
Karna perdebatan di pagi hari yang cerah itu, akhirnya membuat Davin memutuskan untuk mengusung istri serta anaknya pindah rumah.
Belum ditetapkan hendak pergi kemana, namun yang pasti pria itu ingin sekali jauh dari sang ayah yang selalu merasa berada di atasnya.
Davin adalah pria dingin, dirinya sangat jarang bicara pada siapa pun termasuk pada istrinya.
Tapi nampaknya itu tidak berlaku pada pria yang memiliki lima anak itu.
Pria yang sudah hampir menginjak usia tujuh puluh tahun itu benar benar menarik urat kesabaran Davin. Terlebih bila harus mengingat terjadinya pertukaran antara Vania dan Vallenci.
Davin tidak tahu apa yang terjadi pada Vallenci saat ini. Tidak pernah terdengar kabar tentang wanita yang berselingkuh darinya dengan keponakan dari ayahnya.
Keluarga besar Mayndra pun menyatakan memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga Daynitra.
Atas insiden itu pula, Davin memutuskan bahwa kota Jakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang tidak boleh dikunjungi oleh Davin maupun Velicia.
Saat usahanya yang hendak meninggalkan rumah kediaman orang tuanya, ingin membawa keluarga kecilnya menjauh dan mencoba untuk hidup mandiri dengan istri dan putri kecilnya, niatan itu terhalang dengan tiba tiba Velicia yang semakin bertingkah aneh disetiap harinya.
Ada saja hal yang membuat Davin mengulur waktunya untuk angkat kaki dari rumah yang menjadi penopang kebahagian mommy tercintanya.
Seperti saat ini, saat malam hari tiba dan Davin hendak merehatkan badannya dari rasa penat setelah mendiskusikan rincian data terbaru dengan Fero temannya yang bertegur sapa melalui layar laptopnya, lagi lagi wanita yang tengah mengandung anak keduanya mengusik kenyamanannya untuk beristirahat.
Velicia: "Kamu belum mandi ya Vin?" tanyanya saat Davin baru saja mendaratkan pantatnya di kasur yang menjadi teman masa lajangnya saat tidur sebelum memiliki Velicia dalam hidupnya.
Davin: "Sudah" sahutnya singkat lalu mendekatkan diri hendak memeluk perut sang istri seperti biasanya.
Velicia: "Tapi kamu masih bau" katanya dengan mendorong bahu Davin untuk menjauh.
Davin: "Aku sudah mandi"
Velicia: "Kamu bau!" kekehnya dengan spekulasinya sendiri.
Davin: "Ya sudah kalau tidak mau dipeluk" sarkasnya merasa sudah sangat letih dan tidak ingin berdebat.
Ada rasa sakit hati saat suaminya tidak memperdulikan perasaannya.
Melihat Davin yang cuek dan membalikan badannya lalu mempunggunginya membuat rasa rendah diri tiba tiba muncul pada diri Velicia.
Velicia: "Kamu sudah tidak cinta lagi sama aku?"
Bukannya menjawab, pria yang ditanya malah menaikan selimut yang ia gunakan untuk menutupi seluruh badannya hingga atas kepala.
Velicia: "Vin?!" panggilnya dengan menarik selimut yang menutupi kepala suaminya.
Davin: "Jangan mulai lagi Vei. Nanti Vania bangun"
Terdapat nada letih yang terdengar saat Davin benar benar tidak ingin berdebat dengan istrinya mengenai perasaan Davin terhadap Velicia.
Pasalnya ini bukan kali pertama Velicia menanyakan hal tentang perasaan Davin terhadapnya.
Sudah berkali kali Velicia menanyakan hal yang sama setiap mereka saling berselisih.
Apakah Davin mencintainya?
Pertanyaan itu yang selalu dilontarkan oleh Velicia saat Davin melakukan hal yang tidak disukai oleh istrinya atau menolak keinginan Velicia.
Velicia: "Aku mau kamu mandi lagi" perintahnya sedikit menahan nafas karna tiba tiba rasa mual menghantamnya.
Davin: "Aku sudah mandi Vei" bujuknya benar benar ingin cepat istirahat.
Velicia: "Aku ingin kamu mandi lagi. Kamu bau amis, aku mual seperti mau muntah"
Davin: "Okay istriku tercinta. Sesuai dengan keinginan sang ratu" katanya mengalah tidak ingin lebih berdebat.
