
Davin bukanlah seseorang yang terlahir dari keluarga yang sungguh kaya raya yang mampu meretas suatu keberadaan seseorang hanya dengan sekali perintah.
Dirinya hanya terlahir dari keluarga yang sangat cukup berada dan masih sangat dibilang mampu dalam segala hal.
Sepulangnya dirinya dari Jakarta bersama mommy nya Melliza, Davin berusaha keras melacak keberadaan Velicia melalui beberapa pihak kenalannya.
Selain karna itu, fitur game nya pun ikut membantu dirinya karna telah mencapai tingkat pembelian aplikasi yang telah mendunia bukan lagi hanya di Indonesia.
Tapi sayangnya itu pun masih tidak bisa membuahkan hasil benar atau tidaknya wanita yang pernah ditidurinya itu berada di negara yang pernah disebutkan oleh Evan.
Davin: "Milan?" gumamnya sambil berusaha berfikir.
Davin terus mengetuk ketukan pensil yang biasa dia gunakan untuk menggambar itu pada dataran meja yang menopang sanggahan kedua tangannya.
Davin: "Ternyata memang tidak semudah itu" katanya sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati lemari kaca yang berisi beberapa buku yang sedari dulu tidak pernah Davin singkirkan dari jamannya masih sekolah menengah pertama.
Davin membuka lemari itu dan mencoba mencari buku yang bisa menghilangkan kejenuhannya dari pencarian yang belum memiliki titik terang.
Sudah hampir satu bulan dirinya menerima kabar dari Evan bahwa Velicia berada di Milan, dan sudah hampir satu bulan pula dirinya mencarinya meski tidak langsung datang mencarinya.
Karna bagi Davin, saat mendengar kata Milan dirinya begitu ragu dan tidak yakin bahwa Velicia benar benar berada disana.
Entah Evan yang berbohong padanya atau wanita yang pernah ditidurinya itu yang berbohong pada kekasihnya, tapi akhirnya tetap sama Davin masih juga belum menemukan keberadaan Velicia yang sebenarnya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pada pintu kamarnya mengalihkan perhatian Davin dari sebuah buku yang bertajuk bagaimana cara mengaplikasikan sebuah komponen komponen komputer menjadi komputer rakit.
Davin: "Siapa?" tanyanya sedikit mengangkat lebih tinggi suaranya tidak seperti biasa.
"Ini Kanya kak" sahut yang berada dibalik pintu dengan suara yang lebih tinggi dari dirinya.
Davin: "Pergilah... Kakak sedang tidak ingin diganggu" katanya dengan kembali membuka lembaran selanjutnya yang sebenarnya sudah pernah dia baca.
Tapi bukan Kanya Mala Mayndra namanya jika tidak mengganggu Davin sebentar saja. Dirinya yang sudah diusir secara terang terangan oleh kakak laki lakinya itu malah lebih gencar lagi dengan menyelonong masuk begitu saja.
Kanya: "Hai kak" sapanya langsung yang baru saja menutup pintu kamar Davin.
Davin: "Sudah kakak katakan, bahwa kakak sedang tidak ingin diganggu Kanya" sahutnya masih menatap serentetan gambar yang tertera pada buku yang dipegannya sambil berdiri dan bersandar pada sebuah meja yang menyatu pada salah satu dinding kamarnya.
Kanya: "Ayolah kak Davin, Kanya butuh bantuan kak Davin kali ini. Kan kak Davin kakaknya Kanya" katanya sambil berjalan mendekat kearah kakak laki lakinya berada.
Davin: "Kakak tidak tertarik untuk membantu mu. Dan lagi kakak mu itu bukan hanya aku, masih ada kak Celine, Viana dan Satya. Minta saja bantuan pada mereka yang pasti akan membantumu" tolaknya yang masih saja tidak mau beralih memperhatikan adiknya.
Kanya: "Tapi yang bisa membantu Kanya hanya kak Davin seorang" kata gadis remaja itu dengan menurunkan buku yang sedari tadi menjadi penghalang pembicaraan kakak beradik itu.
Davin tak menjawab dan hanya memperhatikan adiknya dengan tidak suka karna selalu berusaha mengganggunya.
Ini bukanlah kali pertama atau kali kedua bagi Davin yang dibuat jengkel oleh Kanya.
Pasalnya sejak mommy nya mengandung Kanya, David selaku daddy nya semakin semena mena pada Melliza dan menindas mommy nya itu untuk terus tunduk dalam kuasanya.
