
Velicia menatap tajam ke arah sampingnya, tempat beradanya Davin yang sedang sedikit menunduk karna sedang mengecek ponselnya di dalam mobil bersama dengan Velicia.
Setelah drama pengakuan sang suami yang tidak lupa ingatan dan hanya berpura pura, Velicia lantas langsung digiring oleh Davin menuju mobilnya yang terparkir tak terlalu jauh dari tempat mereka.
Velicia: "Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku Vin?" sorot mata yang begitu tajam menandakan betapa meluapnya amarah Velicia saat ini.
Davin: "Tidak" sahutnya singkat yang semakin serius pada ponselnya.
Velicia: "Sebenarnya kau tidak lupa ingatan atau ini hanya sebagai alasan supaya kau bisa menolongku tadi?"
Pria yang berstatus sebagai suami sah dari Velicia hanya menatap balik bagaimana mata yang indah itu memancarkan amarah.
Tersenyum kecil pada wanita yang sedari tadi sudah tidak tahan ingin mendengar segala penjelasan darinya.
Davin: "Aku mencintaimu. Sudah hanya itu"
Mungkin bila Davin mengatakan itu saat disituasi lain Velicia akan bahagia mendengar kalimat yang terdengar begitu indahnya.
Namun kali ini pria itu mengatakannya pada saat Velicia membutuhkan penjelasan serinci rincinya.
Menodong akan maksud dari Davin yang berpura pura mengalami amnesia dan menyiksa batin Velicia selama ini.
Velicia: "Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu kali ini benar benar mencintaiku?"
Davin: "Karna semua yang aku lakukan sejak awal hingga saat ini semua hanya untukmu" sahutnya lansung dengan senyum ringan yang ia tampilkan.
Davin: "Memperkosamu, menghamilimu, menikahimu dan mengikatmu dalam hidupku itu semua hanya untukmu" lanjutnya yang membuat Velicia tidak tahu akan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Semua hal keji yang Davin lakukan pada Velicia hanya semata mata untuk Velicia?
Apa Davin sudah gila?
Memberikan penderitaan dulu padanya saat Velicia memiliki kebahagiaan dengan orang lain disebut dengan tindakan hal baik untuk Velicia?
Velicia: "Apa maksudnya Vin?" tanyanya heran.
Davin: "Tidak ada" gelengnya pelan dengan senyum yang masih belum hilang dari bibirnya di wajah tampannya.
Davin: "Pasang sealbelt mu" perintahnya saat dirinya sendiri mulai memasang sealbelt yang ada pada kursi pengemudi.
Velicia: "Aku tidak mau!" serunya menolak perintah dari suaminya.
Velicia: "Jelaskan dulu!" suaranya lebih lantang lagi saat Davin hanya menatapnya tanpa berkedip.
Velicia: "Jelaskan serinci rincinya. Semuanya. Ya! Semuanya!" todongnya lagi meminta keterangan dari Davin.
Velicia: "Mengapa kamu berpura pura amnesia dan menyiksa ku disetiap hariku dengan kata kata pedasmu?"
Velicia: "Mengapa kau bilang bahwa semua yang kamu lakukan hanya semata mata untukku"
Velicia: "Dan lagi"
Velicia: "Jika memang kau tidak amnesia lalu mengapa kau menerima kembali mantan kekasihmu?"
Velicia: "Mengapa kamu menghamilinya?!"
Velicia: "Mengapa kamu melakukannya dengan kakak ku sendiri Davin?! Bukankah kamu baru saja mengatakan bahwa kau mencintaiku? Lalu cinta apa yang kamu maksud setelah menghamili wanita lain?"
Velicia: "Apa maksudnya sekamar dengan wanita lain jika kamu memang tidak lupa ingatan?!"
Velicia: "APA?!!!"
Rasa yang menghimpit akhir akhir ini pada diri Velicia benar benar menyiksa batinnya. Dan untuk seketika, saat Davin suaminya mengatakan bahwa dirinya tidak lupa ingatan, tidak amnesia seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang dokter yang merawat suaminya Velicia lantas langsung ingin meluapkan semuanya.
Mengeluarkan betapa pedihnya hari hari saat Davin melupakannya dan juga putri mereka dan lebih memilih tinggal sekamar dengan kakaknya yang juga adalah mantan kekasih dari suaminya.
Davin: "Jangan sekarang Vei"
Davin perlahan meraih kedua tangan Velicia, mengelus punggung tangannya dan menggenggamnya erat.
Davin: "Tolong percaya padaku"
Davin: "Percaya bahwa semua hanya untuk kebaikanmu"
Velicia: "Apa yang harus aku percaya pada suami yang meniduri wanita lain hingga hamil dalam rumah yang sama dengan istri sesungguhnya?"
