
"Bukankah kau berjanji jika aku hamil maka kau akan pergi? Lalu mengapa kau masih disini saat aku sudah dipastikan positive hamil?"
Velicia: "Aku pasti akan pergi. Tenang saja" ucapnya santai.
Velicia: "Tapi itu hanya berlaku jika Davin mengusirku. Mengusirku tepat di hadapanku"
Velicia: "Bila hanya dari mulutmu, jangan harap aku akan pergi"
Sebenarnya ini bukanlah keinginan Velicia untuk bertahan.
Sejak pertama kalinya mendengar bahwa Vallen kakaknya mengandung anak dari suaminya, dia sudah bergegas hendak pergi dan membenahi barang barang seperlunya. Karna dirinya pernah berjanji pada ibunya, bila dirinya memiliki masalah dengan Davin yang tidak bisa lagi ia hadapi maka kembalilah pada keluarganya dan jangan pergi ke tempat lain.
Menumpahkan segala rasa sakit dan pedih pada keluarganya dan jangan dipendam sendiri.
Akan tetapi, saat dirinya berusaha ingin berpamitan pada ayah mertuanya karna tidak bisa menepati janjinya untuk bertahan di sisi putranya, Velicia tersindir akan ucapan ayah mertuanya.
Kau wanita lemah.
Tiga kata itu mengusik kepribadian lain yang ada pada diri Velicia.
Dan ayah mertuanya itu berkata...
Pergilah jika Davin mengusirmu, tapi jangan harap kau bisa pergi darinya jika tidak ada ijin darinya karna daddy tidak akan membiarkan itu.
Dan karna itu, Velicia memutuskan untuk pergi jika Davin mengusirnya. Mengusirnya dari rumah yang Davin beli khusus untuk Velicia saat masih mengandung Vania.
🍂🍂🍂
Velicia selalu menyibukan diri. Mulai dari jalan disetiap pagi dan sore dengan berkeliling kompleks atau hanya sekedar menikmati sejuknya angin pantai Ancol di sore hari yang menenangkan pikirannya dari semua masalah yang ada.
Segelintir orang yang datang ikut meramaikan tempat yang dikunjungi olehnya.
Ada banyak yang datang bersama dengan keluarga, tak sedikit pula yang datang dengan pasangan masing masing. Namun bukan hanya Velicia pula yang datang sendiri.
Ada begitu banyak orang yang ikut berkunjung hanya untuk sekedar menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah dan nikmat saat dirasakan manfaatnya.
Tujuh belas hari usia janin dalam kandungannya yang telah membuat Velicia ingin bertahan karna janin dalam kandungannya dan kadang pula ingin menyerah karna janin dalam kandungan kakaknya.
Belum ada yang tahu akan kehamilannya, termasuk ayah dari janin yang dia kandung.
Dirinya pula tertutup dan tidak ingin memberi tahu pada keluarga Davin atau keluarganya.
Dirinya ingin berantisipasi pada waktu, karna bisa kapan saja Davin melukainya perihal dirinya yang mengandung anak keduanya.
Bukankah bisa saja Davin membenci anaknya sendiri karna berada dalam rahim wanita yang tidak ia sukai?
Velicia terus berjalan pelan menikmati sepoinya angin pantai yang menenangkan.
Melewati jalan trotoar yang digunakan oleh banyak orang yang ikut berlalu lalang.
Kadang kala dirinya menyapa pengunjung lain dan memberi sapa pada mereka yang terlihat lebih tua darinya.
Memberikan senyum palsu yang begitu manis pada orang lain, karna pada kenyataannya ada begitu banyak luka yang berada dalam dirinya.
Luka karna suaminya tidak memperdulikan dirinya yang kini tengah mengandung anak kedua mereka.
Luka karna Davin lebih perhatian pada Vallen kakaknya dari pada dirinya yang sudah jelas adalah istri sah nya.
Padahal dulu saat mengandung Vania, Davin begitu perhatian dan penuh antusias dalam menunggu setiap tumbuh kembang Vania dalam perut Velicia.
Bahkan saat bayi cantik itu terlahir ke dunia pun Davin tidak pernah melepaskan perhatiannya pada Vania putrinya terlebih pada Velicia istrinya.
