu hendak melihat istrinya yang sedari tadi belum keluar dari kamar mandi.


Fero: "Bukan hanya besok Vin, kamu harus menetap di Jakarta mulai besok"


Davin: "Apa maksudmu?" langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar mandi saat mendengar penuturan lawan bicaranya.


Fero: "Sebagai pimpinan sesungguhnya, kau harus turut ikut hadir disetiap pertemuan. Setelah mengalami progres dan banyaknya peminat, aku mulai mengembangkannya dengan beberapa fitur baru"


Davin: "Itu bagus, maka lakukan sesuai pemikiranmu. Aku hanya cukup mengawasinya saja dari sini"


Fero: "Itu tidak bisa Vin, jika kau tidak ikut ambil alih dalam bagianmu maka bisa kapan saja projek yang kita ciptakan dan telah menunjukan hasil bisa hilang kapan pun juga. Apa kau ingin kinerja kita dulu yang sama sama menyukai bidang ini hilang tanpa bekas?"


Lawan bicaranya yang juga temannya itu terus berusaha semampunya untuk dapat membujuk Davin yang masih keras kepala dengan keputusannya yang tidak mau kembali ke Jakarta dengan alasan menetap disana.


Davin jika pun ke Jakarta hanya akan sekedar berkunjung, dia tidak pernah tertarik untuk tinggal disana, terlebih lagi saat ini telah ada wanita yang menemaninya.


Davin: "Aku tetap tidak mau"