Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 63



"Bagaimana mungkin kau menjadi istriku?"


Pintu yang baru saja dengan sempurnanya tertutup setelah kepergian seseorang yang berpamitan pada sang istri hendak menemui dokter yang menangani putranya disambut langsung dengan pertanyaan pertanyaan yang teramat membingungkan.


Davin dengan spekulasinya, Davin dengan pemikirannya yang membuat Celine, Melliza terutama Velicia merasa aneh dengan apa yang dipertanyakan oleh Davin.


Karna apa yang menjadi pertanyaan Davin tidak sesuai akan apa yang pernah terjadi sebelumnya.


Terutama saat Celine menunjukan beberapa foto di ponselnya untuk dapat adik laki lakinya lihat.


Davin: "Apa ini rekayasa? Kau mengedit ini kak?"


Wajah acuhnya menjadi perhatian tersendiri bagi Velicia.


Celine: "Untuk apa aku mengedit wajah papan mu? Lagi pula coba kamu lihat, difoto pernikahan ini yang terlihat tersiksa adalah Velicia bukan kamu Vin"


Dan karna ucapan itu, Davin mulai menelisik wajah Velicia. Menajamkan matanya dan memikirkan sesuatu akan hal yang tidak bisa Velicia mengerti, membuat wanita itu takut akan segala hal yang bisa saja terjadi.


Davin: "Apa pernikahan kita karna dijodohkan? Aku yakin tidak ada cinta di dalam foto ini. Terlihat jelas bahwa aku tidak mencintaimu"


Celine: "Kau sudah gila?!" serunya.


Celine: "Dengan sifatmu yang seperti ini apa mungkin mommy dan daddy bisa menjodohkanmu wahai pria keras kepala?"


Davin: "Lalu bagaimana ceritanya dia bisa menjadi istriku?" selanya langsung saat kakak perempuan satu satunya baru saja menyelesaikan kalimatnya.


"Kau memperkosanya Vin" suara lemah lembut yang begitu lirih dan begitu Davin sayangi mulai mengangkat suara untuk pertama kalinya.


Melliza mendekat ke arah Velicia, menggenggam erat tangan kirinya seolah memberikan dukungan agar Velicia tidak menyerah pada keadaan yang ada. Keadaan yang lagi lagi merugikan Velicia, sama halnya dengan dulu saat Velicia terpaksa harus menerima Davin karna sikap pemaksanya.


Mommy: "Kau memperkosanya hingga dia mengandung anakmu" lanjutnya yang membuat Davin lantas melihat ke arah perut rata pada diri Velicia.


Davin: "Mommy yakin aku memperkosanya?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan oleh Melliza.


Davin: "Lalu bagaimana cara Davin memperkosa dia?"


Davin: "Dalam mimpi Davin kah?"


Davin: "Atau dia yang melemparkan diri dan memaksa keadaan supaya Davin terdengar memperkosa dia?"


Wanita yang menjadi bahan pembicaraan lantas tersayat mendapati perkataan Davin yang terlewat batas. Setelah jatuh karna sebuah keadaan kini Velicia harus tertimpa dengan sebuah kenyataan bahwa Davin tidak mengingat setiap detik yang pernah Davin lakukan pada Velicia.


Entah itu sikap buruk Davin yang pemerkosa atau sikap manis Davin yang selalu ada untuk Velicia.


Celine: "Kau gila Vin!" bentaknya karna ucapan Davin yang berhasil membuat Velicia menangis dalam diamnya.


Davin: "YA!"


Davin: "Aku sudah gila. Aku benar benar gila karna wanita ini" tunjuknya pada Velicia.


Davin: "Aku mengalami kecelakaan lalu aku koma. Setelah sadar aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa aku telah menikah, beralasan bahwa aku telah memperkosa dia hingga dia hamil. Pertanyaanya kapan aku memperkosa dia?"


Davin: "Saat aku koma?!"


Davin mulai meninggikan suaranya bahkan seakan tidak perduli lagi pada momny nya yang masih setia berdiri di samping Velicia.


Seakan menutup sebelah matanya karna tidak percaya pada kenyataan yang disampaikan oleh kakak dan mommy nya.


Davin: "Apa dunia sudah mendekati kiamat hingga orang koma bisa memperkosa?"


Mommy: "DAVIN?!"


Mommy: "Kesabaran mommy bisa habis kalau kau terus menyebut nama wanita itu!"


