Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 20


Velicia benar benar bertekad kali ini. Rasa khawatir dan takutnya telah menutupi rasa kemanusiaannya untuk saling hidup berdampingan.


Bahkan dirinya tak tanggung tanggung dengan sengaja mengumpankan diri supaya Davin masuk kedalam perangkapnya.


Memang sangat beresiko, tapi apa mau dikata. Bukankah jika kita menginginkan tangkapan yang besar harus mau mengorbankan sesuatu yang besar pula itu lah yang berada dibenak Velicia saat ini.


Dering ponselnya yang sedang digenggang kuat olehnya membuat dirinya berjingkrak kaget karna masih diselimuti oleh rasa takut yang berkepanjangan.


Velicia: "Apa dia sudah meninggal?" kalimat pertama yang langsung wanita itu ingin dengar dari lawan bicaranya.


"..."


Velicia: "Benarkah?" tanyanya merasa belum percaya.


"..."


Velicia: "Baik. Kirimi aku foto itu"


Setelah panggilan itu diakhiri oleh lawan bicaranya yang tak lain adalah Mike seorang warga asing yang baru saja kemarin diberi tugas olehnya untuk membereskan masalahnya.


Kini telah memberikan laporan bahwa tugasnya telah dilaksanakan dengan apa yang diperintahkan oleh majikan sementaranya yaitu Velicia.


Tak lama setelah panggilan itu berakhir, ponsel Velicia bergetar dan menampilkan sebuah pesan baru yang baru saja masuk dari Mike.


Layar ponselnya mulai menampilkan keadaan yang tak selayaknya dan tak sepatutnya.


Seogok tubuh yang kala itu bersenang senang diatas tubuhnya, menikmati setiap sensasi yang diambilnya secara paksa kini telah tergeletak disebuah lantai yang sangat kotor.


Darah yang merembes dari perutnya dan memar memar dibeberapa titik wajahnya membuat seutas senyum mengambang diwajah imut yang tak pernah berdosa sebelumnya.


Velicia: "Maaf Vin.. kalau saja kau biarkan aku tenang meski telah kau hancurkan mungkin aku tak berbuat sejauh ini. Tapi jika kau menjadi penghancur masa depanku maka biarkan aku menyingkirkanmu terlebih dahulu" gumamnya menghapus foto yang baru saja dia dapatkan.


🍂🍂🍂


Setelah kejadian itu, Velicia benar benar melalui hari harinya dengan sangat tenang dan damai. Tak seperti sebelumnya yang dirundung rasa khawatir dan gelisah yang tak berkesudahan.


Dua hari sudah Velicia mendapat kabar dari Mike bahwa Davin telah dibunuhnya dan dibuang disalah satu pekarangan salah satu warga yang jauh dari hiruk pikuk kota untuk menghindari kasus pembunuhan orang asing.


Dan sejak hari ini Velicia pun mulai membebaskan diri dan tak memakai jasa keamanan lagi untuk melindunginya.


Karna baginya mara bahaya yang mengincarnya telah tiada. Dirinya bisa hidup lebih tenang kali ini.


Sekelibat wajah kekasihnya terlintas dalam pikirannya. Sudah sebulan lebih dirinya di negara yang bahkan Evan kekasihnya sendiri pun tidak tahu.


Dia membohongi kekasihnya yang ia teramat cintai karna ingin menghindari segala kemungkinan yang terjadi. Meskipun pada akhirnya Davin bisa menemukannya.


Velicia: "Tapi apa yang harus aku jelaskan jika kak Evan bertanya mengapa aku membohonginya?"


Velicia kalut dalam pikirannya bahkan desain yang sebelumnya sudah berada diotaknya dan siap ditorehkan pada sebuah kertas menjadi sebuah gambar desain yang mengagumkan akan hasil karyanya tertunda karna mood nya yang menjadi berantakan.


Velicia menghembuskan nafasnya kasar lantaran bingung harus berbuat apa.


Gadis itu bingung antara jujur atau berbohong menutupi kebenaran.


Tapi jika berbohong pun, lambat laun pasti akan ketahuan.


Begitu pula dengan kasus kematian Davin, pria yang telah memperkosanya kala itu. Pasti tak akan lama lagi menjadi berita didalam negri, terlebih nama Davin sudah dikenal oleh beberapa orang penting negara karna prestasinya.


Belum lagi Davin adalah pencipta vitur game yang dibanggakan oleh semua kalangan pemuda pemudi negaranya karna telah menciptakan beberapa game yang tak kalah jauh lebih baik dari ciptaan orang luar negri.


Velicia: "Sepertinya lebih baik jujur dan menceritakan semuanya. Termasuk kematian pria baj*ngan itu" akhirnya pikirannya mulai terang untuk bisa terbuka pada kekasihnya.


Velicia: "Dan lagi kak Evan mesti tahu juga alasan mengapa aku membunuhnya. Kak Evan harus tahu bahwa pria baik baik yang dia bicarakan itu adalah pria yang telah memperkosa kekasihnya"


Gadis itu hendak meraih ponselnya yang berniat segera memberi tahu kekasihnya yang masih berada di tanah air yang sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.


Tapi pergerakan tanganya terhenti saat sebuah tangan yang lebih besar darinya mencekal lengannya yang hendak meraih ponsel itu.


Wajahnya menengok kearah samping tempat orang itu berdiri tepat disampinya.


"Tidak secepat itu sayang.. mari kita bersenang senang terlebih dahulu" ucapnya membuat tubuh Velicia bergetar hebat.


Velicia: "Da..dd..da. Davin? kau Davin?!" katanya terbata tak percaya akan apa yang dia lihat.


Davin: "Tentu saja Vevei.. menurutmu aku akan mati semudah itu?"


Velicia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi pikirannya masih berjalan dengan normal.


Otaknya menangkap bahwa dirinya harus cepat bergegas melarikan diri dari pria gila yang telah masuk kerumahnya.


Davin: "Mau kemana?" cekal Davin menarik tangan Velicia kencang saat berusaha ingin lari.


Velicia: "Lepas baj*nang! Lepas! LEPAAS!!!" teriaknya frustasi saat Davin memeluknya erat dari belakang.


Davin: "Lepas?" tanyanya polos bagai tak bersalah.


Davin: "Aku janji akan melepaskanmu nanti.. tapi tentunya setelah kita bersenang senang"