
"Kenapa kak Davin menolaknya?" kalimat pertama yang membuka pertemuan antara Velicia dan Davin.
Davin: "Aku tidak menyukainya untuk apa aku menerimanya" jawabnya yang hanya melirikan matanya terhadap wanita yang baru saja datang menjumpainya di sebuah cafe.
Wanita muda itu mulai jengah menghadapi tingkah kedinginan dari kenalan pacarnya itu.
Bagaimana dia akan membantu kekasihnya untuk mendapatkan wanita untuk seorang Davin jika pria dihadapannya ini saja memiliki sifat bagai bongkahan es balok yang tak terpecahkan.
Didalam pikiran Velicia mungkin hanya akan ada satu dari beribu ribu wanita yang akan cocok olehnya.
Tapi tipe ideal seorang Davin Aditya Mayndra itu seperti apa bahkan Velicia tidak tahu.
Yang dia tahu adalah kenalan kekasihnya ini sangat membenci dokter hanya itu yang Velicia tahu.
Velicia: "Lalu seperti apa kriteria yang kak Davin inginkan?" Velicia mulai memposisikan dirinya agar duduk tepat dihadapannya.
Davin tak langsung menjawab, dia hanya menatap wanita itu dengan sedikit jengkel lalu menghembuskan nafasnya pelan dengan bertopang dagu.
Davin: "Minum?" tawarnya menyodorkan selembar menu minuman yang tersedia.
Velicia tak langsung menjawab dengan perkataan karna dia hanya cukup menggeleng spontan untuk memberikan jawaban pada pria dihadapannya.
Mungkin jika Davin ini sedikit saja membuka hati serta perasaannya, Velicia meyakini akan banyak wanita yang akan dia dapatkan. Selain karna tampangnya yang begitu rupawan, Davin juga terkenal dengan kecerdasan otaknya dalam mengambil keputusan. Bahkan pernah sayup sayup terdengar bahwa saat salah satu fitur game nya akan dimusnahkan karna mengandung konten dewasa, Davin dengan tekad bulatnya terus kekeh mempertahankannya meski mendapat kontroversi dari beberapa pihak yang tidak menyukainya.
Davin: "Kau sama sekali tidak menghargaiku" tatapan tajam beserta aura dingin yang dikeluarkan membuat Velicia berdiam diri tak sanggup bergerak.
Tanpa diminta, tanpa meminta Davin hanya melambaikan tangan pada seorang wanita yang diyakini sebagai pelayan cafe tersebut.
Davin: "Saya pesan yang ini satu" tunjuknya pada selembar menu minuman yang ada.
"Baik mas" setelah mencatat apa yang Davin inginkan, wanita itu langsung bertolak pinggang dari tempat Velicia dan Davin berada.
Tak butuh waktu lama bagi sang wanita cafe itu untuk kembali ke hadapan dua insan manusia yang sedari tadi hanya berada dilingkup kecanggungan.
Sebenarnya Davin bukan diam karna canggung melainkan dia diam karna sedang memikirkan sesuatu.
"Silahkan" tawarnya dengan menaruh segelas air berwarna biru terang secerah langkit diatas dengan aroma jeruk yang menguak jelas bila dari dekat.
Davin: "Jika perlu di bungkus maka aku akan melakukannya untukmu" perkataan itu meluncur begitu saja dikala tak ada respon dari Velicia yang sedari tadi hanya melihat sekeliling tempat mereka berada.
Velicia: "Ya ampun kak Davin ini bisa tidak mengurangi aura dingin disini? Velicia menjadi canggung" senyum ramahnya berusaha mencairkan suasana dengan mendekatkan gelas lebuh dekat lagi dengan arah dagunya.
Tanpa diduga, tanpa diterka dan tanpa curiga wanita muda nan cantik itu menyambar minuman itu dan terus meminumnya sedikit demi sedikit tapi pasti melalui sedotan kecil yang berada dalam gelas indah yang dia pegang.
Dan senyum semlirik Davin pun nampak menghiasi wajah yang memang sudah tampan sedari dulu.
Velicia: "Baiklah kak Davin, sepertinya pertemuan kita sudahi terlebih dahulu Velicia masih memiliki kegiatan lain" katanya setelah melihat arloji yang berada disisi kiri lengan tanganya.