Mommy: "Sesuai perkataan daddy! Kau harus menerima Velicia dan tinggal bersamanya. Atau keluar dari keluarga Mayndra"


Namun tiba tiba seakan dihantam oleh sesuatu Davin merintih kesakitan dengan memegangi kepalanya.


Bahkan Davin berteriak dan memanggil manggil mommy nya untuk bisa menolongnya dari sebuah rasa sakit yang tidak bisa Melliza dan Celine jabarkan dalam ilmu kedokteran yang telah dianutnya.


Dan sejak saat itu dokter memperingati pada pihak keluarga begitu pula dengan semua yang berhubungan dengan Davin untuk tidak terlalu memaksa Davin berfikir terlalu keras dalam upaya mengingat akan hal yang tidak ada diingatannya atau memorinya.


Harus membiarkan Davin mengalir bagai alir supaya memori memori itu bisa datang dengan sendirinya.


Karna bagi dokter kemungkinan bener Davin bisa pulih, namun ada kemungkinan pula Davin tidak pulih tergantung dari kemauannya untuk mengingat akan masa yang tidak diingatnya.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya...


Setelah memastikan Davin beristirahat di dalam kamar yang dulu biasa ditempati oleh Davin dan Velicia, Velicia menemui kedua orang tua Davin yang hendak berpamitan untuk kembali ke Surabaya.


Mommy: "Kamu yang sabar ya sayang. Davin pasti sembuh dan ingat lagi sama kamu" peluknya penuh kasih sayang.


Mommy: "Kamu harus percaya itu. Ok?"


Kecupan manis Melliza dilayangkan pada kening Velicia. Memberikan secercah kekuatan pada satu satunya menantunya agar tetap bisa bertahan dari cobaan yang menimpa keluarga putra kesayangannya.


Velicia: "Iya mommy.. Veli akan berusaha dan mencoba untuk lebih bersabar lagi"


Mommy: "Ya sudah mommy masuk mobil dulu yah. Kamu hati hati, kalau ada apa apa kasih kabar ke mommy jangan lupa" ucapnya mengingatkan.


Velicia: "Iya mommy"


Mommy: "Jangan takut, Celine pasti akan membantu pemulihan Davin juga"


Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan pada menantunya, Melliza menaiki mobil milik Davin dengan dibantu oleh Kanya putri bungsunya yang akan diantar oleh supir menuju bandara bersama dengan Kanya begitu pula dengan David suaminya.


Namun sebelum itu, sebelum David ikut menaiki kendaraan yang berisi akan perempuan yang masih sangat ia cintai hingga kini, dirinya berdiri di hadapan Velicia.


Menatap tajam menantu yang dinikahi oleh putranya secara paksa.


Akan tetapi meski tatapannya tak kalah tajam dari tatapan putranya Davin, David masih memiliki sikap lembut pada menantunya yang untuk pertama kalinya Velicia rasakan.


Meski bukan pelukan hangat atau kecupan manis seperti yang Melliza berikan, tapi telapak tangan yang cukup lebar itu lebih menenangkan Velicia dari pada sebuah pelukan.


Seakan merasa terlindungi dan lebih mendapat kekuatan atas tindakan David yang memegangi puncak kepala Velicia.


Daddy: "Dengarkan daddy baik baik" ucapnya sambil tangan kanannya masih setia di atas kepala Velicia.


Daddy: "Jangan pernah tinggalkan Davin sendiri dalam kondisinya yang seperti ini. Meski dia menolak dirimu, meski dia mengusirmu, meski dia membencimu maka biarkan saja jangan hiraukan perkataannya"


Daddy: "Selagi tangannya tidak berbicara, kakinya tidak ikut menyertai dan tidak ada kekerasan maka jangan tinggalkan dia. Kau mengerti?"


Velicia hanya mengangguk perlahan dan memberikan jawaban dari ucapan ayah mertuanya yang terdengar akan lebih menyiksa batin dan juga dirinya.


Daddy: "Teruslah di sampingnya hingga dia pulih. Karna jika dia sudah pulih dan kau tidak berada di sampingnya, aku selaku daddy nya tidak tahu sekejam apalagi yang bisa anak itu lakukan padamu. Kau harus percaya dan tanamkan dalam hatimu bahwa dia pasti sembuh"


Daddy: "Jangan takut, daddy yang akan pertama menghajarnya jika dia sudah kelewat batas"