
Meski Davin dan Velicia telah satu rumah, meski mereka telah tinggal dalam atap yang sama namun sepertinya mereka tidak mudah untuk bisa disatukan, terutama Davin.
Velicia membutuhkan keberadaan Celine saat hendak membersihkan bekas luka yang masih basah dibeberapa titik pada bagian tubuh Davin. Karna jika tanpa ada Celine makan Davin akan menolak keras dan tidak ingin disentuh oleh Velicia sedikitpun. Dia lebih baik menangani dan mengurus dirinya sendiri jika saja kakaknya tidak mengancam akan melaporkan Davin pada daddy mereka karna sikap keras kepala Davin.
Davin: "Jangan terlalu ditekan" ucapnya yang hanya bisa diam saat kakaknya sudah siap siap hendak menelpon sang ayah.
Velicia: "Sakit kah?" tanyanya perlahan begitu pula dengan tindakannya yang mengoleskan salep pada permukaan kulit kakinya.
Davin: "Tidak. Hanya saja kulit tanganmu terlalu menempel padaku, aku tidak suka itu" perkataannya yang hanya dihadiahi dengan sebuah senyuman getir dari wanita yang duduk di bawahnya.
Celine: "Davin!" sentaknya meluap.
Celine: "Jangan keterlaluan kamu!"
Celine: "Jangankan kulit tangannya. Kamu lupa! Kamu itu dulu sering telanjangi dia Davin, paksa dia supaya hamil hamil dan hamil"
Velicia: "Sudah kak, jangan. Kita tidak boleh...
Celine: "Biarkan saja! Biar otaknya meledak sekalian. Tidak tahu diuntung, sudah memperkosa anak orang sampai hamil lalu dipaksa menikah sekarang mau main angkat tangan" serunya lebih meluap lagi.
Celine: "Jangan harap daddy dan kakak melepasmu Davin!"
Davin: "Hamil?" tanyanya mengernyit.
Davin: "Apa buktinya?"
Davin: "Sebuah tespek? Aku tidak percaya dengan benda itu"
Davin: "Surat keterangan dari dokter? Aku juga tidak percaya karna kau bisa kapan saja memanipulasinya"
Davin: "Lalu aku harus percaya pada apa lagi? Pada perut ratamu itu?"
Davin: "Huh?! Aku tak sebodoh itu"
Kekehan demi kekehan yang Davin berikan pada Velicia sebagai bukti ketidak percayaannya pada istri yang tidak ia kenal membuat Velicia yang masih setia duduk di atas karpet bulu berwarna hitam itu hanya diam tak membalas ucapan suaminya.
Masih setia memegangi kaki Davin bahkan mengelus lukanya yang telah tertutup oleh perban dengan penuh kasih sayang.
Celine: "Davin stop! Atau kakak beritahu daddy tentang apa yang kamu lakukan pada Veli" tunjuknya menggunakan ponsel yang masih berada di genggamannya.
Davin: "Memangnya apa yang aku lakukan?"
Davin: "Aku tidak melakukan apa apun, aku hanya meminta bukti padanya. Karna disini aku yang dirugikan, jadi apa aku salah meminta bukti padanya?" lirikan mata yang sangat tajam menyudutkan Velicia hingga benar benar tidak ingin lagi mengucapkan kalimat apapun.
Celine: "KAU?!" serunya dengan nada tinggi.
Celine: "Kau dirugikan?! Coba katakan sekali lagi bahwa kau yang di...
"Kak?" suara rendah itu menghentikan ocehan Celine pada sang adik.
Celine: "Veli..
Velicia: "Tidak apa apa, perlahan saja" tutur manisnya meski mengandung kepahitan di dalamnya.
Setelah kalimat itu, Velicia melihat ke arah Davin. Wajah dinginnya tepat berada di atasnya, menatap lekat Velicia bahkan tanpa berkedip dengan cukup tajam.
