Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 41


Velicia kira, Davin akan menyita ponselnya setelah pria pemaksa itu berhasil mengambil ponsel miliknya saat Velicia terbaring lemas dengan rasa nyeri yang tak kunjung hilang. Tetapi apa yang wanita itu kira ternyata salah besar.


Davin kembali meletakan ponsel di tempat semula, tepat di atas tas yang tadi ia gunakan saat menemui Evan, pria yang masih singgah di dalam hatinya.


Velicia: "Apa maksudnya ini Davin?!" serunya terkejut akan hal yang pertama ia lihat dari layar ponselnya.


Davin: "Aku kira kau akan paham akan itu semua? Mengapa masih harus bertanya akan hal yang sudah kamu ketahui maksudnya?"


Davin: "Bersiap siaplah" perintahnya yang tengah mulai berkemas.


Velicia: "Kau men detele semua kontak yang ada?!" serunya syok saat melihat tak ada lagi kontak teman temannya termasuk pria yang belum lama ia temui.


Davin: "Tidak semua. Kau bisa lihat disana masih tertera beberapa orang"


Velicia: "Kau gila?! Bahkan ini hanya ada tiga nomor kontak, dan kedua orang tua ku pun tidak ada" serunya lagi mulai emosi.


Dari beratus ratusan kontak yang tadinya tersimpan di dalam ponselnya, kini hanya tertera tiga nama saja. Bahkan dari ketiga nama itu tidak ada dengan jelas nama kedua orang tuanya, atau bahkan salah satu dari mereka saja tidak ada.


Hanya terdapat


Husband, mommy, dan sister.


Namun id name dengan nama mommy ini tidak menunjukan bahwa kontak ini adalah nomor milik ibu Velicia. Karna bisa ia lihat dengan jelas dari profil yang tertera, bahwa foto dasar yang tertera dari ponselnya menunjukan sebuah foto keluarga. Keluarga yang tidak lama lagi akan menjadi keluarganya juga. Yaitu keluarga dari seorang pria pemaksa dan penindas, siapa lagi kalau bukan Davin.


Davin: "Memang tidak aku save kontak kedua orang tua mu dinomor baru mu" sahutnya yang masih saja berkemas.


Davin: "Kau bisa menghubunginya nanti menggunakan ponselku. Aku tidak akan keberatan sama sekali"


Velicia menipiskan bibirnya dan mengeraskan rahangnya setelah menerima perlakuan Davin yang maunya menang sendiri.


Bahkan belum sah menjadi istrinya saja Velicia sudah merasa akan siksaan dengan segala tingkah Davin yang berlebihan. Apa kabar jika wanita hamil muda itu berhasil Davin nikahi dan Davin ikat dalam sebuah hubungan yang lebih sakral lagi?


Velicia: "Bagaimana dengan teman temanku? Pelangganku? Partner desain ku?" seru wanita itu mulai naik pitam karna merasa tak tahan akan sikap Davin.


Davin: "Jawabannya hanya satu"


Davin: "Kau harus berhenti dari karir mu sebagai seorang desainer maka aku tak perlu menjawab pertanyaanmu yang lainnya" lanjutnya lalu membenarkan kopernya yang telah siap.


Velicia: "Aku tidak mau" sahutnya langsung tanpa pikir panjang yang membuat Davin langsung melihat ke arah tempat Velicia berada.


Velicia: "Yang pertama kau tidak berhak menghentikan cita citaku. Yang kedua kau tidak berhak mengaturku sesuai keinginanmu. Dan yang ketiga aku tidak suka diatur atur oleh mu" lanjutnya menyuarakan pendapatnya.


Davin berjalan perlahan ke tempat wanitanya terduduk dengan kondisi yang masih terbilang lemas.


Davin membelai lembut rambut yang terurai dengan cukup indahnya.


Mengelus permukaan kulit wajah dengan telapak tangannya dan berakhir di pipi sebelah kanannya.


Davin: "Mau tidak mau, suka tidak suka kau harus mengikuti perkataanku" ultimatumnya tak mau dibantah.


Davin: "Karna aku berhak atas dirimu" lanjutnya lalu menampakkan senyuman semliriknya.


