Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 39


Davin memang tak bohong perkara dirinya yang memiliki kepentingan lain setelah cukup lama di dalam kamar mandi.


Pria itu bergegas pergi setelah memastikan calon istri beserta calon anaknya menyantap sarapan paginya.


Menu sederhana dengan dua lembar roti tawar yang dipanggang dan diolesi selai cokelat beserta segelas air putih yang rutin diminum oleh Velicia dengan telaten Davin menyiapkannya.


Memang membutuhkan waktu yang cukup sangat lama untuk memastikan calon istrinya itu melahap sarapan paginya.


Namun Davin harus bisa lebih bersabar lagi jika itu menyangkut bayi dalam kandungan Velicia.


Meski dirinya harus ketar ketir menghadapi segala penolakan, namun kuasa Davin lebih kuat dan lebih mendominan hingga Velicia tak pernah sanggup untuk lebih membantah setiap perintah yang Davin layangkan untuknya.


Kehamilan yang dialami Velicia untuk pertama kalinya tidak hanya membuat Davin saja yang merasa bingung karna pola makannya yang pemilih dan tak suka bau yang terlalu mencolok.


Namun kehamilan yang akan menjadi cucu pertama di dalam keluarga David itu juga membuat nyonya David yaitu Melliza pernah dibuat kualahan.


Dulu saat ibu lima anak itu mengandung setiap kelima anaknya sangatlah tidak seperti Velicia.


Melliza mungkin pemilih dalam beberapa hal namun dirinya tak pemilih saat meminum susu kehamilannya. Dirinya dulu mudah cocok bahkan karna terlalu cocok pernah membuatnya berlebihan berat badan yang mengakibatkan istri David itu diet ketat setelah melahirkan Satya putra ke empatya.


Tetapi kali ini sangat berbeda dengan menantunya yang akan Davin usung dalam keluarganya.


Velicia sangat sulit untuk menemukan susu kehamilan yang cocok dengannya.


Bahkan tugas sederhana yang Davin titipkan pada mommy nya hampir membuat Melliza khawatir sendiri alih alih takut janin yang berada dalam kandungan Velicia tidak mendapat cukup gizi yang seimbang.


Karna kehamilan sebelum berusia empat bulan adalah proses pembentukan otak sang janin.


Dimana segala sesuatu harus seoptimal mungkin supaya menghasilkan keturunan yang diharapkan.


Sesaat sebelum pergi bertolak ke Jakarta untuk menemui kedua orang tua Velicia.


Melliza dengan jiwa ke ibuannya mengurus setiap keperluan yang dibutuhkan Velicia, termasuk susu yang wajib diminumnya setiap dua kali dalam satu hari.


Sayangnya, tak semudah dirinya membalikan telapak tangannya dalam hal mencari sesuatu yang cocok dengan ibu hamil itu.


Sudah hampir enam kali Melliza mengganti setiap merek, sudah beralih dari rasa satu ke rasa yang lain alih alih siapa tahu menantunya cocok dengan apa yang dianjurkannya.


Namun bukan kepuasan yang ibu lima anak itu dapat dari jerih payahnya memperhatikan menantunya, melainkan Melliza membuat Velicia sering jatuh sakit karna ketidak cocokan dalam memilah susu.


Mulai dari mual mual dan menjadi lebih tak bernafsu makan. Diare berkepanjangan yang membuat tubuh Velicia semakin lunglai atau sakit perut tiba tiba yang begitu melilit dan tak tertahankan membuat Velicia kala itu merintih disetiap malamnya karna masih dengan kasus yang sama yaitu tidak cocok dengan susu yang dia minum. Tapi akhirnya Melliza bertemu dengan hasil yang sesungguhnya, meski Velicia masih terbilang suka mual dan diare setelah meminum satu produk yang dianjurkannya namun itu masih terbilang normal dan terlihat wajar karna tak sedikit pula wanita yang mengalami hal yang sama dengan menantunya.


