
"Kita mau kemana? Bukannya kemarin kamu bilang kita akan kembali ke Surabaya?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Velicia saat Davin tiba tiba mengubah jadwal penerbangan yang akan bertolak menuju kota kelahiran pria yang kini tengah duduk mengemudi di sebelahnya.
Davin: "Bulan madu" sahut Davin sembarang.
Velicia: "Bu.. bulan.. bulan madu?!" pekiknya syok setelah mendengar perkataan Davin.
Velicia: "Kita bahkan belum menikah, bagaimana mungkin kita bulan madu. Dan janin ini?! Kamu berniat menyiksanya terus menerus?" ucapnya dengan spekulasinya sendiri.
Wajah terkejut yang dinampakkan oleh Velicia membuat Davin tersenyum ringan. Dirinya lantas mengelus perut yang mulai menunjukkan tanda tanda pertumbuhannya. Dengan perlahan dirinya mengelus searah dengan jarum jam. Mengelusnya penuh dengan kasih sayang yang untuk pertama kalinya Velicia rasakan.
Davin: "Apa di pikiranmu yang namanya bulan madu hanya melakukannya lagi dan lagi?" ucapnya sambil sesekali melihat keberadaan wanitanya yang langsung bersemu merah karna merasa malu.
Davin: "Aku bukanlah tipekal ayah atau suami yang akan mengutamakan kenyamananku. Namun aku bisa bertindak sesuka ku jika itu dibutuhkan"
Velicia menyingkirkan telapak tangan Davin yang masih saja berdiam diri di perutnya. Dirinya merasa tidak nyaman akan perlakuan Davin yang terasa manis setelah memberinya kepahitan hidup setelah menghancurkan masa depannya yang gemilang.
Velicia: "Kau bertindak sesuka mu bukan hanya sekali atau dua kali. Kau sering melakukannya, apa kau lupa?" sindirnya sambil melirik ke arah Davin yang tengah fokus mengemudi.
Davin: "Jika aku sering melakukannya berarti banyak yang aku butuhkan"
Velicia: "Tapi kau memaksa ku terus menerus"
Davin: "Aku tidak akan memaksa mu jika kamu mau menerima ku"
Velicia: "Bagaimana mungkin aku...
Kalimatnya terhenti saat tiba tiba Davin menyentuh tangan kanannya dan menggengamnya.
Davin: "Aku sedang tidak ingin berdebat" ucapnya datar tidak ada lagi senyum ramah seperti sebelumnya.
Dan sejak saat kalimat yang terlontar dari mulut Davin itu, Velicia hanya menyibukkan diri sendiri dengan ponselnya yang tidak ada apa apa atau hanya sekedar pura pura tidur untuk menghilangkan rasa bosannya.
"Ciawi?" gumam Velicia saat melihat papan petunjuk jalan yang biasa berada di pinggir jalan yang kerap digunakan semua orang.
Velicia: "Puncak?!" tebaknya langsung meliat ke arah Davin dengan kedua mata yang membulat merasa terkejut.
Namun yang Davin lakukan bukannya menjawab tetapi hanya menunjukan senyum ringannya dari arah samping karna dirinya tidak mau beralih dari jalanan yang tengah ia lewati.
Tak butuh waktu lama bagi Davin untuk sampai di tempat tujuan, karna bukan bertepatan dengan akhir pekan atau hari libur nasional jadilah mereka sampai di daerah yang bersuhu lebih rendah dari kota sebelumnya.
Suasana pepohonan rindang yang menyejukan mata, angin yang langsung menerbangkan beberapa untaian rambut panjang yang menjuntai serta udara segar yang terhirup oleh indra penciuman langsung sampai dititik tenang yang Velicia butuhkan dan inginkan.
Sebuah bangunan yang jauh dari hiruk pikuk kota dan populasi udara.
Bangunan hotel yang bahkan membuat pria yang tengah check in itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari jalan raya yang sebenarnya.
Karna setelah melewati pintu utama kawasan hotel sekaligus resort yang tersedia tepat di seberang jalan raya, meraka masih harus menempuh beberapa puluh kilo meter lagi untuk sampai di hotel yang akan mereka singgahi.
Kawasan hotel yang masih terlihat asri dengan tanaman tanaman yang sangat terawat. Pepohonan yang ditanam dan disusun sedemikian rupa untuk menjadi penyapa pertama saat pengunjung datang untuk singgah.
Jalanan yang sedikit lebih menanjak dengan beberapa komplek perumahan yang juga tersedia dibeberapa titik yang mereka lewati.
Banyak pula bangunan bangunan villa yang diperjual belikan atau hanya untuk sekedar disewakan.
Dan disini lah sekarang, meski terletak di daerah Jawa Barat yang kental akan adat sundanya namun dapat terlihat dengan jelas bahwa bangunan yang akan disinggahi sementara oleh Velicia begitu pula dengan pria yang membawanya telah mengusung tema adat Jawa.
Terbukti dari beberapa tokoh pewayangan kulit yang terpajang rapih, langit langit yang berhiaskan bukan lampu lampu hias super megah melainkan kayu kayu ukir yang tergantung memanjang.
Dan masih ada lagi dengan meja, kursi lalu dinding dinding kayu yang memiliki ukiran berbeda dan lebih menyapa lagi akan kehadiran Velicia yang untuk pertama kalinya.
"Ayo" ajak seseorang saat dirinya masih fokus memperhatikan sekeliling.