Velicia: "Aku tetap tidak mau. Dan kamu tidak berhak atas segala yang berhubungan denganku" sahutnya tidak mau kalah dengan menepis lengan Davin.


Velicia: "Tidak" sahutnya lagi dengan wajah yang tak kalah datar dari Davin.


Davin: "Aku berhak karna aku suamimu"


Velicia: "Kamu bukan suamiku!"


Davin menghela nafas dengan sangat perlahan. Perkataan dokter yang tadi baru saja memeriksa kondisi calon istrinya cukup membuat Davin harus sedikit lebih mengalah supaya calon istri beserta calon anaknya tidak mengalami depresi ringan karna segala ucapannya yang selalu ditentang oleh wanitanya.


Davin tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun yang bisa saja terjadi pada wanitanya dan kemungkinan besar juga akan mempengaruhi kondisi kehamilannya.


CUP


Davin: "Jangan berusaha menentangku itu akan bagus untuk kita semua. Untukmu, untukku dan untuk calon anak kita" ucapnya lembut setelah mengecup kening Velicia.


Davin: "Jika aku bilang tidak maka tidak, jika aku tidak mengijinkan maka jangan pernah lakukan. Jika aku mencintaimu maka terima aku dengan apa semestinya, apabila aku berpaling dari mu maka ingatkan aku bahwa aku telah sangat mencintaimu. Sangat teramat mencintaimu hingga tak ada tempat lain lagi di hati dan juga hidupku untuk orang lain selain kalian berdua"


Elusan pada punggung Velicia sedikit meredakan emosinya yang tadinya ikut naik bersamaan dengan segala perkataan Davin yang ikut memanas karna ucapan Velicia.


Velicia: "Apa aku tidak memiliki pilihan lain selain menerima nasib ini?"


Davin: "Tidak" sahutnya singat dan cepat.


Davin: "Pilihanmu hanya hidup bersamaku dan bersama anak anakku yang kau lahirkan. Hanya itu tidak ada pilihan lain" lanjutnya dengan menekan setiap kalimat yang dilontarkan.


Velicia: "Bagaimana jika ada cara lain yang bisa membuatku terlepas darimu?"


Davin: "Sudah aku katakan tidak ada jalan berarti tidak ada, cara ataupun tujuan lain yang dapat menjadi tempat singgahmu terkecuali aku. Karna aku akan menutup segala cara yang bisa membuatmu menjauh dariku"


Velicia: "Apa aku bisa?"


Velicia tiba tiba menunduk tepat di hadapan Davin.


Velicia: "Apa aku bisa menerimamu? Menerima semua ini?"


Davin: "Bisa"


Davin bergerak lebih maju dan lebih mendekatkan diri pada wanitanya, merengkuhnya dalam dekapan sebuah perasaan yang lama kelamaan semakin timbul di hatinya.


Ada segelintir rasa yang bergejolak dan ingin keluar dari dalam hatinya saat wanitanya sampai pada titik pasrah dan tak memiliki harapan lagi.


Davin: "Belajarlah untuk mencintaiku, maka kau bisa melewati semuanya"


Davin: "Jika kau mencintaiku kau tak akan keberatan bahkan merasa tertekan akan segala keinginanku. Jika kau membuka hatimu untukku kau pasti tidak akan tersiksa batin saat mengandung janin yang saat ini berada dalam rahimmu. Jika kau memutuskan untuk menjadi wanitaku,maka kau akan tahu arti dari seorang wanita yang diprioritaskan. Tak seperti mantan pacarmu yang jarang memiliki waktu denganmu, aku akan selalu ada kapan pun kau butuh"


Velicia: "Aku butuh waktu. Karna mencintai seseorang yang menyakiti perasaan dan harga diriku tidaklah mudah"


Davin: "Jangan anggap aku sebagai pria yang telah melecehkanmu dalam kasus pemerkosaan yang kerap aku lakukan padamu. Tapi anggaplah aku sebagai ayah dari anak yang kau kandung. Maka dengan begitu kau akan mudah menerimaku, karna sampai kapanpun itu anak dalam kandunganmu hanya membutuhkan ayah sepertiku yang pantas dia sebut ayah bukan orang lain"