Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 30


Setelah pernyataan Velicia terhadap Davin yang telah membebaskan Davin seutuhnya atas tubuhnya, Davin tak mengulur waktu lagi untuk segera melakukannya bahkan di dalam kamar mandi dengan posisi berdiri.


Benar benar tak ada perlawanan dari Velicia yang biasanya mendorong tubuhnya atau memukul mukul lengan serta dadanya saat sedang Davin cumbu.


Tak hanya sampai disitu, bahkan Velicia tanpa menunggu perintah darinya langsung tidur tanpa menggunakan pakaian sesuai dengan perintah Davin dimalam sebelumnya.


Bahkan Velicia selalu mengingkatkan akankah Davin menyentuhnya atau tidak. Seperti saat ini, saat senja sore hari mulai menunjukkan warna jingganya yang mengisi penuh langit bagian barat.


Velicia: "Apa kamu ingin melakukannya?"


Velicia telah berdiri tegap di hadapan Davin, matanya yang menelisik ke arah lain yang bukan menjadi tempat Davin berada benar benar mengusik kepribadian seorang Davin seolah merasa direndahkan.


Davin pun hanya menatapnya sekilas lalu kembali membuat pola gambar pada sebuah lembaran kertas.


Davin: "Tidak" sahutnya sesingkat mungkin saat matanya baru saja terpaku kembali pada lembaran kertas yang berada di hadapannya.


Velicia: "Why not?"


Kening Velicia mengernyit saat Davin baru saja menjawab pertanyaannya.


Matanya berusaha memperhatikan seogok tubuh yang sedari kurang lebih seminggu lalu selalu menidurinya.


Selalu berusaha dan berusaha mencapai sebuah titik pencapaian yang belum juga ia dapatkan hingga kini.


Velicia: "Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang? lebih awal lebih baik untukku supaya aku tidak mudah mengantuk sewaktu kau memintanya pada malam hari" usul wanita itu membuat tangan kanan Davin terhenti sesaat dari ketrampilannya membuat sebuah sketsa gambar.


Davin: "Sekarang aku tidak ingin begitu juga dengan nanti. Jadi kau bisa beristirahat atau melakukan hal lain yang kau sukai" sahut Davin menatap mata serius kedua mata Velicia.


Velicia: "Hal apa yang bisa aku lakukan di dalam kamar saat terdapat seorang pria bersamaku?" katanya tersenyum masam.


Velicia: "Istirahat? Bukankah aku memiliki waktu istirahat yang sangat cukup akhir akhir ini?" lanjutnya mengingatkan Davin akan sesuatu yang pernah ia ucapkan sebelumnya.


Davin diam tak menjawab.


Davin tahu kali ini Velicia sedang berusaha menyadarkan Davin tentang apa arti gadis itu berada di dalam kamarnya.


Davin: "Jangan katakan bahwa kau akan keluar karna aku tidak akan mengeluarkanmu" ucapnya berusaha menebak.


Velicia: "Tidak" sahutnya langsung tanpa berpikir panjang.


Velicia: "Bukankah aku harus mengandung terlebih dahulu bila ingin dibebaskan?"


Wajah wanita berusia dua puluh empat tahun itu terlihat santai bagai tak terjadi apa apa sebelumnya.


Meski begitu, Davin tetap tahu ada banyak kesedihan yang tersimpan dari wajah yang tak menampakkan satu pun ekspresi itu.


Davin: "Lalu apa yang kamu inginkan?"


Velicia: "Aku ingin melakukannya. Sekarang juga" kata wanita itu dengan tegas membuat Davin tak percaya akan ucapannya.


Velicia: "Semakin cepat bukankah semakin bagus?"


Velicia: "Kau ingin tahu aku mandul atau tidak bukan? Bagaimana mungkin kau bisa tahu jika kau tak gencar menyiramkan benihmu dalam rahimku?"


Velicia: "Aku tak ingin mendapat hinaan lagi dari mulutmu. Jadi bisakah kita melakukannya sekarang? Aku mohon"


🍂🍂🍂


Davin masih termenung dalam diamnya saat untuk pertama kalinya Velicia bergerak di atasnya hanya untuk menarik nafsunya supaya dapat keluar.


Wajah datarnya, pandangan kosongnya sungguh Davin tahu bahwa wanitanya sedang tidak menimati apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri.


Bahkan saat Davin merasakan himpitan yang berusaha menjepit miliknya, Davin masih tidak habis pikir bahwa wanitanya bisa membangkitkan rasa yang sebelumnya sama sekali tidak ada.


Meski terlihat kaku, meski tak berpengalaman tapi itu yang membuat Davin benar benar ingin mengikatnya dalam hidup Davin seorang.


Davin: "Aku akan menghamili mu" bisik Davin saat miliknya mulai tergelincir masuk dengan begitu lancar tanpa hambatan.


Mencari yang dituju.


Mendaki dan terus naik berusaha untuk mencapai pada suatu titik.


Getaran, peluh keringat, dan deru nafas yang saling memburu antara satu sama lain harus mulai terhenti saat tiba tiba rintihan yang begitu memilukan keluar dari mulut yang sedari tadi menahan rasa yang tak ingin dikeluarkan olehnya sendiri meski pada awalnya dirinya lah yang menghendakinya.


Velicia: "STOP Vin! STOP" teriaknya merintih memegangi bagian perut bawahnya.


Davin yang kaget akan apa yang terjadi langsung melepaskan dirinya dari penyatuan yang baru saja hendak melepaskan ledakannya.


Velicia: "Ah sakit" rintihnya semakin meremas perutnya yang mulai mengusik kenyamanannya.


