Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 10


Davin kembali ke kota Surabaya dengan membawa bara api menggebu gebu. Dalam pikirannya masih terbayang bagaimana cara Velicia menolaknya bahkan setelah Davin berterus terang pada orang tuanya karna telah memperkosanya.


Bahkan setelah penolakan itu Davin harus tertimpa lagi oleh ceramah dari ayahnya Velicia mengenai tindakannya yang kurang ajar dan tidak tahu aturan karna dengan beraninya meniduri anak gadis orang.


Davin kala itu hanya tertunduk bukan karna merasa bersalah, tapi dirinya yang tengah dipojokkan oleh kedua orang tuanya Velicia malah berfikir keras bagaimana lagi caranya untuk bisa mengikat Velicia dalam hidupnya.


"Vin? kamu sudah pulang?" kalimat pertama yang Davin dengar saat langkah terakhirnya dianak tangga teratas lantai dua.


Davin: "Sudah mom.. mommy masak sesuatu? Davin lapar" langkah Davin kembali bergerak kearah tempat mommy nya tersenyum manis padanya dimeja makan berukuran besar yang hampir memenuhi dapur lantai atas yang juga terhubung satu lantai dengan sofa besar hitam panjang berbentuk inisial L dan sebuah televisi yang tak kalah besarnya dari meja yang berada didepannya.


Mommy: "Mommy cuma membuat kari sama sambal goreng krecek khas Jogja nak" sahut ibunya dengan mengambilkan piring pada putranya setelah pergi dua hari dua malam kemarin.


Tapi sayangnya meja besar yang lebar dan dipenuhi lauk pauk itu hanya berisi tiga orang saja yang menempati ke delapan kursi makan yang tersedia termasuk empat dengan Davin sendiri yang baru hadir dan ikut bergabung didalamnya.


"Kamu dari mana Vin? sekarang kamu jadi suka keluyuran" pertanyaan yang keluar dari mulut kakak perempuan satu satunya yang masih sibuk mengambil pisau dilaci almari dapur tanpa melihat keberdaan Davin dan hanya meliriknya sedikit dari cermin panjang yang berada didepan wastafel.


Celine berjalan dengan pisau yang berada digenggamnya sambil mengelap pisau buah itu menggunakan tisu.


Celine: "Kakak tanya kamu Davin" karna tak mendapat jawaban dari adik laki lakinya yang kian tumbuh dewasa dan sudah tak bisa diatur lagi seperti dulu saat mereka masih kecil dan suka bermain bersama Celine menodong meminta jawaban dari adiknya.


Mommy: "Davin?" kali ini Melliza sang ibu ikut angkat bicara dan juga ikut ingin tahu alasan kepergian Davin putranya yang pergi selama dua hari tapi tidak berpamitan tentang tujuannya, hanya berpamitan bahwa dia akan pergi dan mungkin tidak pulang beberapa hari.


Sebagai seorang ibu, jelas Melliza Clara istri dari bapak David Setya Mayndra menaruh kekhawatiran pada putranya yang kian tumbuh dan kian matang dalam menata hidupnya.


Meski begitu, jiwa ke ibu an Melliza tetap ada selamanya untuk Davin dan ke empat anaknya yang lain. Melliza jelas ingin tahu Davin pergi kemana, bertemu dengan siapa dan segala jenis hal yang Davin lakukan diluar rumah.


Melliza tidak pernah sama sekali melepas perhatiannya pada kelima anaknya yang secara langsung mendapatkan perintah dari suaminya.


Melliza berperan aktif dalam menjaga anak anaknya dikala David suaminya tidak berada disampingnya. Bahkan peraturan itu masih berlaku bagi Melliza yang kian menua dan kulitnya yang tak sekencang waktu masih muda meski telah suntik aging anti penuaan dini.


David Setya Mayndra tak pernah membiarkan istrinya bersantai ria pada ponselnya jika itu tidak berhubungan dengan keluarga atau anak anaknya.


Davin: "Davin ke Jakarta mom" jawabnya yang telah siap akan menyantam makanan yang telah disiapkan oleh mommy tercintanya.


"Untuk apa?" tanya seseorang lagi tapi bukan kakaknya ataupun mommy nya, melainkan daddy nya. Pria yang sedari tadi dihindari oleh Davin bahkan Davin berusaha menjaga jarak duduknya dengan pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya sendiri.


Meski begitu, Davin tetap harus paling tidak sedikit menghargai daddy nya. Karna bagaimana pun mommy nya yang ingin dia lindungi dari cengkaram kuat daddy nya malah tergila gila dan tidak mau berpisah dari David meski Davin telah membujuknya bahkan sebelum Kanya berada dalan perut Melliza waktu dulu.


Davin: "Memperkosa wanita yang aku cintai" jawab Davin terang terangan.


Mommy: "Vin?" kata Melliza lirih merasa tidak percaya.


Celine: "Kamu ini ngelindur ya Vin? Kamu sudah dewasa jaga cara bicaramu, jangan bercanda yang keterlaluan sama mommy and daddy kalau tidak mau kakak getok pakai batu"


Sedangkan daddy nya tidak merespon apapun selain pandangannya yang jelas berusaha membaca apa yang berada dipikiran putranya yang selalu mengibarkan bendera perang itu.


Davin: "Kenapa?" tanyanya terhenti dalam menyendokkan makanannya.


Davin: "Tidak percaya? ya sudah intinya aku sudah berkata jujur" cueknya dan kembali menyuapkan sesendok besar kentang kedalam mulutnya hingga terisi penuh.


Davin akan selalu menghargai jerih payah mommy nya dalam bergelut didalam dapur untuk sekedar menyajikan makanan sebisanya.


Entah itu makanan ringan seperti cemilan atau sebuah masakan yang mommy nya sering lihat di buku resep masak khas daerah Davin akan tetep tenang menikamtinya.


Karna bagi Davin, seorang istri dari seorang pria haus se*s dan mengurus kelima anaknya yang memiliki sifat beraneka ragam adalah ujian terberat bagi Melliza dalam hidupnya yang kian rentan dan mudah jatuh sakit bila tak diperhatikan pola hidup sehatnya.


Daddy: "Daddy percaya" dua kata yang terlontar dari mulut yang dihiasi bulu bulu halus diatasnya yang terdapat beberapa bulu berwarna putih itu membuat istri serta putri tertuanya merasa heran bercampur aneh mendengarnya.


Daddy: "Karna kamu putra dari seorang David Setya Mayndra, iya bukan?" Davin diam sesaat sebelum akhirnya dia mengakhiri ritual makan bersamanya dengan meneguk air mineral yang tersedia dan langsung mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu.


Davin: "Iya kau benar Dad.. aku adalah Davin Aditya Mayndra putra David Setya Mayndra, apapun bisa aku lakukan dan aku dapatkan termasuk memperkosa wanita yang aku cintai"