
Baby Vania semakin tumbuh dan berkembang seiring dengan limpahan kasih sayang dari semua orang terutama kedua orang tuanya.
Davin yang lebih mendekatkan diri pada putrinya membuat putrinya bahkan lebih akrab dengan ayahnya dari pada bundanya Velicia.
"Vin?" panggil sang istri saat Davin telah memakan waktu lama di dalam kamar mandi.
Davin: "Kenapa?" teriaknya dari dalam kamar mandi.
Velicia: "Tolong bantu tenangkan Vani sebentar, dia menangis sedari tadi. Tidak baik juga membiarkannya menangis terus menerus"
Davin lantas langsung bergegas keluar dengan penampilan segar yang baru saja selesai mandi. Rambutnya bahkan masih sangat basah dan beberapa kali menitikan airnya membuat bahu yang terlapisi akan kaos menjadi sedikit basah.
Davin: "Kenapa anak ayah menangis?" tegurnya langsung pada putrinya yang masih tidak kunjung berhenti menangis.
Davin: "Lihat! Ini ayah" lanjutnya mulai mengambil alih dan menggendongnya.
Velicia: "Rambutmu basah" ucapnya dengan menengadah supaya tetesan airnya tak mengenai wajah putri mereka.
Velicia: "Duduklah, biar aku keringkan" lanjutnya lagi dengan menuntun lengan suaminya supaya mengikutinya menuju meja rias yang letaknya tak jauh dari kamar mandi.
Velicia mendudukan suaminya dan mulai mengambil handuk untuk mengelap rambut yang masih terlihat sangat basah. Mengelapnya dengan lembut sambil sesekali melihat sebuah penampakan langka dimana dirinya sedang merawat suaminya dan suaminya tengah mengajak ngobrol dengan putri mereka yang berusia belum genap satu bulan.
Davin: "Sudah lama aku mengurung mu di dalam rumah sejak kamu masih mengandung Vani. Apa kamu tidak merasa bosan?"
Velicia: "Kalau pun aku bosan, aku bisa apa kalau kamu bilang tidak" sahutnya saat mulai mengeringkan rambut suaminya menggunakan hair dryer.
Davin: "Kemarin aku baru saja berpapasan dengan Evan"
Perkataan Davin berhasil menghentikan segala kegiatan Velicia yang tengah dengan telaten mengeringkan rambut Davin. Mata mereka saling bertemu dari balik cermin yang menunjukan sebuah keluarga kecil dengan kehadiran sebuah bayi perempuan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dengan mulut yang selalu berkecap seakan hendak berucap sesuatu.
Velicia: "Lalu kenapa?" tanyanya melanjutkan kembali kegiatannya dan mengalihkan pandangannya pada rambut suaminya yang dia sibakkan ke kanan dan ke kiri dengan tangan kirinya pelan.
Davin: "Kau tidak ingin tahu apa yang dia katakan kepadaku?" sahutnya masih melihat ke arah istrinya berada.
Velicia: "Tidak" jawabnya cepat masih tidak mau menatap mata Davin dari balik cermin.
Davin: "Dia berkata bahwa dia akan selalu menerima mu meski kau telah memiliki anak dariku"
Velicia kembali diam dan menyudahi semuanya, dirinya meletakan hair dryer di atas meja dan berusaha mengambil alih putrinya dari gendongan Davin.
Namun Davin mempersulitnya dan tetap menahan Vania dalam gendongannya.
Davin: "Jangan pernah berniat mengambil Vania dariku" ucapnya yang sebenarnya mengarah pada sebuah sindiran yang telah dimengerti oleh Velicia.
Velicia: "Aku bundanya, aku berhak atas dirinya" serunya yang sebenarnya tidak ingin berucap seperti itu dan melawan Davin. Karna dia tahu jika dia berucap seperti itu pasti suaminya akan salah paham dan akan menganggap bahwa Velicia bisa kapan saja menghianitinya.
Kadang ada kalanya Velicia berucap sembarang karna tersulut akan perkataan Davin. Meski sebenarnya Velicia sudah sama sekali tidak ingin melawan Davin, namun entah mengapa ada saja yang membuat Velicia menjadi memuncak saat suaminya mulai meragukan dirinya.
Davin: "Tidak ada yang berhak atas dirinya kecuali aku. Karna aku adalah ayahnya dan aku adalah Davin Setya Mayndra, kau harus paham itu" balasnya penuh dengan penekanan disetiap katanya.
Davin bangkit dari duduknya, mensejajarkan diri berhadapan dengan Velicia. Memberikan putrinya yang mulai tertidur dalam pelukan hangat ibu kandungnya.