Velicia: "Kau tidak perlu percaya pada ucapan kami semua. Percaya saja dengan apa yang kamu lihat"
Velicia: "Jika kau tidak percaya bahwa aku pernah mengandung anakmu, maka lakukanlah"
Velicia: "Jika kau tak percaya aku pernah melahirkan putrimu, maka tidak usah bersusah susah mengingatnya. Kau tidak mengingatnya maka lebih baik kau jangan menganggap dia pernah ada. Karna aku ingin jika kau tahu dia sekarang, aku ingin kau tahu dia sebagai putrimu bukan sebagai anak yang aku lahirkan"
Davin: "Menganggap seorang anak sebagai putriku?"
Davin: "Jika memang benar ada, mengapa tidak kau bawa anak itu untuk menemuiku?"
Velicia: "Dia telah meninggal Vin. Bersama saat kecelakaan yang terjadi padamu. Dia bersamamu waktu itu"
Davin: "Omong kosong!"
Laki laki itu bangkit meski masih dalam kondisi belum stabil. Berdiri di depan Velicia yang masih saja duduk di bawah pria itu.
Davin: "Aku muak denganmu, dengan cerita khayalanmu, dan semua tentangmu"
Davin: "Kau mengarang aku memperkosamu, mengandung anakku lalu melahirkannya. Sekarang saat ku mintai bukti kau malah tidak memberikannya dan beralasan bahwa anak yang kau lahirkan telah meninggal"
Davin: "Lebih gilanya lagi, kau menambahkan bahwa anak itu meninggal atas kecelakaan yang menimpaku"
Davin menggeleng gelengkan kepalanya merasa heran dengan wanita yang duduk dengan air mata yang tiba tiba datang menghampiri pelupuk mata wanita itu. Menangis dalam diam dengan dibantu sang kakak yang mencoba menenangkannya.
Davin: "Kau sangat pandai berakting. Hingga kakak ku saja bisa kau kelabuhi"
Celine: "Davin cukup!" bentaknya menatap adiknya tak suka.
Celine: "Apa yang diceritakan olehnya benar adanya. Tidak ada yang mengada ngada, kakak sebagai saksi bahwa kau telah memiliki seorang putri"
Celine: "Vania Vin, Vania Lavina. Kau tak ingat nama itu?"
Davin: "Yang aku ingin nama Vania adalah putri tante Marsya. Dia baik dan dia adalah teman kecil kita bukan anak aku"
Dua minggu berlalu dengan Davin yang tidak ingin banyak bicara dengan semua orang termasuk pada para pekerja rumahnya yang juga tidak ia ingat.
Dan dua minggu pula Velicia hanya bisa menemuinya saat mengobati lukanya yang kian membaik disetiap harinya.
Akan tetapi semakin baiknya kondisi suaminya, semakin stabilnya tubuh Davin dan mendekati kesembuhannya, Velicia mulai sulit bahkan hanya untuk sekedar menemui dan memberikan sapaan paginya.
Davin mulai melakukan semua hal sendiri termasuk mengambil makanan dan segala jenis yang secara privasi dia bisa melakukannya sendiri. Mengurangi waktu bertemunya dengan Velicia atau dengan kakaknya yang secara perlahan mengingatkan Davin pada masa masa yang tidak ada dalam memori Davin.
Namun naasnya, belum juga ingatan baru Davin pulih datanglah masalah baru dalam keluarga kecilnya.
Masalah yang lebih besar dari sebelum sebelumnya. Masa yang membuat Velicia ingin menyerah akan keadaan yang benar benar tidak bisa diterima olehnya.
Kenyataan yang membuat Velicia bahkan bisa melupakan segala kenangannya bersama Davin dan Vania putrinya karna seseorang.
Seseorang yang telah menjadi masa lalu Davin namun juga masa lalu dalam kehidupan Velicia sebelumnya.
"Hai" sapaan manis saat berdiri di sebelah laki laki yang masih resmi menjadi suami Velicia membuat wanita itu tertegun dalam keterkejutan.
Velicia: "Le... Le.. Lenci?" kata terbata yang diikuti dada berdebar tentang suatu hal saat melihat tangan putih mulus itu digenggam erat oleh suaminya.
"Iya. Ini aku" senyumnya mengemban seiring semakin menempelnya wanita itu pada suaminya.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu"
"Terima kasih karna kau telah menjaga dan merawat Davin dengan sangat baik. Kau adalah adik yang sangat baik Velicia"
"Aku kakak mu Vallenci sangat bersyukur memiliki adik sepertimu"