
Pergulatan panas yang memuaskan satu sama lainnya membuat masing masing dari Davin dan Velicia sendiri berbaikan tanpa pertengkaran seperti sebelumnya.
Velicia pun kini telah bersama dengan putri mereka, mendekap dan mengasihi putri yang dihasilkan oleh Davin bukan karna dasar cinta.
Meski Velicia dan Davin masih belum mengetahui perasaan masing masing diantara mereka, akan tetapi kasih sayang mereka terhadap Vania tidak dapat lagi diperungkapkan dengan kata kata saja.
Perhatian yang sangat melimpah pada bayi perempuan dua bulan yang hendak beranjak tiga bulan itu tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun.
Velicia yang berperan sebagai bunda dari Vania tidak pernah luput dari pandangan mata mungil yang tajam seperti ayahnya.
Dan Davin sebagai ayahnya pun selalu menyempatkan diri untuk putrinya dari kesibukannya yang mulai menguasai waktu dan pikirannya.
Namun yang dinamakan rumah tangga tidak akan pernah jauh dari segala cobaan dan rintangan.
Seromantisnya sebuah hubungan, seintimnya sebuah kasih sayang pada sepasang insan manusia tidak akan jauh dari segala bentrokan dan perselisihan yang akan menguji pertahanan hubungan sesama.
Hanya memiliki dua sisi akhir antara bertahan dengan kepercayaan atau berpisah secara tidak karuan.
🍂🍂🍂
Davin yang tengah asik bersenda gurau dengan putrinya terganggu akan tatapan yang tidak sedap dipandang dari istrinya.
Bagaimana pandangan matanya begitu menelisik dan terasa ingin mencakar wajah pria tampan yang telah tiga bulan lebih ini mendapat gelar bapak beranak satu itu.
Namun saat Davin hendak mengutarakan pertanyaannya, istrinya Velicia dengan suara cepatnya langsung menyela terlebih dahulu.
Velicia: "Siapa tadi yang kamu usir?" suaranya penuh kecurigaan.
Davin: "Bukan siapa siapa" sahutnya tanpa memalingkan pandangannya dari putri mereka yang semakin membuat Velicia merasa curiga.
Velicia: "Coba katakan sekali lagi kalau dia bukan siapa siapa dengan melihat ke arah ku?"
Wanita itu pun mendekatkan diri di sebuah playmat tempat suami dan putrinya tengah bermain.
Permainan kerincingan adalah benda baru yang sangat digemari Vania, bagaimana bayi perempuan itu menendang kesenangan atau menggerak gerakan tangannya karna mendengar bunyi dari mainan barunya.
Davin: "Apa?" ucapnya saat tiba tiba Velicia memaksa wajah Davin untuk memperhatikannya.
Velicia: "Siapa tadi?"
Davin: "Bukan siapa siapa" jawabannya masih sama dengan yang sebelumnya.
Velicia: "Bohong!" serunya tidak percaya.
Bagaimana mungkin wanita itu mudah percaya dengan ucapan suaminya yang mengatakan bahwa orang yang dia usir bukan siapa siapa.
Jelas bahwa Davin tadi menggunakan nada tingginya untuk mengusir seseorang, dan seseorang itu adalah seorang wanita yang suaranya sama dengan wanita kala itu saat Velicia masih dikurung oleh suaminya.
Davin: "Ya sudah kalau tidak percaya" ucapnya dengan kembali memperhatikan Vania putri mereka.
Dan karna perkataan Davin yang tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya membuat dada Velicia tiba tiba terasa sesak ingin menjambak suaminya dan meminta penjelasan yang sangat ia inginkan.
Velicia: "Siapa dia?!" serunya mulai memaksa benar benar ingin tahu.
Davin: "Bu...
Velicia: "Kalau bukan siapa siapa kenapa diusir?!" suaranya mulai naik membuat bayi yang tergeletak santai tiba tiba menatap bundanya tanpa berkedip.
Velicia: "Kenapa dibentak bentak?!"
Velicia: "Kenapa tidak boleh menemui aku?!"
Velicia: "Kamu bohong kan sama aku?!"
Dengan sekuat tenaga Velicia mengutarakan pertanyaannya, mencoba menyela suaminya yang hendak berucap. Menghentikan segala pergerakan bibir Davin yang hendak mengucapkan kalimat yang sama.
