Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 75


Velicia yang merasa senang tidak karuan atas diterimanya berita dari mulut suaminya secara langsung bahwa putri yang pernah ia lahirkan ternyata masih hidup membuat dirinya tak banyak bicara lagi.


Dirinya tak mempersoalkan bagaimana bisa putri tercintanya kini berada di tangan Evan.


Dirinya tak berpikir jauh bagaimana mungkin Davin bisa menukar Vallen dengan Vania.


Dirinya tidak berpikir ada hubungan apa hingga Vallen bisa dijadikan oleh suaminya sebagai alat pertukaran atas putrinya.


Dirinya juga tidak berpikir ada hubungan apa antara mantan kekasihnya dengan sang kakak hingga Evan berani menahan Vania putrinya dan menyudutkan Davin, hingga suaminya membuat skenario lupa ingatan dan menyakiti hati Velicia kala itu dengan segala ucapan pedas.


Velicia tertidur pulas setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Segala jawaban yang mengganjal pada dirinya telah Davin tuntaskan.


Kepura puraan Davin, alasan mengapa suaminya masih menahan kakaknya dan kenyataan bahwa putrinya masih hidup dirasanya sudah cukup hingga dirinya tertidur dengan rasa senang terutama saat Davin terus berada di sisinya.


Rasa senang itu, senyum yang mengemban di wajah cantik yang kian menarik di mata suaminya telah mengusik hati Davin yang masih belum bisa merasa tenang.


Kenyataan bahwa Vania masih hidup memang benar adanya. Namun dirinya belum bisa memastikan apa benar putrinya baik baik saja setelah Evan tahan selama ini.


Ada segurat rasa khawatir bahwa dirinya akan mengecewakan istrinya dan membuat senyuman itu hilang bergantikan tangisan bila Davin salah mengambil keputusan.


Davin: "Apa aku salah memaksa takdirmu untuk menjadi bagian dari hidupku?" tanyanya pada wanita yang tertidur dengan manisnya di sebelah kanannya.


Davin: "Aku hanya ingin melindungi orang yang tidak aku cintai dulu. Tapi apa daya bila kini aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya" katanya lagi dengan mengusap punggung tangan Velicia yang menggenggam tangan Davin.


Davin: "Aku tidak hanya ingin dirimu Vei"


Davin: "Aku ini adalah pria rakus yang menginginkan dua wanita dalam hidupku"


Pria itu semakin mendekatkan diri dan memeluk tubuh istrinya supaya tenggelam dalam dekapannya.


Davin: "Aku ingin kamu dan putri kita. Apa aku terlalu rakus?" tanyanya pada wanita yang tetap terlelap dalam dekapannya.


Davin: "Biarkan aku memilikimu sekaligus putrimu dalam hidupku Vei. Aku tidak hanya ingin melindungimu dan menjagamu saja, aku juga ingin membuat Vania kita bangga karna telah memiliki ayah sepertiku"


Davin: "Begitu pula dengan yang kedua"


Davin: "Bila dia wanita maka aku akan semakin ekstra untuk menjaga kalian. Tapi bila dia laki laki, maka aku akan mendidiknya supaya bisa bekerja sama denganku dalam menjaga dirimu dan kakaknya"


Davin: "Vei?" panggilnya lirih.


Davin: "Apapun keputusanku besok, tolong terima lah dan bekerja sama lah"


Pelukan erat yang sangat hangat itu semakin membuat Velicia merasa nyaman dan aman dalam tidurnya.


Merasa terlindungi meski tidak tahu betapa kacaunya pikiran suaminya dalam dirinya yang masih terjaga dengan pikiran pikiran yang tidak ada habisnya.


Davin: "Aku mencintai mu saat ini Vei. Dan aku berharap aku akan selalu mencintai mu hingga akhir hayatku"



🍂🍂🍂


Tubuh segar yang dirasakan oleh Velicia karna merasa puas setelah tidur yang sangat cukup memberikan aura positif bagi wanita yang tengah hamil muda itu.


Setelah awal keributannya dulu dengan Davin perihal sama sama tidak mengakui perasaan satu sama lainnya yang membuat adanya celah kecurigaan, terlebih saat Velicia tidak sengaja bertemu dengan Evan di cafe yang sudah menjadi hal biasa dulu saat dirinya dan Evan menjadi sepasang kekasih untuk saling bertemu.


Ditambah lagi terjadinya kecelakaan yang menimpa suaminya, membuat Davin tiba tiba memiliki pikiran untuk menciptakan sebuah skenario yang semakin membuat Velicia dan Davin saling menjauh.


Belum lagi kabar yang diterimanya kala itu yang menyatakan bahwa putri kesayangannya telah meninggalkan dirinya.


Semuanya itu, bener benar menjadi titik awal dimana Velicia tidak bisa menjalani tidur malamnya dengan sepatutnya.


Sering terbangun diwaktu malam hari, terutama saat sang kakak tiba tiba muncul yang menjadi duri dalam rumah tangganya.


