
Vallenci Atmarini Elliza.
Wanita yang dikenal oleh Velicia sebagai kakak perempuannya dengan selisih umur hanya berbeda satu tahun.
Wanita yang sering bekerja sama dengannya untuk mempertontonkan hasil karya imajinasi Velicia melalui sebuah desain yang diubah menjadi kain siap pakai.
Menjadi model utamanya dulu saat belum melambung tinggi namanya di manca negara dan internasional. Bahkan bisa dibilang awal karir Velicia mulai melonjak saat sang kakak menjadi model busananya. Sebab nama sang kakak lebih dulu dikenal dikalangan desainer tanah air karna bentuk tubuh proporsionalnya terutama wajahnya yang bisa dibilang jauh berada di atas Velicia sendiri.
Akan tetapi selain dikenal sebagai kakak perempuannya, selain model pertamanya. Kini sang kakak dikenal juga oleh Velicia sebagai cinta pertama suaminya.
Masa lalu dari suaminya yang kini telah diingat lagi oleh pria yang mulai dicintai oleh Velicia.
Apakah ini kebetulan?
Satu satunya mantan Davin yang pernah dicintai oleh Davin adalah kakaknya sendiri?
Atau ini sudah direncanakan oleh Davin karna dulu sang kakak mencampakkannya hingga Davin menjadikan Velicia sebagai bahan balas dendam atas tindakan sang kakak dulu?
Ini kah alasan Davin yang selalu melarang Velicia untuk mengetahui mantan kekasihnya?
Karna sang mantan adalah kakaknya sendiri?
Apakah Davin yang ia cintai benar benar sekejam itu padanya?
"AKU TIDAK MAU!!!"
Suara lantang yang memekakkan telinga diiringi tubuhnya yang bersimpuh di kaki seseorang membuat iba bagi siapa saja yang melihatnya.
Velicia.
Dirinya bahkan belum siap menerima kenyataan bahwa suaminya tidak ingat padanya, lalu bertambah mantan kekasih Davin yang menjadi kakaknya datang sebagai orang ketiga dalam hubungannya, kini masalah baru pun timbul saat tiba tiba Celine selaku kakak ipar pergi tanpa alasan bahkan tanpa memberi tahu pada kedua mertuanya.
Masalah kali ini benar benar membuat Velicia tidak bisa menerima keputusan Davin. Keputusan Davin yang akan merugikan Velicia sebagai istri dari Davin maupun Velicia sebagai seorang wanita.
Velicia: "Kamu tidak bisa begini Vin!" serunya dengan air mata yang kian mengalir.
Velicia: "Aku istri kamu! Aku benar benar istri kamu"
Kali ini tidak banyak yang bisa Velicia lakukan selain menangis dan meminta pengertian dari suaminya.
Davin: "Tapi aku tidak ingat pernah menikah denganmu. Lalu pernikahan seperti apa yang harus aku jalani jika tidak ada cinta di dalamnya?"
Velicia: "Aku istri kamu Vin. Aku istri kamu" katanya terus berulang kali.
"Sudah lah Vin. Dia akan tetap terus menjadi istri kamu. Karna bagaimana pun juga ada banyak bukti bahwa kalian telah menikah" pihak lain yang tersenyum kecil itu berdiri berdampingan dengan Davin saat Velicia duduk tersungkur di lantai.
Vallenci: "Dan lagi. Dia juga adalah adikku, aku mana mungkin tega kepadanya. Bagimana nanti tanggapan ibu dan ayah di rumah kalau tahu aku merebut suami adikku sendiri?"
Velicia: "Kak!" selanya langsung dengan nada tinggi.
Velicia: "Kau bahkan tidak perduli dengan ayah dan ibu lalu untuk apa kau menyebut mereka dalam masalah yang kau perbuat sekarang?"
Velicia: "Kau telah meninggalkan rumah sepuluh tahun lebih setelah mengutuk kami semua. Dan sekarang kau hadir dan berusaha menunjukan pada suamiku bahwa kau adalah kakak dan seorang anak yang baik?!"
Vallenci hanya menautkan alisnya saat mendengarkan serentetan kalimat yang terlontar dari bibir Velicia yang sedang bergetar karna tangisnya.
Vallenci: "Aku seperti itu karna aku dulu marah kepada kalian!"
Vallenci: "Aku marah pada ibu dan ayah yang selalu mengagung angungkan namamu. Seolah putri mereka hanya ada satu, selalu membanding bandingkan ku denganmu. Kau kira enak menjadi aku yang hidup dalam bayang bayang seorang adik?!"
Velicia: "Itu semua karna kesalahanmu sendiri"
Vallenci: "Kesalahan apa HAH?!" bentaknya dengan nada yang tak kalah tinggi.
Vallenci: "Salah kalau aku ingin jadi model? Salah kalau kau lebih pintar dariku? Salah kalau aku banyak bergaul dan banyak teman sehingga dibandingkan denganmu yang kutu buku?"
