
"Aku tidak mau diacuhkan!"
"Harus berapa kali lagi aku bilang kalau aku tidak akan kembali pada keponakan mu?"
"Vin?"
"Ngomong Vin, jangan diam terus"
"Davin.. Aku masih istrimu jangan diamkan aku seperti ini"
Sudah tiga hari ini Davin masih tidak mau merespon ucapan istrinya. Bahkan saat Velicia menolak untuk dikurung kembali dan ingin bebas keluar masuk dalam usahanya yang ingin bertemu dengan putri dan suaminya, Davin tetap diam dan tidak mau berbicara pada istrinya.
Velicia pun kini masih terus berusaha membujuk suaminya agar tidak bersikap diam lagi pada dirinya.
Mengikuti setiap langkah panjang Davin yang baru saja keluar dari dalam kamar yang biasa mereka gunakan bersama sebelum perdebatannya mengenai keponakan suaminya.
Bahkan sesekali berusaha membujuk Davin melalu makanan yang ia siapkan sendiri, meski wanita satu anak itu tahu bahwa suaminya tidak akan mau menyentuh makanannya itu sudah lebih baik karna Velicia memiliki niatan untuk memperbaiki semuanya.
Velicia: "Sampai kapan kamu akan bersikap diam terus padaku Vin?"
Velicia: "Vania juga membutuhkanku. Aku bundanya"
Wanita itu terus saja berusaha, mencoba menganggu makan siang suaminya yang terlihat tenang tanpa adanya dirinya di sisi pria itu selama tiga hari ini.
Velicia: "Vin?!"
"Maaf pak" suara lain yang mengalihkan pandangan Davin dari piringnya.
"Di luar ada seorang wanita mencari bapak" lanjutnya.
Davin: "Suruh dia menunggu di ruang tamu, aku akan menemuinya setelah selesai makan" instruksinya pada salah satu pekerja pria yang bekerja di rumahnya.
"Baik pak, kalau begitu saya turun dulu" pamitnya yang langsung diangguki oleh sang majikan.
Melihat suaminya yang telah menyelesaikan makannya tanpa menghabiskan makanannya hanya demi menemui seorang wanita lain membuat segurat perasaan tiba tiba timbul menyiksa dada Velicia. Begitu sesak dan menyiksanya saat suaminya memilih menemui wanita yang belum ia ketahui dibanding berbicara dengan Velicia yang sudah jelas adalah istrinya.
Velicia: "Kamu mengatakan bahwa aku selingkuh dengan keponakan mu, lalu apa yang kamu lakukan?" sindirnya saat Davin terus saja mengacuhkannya dan berjalan menjauh darinya.
Velicia: "Kau bahkan selingkuh secara terang terangan di dalam rumah ini?" sindirnya lagi dengan terus mengekori suaminya.
Velicia: "Apa ini yang disebut ayah kandung sedang mencarikan seorang ibu tiri bagi putrinya yang masih sangat bayi namun membutuhkan ASI ibu kandungnya?"
Velicia mulai diam tak melanjutkan langkahnya, seolah merasa lelah akan tingkah Davin yang sudah tidak menganggapnya lagi meski baru tiga hari lamanya.
Dia hanya menatap akan setiap langkah Davin yang terus menjauh hendak mendekati anak tangga.
Velicia: "Kau hebat Vin"
Velicia: "Kau ingin mengikatku karna aku adalah ibu dari putri mu namun kamu juga ingin mendapat kebahagian dengan wanita lain karna kamu belum juga mencintaiku"
Velicia: "Kau benar benar hebat Vin, sangat hebat"
Segala penurutan dan yang dilontarkan Velicia sama sekali tidak mendapat tanggapan dari orang yang disindirnya.
Suaminya terus melangkah pergi menuruni anak tangga tanpa menghiraukannya. Membuat perasaannya sangat hancur.
Seharusnya Davin yang terlebih mencintainya, karna pria itu yang terlebih dulu mengejarnya dan memaksanya. Namun mengapa dalam kisah Velicia, harus wanita ini yang terlebih dahulu merasakan adanya sebuah rasa yang awalnya tidak ia harapkan.