Davin: "Baiklah" jawab singkatnya masih diam duduk dengan hanya memperhatikan Velicia yang sudah menenteng tas dan juga menggenggam handphone nya.
Velicia terus berjalan sambil menuju sebuah pintu keluar dari sebuah nuansa romantis yang menyelimuti cafe yang banyak dihiasi dengan berbagai pasangan anak muda mudi yang tergolong tidak jauh dari usianya.
Pusing yang melandanya disertai lemas yang terlalu membuat lututnya tak sanggup untuk berdiri tegap lagi.
Tapi sebuah tangan lebar memegangi lengan kanannya kuat untuk tetap menopang tubuhnya agar tetap bisa berdiri.
Davin: "Are you ok?"
Velicia hanya mengerjap memastikan siapa yang berusaha menolongnya.
Velicia: "Tolong antarkan aku kak, kepalaku pusing badanku lemas sepertinya aku tidak bisa berkendara sendirian"
Velicia: "Kak Davin bisa kan?" tanyanya mencoba memastikan sebuah jawab yang belum terdengar dari mulut pria yang masih tegak berdiri di sebelahnya.
Davin: "Tentu" jawabnya singkat.
Velicia tak akan pernah menduga apa yang sekarang sedang berkecamuk didalam pikiran pria yang dia kira sedang berusaha menolongnya.
Dia tak akan mengira bahwa pria baik yang dia kira telah menyusun rencana sedemikian rupa hanya untuk suatu tujuan utamanya.
Lama menaiki sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dikatakan adalah mobil yang Davin sewa secara pribadi dari seseorang terus berjalan seiring dengan apa yang menjadi tujuan.
Velicia hanya menyenderkan tubuhnya dan memijit pelan pelis matanya yang kian memberat dan tak sanggup menangkap cahaya terang dari jalanan kota Serang Banten yang mereka lalui.
Sayup sayup terdengar bunyi sebuah tombol palang parkir yang tidak Velicia ketahui jika dirinya dibawa kesebuah hotel megah yang menjadi tempat singgah sementara untuk seorang Davin.
Davin yang telah memposisikan mobilnya terparkir rapih dan sempurna langsung menuju pintu mobil depan tempat Velicia duduk tak berdaya.
Tanpa permisi dan meminta ijin terlebih dahulu dari siempunya badan, Davin dengan sembrono langsung menggendongnya dan tak menghiraukan perkataan wanita yang kini berada dalam dekapannya.
Sedangkan Velicia terus berusaha mengoceh meminta sebuah jawaban dari pria yang terus melangkah kedalam bangunan yang dipenuhi pernak pernik interior mahal yang terpasang rapi berjejer dan berbaris berusaha menyambut kedatangan tamu yang hendak melenyapkan penatnya dalam lingkup kenyamanan hotel yang tersedia.
Tanpa berbicara dan tanpa menghiraukan kicauan Velicia, Davin terua melangkah maju menaiki lift yang tersedia dan menekan sebuah tombol angka yang menunjukan letak lantai keberadaan kamarnya.
Tak butuh waktu lama bagi Davin untuk mencapai lantai kesepuluh dari lima belas lantai yang tersedia.
Dirinya langsung menempelkan sebuah kartu yang menjadi satu satunya kunci agar dirinya bisa masuk kedalam sesuka hatinya.
Velicia: "Kita dimana kak? kenapa kakak tidak antar Velicia kerumah?" katanya meminta jawaban atas perlakuan Davin yang menurutnya sudah tidak wajar karna tanpa meminta izin langsung menggendongnya.
Davin: "Kau hanya meminta untuk diantar tadi. Dan kau tidak bilang aku harus mengantarmu kemana, jadi jangan salahkan aku jika aku membawamu ke hotel yang aku tempati"
Setelah Davin mendudukan Velicia di permukaan kasur yang terasa sangat nyaman, dirinya mulai melepas kemeja hitam bermotif bunga berwarna hijau army yang melekat sempurna dengan tubuh porposionalnya.
Velicia: "Ke.. ke. kenapa kak Davin buka baju? jika panas nyalakan saja pendingin udara" Velicia mulai terkesiap dengan tindakan Davin yang mulai tak wajar.
Davin: "Aku dan kamu pasti akan tetap merasa panas Vevei sayangku"