Namun semua itu telah terlewati dan berganti dengan secercah harapan kebahagian untuk hubungan Velicia dan Davin setelah pengakuan Davin mengenai dirinya yang hanya pura pura lupa ingatan dan hal baru yang lebih mengejutkannya yaitu berita akan Vania yang masih hidup dan akan kembali di sisi Velicia.


Akan tetapi rasa gusarnya mulai timbul saat tidak didapatinya suami tercinta tidak di sisinya.


Velicia: "Dav?" panggilnya sedikit lantang saat pintu kamarnya dibuka dan sedikit mengeluarkan kepalanya dari balik pintu karna masih menggunakan dress tidur yang teramat sangat terbuka.


Tidak ada sahutan tapi dirinya langsung tercengang saat pertama melihat beberapa sosok manusia yang ia kenali tengah berbincang tak jauh dari keberadaan kamar yang ditempati oleh Velicia dan Davin disetiap malam.


Terdapat tiga orang yang berdiri dan sama sama saling menatap Velicia yang hanya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.


Tersenyum padanya terlebih lagi seorang wanita yang teramat dihormati oleh suaminya.


"Selamat pagi" sapanya terlebih dahulu membuat Velicia menjadi tidak enak hati.


Velicia: "Selamat pagi" sapanya balik.


"Bersiap siaplah kak, sudah jam setengah tujuh. Pesawat akan take off jam sepuluh" ucap wanita lain yang lebih muda dari dirinya.


Melihat raut wajah dari menantu satu satunya yang nampak kebingungan membuat sosok lain yang sangat mirip dengan suaminya bahkan lebih dingin dari suaminya mulai angkat bicara.


"Davin meminta kami untuk menjemputmu kembali ke Surabaya. Lekaslah bersiap dan jangan banyak bertanya atau membantah" suara datarnya tidak sanggup membuat Velicia angkat bicara. Dirinya hanya mengangguk mengerti dan masuk kembali ke dalam untuk bersiap siap sesuai perintah dari ayah mertuanya.


Namun belum sepenuhnya pintu kamar itu tertutup, sekilas dirinya bisa mendengar suara ayah mertuanya yang membuat Velicia merasa takut dan sekaligus merasa penasaran.


Daddy: "Daddy akan menelpon Davin dulu. Awasi Velicia"


Meski diselimuti akan rasa kalut, dirinya tetap melakukan persiapan.


Pikirannya yang melayang memikirkan dimana suaminya berada tidak menghentikan perintah yang dilayangkan oleh ayah mertuanya.


Bahkan saat dirinya keluar dari kamar dengan penampilan yang telah rapih, dirinya tetap disambut dengan senyuman oleh ibu mertuanya yang teramat sangat cantik. Terlebih lagi adik iparnya yang tidak kalah cantik dari ibu mertuanya.


Ibarat Davin adalah copy an dari sang ayah mertuanya sedangkan Kanya adalah copy an dari sang ibu mertuanya.


Dirinya digiring oleh ibu dari Davin dan juga oleh Kanya untuk masuk ke dalam mobil yang akan menghantarkan mereka semua ke bandara.


Mommy: "Dy?" panggilnya pada suami yang terpaut usia tiga belas tahun darinya.


Sedangkan yang dipanggil hanya terus memperhatikan ponselnya tanpa berkedip.


Mommy: "Daddy?" panggilnya lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


Dan karna itu, sang empu yang dipanggil pun menoleh.


Menatap istrinya dengan penuh lekat lalu tersenyum padanya yang sangat jarang Velicia lihat.


Karna pada nyatanya ayah mertuanya memang sama seperti suaminya, sangat jarang tersenyum dan hanya menampilkan muka datar yang terlihat sangat menakutkan karna memiliki aura dingin.


Daddy: "Daddy tidak jadi ikut" ucapnya pada sang istri.


Kanya: "Kenapa dad?"


Daddy: "Tidak apa apa. Daddy hanya ingin lebih lama disini"


Mommy: "Daddy hati hati ya. Jangan sampai kenapa kenapa, harus cepat pulang"


Mommy: "Ingat. Harus cepat pulang" katanya dengan penuh penekanan.


Daddy: "Iya sayang"


Tatapan sayunya saat melihat sang istri tergantikan dengan tatapan horor saat melihat sang menantu.


Seakan ingin mengintimidasi dan menakuti menantu satu satunya dengan raut wajah yang biasa ia tampilkan pada orang lain benar benar membuat Velicia merasa canggung karna diperhatikan oleh ayah mertuanya.


Daddy: "Davin menitipkanmu dan meminta tolong pada daddy untuk membawamu kembali"


Daddy: "Jika kamu tidak ingin patuh padanya, maka patuhlah pada perkataan ibu mertuamu"


Daddy: "Karna jika kamu tidak patuh pada ibu mertuamu, maka jangan harap aku akan menganggapmu sebagai menantuku"