
Sepanjang malam hingga mulai terdengarnya lantunan adzan subuh dalam kesunyian yang terus menyapa dalam belenggu yang ada telah begitu menyiksa seorang wanita.
Wanita yang hanya bisa diam dengan sesekali air matanya mencuri kesempatan darinya untuk terjun bebas melalui pelupuk matanya.
Rasa sakit, perih dan kecewa bercampur dalam sebuah rasa yang begitu menyesakkan.
Namun sedikit terhibur akan sebuah dengkuran halus yang kadang kala menghentikan pikiran negatifnya. Pikiran negatif tentang suaminya yang tiba tiba untuk pertama kalinya mengangkat tangannya untuk berhenti sesaat mengurusi dirinya.
Davin dengan sikapnya yang lain telah memporakporandakan perasaan Velicia bertubi tubi kali ini.
Bagaimana cara Davin meninggalkannya bahkan saat aroma pelepasan mereka masih begitu kental tercium membuat Velicia hanya bisa terdiam saat Davin berpamitan tidak akan pulang dan akan tinggal di luar untuk beberapa waktu yang tidak disebutkan oleh suaminya.
Dan sepanjang sore hari hingga dini hari menjelang, wanita bermata sembab itu tidak henti hentinya berpikir mengenai wanita yang Davin sebut dan memiliki kesamaan nama dengan putri mereka.
"Vania"
Lirihnya dengan mengelus puncak kepalanya lalu memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya saat bibir tipisnya menyentuh benda kenyal yang masih begitu kencang dan sangat halus dari permukaan kulit bayi mungil yang masih setia terpejam.
Namun semakin dirinya berusaha menahan diri dan mengontrol perasaannya, bayangan wanita lain yang belum ia ketahui wajah dan bentuk tubuhnya itu ikut timbul bersamaan dengan ciumannya pada pipi sebelah kiri putrinya.
Seiring dengan jatuhnya air mata yang kesekian kalinya membuat dirinya semakin hanyut dalam rasa kecewa yang teramat.
Dia pernah singgah di hatiku untuk beberapa waktu yang lama..
Kalimat itu terus saja mengikuti pikiran negatif dan menimbulkan rasa sakit yang teramat.
Bagaimana mungkin pria yang telah menikahinya, berjanji akan setia menjaga dan melindunginya dengan beraninya menamai putri yang dipaksakan oleh pria itu sendiri dengan nama yang pernah singgah di hatinya.
Davin anggap Velicia itu apa?
Velicia: "Ayah memperkosa bunda dulu berkali kali, memaksa bunda untuk bisa memilikimu. Lalu menamakanmu sama persis dengan masa lalunya. Menurutmu apakah dia ayah yang baik untukmu?" katanya pada bayi yang sama sekali tidak mungkin meresponnya.
Velicia: "Dia ayahmu, memang dia sangat baik untukmu. Tapi dia suami bunda, apa tindakannya itu baik untuk bunda?"
Lagi lagi kepedihan menyertainya, menyempurnakan kesedihan yang sangat berkepanjangan bagi wanita muda yang telah lama melepas segalanya hanya demi melayani suami dan putrinya.
Dipaksa untuk angkat tangan dan tidak boleh berkecimpung lagi di dunia gambar yang menghasilkan karya luar biasa bagi penikmatnya oleh pria yang sangat tidak ingin dibantah perkataannya.
Velicia: "Kenapa ayah mu baik terhadapmu namun tidak pada bundamu?"
Velicia mulai memeluk erat putrinya, menangis meraung raung membuat Vania kecil menunjukan pergerakannya karna terganggu olehnya.
Velicia: "Bukankah kau terlahir dari rahim bunda nak? Bukankah bunda yang mengandungmu? Lalu mengapa ayah mu memberimu nama seperti masa lalunya?"
Velicia: "Apa dia belum bisa melupakan kenangannya dulu bersama orang lain?"
Velicia: "Lalu ayahmu anggap bunda ini apa selama ini? Mainannya? Atau penyalur s*xsnya?"
Semakin berucap lebih jauh lagi pada bayinya yang mulai terbangun dan menangis, Velicia pun semakin gencar dalam isak tangisnya.
Velicia: "Apabila ayah memang belum mencintai bunda ya sudah tidak perlu diutarakan. Mendengarnya saja sudah menyakitkan. Tapi.. tapi..