Davin: "Apa? Apa yang sakit?" tanyanya nampak bingung dengan situasi bahkan mulai gelagap saat melihat wanitanya meringkuk sambil terus memegangi perutnya.


Velicia: "Perut! perutku sakit" rintihnya yang kali ini menitikkan air mata.


Sudah cukup melihat wanitanya merintih kesakitan Davin harus bertambah bingung saat Velicia juga menangis karna tak mampu menahan rasa sakit yang menimpanya.


Tanpa banyak berfikir kembali dirinya memakai kembali pakaiannya kemudian menutup sebagian besar permukaan tubuh Velicia yang sama sekali tidak menggunakan baju.


Dirinya lantas langsung keluar dan mencari seseorang yang dengan jelas sangat bisa membantunya dalam keadaan saat ini yang tengah ia hadapi.


Davin: "Mommy?!" pekiknya membuat sang empu langsung melihat dari sumber suara.


Mommy: "Jangan bicara pada mo..


Davin: "Tolong bantu Davin mom" kata pemuda itu langsung menarik pergelangan tangan sang ibu.


Melliza langsung menepisnya dan berdiam diri menatap Davin yang tengah gusar.


Mommy: "Mommy tidak ingin membantumu" katanya lansung keluar akibat rasa kecewa yang belum juga pudar dari benaknya pada putranya.


Davin: "Mommy.. tolong Davin please" mohonnya tak bisa lagi membuat Melliza mempertahankan amarahnya pada sang putra.


Wajah memelas putranya sugguh mampu meluluh lantahkan kemurkaannya yang sebelumnya telah ada pada dirinya.


Namun Melliza adalah seorang ibu, seorang ibu yang sangat teramat menyayangi putra putrinya. Jadi dirinya akan selalu siap jikalau anak anaknya membutuhkan dirinya bahkan tanpa menunggu diminta Melliza akan selalu siap kapan pun untuk putra putrinya.


Setelah sekian lama tak pernah masuk lagi ke dalam kamar putranya, kali ini Melliza harus sedikit terkejut saat sebuah tubuh yang meringkuk merasakan sakit tengah berada di atas ranjang putranya.


Meski sebagian tubuh gadis itu tertutup oleh selimut tebal tapi Melliza tahu bahwa putranya dan gadis di hadapannya baru saja melakukan hal yang seharusnya belum menjadi saatnya mereka melakukannya.


Terbukti dari kaos yang tergeletak tak jauh dari ranjang dan celana dalam putranya yang berada di atas ranjang tepat di sebelah gadis yang masih terus merintih.


Mommy: "Dia kenapa?!" nada suara ibu lima anak itu sangat merasa khawatir atas apa yang menimpa gadis yang belum ia kenal.


Davin: "Davin tidak tahu mom.. tiba tiba dia bilang bahwa perutnya sakit" sahut pria itu jujur dan masih berusaha memperhatikan gadisnya yang sudah beralih sekarang berada dalam perawatan tangan mommy nya.


Melliza langsung duduk di sebelah Velicia berada.


Menyentuh keningnya lalu mengelap keringat keringat itu menggunakan tisu yang telah berada lama di sebelah ranjang.


Mommy: "Ambilkan mommy stetoskop di kamar mommy. Letaknya di laci kedua dari kanan sebelah tempat tidur daddy" perintah Melliza langsung saat masih memeriksa Velicia.


Mommy: "Sama tensimeter juga. Suhu badannya lumayan panas" perintahnya lagi saat Davin baru saja hendak berlalu.


Tak butuh waktu lama bagi Davin untuk mendapatkan hal yang diperintahkan oleh mommy nya.


Dirinya langsung menyerahkan apa yang diinginkan mommy nya untuk segera menangani wanitanya yang masih juga merintih dalam tangisnya.


Melliza memeriksa tubuh polos dalam balutan selimut itu mulai dari denyut nadi, denyut jantung hingga memeriksa suhu tubuhnya.


Sosok mommy yang sangat serius jika sudah mengalungkan stetoskop dalam lehernya. Bagaikan dokter handal yang telah terbiasa dengan segudang pasien berbagi jenis yang berada di atas dunia.


Mommy: "Bagian mana yang terasa sakit?" katanya lembut pada Velicia yang juga langsung menunjukan tempat yang dipertanyakan oleh mommy nya Davin.


Melliza merabanya, bahkan dirinya mengelus dan seketika wajahnya yang ramah tamah berubah menjadi datar tanpa ekspresi lagi.


Mommy: "Ambilkan mommy air hangat untuk mengompres perutnya" perintah Melliza datar pada putranya.


Dan lagi lagi tanpa menjawab atau membantah Davin lekas bergegas meninggalkan kamarnya lagi dan hendak membawakan apa yang dibutuhkan oleh mommy nya.


Davin dengan rasa penasarannya membuat dirinya lekas buru buru dari arah kamar mandi dengan sebaskom kecil air hangat yang diminta mommy nya.


Davin: "Apa yang terjadi padanya mom? Kenapa dia bisa sampai kesakitan seperti itu?"


Mommy: "Berbaringlah dengan benar dan luruskan kaki mu, tante akan mengompres perutmu" kata Melliza pada Velicia tak menghiraukan pertanyaan putranya.


Davin: "Mom?"


Mommy: "Siapa nama mu?" tanya Melliza lagi pada Velicia dan tak menghiraukan Davin untuk yang kedua kalinya.


Velicia: "Velicia tante" sahut wanita itu lirih.


Davin: "Mommy?"


Mommy: "Entah Velicia akan suka atau tidak dengan kenyataan ini, tapi tante ucapkan bahwa sekarang kau telah mengandung. Kau akan menjadi seorang ibu"