Velicia: "Kak. Itu....
Davin yang menjadi pendengar hanya bisa berdiam diri sambil memperhatikan.
Memperhatikan bagaimana terpuruknya Velicia, wanita yang terus saja mengaku sebagai istrinya.
Vallenci: "Jika sekarang aku harus mengalah lagi karna mu, maka jawabanku adalah TIDAK!"
Vallenci: "Aku akan bersama dengan Davin dan memperjuangkannya. Meski pun dia adalah adik ipar ku yang telah menikah dengan adik ku sendiri"
Velicia: "Tapi dia suamiku kak" isak tangisnya kian bertambah membuat tubuh Velicia semakin terguncang.
Vallenci: "Aku tidak perduli"
Derai air mata itu tetep tidak mampu membuat Davin bergeming dari tempatnya.
Seakan tuli dan buta akan kenyataan yang ada dirinya hanya menatap bagaimana Velicia menangis dalam kekacauan.
Bahkan saat dirinya digandeng oleh Vallen menjauh dan masuk ke dalam suatu ruangan yang berada di lantai satu, dirinya masih sempat mendengar bagaimana Velicia berteriak meminta Davin untuk mengingat dirinya.
Velicia: "Aku istri mu Vin! Bagaimana mungkin kau tidur dengan wanita lain dan masih satu atap denganku?!" pekiknya seiring langkah demi langkah saat Davin dan Vallen kakaknya menuruni anak tangga hendak menempati kamar tamu di lantai satu.
Awal mendengar perkataan Davin yang hendak menempati kamar utama bersama dengan kakaknya saja sudah menjadi kehancuran bagi Velicia.
Dan kini Davin malah menggiring Vallen kakaknya untuk tinggal bersama dengan mereka di kamar bawah bahkan satu kamar dengan Davin sendiri beralasan Vallen tidak enak dan tidak bisa tinggal sendiri di ruangan asing.
Niatan awal telah menjadikan ayah mertuanya sebagai tameng ternyata tidak bisa menaklukan rasa ketakutan Davin dan menolak permintaan Vallen yang ingin tinggal bersama mereka.
Dan saat dirinya menyebut nama ibu mertuanya, menyebut akan memberi tahu ibunda dari Davin sendiri Davin mulai berubah pikiran.
Berubah pikiran dari kamar utama tertuju pada kamar tamu bawah.
Saat dirinya masih kalut, saat dirinya sedang dalam keterpurukannya. Lagi Lagi orang yang sama menghubunginya.
Orang yang mengaku sebagai kakaknya, orang yang mengaku sebagai pelindungnya dulu setelah kedua orang tuanya kini adalah sumber masalah terbesar dalam hidupnya.
"Pergi" suara lirih namun terdengar menuntut itu terlontar sangat mudah dari mulut Vallen melalui panggilan suara yang dilakukan olehnya.
Vallenci: "Davin tidak mengingatmu. Untuk apa kamu disini dan menghalangi jalan kakak mu?"
Velicia: "Aku tidak akan pernah pergi meninggalkannya"
Vallenci: "Dasar tidak tahu diri"
Vallenci: "Ingat ini baik baik"
Vallenci: "Davin adalah pria baik dengan kriteria cerdik. Kau tidak akan pernah tahu apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. Dia hanya tunduk padaku, pada perasaannya padaku. Selama dia tidak pernah mengingatmu, maka tidak akan pernah ada tempat lagi untukmu bahkan hanya untuk terlintas di depannya"
Velicia: "Aku akan berusaha untuk mengingatnya" suaranya terdengar tegar, menahan segala rasa pedih dan ingin terlihat mampu saat kakaknya ingin berusaha menghancurkan kebahagiaannya.
Velicia: "Dan tolong ingat ini baik baik kak"
Velicia: "Sebelum Davin kecelakaan, dia pernah mengatakan bahwa dia mulai mencintaiku karna aku jauh lebih baik dari masa lalunya. Bukankah dia akan semakin bertambah mencintaiku nanti jika dia tahu aku tetap bertahan di sisinya meski dirinya telah lupa siapa sebenarnya yang ia cintai saat ini?"
Seberat beratnya sebuah masalah, masih lebih berat berusaha tegar dibalik masalah yang sebenarnya tidak kuat untuk ditahan.
Dan kali ini, inilah perasaan yang dirasakan oleh Velicia.
Ingin pergi meninggalkan, namun tidak ikhlas melepaskan.
Ingin bertahan dan menerima segala rasa sakit, namun jiwanya seakan ditelan akan kenyataan disetiap waktunya dan bisa saja dirinya sulit untuk bangkit.
Vallenci: "Dan bagaimana jika Davin tidak pernah mengingatmu lagi? Bukankah itu bisa saja terjadi?"