
Lima tahun berlalu di pelataran rumah keluarga Mayndra.
"Adek sakit" keluh seorang anak perempuan yang tengah membawa boneka.
Anak perempuan itu kembali berjalan dengan tangan kirinya yang menimang boneka lalu tangan kanannya yang mengelus permukaan kulit lengannya yang merasa sakit akibat ulah adiknya.
Bukannya merasa kapok akan ulahnya, namun yang dilakukan oleh seorang anak perempuan berusia empat tahun itu kembali mengulangi hal yang sama pada kakaknya.
"Adek sakiiiit" pekiknya lebih kuat yang membuat beberapa pasang mata langsung melihat ke arah mereka berdua.
Seseorang yang telah berdominan memiliki uban itu berjalan tergopoh gopoh mendekati anak perempuan yang lebih tua karna hendak menangis.
"Kakak kenapa?" tanyanya berjongkok di hadapan cucu pertamanya.
"Adek tendang bola ke arah kakak. Sakit grandpa" keluhnya yang sudah berlinang air mata.
Melihat cucunya yang hendak menangis membuat David tidak tega, dirinya lantas menggendong cucunya meski rasa sakit di pinggang tidak dapat ia pungkiri lagi terlebih Vania yang sudah bertambah besar dalam usianya.
"Adek kenapa tendang bola ke arah kak Vania?" tegur David pelan pada cucu keduanya yang hanya bersikap biasa seolah tidak merasa bersalah.
"Bukan salah adek grandpa, tapi salah bolanya. Kan yang membuat kak Vania sakit itu bola bukan adek" belanya dengan membawa bola kembali.
"Tapi adek sengaja menendang bola ke arah kakak kan?" perotes Vania yang masih digendong kakeknya.
"Salah kakak sendiri kenapa tidak menghindar" belanya lagi tidak mau disalahkan.
"Grandpa! Lihat adek" adu Vania pada kakeknya karna adiknya terus saja mengelak untuk disalahkan.
"Adek, adek tidak boleh seperti itu ya sama kakak. Kalian kan saudara tidak boleh...
"Ayaaaaaah?!" pekik anak perempuan yang tengah dinasehati oleh kakeknya.
"Ayah grandpa pilih kasih!" serunya lagi berlari menuju ayahnya yang sedang duduk bersama dengan neneknya.
"Grandpa?!" suara yang sedikit bergetar karna termakan usia itu menarik perhatian David seutuhnya untuk mendekat dengan membawa Vania dalam gendongannya.
"Grandpa tidak boleh pilih kasih ke cucu sendiri" nasihat Melliza saat sang cucu bersandar pada dirinya yang sedang duduk dengan membawa bolanya.
"Tidak" sahutnya cepat langsung menepis apa yang dikatakan istrinya.
"Daddy tidak pilih kasih sayang. Shereen menendang bola ke arah Vania, daddy sedang menasihatinya"
Shereen Angela Putri Mayndra
Nama yang benar benar seutuhnya Davin berikan pada putri keduanya yang lahir saat Vania putri sulungnya berusia empat belas bulan.
Lahir secara caesar dan sehat selalu. Memiliki fisik yang kuat dan memiliki sifat buruk yang tidak suka ditentang.
Bila apa yang diinginkan telah terucap maka detik berikutnya harus sesuai dengan apa yang anak berusia empat tahun itu katakan.
Memiliki kedekatan yang lebih dengan ayahnya dan sangat tidak menyukai kakaknya yang manja.
Davin: "Terhadap cucu tidak boleh pilih kasih daddy. Berikan contoh yang baik dan benar" petuahnya dengan mengelap keringat yang berada di kening Shereen.
Daddy: "Jangan membuat perkara kamu Vin sama daddy" peringatnya karna sang istri sudah menatapnya tajam.
Shereen: "Adek mau ajak kakak main bola ayah, adek tidak sengaja" belanya mendongak melihat ayahnya.
Vania: "Adek sengaja ayah"
Shereen: "Tidak ayah"
Vania: "Sengaja!"
Shereen: "TIDAK!"
Vania: "SENGAJA!"
Daddy: "STOP!" suaranya lantang memberhentikan kedua anak kecil yang saling membela diri.
Daddy: "Stop okay. Stop" katanya lagi dengan nada lebih rendah.
Daddy: "Kalian kakak beradik, tidak boleh berantem..
Shereen: "Kita tidak berantem grandpa" selanya tidak terima.
Vania: "Iya. Kakak sama adek hanya tidak sepemikiran, iya kan dek?" kakaknya menimpali.
Shereen: "Iya"
Shereen: "Kalau grandpa tidak tahu, belajar pada ayah adek. Ayah tahu semua jawaban, grandpa jangan tahunya hanya mencium grandma diam diam ya" katanya membanggakan pria yang ia sebut sebagai ayah pelindung dirinya.
Tidak bisa tertahan lagi rasa ingin menghujat kepala keluarga yang telah berkorban banyak untuk orang orang yang ia cintai.
Davin, Velicia bahkan Melliza selaku istri tertawa bahkan sangat terpingkal pingkal saat Shereen anak perempuan berusia empat tahun berusaha mengajari David yang sudah beruban.
Davin: "Belajar pada ayah adek Shereen grandpa. Jangan tahunya mesum" katanya mengingatkan apa yang dikatakan oleh putrinya.
Shereen yang tersenyum semlirik langsung berlari dan diikuti Vania yang turun dari gendongan kakeknya dan ikut berlari mengejar adeknya.
Daddy: "Bahagia kamu Vin?" ucapnya tidak suka.
Davin: "Sangat" sahutnya cepat.
Davin: "Jelas sangat bahagia saat ada orang kedua yang menjatuhkan daddy selain Davin. Terlebih bahagia lagi karna orang itu adalah anak Davin sendiri, keturunan Davin" lanjutnya tersenyum melihat kedua putrinya saling berkejaran.
Daddy: "Jangan sampai cucuku yang lain memiliki watak seperti mu, bahkan untuk adek adeknya Shereen nanti" ucapnya mengeluh yang kemudian memposisikan dirinya untuk duduk di kursi sebelah istrinya.
Velicia: "Daddy lupa kak Celine?" tanyanya mulai ambil suara mengingatkan.
Mommy: "Nah iya, Celine kan sedang hamil" sahutnya ikut menimpali.
Davin: "Habislah daddy kalau anak kak Celine lahir maka dia pasti akan lebih menyulitkan daddy"
Daddy: "Celine itu ramah, pendiam, kalem jadi pasti anaknya tidak beda jauh dari dirinya"
Davin: "Kita lihat saja nanti"