Davin: "Aku akan pergi keluar sebentar. Perkiraan satu jam lagi aku akan pulang untuk membuatkanmu susu" ucapnya hendak berpamitan.


Velicia: "Tidak perlu. Aku bisa membuatnya sendiri" tolaknya atas usulan Davin.


Davin: "Tidak. Kamu diam saja dan tunggu aku pulang, aku yang akan membuatnya"


Velicia: "Oke" katanya terdengar pasrah.


Ya Velicia tahu bahwa Davin tidak akan mudah percaya bahwa dirinya akan membuat susu sendiri lalu meminumnya.


Karna terakhir Davin melepaskan pandangannya Velicia membuang segelas susu yang masih terasa hangat itu ke dalam closet kamar mandi.


Davin: "Ada mau nitip sesuatu? Nanti aku belikan"


Velicia hanya menggeleng cepat untuk memberikan jawaban.


Davin: "Baiklah, aku pergi dulu. Tunggu aku pulang dan jangan lakukan hal yang tidak boleh dilakukan"


Kata terkahir sebelum melepaskan rasa sayangnya pada sebuah kecupan hangat di puncak kepala Velicia beserta elusan lembut di perut bagian bawahnya tempat bersarangnya calon anak mereka.



🍂🍂🍂


Belum lama Davin merasa tenang karna wanitanya tak banyak membantah akan perintahnya. Tapi kali ini perasaan tenang itu tiba tiba hilang dan lenyap begitu saja tergantikan dengan rasa marah bercampur dengan gelisah.


Belum lama ini Davin meninggalkan kediaman orang tua Velicia yang akan menjadi mertuanya untuk kepentingan lain yang tak bisa ditunda dan tak bisa ditolak, Velicia dengan lancangnya pergi meninggalkan rumah bahkan tanpa berpamitan pada Davin.


Bahkan kedua orang tua Velicia tak menjawab akan segala pertanyaan Davin atas kepergian Velicia yang tiba tiba atau bahkan malah berusaha menutup nutupi darinya.


Untunglah sebelum ponsel yang dikembalikan kembali pada pemiliknya, Davin dengan kemampuan teknologinya telah mampu mengontrol handphone Velicia dan mengaktifkan sistem pelacak supaya mudah terlacak dan teridentifikasi.


Davin: "Bukankah ini...


Davin: "Jika sampai dugaanku benar. Jangan harap aku akan melepaskanmu Vei" serunya dengan menggenggam erat ponselnya lalu berjalan cepat ke arah pintu utama rumah yang disinggahinya.


Aura dingin yang terpancar, pikiran negatif yang memuncak dan seburat perasaan yang bergejolak membuat Davin tak sabar hendak memastikan sesuatu yang berada dalam pikirannya.


Davin terkekeh dalam amarahnya, tersenyum hambar dan menautkan alisnya sesaat dirinya baru saja tiba disebuah tempat yang belum lama ini dia kunjungi.


Pemandangan yang tak pernah ingin Davin lihat lagi tapi kali ini nampak begitu jelas di hadapannya.


Dari balik kaca tebal yang begitu tembus masuk ke dalam dari arah tempatnya berada.


Seorang pria dan seorang wanita tengah saling berbincang. Membicarakan suatu hal yang belum bisa Davin pastikan akan topik pembicaraan.


Namun rasa penasaran akan apa yang mereka perbincangkan Davin lebih memilih memisahkan terlebih dahulu dua sejoli yang pernah saling memadu kasih dalam suatu hubungan.


"Davin?" katanya yang terucap begitu lirih disertai rasa terkejut saat tiba tiba sosok Davin muncul di hadapan Velicia.


Davin: "Pulang" katanya begitu dingin.


Velicia: "Iya" sahut Velicia langsung mengiyakan perintah Davin tanpa bantahan.