Velicia yang masih diam bagaikan patung langsung diusung oleh Davin dengan cara menggandengnya. Sedangkan satu koper yang mereka bawa telah dibawakan oleh bellboy yang juga akan membantunya menuju kamar yang telah disewa oleh Davin untuk beberapa saat.
Lorong panjang yang terlihat biasa namun terasa begitu tenang dan nyaman. Tanaman hias yang ikut mengantar mereka dari lobby menuju kamar yang telah tersedia semakin memperkuat rasa nyaman yang melingkupi perasaan Velicia.
Bellboy: "Masih ada pak" sahutnya sopan berjalan lebih dulu di depan Velicia dan Davin.
Bellboy: "Disini kita mempunyai taman yang luas, bapak dan ibu pasti sudah melihatnya waktu awal masuk ke dalam kawasan. Disitu ada beberapa rusa dan banyak bebek yang dipelihara secara khusus" terangnya menjelaskan situasi yang ada.
Davin: "Tapi saya dan istri saya tidak tertarik dengan bebek"
Bellboy: "Bebeknya bukan bebek biasa pak"
Davin: "Bukan bebek biasa? Memangnya bebeknya bisa apa? Bisa berbicara?"
Pria yang kerap dipanggil bellboy itu tak menjawab lagi akan pertanyaan Davin yang terdengar sinis.
Dan Velicia yang merasa tak enak hati dengan bellboy itu pun hanya diam saja dan terus melangkah dalam gandengannya Davin.
Tiga kosong tiga lima, adalah nomor kamar yang Davin pesan. Kamar yang cukup luas untuk mereka berdua.
Dengan toilet yang langsung menyapa di sisi kiri saat dirinya pertama masuk, lalu sisi kanan dengan kamar mandi yang dirancang terpisah dengan toilet.
Kamar mandi yang memiliki bathtub berbentuk lingkaran yang cukup dalam, cermin dengan panjang yang sama dengan dinding kamar mandi, dan shower box yang memiliki dua shower di dalamnya semakin melengkapi kemegahan kamar mandi.
Selain dimanjakan dengan hal pertama dalam hal kebersihan diri, terdapat pula mini bar yang menyediakan beberapa macam kopi, teh, macam macam gula beserta creamer dan tidak lupa teko listrik.
Selain itu masih terdapat kulkas mini yang ikut tersedia tepat di bawah meja mini bar.
Tak hanya sampai disitu, hal yang menyenangkan lain adalah ranjang besar yang hampir memenuhi ruangan utama. Kasur yang empuk dengan selimut tebal dan juga beberapa bantal kepala yang bernuansa serba putih. Lalu sofa berbentuk lingkaran yang terlihat nyaman saat bersandaran.
Ada pun balkon kecil dengan dua kursi dan satu meja yang langsung menembus ke arah kolam renang yang tidak terlalu cukup besar seperti kolam renang pertama yang dia lihat di depan restoran namun sangat cukup layak untuk menampung beberapa puluh orang.
Davin: "Bersihkan badanmu terlebih dahulu lalu ganti bajumu" perintahnya saat mengeluarkan sebuah baju dari dalam kopernya.
Velicia: "Kita akan kemana lagi? Tidak istirahat terlebih dahulu?"
Velicia merasa dirinya mudah letih setelah mengandung. Mudah mengantuk dan mudah jatuh sakit bila tak diperhatikan segala yang diperlukannya.
Davin: "Kamu harus makan siang terlebih dahulu"
Velicia: "Aku tidak lapar. Aku mau tidur, aku capek dan badanku lemas"
Velicia mendudukan diri di tepi ranjang tapi masih dengan mata yang memperhatikan setiap gerak gerik Davin.
Bahkan dirinya bisa dengan jelas melihat raut wajah Davin yang mulai mendingin setelah mendengar penuturannya yang tak ingin diajak makan oleh ayah dari anak yang dia kandung.
Velicia: "Badanku lemas Vin" rengeknya tak berniat manja namun benar benar merasa lemas, berharap pria itu dapat mengerti akan kondisinya.
Davin: "Makan baru tidur. Belum makan berarti belum boleh tidur"
Tanpa berkilah lagi dan tak mau lebih berdebat lagi dengan Davin karna dirinya tahu sampai kapanpun Velicia tidak akan bisa menang melawan Davin jika itu menyangkut janin dalam perutnya.
Sangat jelas mengapa Davin selalu memaksanya untuk makan, minum susu atau meminum vitamin yang telah tersedia itu semua semata mata adalah cara pria itu menjaga calon anaknya untuk terus tumbuh kembang dalam lingkup kesehatan yang secara langsung mendapat pengawasan dari Davin.
Pria itu jelas tak ingin terjadi sesuatu pada janin yang dia kandung.
Davin: "Vei? Sudah belum?" ucapnya mulai tidak sabar karna Velicia telah memakan waktu cukup lama hanya untuk berganti pakaian.
Davin: "Ini sudah hampir jam satu siang, makan siangmu nanti terlewat" lanjutnya lagi setelah melihat jam di tangannya.
Tidak ada jawaban hanya sebuah ketukan sandal pada lantai kayu yang terdengar mulai mendekat ke arahnya.
Davin terkesiap saat pertama menoleh ke arah Velicia.
Dirinya diam dan matanya langsung meredup, memancarkan kesedihan yang teramat dalam dan tidak akan bisa hanya dijelaskan melalui kata kata.
Davin: "Kamu tak secantik dia, namun kamu lebih baik dari pada dia"