
Setelah berdebat dengan cukup sangat lama hasil akhirnya pun tetap selalu sama, bahwa Kanya tidak pernah kalah dari kakak kakaknya begitu pula pada seorang Davin Aditya Mayndra.
Kanya melenggang pergi dengan senyum ceria saat kakak laki lakinya itu pasrah dan mengatakan iya untuk ikut serta dalam acara yang diberlangsungkan di negara tetangga.
Dan Davin yang masih pening membayangkan betapa suntuknya kegiatan itu, harus bertambah dengan rasa jengkel karna adik bungsunya itu dengan lancang memberitahunya secara mendadak bahwa besok juga mereka akan pergi jadi dirinya diperintahkan oleh Kanya untuk segera berkemas malam ini juga karna besok pagi buta bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya mereka harus bergegas menuju tempat janjian antar pelajar yang akan dikirim untuk mempelajari hal hal penting dan pokok apa saja yang perlu dicermati dan nantinya dapat berbagi ilmu dengan teman teman yang tidak ikut akan kegiatan ini.
Davin benar benar tidak menyangka bahwa dirinya memiliki saudara perempuan seperti Kanya.
Jika dilihat kebelakang, Davin lebih jauh berada diatas Satya putra ke empat dari keluarga Mayndra entah dari segi ketrampilan, kecerdasan maupun ketampanan Davin dengan percaya diri menyatakan bahwa dirinya sangat jauh lebih baik dari satu satunya adik laki lakinya.
Tapi jika dibandingan dengan Celine yaitu kakak perempuannya, Davin tak bisa mengelak banyak. Karna sesungguhnya Celine lah yang banyak mewarisi sifat daddy nya. Atau lebih tepatnya semua kelebihan yang daddy mereka miliki hampir sepenuhnya Celine miliki.
Mulai dari terampilnya tangan membedah meski belum lulus dari kuliah spesialisnya sebagai dokter bedah. Otaknya yang encer dan mudah berfikir jernih untuk melakukan tindakan.
Dan yang sangat teramat jelas membedakan antara Celine kakaknya dan Davin sendiri adalah Celine melakukan sesuatu sesuai teori dan pemikiran jauh kedepan yang akan ditimbulkan, sedangkan Davin melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tak mau menghiraukan perkataan orang lain dan terpenting tak mau diatur oleh orang lain.
Dan jika dibandingkan dengan Viana, Davin tidak tahu persis seperti apa adiknya yang satu ini. Dia begitu pendiam dan tak banyak bicara bahkan pada kakak atau adiknya.
Tapi terkadang Kanya pun menggangunya, tapi reaksinya hanya tersenyum. Viana paling dekat dengan mommy nya, atau mungkin Melliza ini memang dekat dengan semua putra putrinya.
Yang Davin tahu jelas dari keempat saudaranya adalah semua memiliki kelebihan sebagai juara kelas bahkan Celine kakaknya pun menjadi bintang sekolah karna kepintarannya, sedangkan Davin dulu terkenal karna ketampanannya.
Tapi yang Davin heran dari kakaknya yang terlihat begitu sempurna itu mengapa harus mencintai seorang pria modal gombalan receh dan lawakannya yang garing.
Sungguh dunia seperti telah menutup rapat mata kakaknya sehingga baginya tak ada lagi pria di dunia ini selain pria yang dicintainya sejak kuliah pertamanya dulu sampai saat ini.
Pagi mulai menyapa dan keributan lagi lagi berada dirumah Mayndra dengan kali ini Davin yang berteriak dan mengumpat didalam rumah itu untuk pertama kalinya.
Davin: "Kakak hitung sampai sepuluh kamu belum siap kakak tidak jadi ikut" ancamnya yang berdiri di daun pintu kamar adik bungsunya.
Kanya: "Iya iya.. ini mau mandi sebentar"
Davin: "Tidak perlu mandi! CEPAT!!!" bentaknya.
Bagaimana Davin tidak jengkel dan ingin mengamuk jika adiknya itu yang semalam mengingatkan Davin supaya tidak terlambat dan menghambat perjalanan Kanya, ternyata adiknya sendiri yang belum siap siap bahkan saat Davin mengetuk pintu kamarnya tadi pagi buta pukul setengah enam tepatnya adiknya itu ternyata masih tertidur pulas dengan memeluk erat bantal gulingnya yang membuat Davin langsung dipenuhi aura gelap jika sang mommy tidak menghadang dan menengahinya.
Melliza langsung datang saat kali pertama anak laki lakinya itu berteriak dengan teramat keras saat memanggil anak bungsunya untuk bangun.