Velicia: "Ayah belum mencintai bunda saja dulu sangat perhatian pada bunda saat mengandung kakakmu. Lalu bagaimana jika bunda mengandung dan ayahmu telah mencintai bunda?" gumamnya pada perut yang masih rata.
Velicia: "Mungkin bunda akan sangat bahagia sayang. Terlebih lagi jika ada kakak mu yang cantik dan lucu itu"
Sekelibat bayangan Vania yang tertawa renyah khas suara bayi mengisi ingatannya. Membuka memori lama setelah tertimbun oleh memori baru yang memilukan.
Namun itu telah menjadi kenangan. Kenangan yang hanya diingat oleh Velicia saat ini dan terkubur dalam di dalam ingatan Davin.
Davin tidak ingat akan momentum bahagia yang pernah mereka berdua lewati bersama dengan bayi kecil mereka Vania.
Saat dirinya berkelana dalam pikirannya dan kenangan masa lalunya, tanpa sadar dirinya mulai berjalan keluar dari jalurnya.
Melintasi sebuah jalan lebar yang kerap digunakan bagi semua pengunjung untuk keluar masuk kendaraan.
Hingga tak terasa, tiba tiba suara klakson motor mengejutkan dirinya hingga hampir terjatuh.
Hampir terjatuh jika seseorang tidak menahan dirinya.
"Kau buta?!" sentaknya langsung.
"Apa kau tuli?!"
"Kau tak melihat ada begitu banyak kendaraan disini!"
Suara lantang yang begitu memekakkan telinga Velicia yang baru saja ditarik paksa untuk menepi dari jalanan itu membuat diri Velicia terpaku.
Untuk seperkian detik wanita itu hanya diam menatap sebuah kenyataan yang terlihat fatamorgana bagi kedua matanya. Namun tak urung dirinya mulai angkat bicara setelah ocehan demi ocehan orang itu layangkan pada Velicia.
Velicia: "Kau perduli padaku hingga kau menyelamatkanku?"
Pertanyaan singkat dan terdengar sederhana itu membuat lawan bicaranya melepaskan lengan Velicia yang tadinya ia pegang dengan sangat kencang.
Velicia: "Atau kau iba?"
Velicia: "Apa lebih tepatnya kau telah mengingatku kembali wahai bapak Davin Aditya Mayndra yang terhormat?"
Davin.
Pria yang tiba tiba menarik tubuh Velicia untuk menepi setelah hampir saja wanita yang tengah hamil muda itu terserempet oleh motor.
Davin: "Hanya sebuah kebetulan aku menolongmu" sahutnya lalu berbalik arah dan hendak pergi meninggalkan Velicia.
Velicia: "Jika memang sebuah kebetulan, bukankah tidak mungkin akan terjadi untuk kedua kalinya?"
Langkah pria itu terhenti dan menatap balik ke arah belakang. Melihat bagaimana Velicia berjalan mundur perlahan dengan masih menatap Davin yang hanya terdiam.
Velicia: "Berdiam diri disitu saja dan lihatlah aku jika memang kau belum mengingatku"
Velicia yang telah berdiri tepat di tengah jalan, menatap sebuah truk pengangkut sampah yang hendak melewatinya.
Tidak cukup kencang, namun jika Velicia memutuskan untuk bertahan dan berdiam diri tidak melarikan diri dari jalanan itu sudah dipastikan dirinya akan terluka karna sebuah kecelakaan ringan.
Namun sebelum itu terjadi...
Cekalan kuat yang menariknya membuat tubuh Velicia terpelanting, bagaimana sebuah rasa sakit pada lengan kirinya tergantikan dengan sebuah pelukan erat yang tidak ingin untuk dilepaskan.
"Bodoh!" gerutu sang pria.
Velicia: "Aku tahu bahwa kau telah ingat lagi padaku" gumamnya dalam rasa haru di dalam pelukan pria yang ia selalu harapkan.
Davin: "Tidak"
Velicia: "Bohong"
Davin: "Tidak"
Davin: "Untuk apa aku mengingatmu kembali jika aku saja tidak pernah melupakanmu?"