Semakin keraslah raungannya hingga membuat Vania semakin lebih keras lagi dalam menangisnya. Seakan tahu tentang penderitaan bundanya, seakan bisa ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.
Velicia: "Tapi mengapa harus menyebutkan nama wanita lain yang pernah ia cintai? Mengapa.. hiks.. hiks.. Mengapa harus memberimu nama seperti wanita yang dicintainya dulu? Mengapa?!"
Davin tidak menikamnya dengan pedang, tidak pula menusuknya menggunakan pisau kecil yang sebatas untuk mengupas buah. Namun perkataannya yang belum lama ini lebih menyakitkan dibanding semua jenis pisau yang ada. Mencabik cabik Velicia hingga terdasar rasa keputusasaan.
Seolah lidah Davin telah kaku dan lupa akan janjinya yang akan membuat Velicia bahagia dengannya, melupakan bagaimana egonya dulu yang mengharuskan Velicia melupakan mantan kekasihnya dan memaksa untuk hidup bersama dengan pria yang telah memperkosanya dan menghamilinya.
Enam hari berlalu hendak menuju seminggu kepergian Davin yang pergi entah kemana tanpa memberi kabar hingga kini atau bahkan hanya untuk memberi sapaan paginya pada Vania yang setiap harinya terbiasa dengan suara tegas ayahnya.
Davin yang setiap paginya tidak pernah lupa dengan morning kiss nya untuk Velicia, atau sapaan hangat pada Vania yang baru saja membuka mata setelah terpejam dan beristirahat dengan begitu lama kini telah tiada.
Kebiasaan itu mulai hilang seiring bertambahnya hari yang lebih mengerikan bagi Velicia. Seakan kosong dan tidak berpenghuni rumah yang ia tempati tanpa ada Davin yang sebenarnya notabenya pendiam.
Bahkan meski Velicia disini yang tersakiti, meski Velicia yang menangis lebih banyak namun dirinya tetap menghubungi Davin untuk lekas pulang.
Tapi sayang, usahanya tidak berbuah manis karna dengan sengajanya Davin tidak membawa ponselnya.
Membuat segurat rasa khawatir bercampur kepedihan menyelimuti perasaan Velicia disetiap harinya.
Apakah sudah berakhir seperti ini?
Satu kalimat yang terus melantun indah di benaknya disetiap pagi. Menyapa hal yang memilukan saat seseorang tidak lagi terbaring memeluknya dengan keposessifannya.
"Ibu mau kemana?"
Velicia terhenti saat sedang mengunci pintu kamarnya dengan menggendong Vania di tangan kirinya.
Suara yang mengintrupsinya langsung membuat dirinya berbalik badan dan melihat siapa gerangan yang bertanya padanya.
Velicia: "Oh mbak Yanti"
Velicia: "Mau ajak Vania keluar mbak, kasihan di dalam rumah terus pasti dia bosan" lanjutnya memberi jawaban.
Yanti: "Tapi bapak sedang tidak ada di rumah, nanti bagaimana kalau bapak marah kalau ibu keluar tanpa bapak?"
Velicia: "Tidak apa apa, aku sudah terbiasa dimarahi olehnya" sahutnya dengan senyum getirnya.
Velicia lalu berjalan cepat meninggalkan pekerja rumah tangganya menuruni setiap anak tangga dengan menggendong Vania. Ada sekelibat rasa perih saat nama suaminya disebut.
Bahkan saat pekerja rumah tangganya berteriak memanggil namanya agar tidak pergi tetep tidak ia hiraukan. Karna kali ini Velicia benar benar tidak kuat jika terus saja berada di rumah dengan bayangan bayangan Davin yang pergi meninggalkannya tanpa sehelai kain di tubuhnya kala itu.
Meski beberapa pekerja rumah tangganya atau dua penjaga gerbang pria ikut menghalangi langkahnya namun Velicia bertekad tetap ingin pergi dengan Vania.
Meninggalkan sejenak rasa sakit yang akhir akhir ini menyiksa batinnya.
🍂🍂🍂
Freshly Brewed Coffe
Teman santai kedua bagi Velicia selain bayi yang tengah meminum susu botolnya dengan semangat setelah ocehan panjang yang berakhir dengan tangisan dan rengekan karna merasa kehausan.