Bahkan hingga dadanya naik turun karna tiba tiba emosi melanda dirinya tanpa permisi.
Tapi sayangnya, melihat istri sekaligus ibu dari putrinya itu tiba tiba meluap Davin selaku tersangka malah menggendong Vania dan bangkit dari duduknya.
Dan karna itu pula Davin tidak luput dari pandangan Velicia yang terus menatap suami serta putrinya yang mulai berjalan menjauh ke arah pintu kamar utama rumah yang berdominan warna putih dan coklat.
"Jangan suka marah marah di depan Vania Vei, aku tidak suka"
Pergerakan pintu yang kembali terbuka seiring masuknya orang yang membuat dada Velicia terasa terbakar karna sebuah rasa yang sudah mulai bisa dipastikan.
Davin mulai mendekatkan diri setelah pintu telah dipastikan olehnya tidak bisa terbuka oleh siapa pun juga.
Davin: "Ini!" serunya sambil mendekap Velicia erat dari belakang yang masih setia duduk di atas playmat.
Davin: "Ini yang membuat aku tidak mau dia bertemu denganmu, tidak mengijinkannya menemui Vania dan mengusirnya secara kasar karna dia terus saja memaksa ingin masuk" lanjutnya perlahan begitu pula dengan tindakannya.
Davin: "Karna jika aku membiarkannya masuk maka kamu pasti akan marah marah. Dan dugaan ku tepat adanya bahkan sebelum kamu menemuinya"
Velicia: "Aku tidak marah marah!" serunya langsung berbalik menghadap suaminya karna merasa tidak terima dengan perkataan Davin yang menyudutkannya.
Velicia: "Kamu saja yang tidak mau menjawab pertanyaanku tadi"
Davin yang melihat akan raut wajah kesal dari istrinya menjadi terkekeh geli sendiri.
Dirinya lantas merebahkan Velicia secara perlahan diikuti oleh dirinya pula yang berusaha menindihnya.
Davin: "Tidak marah?"
Velicia: "Tidak" sahutnya cepat yang berada dalam kungkungan Davin.
Davin: "Sungguh tidak marah?" godanya menggunakan tangan kanannya yang mulai meraba dibeberapa titik terlemah Velicia.
Davin: "Kau tidak merasa bahwa kau sedang cemburu?"
Velicia: "Tidak! Untuk apa pula aku marah apalagi dengan cemburu? Lagi pula memangnya ada cinta diantara kita?" celetuknya langsung.
Davin yang mendengar akan hal itu langsung
terdiam.
Sedangkan Velicia membeku akan ucapannya, ternyata emosi dapat mengambil alih pikirannya.
Bagaimana bisa Velicia mengucapkan kalimat yang tidak ingin ia ucapkan sebenarnya. Bahkan dirinya telah mengakui pada dirinya sendiri bahwa Velicia sama sekali tidak ingin mengucapkan kalimat tersebut.
Davin: "Meski tidak saling mencintai, namun kewajiban harus tetep dilakoni bukan?" kalimat terakhirnya yang terdengar biasa namun sangat memaksa itu mulai menunjukan pergerakan sikap dominatif Davin.
Dan karna pertikaian itu, benar benar tidak ada rasa nikmat seperti biasanya yang mereka rasakan satu sama lainnya saat berhubungan suami istri di atas tempat yang biasa digunakan putri mereka bermain.
Setiap pergerakan Davin yang sembarangan, terus berusaha menarik birahi Velicia lalu saat rasa tegang sampai pada titik yang ingin mendapatkan hal lebih Davin membiarkannya beberapa saat begitu saja membuat sang empu di bawah badannya hanya bisa mengerang kesal.
Bahkan tidak cukup sampai disitu dibuat kesal oleh suaminya pada hal berhubungan intim. Wanita yang hampir menginjak usia dua puluh lima tahun itu pula harus merasakan ketersiksaan batin saat ucapan Davin melantun dengan indahnya bertepatan setelah pelepasanya di dalam milik Velicia yang terus saja menghimpit miliknya.
"Namanya Vania"
"Dia pernah singgah di hatiku untuk beberapa waktu yang lama"
"Sekarang kau sudah tahu dan kau tidak mempermasalahkannya, jadi aku tidak perlu menutup nutupinya lagi darimu"