Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 26


Davin langsung melenggang pergi menuju kamarnya dengan membawa sebuah piring yang berisi makanan dan lauk pauk yang tak beda dari apa yang tadi dia makan.


Perasaan jengkelnya pada daddy nya yang berani mengutaran pendapatnya bahwa sanggup menikahi wanita yang telah ditidurinya itu membuat Davin tak ingin banyak waktu menghabiskan makanannya dengan satu meja bersama daddy nya.


Sedangkan Kanya yang sedari tadi hanya diam membisu pun ikut merasa canggung atas apa yang dikatakan oleh daddy nya hingga memutuskan masuk kedalam kamar.


Begitu juga Melliza, ibu dari lima anak yang dimiliki David.


Kamar Utama


"Jadi mas mau menikah lagi? IYA?!" nafas yang memburu dan dada yang terasa sesak itu menyelimuti perasaan Melliza dan menggali sebuah rasa perih yang teramat dalam.


Mommy: "Apa setelah aku berumur setengah abad ini mas David sudah bosan denganku? Karna aku sudah tidak bisa dipakai jadi mas David masih ingin melampiaskan nafsu mas pada yang masih muda. Iya?!"


Daddy: "Clara ini ngomong apa?" ucapnya terdengar santai yang malah membuat Melliza bertambah jengkel.


Mommy: "Yang harusnya mengatakan itu adalah aku mas, mas David tadi di meja makan ngomong apa?"


Daddy: "Mas tidak ngomong apa apa, hanya mengatakan hendak menikahi gadis yang diperkosa oleh Davin. Sudah hanya itu" ucapnya santai tak tahu istrinya sedang merasakan amarah yang teramat.


Mommy: "Hanya itu?! coba ulangi lagi!" katanya mulai naik darah.


David tersenyum lalu menghampiri sang istri yang sedari tadi berdiri dihadapannya yang tengah duduk.


Dengan perlahan dirinya memeluk tubuh yang dulu selalu ia rindukan, selalu dia inginkan dan selalu menjadi candu disetiap malamnya.


Bahkan sampai sekarang, David masih memiliki daya tarik berhubungan yang kuat jika melihat istrinya saja tak menggunakan pakaiannya.


Tapi sayangnya menopouse yang telah datang pada istrinya mulai mengurangi kegiatannya.


Semua dia lakukan agar tidak menyakiti istri yang selalu diperjuangkan sedari dulu.


Daddy: "Clara cemburu?" tanyanya saat dirinya telah memeluk tubuh itu erat.


Mommy: "Apa masih perlu ditanya?"


Daddy: "Jadi Clara cemburu?" tanyanya lagi dengan hingar bingar kebahagiaan yang semakin erat memeluknya dari belakang.


Mommy: "Tidak" sahutnya berlawan arah dari yang dibayangkan oleh pria beranak lima itu.


Daddy: "Sungguh?" tanyanya untuk memastikan.


Mommy: "Hmm"


Daddy: "Benarkah tidak cemburu?"


Mommy: "Iyaaa"


Melliza melepaskan pelukan pada tubuhnya dan meninggalkan David yang masih mematung tak pervaya akan jawaban dari istrinya yang tampaknya memang tak cemburu.


Daddy: "Kalau Clara tidak cemburu berarti mas boleh menikah lagi?"


Tubuh wanita itu menegang, pandangannya mulai tajam meski berbanding arah dengan keberadaan suaminya yang masih berdiam diri di tempat semula.


Mommy: "Mas David yakin mau menikah lagi?" rahangnya mengeras menanti jawaban yang belum pasti akan membuatnya mengamuk atau tidak.


Daddy: "Tidak" jawabnya yang membuat hati wanita setengah abad itu melega mendengarnya.


Daddy: "Mas sudah memiliki mu dan juga lima anak kita, apa masih perlu menikah lagi mencari yang lebih muda tapi belum tentu setia seperti mu?"


David melangkah mendekati Melliza yang masih berdiam diri dengan menenteng sebuah handuk di tangannya.


CUP


Daddy: "Lagi pula meski Clara sudah tidak seseksi dulu lagi, tapi mau bagaimana pun kamu istri mas" katanya setelah mengecup pipi wanitanya.


Mommy: "Mas bilang apa? aku tidak seksi lagi?" Melliza menghindar dan menantang David yang tersenyum padanya.


Daddy: "Iya.. Clara tidak seksi lagi. Empat tahun lalu Clara masih suka tidur dengan cuma menggunakan daleman supaya mas leluasa, sekarang kalau tidur selalu memakai piyama. Jujur mas merasa kecewa. Kenapa jadi tertutup sudah tak seksi lagi yah?" ucapnya dengan maksud dan tujuan terselubung.


Mommy: "Aku masih seksi ya!"


Melliza dan egonya adalah satu hal yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.


Dan itu jelas sangat diketahui oleh David suaminya.


Daddy: "Buktinya kalau kita bermain, Clara tidak pernah mau main lama lagi. Lalu tidak boleh dibuka semua bajunya. Bagaimana mas tidak curiga? Bahkan setiap ingin mandi bersama pun ditolak tidak seperti dulu yang selalu mengiyakan semua keinginan mas. Pasti ada yang Clara tutup tutupi dari mas kan?" ucap pria itu panjang lebar.


Mommy: "Tidak ada" sahutnya dengan menggelengkan kepala.


Daddy: "Clara bohong.. Clara tidak seksi lagi dan tidak bergairah lagi. Iya ka..


Daddy: "Masih tidak seksi. Susu kamu kan bukan cuma punya mas seorang"


Dan Melliza dengan egonya yang tersentuh pun buta akan maksud David yang sedang berusaha memancingnya.