Velicia: "Putri cantik bunda haus yah?" ucapnya pada Vania yang terus saja melihat ke sana dan kemari, menatapi lingkungan yang untuk pertama kalinya baru ia kunjungi.
Velicia: "Habis ini kita ke mall ok?" tawa ringannya mengikuti setiap pergerakan jari lentik putrinya.
Velicia: "Kita beli baju, kita beli mainan, lalu kita beli apalagi yah?" katanya mencoba berkomunikasi dengan putrinya.
Velicia: "Pokoknya kita beli semuanya! Kita habiskan uang ayah bersama sama ok?! Percuma ayah punya uang banyak kalau hanya berdiam diri di bank, lebih baik kita habiskan saja. Dari pada diberikan pada orang lain"
Velicia: "Iya tidak?!"
Velicia: "Kamu setuju kan dengan ide bunda?"
Bayi kecil itu hanya diam, seperti berusaha menangkap akan ucapan ibunya yang sama sekali belum ia mengerti.
Orang yang ingin ia hindari untuk jangka waktu yang sangat lama.
"Senang bertemu dengan tanteku kembali" sapa pertamanya.
Pria yang pernah singgah di hatinya dulu lantas mendaratkan pantatnya pada sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan dirinya.
"Mengapa hanya berdua? Dimana pria perebut kekasih orang itu?" lanjutnya dengan melihat ke sekeliling.
Velicia: "Namanya Davin Evan, dan jangan lupa bahwa dia adalah pamanmu" sahutnya sinis tidak menyukai ucapan sang mantan kekasih.
Evan: "Oh sorry"
Evan: "Tanteku tidak suka akan sebutan itu atau lebih baik aku menyebutnya pria pemerkosa? Atau pria posessife? Atau lebih bagus lagi pria hypersex?"
Evan: "Mana yang lebih tanteku suka?"
Velicia tidak menjawab lagi dan lebih memilih untuk diam sambil memperhatikannya tanpa berkedip.
Evan: "Kau ada masalah dengannya?"
Velicia: "Tidak" sahutnya langsung tanpa berpikir.
Evan: "Jangan bohong"
Evan: "Aku mengenalmu dan mungkin aku mulai bisa mengenal putrimu"
Pria itu menatap lekat mata tajam dari bayi yang terus ikut memperhatikannya.
Evan: "Putrimu seperti sedang menjelaskan bahwa jangan dekati ibuku karna dia sedang tidak bersama dengan ayahku"
Tapi sayangnya sebelum Velicia menjawab akan serentetan kalimat dari mulut mantan kekasihnya, tiba tiba saja bayi perempuan dalam stroller yang ia bawa diangkat oleh sepasang tangan lain.
Menarik paksa pandangan Velicia saat dirinya juga ikut berteriak karna takut siapa gerangan yang berani mengambil putrinya.
Akan tetapi, setelah melihat sosok itu Velicia langsung merasa lega. Tapi ternyata kelegaan itu tidak berlangsung lama.
Velicia: "Mau dibawa kemana Vania?!" cegatnya dengan mencekal lengan kanan Davin.
Davin: "Lepas" katanya begitu dingin dan lirih.
Velicia: "Tidak! Vania datang bersamaku maka dia akan pulang juga bersamaku" tolaknya tetap menahan langkah Davin.
Davin: "Aku bilang lepas!" serunya dengan nada tinggi membuat seisi ruangan menatap mereka termasuk Evan yang masih setia berdiam diri.
Davin: "Kenapa?"
Davin: "Kenapa harus menangis? Kau sedang berakting di depan banyak orang?"
Bentakan Davin tadi seolah mengembalikan luka yang belum lama pria itu torehkan di hati Velicia, membuat dirinya dengan sendirinya menitikan air mata.
Davin: "Kau ingin menunjukan pada semua orang termasuk pria ini bahwa aku lah yang jahat? Iya?!" serunya semakin meninggi.
Velicia: "Disini banyak orang, kita bahas di rumah saja" bujuknya berusaha menghindari suasana yang tidak enak dipandang.
Davin: "Kenapa?"
Davin: "Kenapa harus pulang?!"
Davin: "Kau takut semua orang tahu bahwa kau telah berselingkuh dari suami mu dengan mantan kekasihmu dulu yang kini telah menjadi keponakan mu dengan membawa putrimu?"
Davin: "Kau sungguh hebat Vei" sindirnya dengan menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
Velicia hanya menggeleng cepat dengan isak tangis yang semakin meninggi. Beruraian air mata yang tak kunjung jua menepi.