Tapi sayangnya niatan awal Velicia yang tak ingin terkena masalah lebih karna membantah perintah ayah dari calon anaknya harus terhenti karna sosok pria lain menghalangi langkah Velicia untuk mendekat ke arah Davin berada.


Davin: "Menyingkir dari hadapannya" seru Davin semakin terlihat emosi pada sosok pria yang tak lain adalah Evan.


Pria yang belum lama ini merasakan sakit hati beserta kecewa secara bersamaan.


Evan: "Aku kecewa padamu Vin" katanya tak mau mengalah dan masih mempertahankan posisinya sebagai penghalang jalan antara Davin dan Velicia.


Davin: "Aku tidak perduli akan perasaanmu. Menyingkir dan biarkan istriku lewat"


Evan: "Istrimu?!" serunya nampak terkejut.


Evan: "Aku tidak salah dengar? Coba katakan sekali lagi. Dia istrimu? Iya?"


Evan terhenti sesaat lalu tertawa dengan begitu keras hingga membuat beberapa pengunjung kafe, yaitu tempat yang terakhir kali menjadi bukti penolakan beserta pengkhianatan itu terjadi melihat ke arah mereka bertiga.


Evan: "Dia istrimu jika kau sudah menikahinya"


Evan: "Tetapi sejauh yang aku ketahui Velicia masih single dan masih memiliki hubungan denganku. Dia masih kekasihku dan akan menjadi tunanganku" lanjutnya dengan tiba tiba menampilkan senyum yang membuat Davin merasa heran.


Davin: "Dia telah mengandung anakku"


Evan: "Velicia mengandung karna kau memperkosanya! Memaksanya untuk menerima kebejatanmu dan memuaskanmu"


Davin: "Memperkosanya atau tidak hasilnya tetap sama, dia telah hamil dan janin itu adalah milikku"


Davin: "Begitu juga dengan wanita yang mengandung janinku. Maka mereka hanya akan berakhir denganku" lanjutnya berusaha menekan saat Evan hendak berbicara.


Davin: "Vei?!" panggilnya dengan nada tinggi dan begitu dingin saat wanita itu hanya diam dan tak bertindak apa pun.


Davin: "Ayo" lanjutnya dengan ikut mengisyaratkan menggunakan arah pandangan matanya.


Evan: "Tidak!" cegatnya saat baru saja wanita itu melewati Evan.


Evan: "Jangan mau dengannya. Aku mohon kembalilah padaku" bujuknya saat pergelangan tangan Velicia dicekal olehnya.


Namun Davin tak kalah sigap dengan mengamankan wanitanya yang kali ini berpindah berada di belakangnya.


Davin: "Aku ingatkan kau kembali akan tiga hal yang tidak boleh kau lakukan di dunia ini Gregorius Stephan Daynitra" ucapnya terdengar mengancam.


Evan: "Vei? Aku akan menerima segala sesuatu yang kini telah terjadi. Termasuk menerima anak yang berada dalam kandunganmu dan menganggapnya sebagai anakku sendiri"


Davin: "Tidak perlu repot repot dan terlalu baik seperti ini keponakan ku tersayang. Karna anakku tak butuh ayah lain selain diriku"


Velicia yang sedari tadi hanya diam mulai merasakan lemas karna berdiri terlalu lama.


Mendengarkan perdebatan antara Davin dan mantan kekasihnya itu semakin memukul berat kepalanya hingga dirinya sama sekali tak sanggup untuk hanya angkat bicara menengahi antara dua pria di hadapannya.


Velicia: "Ayo pulang"


Davin: "Kau yang memulainya dan menemuinya tanpa ijin ku, lalu kenapa tidak kita selesaikan ini semua sekarang?"


Davin: "Supaya mantan kekasihmu kelak tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga kita setelah menikah. Karna aku paling benci orang ketiga, meski disini aku lah yang berperan sebagai orang ketiga dalam hubungan kalian yang dulu"