Velicia menarik paksa kedua tangannya dalam genggaman suaminya. Merasa kesal bercampur marah saat mengingat setiap tanda merah yang tertera di leher sang kakak bila baru keluar dari kamar yang Davin dan sang kakak tempati.
Velicia: "Apa kau pikir aku wanita yang mudah kau bohongi Vin?"
Davin: "Itu bukan anakku" sahutnya menimpali.
Namun meski sekilas ada secercah kebahagian pada diri Velicia saat mendengarnya.
Davin: "Ingat perkataanku baik baik"
Davin: "Aku tidak pernah menuduri wanita lain sejak pertama aku hidup hingga saat ini selain dengan dirimu"
Davin: "Jadi bagaimana mungkin Vallen bisa hamil anakku jika aku saja hanya memasukan milikku pada milikmu. Kamu satu satunya Vei" terangnya panjang lebar yang semakin membuat hati Velicia merasa lega saat mendengarnya.
Velicia: "Lalu anak siapa itu?"
Velicia: "Bukankah kalian tinggal dalam kamar yang sama? Apa yang kamu lakukan padanya disetiap malam Davin?!"
Davin: "Vei?" panggilnya lirih setelah menghela nafas perlahan.
Davin: "Itu bukan anakku dan aku tidak pernah menyentuhnya. Apa sulit bagimu untuk percaya akan hal itu?"
Velicia: "Sulit!" sahutnya cepat.
Velicia: "Sangat sulit. Maka kau harus menjelaskan semuanya" pintanya memaksa.
Davin: "Cukup percaya saja padaku dan jangan lakukan hal lain selain terus berada di sampingku dengan mencintaiku"
Velicia: "Aku butuh penjelasan Davin!"
Davin: "Kita pulang sekarang" sahutnya tidak menghiraukan sang istri.
Velicia: "DAVIN!" bentaknya.
Davin: "Pakai sealbelt mu"
Entah karna suaminya yang tidak menghiraukannya atau karna hormon pada dirinya yang mulai naik turun membuat Velicia kali ini sangat mudah sekali menitikan air mata.
Dan karna itu pula Davin pun merasa heran, semudah itu kah Velicia menangis?
Velicia: "Aku hamil"
Velicia: "Jadi bisakah kau memberi penjelasan karna janin ini?"
Davin: "Kamu hamil?!" rasa terkejut itu begitu ketara dari raut wajah Davin yang langsung terlihat bahagia.
Velicia: "Iya" sahutnya terlihat sinis dan tidak senang.
Velicia: "Dan dia dihasilkan karna sebuah kecelakan. Kecelakaan saat ayahnya sedang mabuk berat dan mengigau bahwa yang dia tiduri adalah kekasih modelnya bukan istri sah nya" tutur tak sedap itu hanya ditampik dengan raut wajah bahagia dari Davin.
Davin: "Kata siapa dia ada karna kecelakaan?"
Davin: "Dia ada karna memang ayahnya mengharapkannya"
Davin: "Kau pikir aku mabuk berat?"
Davin: "Seseorang yang mabuk tidak akan kuat menuntaskan hasratnya berkali kali hingga sang istri melenguh keenakan disetiap tusukan"
Kalimat yang berisi akan kata kata yang mengandung maksud lain itu membuat diri Velicia termenung.
Memikirkan setiap kata yang Davin lontarkan dengan cukup sangat seksama.
Jadi Davin tidak amnesia?
Suaminya tidak lupa ingatan akan dirinya?
Dan waktu itu murni Davin melakukannya karna ingin membuat Velicia hamil?
Davin tidak mabuk?
Lalu apa maksud Davin menyebut nama kakaknya dalam kegiatan rutin mereka dulu?
Davin: "Karna kau hamil, maka pulang lah terlebih dahulu ke Surabaya. Aku akan bicara pada daddy mengenai kau yang telah mengetahui semuanya"
Velicia: "Maksudmu daddy David?" tanyanya ragu saat Davin baru saja membuka ponselnya kembali.
Davin: "Memangnya siapa lagi daddy ku selain dia?" sahutnya yang mulai melakukan panggilan keluar.
Davin: "Entah mengapa dia selalu selangkah di depan ku. Padahal ini semua adalah rencanaku namun daddy ku itu selalu tahu akan semua maksudku"
Davin: "Dan kamu!"
Davin: "Jangan pernah sekalipun meminta cerai dariku. Kau mengerti?!"
Davin: "Atau aku akan menyiksa batin mu lebih dari pada yang kemarin"