Karna untuk kesekian kalinya Davin lagi lagi salah paham pada dirinya, menuduhnya berselingkuh bahkan Velicia belum lama duduk bersama dengan Evan.
Davin: "Jangan harap kamu bisa melihat Vania lagi"
Kalimat yang berbarengan dengan Davin yang menunjuk tepat di arah matanya membuat tiba tiba jantung Velicia serasa copot dari tempatnya.
Bahkan saat pria yang sedang menggendong seorang bayi itu melangkah panjang hendak keluar pintu, Velicia dengan tergopoh gopoh langsung mengikutinya bahkan tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang sedang melihat ke arahnya.
Velicia: "Vin?!" panggilnya terus berusaha mendekat.
Velicia: "Kamu salah Vin, aku tidak berselingkuh. Aku tidak..
Velicia: "DAVIN?!" teriaknya saat Davin sudah mulai berdiri di depan pintu mobilnya.
Velicia: "Aku ingin kita pisah. Aku ingin kita cerai!" serunya terlontar dengan mulusnya seiring tangisan yang kian membuat sepasang mata itu semakin sembab.
Dan karna kalimat itu, Davin pun menghentikan pergerakannya. Menatap wajah mungil yang berusaha memanggilnya sedari tadi dalam gendongannya.
Velicia: "Percuma kita menikah, percuma aku melayanimu, percuma aku menjadi ibu dari anakmu. PERCUMA!"
Velicia: "Aku menjadi istrimu selama ini namun kamu sampai saat ini belum mencintaiku, aku tetap terima. Aku selalu melayanimu, memberimu segala kebutuhanmu namun di pikiranmu masih saja ada masa lalu aku pun tetap diam karna tidak bisa menolak kemauanmu. Aku melahirkan putrimu, mengandungnya dengan perjuangan karna menghadapi sikapmu namun kamu malah memberinya nama seperti wanita lain, kau kira aku ini apa?! Aku manusia Davin! Aku juga punya perasaan. Aku seorang ibu. Apa kau tahu perasaan seorang ibu seperti apa saat putrinya diberi nama seperti wanita lain yang telah menjadi masa lalu dari suaminya sendiri?"
Velicia: "Aku selalu berpikir, apa aku benar benar bisa bahagia denganmu?"
Velicia: "Tapi nyatanya tidak! Aku tidak bahagia"
Velicia: "Lalu jika aku tidak bahagia, apa aku tidak berhak mencari kebahagianku sendiri?"
Davin: "Kau yang berselingkuh dan kau masih mencari pembenaran? Sangat lucu sekali" kekehnya tersenyum pahit.
Velicia: "Kau meninggalkanku dan Vania, apa aku harus tetap patuh pada aturanmu yang melarangku untuk keluar rumah? Aku dan Vania butuh hiburan, kami...
Davin: "Tempat hiburan banyak. Mall sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, cafe sudah banyak dimana mana. Mengapa harus kesini?"
Davin: "Mencoba untuk mengenang masa lalu kalian?" liriknya pada pria yang baru saja ikut hadir dengan berada tidak jauh dari belakang Velicia.
Davin: "Jangan beralasan kebetulan bertemu karna tidak ada yang namanya kebetulan lebih dari satu kali" selanya langsung tahu akan kalimat yang akan dilontarkan oleh istrinya.
Velicia: "Jika memang aku berselingkuh dan kamu pun berselingkuh lalu mengapa tidak kita akhiri saja hubungan ini"
Wanita yang telah bersimpuh ke tanah sudah tidak tahan lagi akan segala perkataan Davin, entah yang kali ini, kemarin atau yang sebelum sebelumnya.
Namun bukannya mendapat kesimpulan akhir, Davin malah tiba tiba menghilang dari penglihatannya yang sudah mulai kurang jelas.
Menyisakan lahan kosong yang tadinya tempat berparkir mobil yang dulu sering ia tunggangi bersama dengan suaminya.
Dengan pandangan beberapa pasang mata yang merasa heran akan hal yang baru saja terjadi.
Membuat kesimpulannya sendiri bahwa Velicia adalah tersangka utama dengan Evan yang kini berada di sampingnya berusaha menenangkan Velicia, sedangkan Davin adalah korban karna telah diselingkuhi oleh istrinya.