Meski kini dirinya telah tanpa sehelai kain pun di hadapan suaminya, tapi David masih bersikap biasa membuat Melliza bertanya tanya pada dirinya sendiri apakah benar dirinya sudah tak menggairahkan lagi seperti dulu yang menjadi candu bagi suaminya.


Mommy: "Apa menurut mas aku tidak seksi? aku telah membuka semuanya"


David tersenyum dan mendekatkan diri. Memeluk Melliza dan langsung menciumi rahangnya.


Daddy: "Kamu seksi sayang.. sangat seksi dan mas ingin kamu sekarang" bisiknya yang telah berusaha melepaskan rasa rindunya.


Tangan kanannya memeluk erat pinggul yang bertelanjang tanpa penutup, sedangkan tangan kirinya bergerilya mencari setiap titik titik tersensitif milik istrinya.


Mommy: "Mas David curang!" pekiknya dan mendorong dada suaminya yang semakin memaksakan ingin saling berhimpitan.


Daddy: "Sudah terlambat sayang.. adek kecilnya mas sudah bangun dari pertama kamu membuka baju. Jadi sekarang kamu harus menerimanya"


Disaat di suatu ruangan menggema deru nafas dan desahan yang saling berpadu menjadi satu membuat lantunan lantunan yang bisa siapa saja yang mendengarnya ikut merasakan apa yang mereka lakukan.


Lain halnya di dalam kamar Davin, buah yang dihasilkan oleh usaha David dulu yang memaksa Melliza untuk hamil lagi saat usia Celine baru saja menginjak enam bulan.


Davin: "Kenapa belum membersihkan dirimu? apa kau adalah wanita jorok yang tak pernah mandi setelah bepergian?" sindirnya saat baru saja memasuki kamarnya dengan membawa sebuah nampan di tangannya.


Namun dari ucapan Davin yang bahkan terdengar sangat pedas itu, Velicia hanya menulikan pendengarannya dan tetap duduk diam dengan pandangan kosong pada sebuah layar televisi yang sama sekali tidak ada gambarnya.


Davin: "Lekas mandi dan setelah itu makan. Aku sudah membawakan mu makanan" katanya berdiri di depan wanita yang tetap tidak ingin menatapnya.


Dan lagi lagi Velicia hanya diam dan tak menghiraukan setiap kalimat yang diucapkan oleh pria yang sedang berusaha menyekapnya dan memaksakan kehendaknya.


Davin: "Kau tak menghiraukan ucapanku?" Davin menarik dagu wanita itu hingga saling bertatap muka.


Wajah datar tanpa ekspresi yang sama sama mereka lontarkan adalah bentuk untuk menyapa satu sama lain.


Davin: "Hilang kemana senyuman manis mu yang biasa kau berikan kepasa Evan?" ucapnya dengan sedikit menekan dagu wanitanya semakin kuat.


Velicia: "Aku tak sudi memberikanmu senyuman bahkan hanya untuk sebuah senyuman pun tak layak untukmu" katanya begitu lirih tapi masih mengandung keangkuhan.


Davin: "Benarkah?" tanyanya mendekatkan wajahnya.


Davin: "Tapi sangat disayangkan. Evan mungkin mendapatkan senyumanmu yang begitu ramah tapi aku mendapatkan hal indah yang lebih dari sebuah senyuman"


Davin: "Kau tahu yang aku maksud Vei?"


Davin: "Desahanmu" bisiknya yang mulai melepaskan tali yang mengikat celana panjang katunnya.


Velicia: "Aku tidak ingin melakukannya lagi!" dorong wanita itu ingin menolak saat Davin merebahkan tubuh Velicia di atas sofa yang Velicia duduki.


Davin: "Aku tak pernah bertanya pun kau menginginkannya atau tidak. Yang pasti aku menginginkannya, dan aku pasti akan melakukannya" sahut Davin terus berusaha memaksa wanita yang berada dalam kuasanya.


Velicia: "Kau b*jingan Davin!"


Davin: "Dan b*jingan ini akan menjadi ayah dari anakmu yang tak akan lama lagi berada dalam rahimmu"


Davin terus berusaha menerobos, hal yang paling Davin tak suka dari Velicia adalah dia yang selalu menentang apa yang Davin katakan dan perintahkan.


Apa yang dia ucapkan tak pernah dihiraukan oleh wanitanya, oleh sebab itu meski Davin sedang tak bernafsu pun Davin akan berusaha menguasai wanitanya dalam hubungan intim, karna baginya dengan memaksa berhubunganlah Davin dapat melihat raut wajah Velicia yang begitu pasrah dan juga berkabut gairah.


Velicia: "Ahh.. Kau menyakitiku!" pekik wanita itu sambil menitikkan air matanya.


Davin terdiam sesaat dan tak lebih memaksa dirinya untuk lebih masuk dalam kubangan kenikmatan yang baru dia rasakan.


Perlahan saat dada Velicia membusung Davin menggerakkannya kembali secara perlahan perlahan.


Sangat perlahan hingga terdengar kenikmatan untuk pertama kalinya Davin dengar dengan tulus dari bibir manis yang selalu dia cecap.


Dan saat Davin pun ikut terhanyut dalam kenikmatan, tubuh Velicia menegang.


Matanya terpejam dan mulutnya terus merintih saat lidah dan tangan Davin ikut bekerja tak mau kalah dari kejantanannya.


Tapi tiba tiba Davin berhenti ditengah jalan saat mereka baru saja akan mencapai puncaknya.


Davin mencabutnya dan meninggalkan Velicia yang diam mematung dengan perasaan aneh saat tiba tiba Davin melepaskannya disaat dimana dirinya mulai terbawa arus.


Velicia: "Kau benar benar pria b*jingan Davin!"