Ciuman lembut yang mendarat dengan indahnya pada kening Velicia telah berhasil menggetarkan setiap darah yang mengalir dalam tubuh Velicia.
Davin: "Kau berhak memilikinya hanya jika kau status sebagai istriku, bukan hanya sekedar ibu kandungnya"
Seakan panas dengan ucapan Davin yang mulai meragukan dirinya, Velicia yang buta akan segalanya kini telah mendahului hal yang tidak biasanya dia lakukan.
Velicia hanya menikmatinya sendiri, bahkan karna merasa gemas pada suaminya Velicia yang sudah mulai tidak sabar lebih menarik Davin supaya ikut akan permainannya. Dirinya menarik bahu Davin supaya lebih merendah dan menyamakan tingginya.
Davin: "Apa ini?" tanyanya begitu dingin dan bernada datar setelah mendorong pelan bahu istrinya.
Velicia: "Permintaan maaf ku karna melawanmu"
Setelah perdebatan tempo lalu, Velicia mulai diijinkan keluar rumah dan menghirup akan udara kebebasan dengan syarat dalam pengawasan secara langsung oleh Davin.
Davin akan selalu menyempatkan waktu untuk istrinya saat Velicia berniat keluar rumah untuk imunisasi Vania atau hanya untuk sekedar berkeliling di mall.
Sudah dua minggu lalu mommy dan daddy Davin bertolak menuju Surabaya sebelum perdebatan singkat antara Davin dan Velicia terjadi. Kini benar benar hanya mereka berdua yang merawat dan menjaga Vania kecil tanpa bantuan suster khusus.
Orang tua Velicia pun mulai jarang datang karna kesibukannya sendiri yang mengurus sorum mobil keluarganya yang telah lama menjadi penopang hidup mereka bahkan sejak Velicia belum lahir.
"Vin, hari ini jadwal imunisasinya Vani"
"Dokter Sansan telah memberi tahu jadwalnya dan hari ini adalah jadwal pemberian vaksin BCG dan polio pertamanya Vani" terang Velicia yang telah rapih dengan pakaiannya yang siap untuk pergi beserta putri mereka.
Davin: "Tidak untuk hari ini" sahutnya cepat saat pria itu sedang serius dengan laptopnya.
Velicia: "Tapi dokter Sansan akan ambil cuti setelah ini" jelasnya lagi masih berusaha membujuk suaminya.
Davin melihat ke arah Velicia yang tengah menggendong putrinya, betapa cantiknya istri beserta putrinya yang telah rapih dengan pakaiannya beda halnya dengan Davin yang masih menggunakan kaos dan celana pendeknya.
Davin: "Letakan Vania dalam box bayinya" perintahnya pada sang istri.
Velicia: "Kenapa?" tanyanya karna merasa bingung.
Davin: "Letakan saja"
Velicia pun menuruti perkataan Davin untuk meletakan putri mereka yang masih dengan antengnya diam tak menangis.
Davin: "Buka bajumu" perintahnya lagi yang membuat Velicia terpundur sedikit.
Velicia: "Untuk apa?!" serunya menahan diri tidak mau mendekat saat Davin memberikan isyarat supaya istrinya lebih mendekat.
Davin: "Mendekatlah dan buka bujumu" perintahnya lagi tidak mau ditolak.
Dengan ragu ragu Velicia melangkah mendekatkan diri.
Sedangkan Davin dengan sigapnya mendudukan Velicia di atas pangkuannya. Menikmati sebuah pemandangan indah pagi hari saat dirinya belum lama terbangun dari tidurnya.
Davin: "Aku menyuruhmu untuk membuka bajumu, kenapa kamu tidak membukanya?" ocehnya dengan membuka retsleting dress tanggung yang berada di punggung istrinya.
Davin: "Aku telah lama merindukannya, dan kamu tidak pernah menawarkannya. Aku sangat kehausan apa kamu tidak memahaminya?" ucapnya lembut beserta tindakannya yang mulai membelai benda yang telah lama dimiliki oleh putrinya meski tidak secara langsung.
Velicia yang merasa geli akan tindakan Davin hanya menggeliat kesana dan kemari seiring lincahnya bibir beserta lidahnya dalam mempermainkannya.
Davin pun menahan punggung Velicia agar lebih mendekat pada tubuhnya, menghirup harumnya tubuh Velicia lebih dekat lagi.
Davin: "Jika aku tidak memikirkan akan tubuhmu dan Vania mungkin aku akan membuatmu mengandung lagi. Aku benar benar sudah tidak tahan lagi untuk bisa menidurimu kembali"
Davin: "Bolehkah aku egois dan memperkosamu kembali?"