Kanya: "Mom.. Kanya pakai baju yang mana yah waktu mau ke bandaranya?" katanya meminta pendapat pada sang ibu dengan menenteng dua buah outfit yang telah disenadakan olehnya sendiri.
Mommy: "Yang ini saja" tunjuk Melliza memberi saran secara pelan supaya putri bungsunya itu bisa lekas berkemas dan siap pergi karna putranya Davin sudah marah marah sedari tadi.
Kanya yang merasa tak bersalah sedikitpun tak mau menghiraukan segala ocehan kakaknya Davin padahal jelas dirinya telah tidak tepat waktu sesuai dengan perjanjiannya semalam yang membuat Davin berada pada situasi sekarang.
Kanya: "Mommy.. menurut mommy...
Davin: "Cepat Kanya!" bentaknya lagi karna lagi lagi adiknya terus menguji kesabaran Davin yang harus menunggu lebih lama lagi.
Kanya: "Ih kak Davin ini cerewet banget sih! Ya sabar namanya juga anak perempuan jadi style juga diperlukan, tidak bisa asal asal. Begitu saja tidak tahu" ocehnya balik memarahi kakak laki lakinya.
Davin melangkah mendekat kearah adiknya yang sedang menggunakan kaos kaki sambil duduk dan dirinya berdiri tepat disebelah adiknya yang masih duduk lalu menarik daun telinganya cukup kuat.
Davin: "Kalau tahu kamu anak perempuan, dandannya lama ya bangun lebih pagi. Jangan malah membuat orang menunggumu, terlebih jika yang menunggumu lebih tua darimu itu tidak bagus Kanya Mala Mayndra" katanya dengan masih menarik daun telinga adiknya yang membuat sang adik mengaduh kesakitan.
Kanya: "Sakit kak" pekiknya sambil berusaha melepaskan telinganya yang sudah memerah akibat ulah tangan Davin kakaknya.
Mommy: "Yang dikatakan kakak kamu benar Kanya, kamu tidak boleh terus terusan seperti ini. Bukankah kamu bilang sendiri mau kuliah ditempat yang sama seperti kak Celine dan kak Viana? maka kamu harus ubah jalan pikiran dan kebiasaan kamu" petuahnya sambil merapihkan kerah sang putri yang sedikit berantakan.
Kanya: "Iya mommy.. maaf" ucapnya lirih tapi tak ditanggapi oleh Davin karna sudah menjadi hal biasa adiknya yang satu ini meminta maaf tapi masih mengulangi hal yang sama.
Kanya: "Ayo kak! sudah siang ini" gertaknya pada kakak laki lakinya tanpa tahu malu.
Sedangkan yang digertak dan ditinggal keluar kamar duluan hanya menajamkan matanya saat adiknya itu keluar kamarnya.
Mommy: "Sudah sana, hati hati ya.. jaga adik kamu baik baik" ucap sang ibu mengelus punggung Davin yang masih diam memperhatikan adiknya yang baru saja keluar.
Davin: "Davin pamit ya mom.. mommy baik baik dirumah. Kalau daddy bertingkah tinggalkan saja, daddy memang harus sekali kali diberi gertakkan supaya tidak menindas mommy terus" katanya sambil memeluk erat mommy tercintanya.
Melliza tersenyum saat Davin mengatakan hal itu untuk kesekian kalinya saat suaminya David meminta terus untuk diperhatikan oleh dirinya.
Bagi Melliza, David dan Davin putranya bisa serenggang ini bukan hanya permasalahan Melliza yang terlihat seperti tertindas dan diatur sepenuhnya oleh David. Tapi Melliza merasa mengapa bisa Davin seperti ini hanya karna Melliza lebih memperhatikan suaminya dibanding anak anaknya sendiri.
Bagaimana tidak, hampir setiap kali Melliza mengandung bahkan sejak kehamilan Viana, Davin selalu merasa kasih sayang mommy nya pada dirinya selalu berkurang disetiap harinya terlebih saat Davin harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukan lagi menjadi anak laki laki satu satunya karna kelahiran Satya adiknya.
Dan karna itu pula Davin menjadi lebih membenci daddy nya karna selalu menuntut anak pada mommy nya.
Mommy: "Mau bagaimana lagi. Yang manja dan minta diperhatikan itu daddy kamu sendiri Davin. Ayah kamu, ayah kandung kamu"
Davin: "Davin pergi dulu ya mommy, nitip pamit juga sama daddy bilang ada salam dari Davin Aditya Mayndra suruh ingat umur"