Mengapa harus Velicia terlebih dahulu yang mencintai Davin bukan sebaliknya?
Sudah tiga jam lamanya Velicia terus menangis karna sebab yang masih juga sama.
Dirinya begitu hanyut dalam tangisannya, seakan tidak ada waktu baginya untuk berhenti dan memikirkan yang lainnya selain suaminya yang tengah berduaan dengan wanita lain di bawah sana. Hingga tanpa ia sadari pintu kamar yang ia tempati mulai terbuka dengan perlahan.
Menghadirkan sosok yang mulai berjalan teratur ke arahnya.
Velicia: "Mau apa kamu ke sini?"
Dirinya yang telah sesegukan tidak membuat pria yang berjalan ke arahnya menghentikan langkahnya.
Pelukan yang begitu sangat ingin memiliki telah mengikat kuat perasaan Velicia.
Pelukan yang juga membawanya pada sebuah mini ranjang dalam sebuah istana kecil mainan putrinya membuat Velicia tetap diam dalam perasaan kecewanya.
"Aku tidak selingkuh darimu" bisiknya yang dilanjuti dengan ******* basah pada bibir tipis Velicia.
Velicia: "Mengapa aku harus percaya padamu?" selanya saat mereka sama sama mengambil nafas.
Davin: "Karna aku adalah suami mu" sahutnya yang mulai menindih tubuh mungil istrinya.
Velicia: "Aku juga istrimu, mengapa kamu tidak percaya bahwa aku tidak berselingkuh darimu?"
Davin: "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak percaya padamu"
Satu demi satu Davin terus berusaha untuk melepaskan pakaian yang dikenakan oleh istrinya.
Merabanya dan menikmati hal yang telah lama ia tunggu sejak kelahiran putrinya.
Terus berusaha mencapai sebuah keinginan yang ingin dilepaskan, dengan kali ini tanpa adanya penolakan. Hanya ada sikap diam dan penurut yang istrinya berikan.
Velicia: "Sakit Vin" rintihnya saat pria itu baru saja menyelesaikan babak awalnya.
Davin: "Apa masih tidak nyaman?"
Davin melonggarkan sedikit jarak kedekatannya, berusaha membuat istrinya nyaman dalam hubungan intim mereka.
Velicia: "Aku sakit saat kau mengutamakan menemui wanita lain terlebih dahulu lalu baru menemuiku dan melampiaskan nafsumu" tatapan kosong yang mengarah pada Davin telah mengusik kenyamanan Davin dalam berhubungan.
Velicia: "Tidak bisakah kau lampiaskan nafsu mu terlebih dahulu padaku baru menemui wanita lain?" perkataannya yang begitu pilu namun tidak dengan tindakannya.
Wanita itu bergerak aktif dan membalikan keadaan dengan Davin yang berada di bawahnya.
Velicia: "Tidak bisakah membuat wanita lain menunggu beberapa permainan kita?"
Velicia mulai bergerak aktif di atas suaminya. Mencoba menguasai dan mempermainkan sebuah permainan tarik ulur dengan nafsu Davin yang bisa meledak kapan saja.
Velicia: "Aku tidak suka melihat kamu menemui wanita lain sebelum menemui aku terlebih dahulu"
Davin: "Aku tidak selingkuh Vei" rintihnya karna kelincahan Velicia.
Velicia: "Aku masih belum percaya"
Davin: "Kamu harus percaya sayang, karna.. bisakah kau lebih cepat lagi sayang? Aku sudah tidak tahan"
Davin: "That right honey" rancaunya mulai merasakan.
Tubuhnya yang menegang di bawah Velicia membuat Velicia semakin gencar dalam memenuhi rasa yang ingin dirasakan oleh Davin.
Matanya yang terpejam, keringatnya yang mulai bercucuran membuat nyali Velicia kian melonjak untuk mengantarkan Davin pada titik kenikmatan yang tidak bisa Davin dapatkan dari wanita mana pun.
"Jangan pernah berselingkuh dariku, karna Davin Aditya Mayndra hanya milik Velicia Atmarini Ellena seorang"
"Tidak ada yang berhak bersaing merebutkan cintamu denganku kecuali putri kita"