Meski terdapat rasa kesal pada istrinya, namun mau bagaimana lagi jika itu karna ulahnya sendiri.
Ulah Davin karna membuat Velicia mengandung kembali dan membuat istrinya memiliki hidung yang lebih sensitif bahkan lebih sensitif lagi saat mengandung Vania dulu.
Bertambahnya usia kandungan Velicia, membuat wanita itu kian tajam indra penciumannya.
Tidak bisa menerima aroma yang terlalu menyengat atau bahkan bau yang terlalu menusuk karna itu bisa menguras habis isi perut Velicia yang ada.
Menguras segala makanan yang telah masuk ke dalam perutnya, dan bila itu terjadi maka setelahnya Velicia akan mengalami susah makan dan menjadi pemilih.
Oleh sebab itu, sebelum itu terjadi Davin lebih memilih berantisipasi menjaganya supaya istrinya tidak mual apalagi muntah dari pada harus kesusahan membujuk istrinya untuk hanya sekedar makan.
Sepuluh menit berlalu dengan keluarnya Davin dari arah pintu kamar mandi.
Mengganti baju serta celananya untuk menghindari adanya aroma tadi yang menempel pada tubuhnya hingga membuat istrinya menyuruhnya untuk mandi ulang.
Rambut yang masih basah itu ia elap asal menggunakan handuk.
Rasa lelah sudah tidak dapat ia tahan.
Tubuh yang ingin segera diluruskan dan mata yang ingin dipejamkan memenjarakan Davin dengan rasa penat yang ingin diistirahatkan.
Pemandangan indah menyapa mata sayunya.
Melihat Vania yang telah seutuhnya pulih tertidur di box bayinya dengan sangat nyaman serta istri tercinta yang terbaring telah memejamkan matanya membuat dirinya disapa dengan mimpi indah bahkan sebelum terlelap.
Davin: "Selamat terlelap satu satunya wanita yang berada dalam hatiku"
Kata kata manis yang diikuti dengan kecupan hangat pada kening istrinya Davin layangkan untuk menghantarkan mimpi indah bagi wanitanya.
Akan tetapi, apa yang dia maksud ternyata membuat Velicia terbangun dari tidurnya.
Membuka mata indahnya tepat saat wajah Davin masih berada tepat di depan mukanya.
Menatap Davin dengan sangat tajam, hingga membuat pria itu merasa aneh saat ditatap oleh istrinya yang tidak seperti biasanya.
Davin: "Aku membangunkanmu?" tanyanya lembut dengan mengelus sayang pipi halus yang mulai menirus karna nafsu makan yang menurun drastis.
Melihat akan kondisi kehamilan istrinya yang kedua memang benar benar menguras tenaga Velicia.
Wanita itu banyak merasakan hal hal yang benar benar dialami oleh wanita hamil.
Bahkan lebih dari pada kata umum yang melekat pada kehamilan kedua Velicia.
Mual berlebihan, sakit perut yang berlanjut setiap mengalami kecapean dan nafsu makan yang turun bahkan sama sekali tidak ingin makan apapun.
Membuat Davin menjadi menuruti setiap apapun yang diinginkan oleh istrinya asal wanita itu mau mengisi perutnya.
Velicia: "Kamu belum mandi?" tanyanya mengernyit dengan tatapan tidak suka.
Davin: "Sudah Vei. Pegang rambutku" sahutnya menarik tangan kanan istrinya supaya menyentuh rambut setengah basahnya.
Velicia: "Kenapa masih bau amis, kamu tidak pakai sabun Vin?" tanyanya lagi dengan menarik paksa tangan kanannya yang tadi ditarik oleh tangan suaminya untuk menyentuh rambut Davin.
Davin: "Sudah banyak sekali sabun tadi hingga penuh dengan busa tubuhku hanya untuk menghilangkan aroma amis yang sebenarnya tidak ada pada tubuhku" tuturnya menjelaskan kenyataannya.
Velicia: "Tapi kenapa masih bau?"
Davin: "Hidungmu semakin hari semakin bermasalah Vei"
Bukannya menyahut wanita itu beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar kemudian keluar.
Davin yang telah merasa lelah hanya bisa diam melihat kepergian istrinya dan merebahkan tubuhnya untuk bisa terlelap saat Velicia memutuskan untuk keluar.