David begitu mengikat Melliza dalam kehamilannya kala itu dan melarang keras mommy nya untuk keluar tanpa membawa salah satu anaknya.
Dan selain dibuat jengkel dimasa kehamilan Kanya, Davin juga menjadi putra yang sedikit pencemburu kala rasa sayang mommy nya mulai berkurang karna memiliki anak lagi yang berarti Davin harus berbagi mommy nya lagi dengan ketiga adiknya.
Tak hanya sampai disitu, bahwa semasa Kanya kecil hingga lulus dari sekolah menengah pertamanya Kanya selalu mengadu jika ada seseorang yang tidak disukainya tapi selalu menggangu dirinya.
Kanya yang terlahir sebagai anak bungsu menjadi sosok anak yang manja dan seolah berkuasa dalam keluarganya. Langsung mengutarakan tidak suka jika dia tidak menyukainya.
Sungguh Davin sangat tidak menyukai seseorang yang sangat manja dan bergantung pada orang tua seperti Kanya adiknya.
Tapi jika Davin mengajarinya dan memberi tahunya untuk mandiri dan belajar lebih dewasa maka jawaban dari adiknya adalah..
Kanya adalah anak bungsu dan memiliki empat kakak, jadi untuk apa mandiri jika sudah ada yang siap melindungi Kanya
Sungguh Davin sangat membenci kalimat itu saat Kanya selalu ditegur oleh ke empat kakaknya termasuk Davin sendiri.
Davin: "Minta tolong pada yang lain saja, kakak sedang tidak mau diganggu" tolaknya dengan mengangkat bukunya kembali.
Kanya: "Kak Celine sibuk dengan prakteknya di laboratorium perusahaan untuk mengotopsi. Sedangkan kak Viana kan kak Davin tahu sendiri sekarang sedang di Jogja, dan kak Satya...
Kanya menggantungkan kalimatnya membuat Davin meliriknya sedikit dan ingin tahu akan kelanjutan dari kalimat adiknya Kanya.
Davin: "Satya kenapa?" tanyanya karna adik bungsunya itu tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
Kanya: "Kanya lagi bete sama kak Satya jadi kak Davin mau kan bantuin Kanya. Please ok?" adiknya memohon dengan wajah yang sungguh tidak ingin Davin lihat.
Davin: "No!" sahutnya singkat dan kembali lagi memperhatikan buku yang dipegangnya.
Kanya: "Please kak Davin, Kanya mohon" adiknya terus saja memohon bahkan dengan kedua telapak tangan yang disatukan.
Davin: "No!!!" sahutnya lagi dengan lebih lantang.
Kanya terdiam dan menajamkan matanya. Memperhatikan betapa sialnya dirinya memiliki kakak laki laki yang dingin bagai es balok dan kejam seperti iblis.
Kanya: "Ya sudah.. Kanya bisa meminta tolong pada mommy untuk membujuk kak Davin" katanya hendak berlalu.
Davin: "Kamu ini mau meminta tolong apa?" tanyanya langsung yang membuat adik bungsunya tersenyum gembira pasalnya mommy Melliza itu memang adalah satu satunya cara ampuh untuk menundukkan kakak laki lakinya ini.
Kanya: "Di sekolah aku mendapat undangan untuk bisa mengamati secara langsung proses pembuatan salah satu produk kosmetik unggulan asal Singapore , dan tidak semua murid mendapatkan peluang ini. Beruntunnya adik kak Davin yang cantik ini terpilih menjadi salah satu kandidat yang mendapat undangan itu dan...
Davin: "Jadi?" tanyanya langsung tak mau basa basi.
Kanya: "Jadi Kanya mau kak Davin menemani Kanya pergi ke Singapore sebagai wali murid" jelasnya.
Davin: "Wali murid? Minta temani saja pada mommy, kakak sibuk dan tak ada waktu untuk menjadi wali murid" sahutnya kembali ketempat semula.
Kanya: "Mommy tidak mau"
Davin: "Jangan bohong" sahutnya tak yakin bahwa mommy nya menolak permintaan salah satu anaknya.
Kanya: "Tidak.. Kanya tidak berbohong. Mommy memang benar benar tidak mau, atau lebih tepatnya mommy tidak mau karna tidak diperbolehkan sama daddy"
Kanya: "Daddy lagi tidak enak badan, jadi mommy tidak boleh kemana mana bahkan keluar rumah hanya untuk pergi ke pasar menemani mbak mbak juga tidak boleh"