Sekitar sepuluh menit berlalu.
"Vin?"
Setengah dari dirinya telah menyapa dunia mimpi karna rasa nyaman yang mengantarkannya, namun yang setengahnya lagi masih sedikit terjaga saat nama dirinya dipanggil oleh wanita yang singgah di hatinya.
Menarik perhatian pria itu dan membuatnya terbangun lagi meski benar benar telah merasa lelah dan butuh istirahat namun Davin tidak bisa bersikap cuek pada istrinya.
Velicia: "Davin?" panggilnya sekali lagi pelan saat Davin masih berusaha menyesuaikan pandangannya.
Davin: "Kenapa Vei?" sahutnya balik bertanya dengan nada suara yang benar benar butuh istirahat.
Velicia: "Mandi lagi ya"
Davin: "Hah?"
Masih belum sepenuhnya sadar membuat Davin setengah mendengar dan tidak begitu jelas dengan apa yang dikatakan oleh Velicia.
Velicia: "Mandi lagi Vin"
Davin: "Sudah jam berapa ini sayang. Ini sudah malam, besok lagi saja aku mandi lagi" jawabnya kemudian hendak merebahkan tubuhnya kembali.
Velicia: "Vin?!" suaranya meninggi membuat bayi yang sedari tadi tidur nyenyak menjadi terganggu hingga merengek dan hampir terbangun bila saja sang ayah tidak mengelus punggungnya.
Davin: "Kamu tidak lihat Vania sedang tidur?" nada kesal tidak bisa ditutupi kembali oleh Davin.
Velicia: "Aku ingin kamu mandi lagi"
Velicia: "Coba kamu pakai ini, mungkin tidak akan bau amis lagi" pintanya dengan mengulurkan tangannya yang memegang suatu benda.
Davin: "Kamu menyuruhku mandi menggunakan ini. Iya?" tanyanya tidak habis pikir akan apa yang dipegang oleh istrinya.
Saat rasa kesal karna belum bisa beristirahat dan melepas rasa letihnya, Davin semakin kesal lagi saat permintaan aneh Velicia.
Davin: "Aku tidak mau"
Velicia: "Vin!"
Davin: "Aku tetap tidak mau"
Velicia: "Davin!"
Davin: "Ini sudah malam Vei dan kamu menyuruh suamimu untuk mandi malam terlebih lagi ini kamu menyuruhku untuk menggunakan lemon hanya untuk menghilangkan aroma amis yang sama sekali tidak ada pada tubuhku?"
Davin: "Aku tidak mau"
Bukannya Davin tidak penyabar, hanya saja permintaan istrinya kali ini telah menarik kuat urat kesabarannya.
Davin: "Kalau kamu tidak suka, aku akan tidur di luar supaya kamu bisa tidur dengan nyaman disini" keputusannya hendak mengambil bantal dan pergi.
Velicia: "Kamu tega aku tidur sendiri?" hadangnya tidak menginginkan Davin keluar dari kamar dan membiarkan dirinya tidur sendiri.
Davin: "Ya terus?"
Velicia: "Cuma mandi sekali lagi pakai lemon apa masalahnya?"
Davin: "Vei i...
Baru saja hendak melontarkan kalimatnya, pria itu terhenti saat sang istri tiba tiba berlari kecil menuju kamar mandi.
Memuntahkan isi perutnya yang belum lama wanita itu isi saat makan malam bersama dengan keluarga Davin tadi di lantai kamar mandi karna belum sempat berada di westafel.
Dan baru saja Davin menuangkan segelas air yang berada di dalam kamar mandi untuk wanita itu minum, namun lagi lagi karna kadar kedekatan Davin dan Velicia membuat Velicia kembali tertarik perutnya untuk muntah kembali.
Pemandangan istrinya yang terus terusan muntah serta perut yang mulai membuncit yang Velicia cengkeram kuat karna merasa sakit membuat Davin frustasi.
Davin: "Okay ayah mandi, ayah mandi" sarkasnya mengambil lemon yang berada di tangan kanan Velicia.
Davin: "Ayah menuruti setiap keinginanmu, awas kalau kamu masih menyiksa bundamu"
Bagai orang gila, pria itu menunjuk perut Velicia dengan rasa kesal.
Menatapnya tajam dengan deru nafas yang menguras habis kesabarannya.