Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 77


Sedikit ada pergerakan saat dirinya merasa semuanya gelap.


Alas yang terasa lembut dan nyaman serta sentuhan hangat pada bagian permukaan kulit perutnya memaksa wanita itu untuk membuka matanya secara spontan.


Cermin yang memiliki bayangan dirinya tengah terbaring menghadap ke arah lebarnya cermin yang mengisi penuh satu bagian salah satu dinding yang berada di sebelah kirinya telah menampilkan secara langsung dirinya dan sebuah tangan seseorang yang mengelus perutnya secara perlahan.


Elusannya yang secara memutar dengan lembutnya di balik piyama tidurnya membuat wanita hamil itu lantas langsung membalikan badan untuk mengetahui siapa yang berada di balik tubuhnya.


Matanya yang terpejam, nafasnya yang terdengar sangat teratur serta mimik muka yang sangat polos tanpa adanya amarah, tanpa adanya kedinginan dan tanpa adanya senyuman itu membuat Velicia menarik panjang sudut bibirnya.


"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam.


Tangan kanan milik pria yang sangat diharapkan kehadirannya oleh Velicia beralih menjadi memeluknya namun tidak terlalu erat.


Kenyataan bahwa suami tercinta telah pulang dan berada di sampingnya tidak luput dari senyuman yang sama sekali tidak mau hilang dari wajah Velicia.


Dirinya bahagia, bahkan sangat bahagia saat ini karna Davin kembali seutuhnya tanpa ada yang kurang sama sekali.


Velicia: "Kapan kamu pulang?" tanyanya benar benar merasa ingin tahu.


Tangan yang tadinya hanya diam, perlahan bergerak mengelus punggung Velicia secara naik turun. Memberikan lebih dari kata nyaman untuk wanita hamil yang tadinya dipenuhi dengan rasa cemas.


Davin: "Aku pulang saat seorang wanita menantikan kepulanganku hingga dirinya tertidur di sebuah sofa tanpa bantal maupun selimut" masih memberikan jawaban dengan mata tertutup.


Velicia yang mendengar akan ucapan Davin pun mulai tersadar. Seingat dirinya memang terakhir kali dirinya sedang menanti kepulangan Davin di sofa bawah, namun kali ini dirinya telah terbaring di kasur yang sangat nyaman dan selimut yang sangat tebal.


Velicia: "Kamu baik baik saja kan?"


Masih terdapat segelintir rasa khawatir pada diri Velicia saat melihat rasa lelah yang begitu nampak pada wajah suaminya yang masih setia memejamkan matanya.


Davin: "Seperti yang kamu lihat Vei"


Entah Davin yang terlalu dibawa santai dengan terus menutup matanya lalu tanganya yang masih saja mengelus punggung Velicia atau Velicia masih terlalu tegang karna masih belum bisa percaya bahwa suaminya benar benar berada di hadapannya.


Velicia: "Kau membawa Vania bersamamu?" tanyanya lirih merasa takut akan jawaban yang diberikan oleh suaminya nanti atas pertanyaanya.


Davin: "Jelas aku membawanya" sahutnya yang kali ini mendekatkan diri dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Velicia. Mengecupnya pelan beberapa kali hingga menghirup aroma sang istri untuk lebih mendapatkan ketenangan.


Velicia: "Dimana dia?" tanyanya sudah tidak sabar ingin tahu.


Davin: "Ada" sahutnya singkat.


Velicia: "Dimana Vania?"


Davin: "Ada"


Velicia: "Ya adanya itu dimana?!" katanya mulai emosi akan jawaban yang diberikan oleh suaminya.


Davin: "Di kamar mommy" sahutnya yang kini memeluk erat tubuh sang istri.


Velicia yang terkejut pun langsung mendorong tubuh Davin. Melepaskan pelukan suaminya secara paksa hingga membuat Davin kali ini membuka matanya merasa heran.


Velicia: "Kenapa di kamar mommy?!"


Velicia: "Kenapa tidak dibawa kesini?"


Velicia: "Dia sakit?"


Velicia: "Iya?!"


Velicia: "Vania sakit Vin?!"


Pertanyaan yang datang bertubi tubi dari istrinya membuat Davin tercengang.


Sebegitu khawatirkan seorang ibu pada putrinya?


Sebegitu cerewetkah seorang wanita hamil yang sebenarnya?


Atau ini yang disebut dengan ikatan batin?


Velicia: "Jawab Vin?!"


Davin: "Suhu tubuh Vania kurang dari tiga puluh dua derajat celcius. Yang itu berarti dia mengalami hipotermia berat" sahutnya menjelaskan.


Velicia: "Hipotermia?!"


Velicia: "Vania terkena hipotermia?!"


Nada terkejut tidak bisa dibohongi dari suara tinggi nan raut wajah yang begitu syok dari ibu kandung Vania sendiri.


Velicia yang mendengar akan kenyataan bahwa putrinya memang benar sedang tidak baik baik saja lantas langsung bergegas hendak menemui buah cintanya.


Akan tetapi niatannya terhenti saat Davin mencekal tangannya yang hendak turun dari ranjang mereka berdua.


Davin: "Mau kemana?" tanyanya dengan tangan yang terus menahan lengan istrinya.


Velicia: "Menemui putriku. Memangnya apa lagi!" sahutnya sudah tidak tahan lagi ingin keluar dengan terus berusaha menepis tangan Davin dari lengan kanannya.


Davin: "Untuk apa?"


Davin: "Dia terkena hipotermia. Hanya dokter yang bisa menolongnya. Kita tidak bisa apa apa selain berdoa dan berharap bahwa Vania akan baik baik saja"


Velicia: "Tapi Vin...


Davin: "Kalau aku seorang dokter, kalau aku tahu ilmu kesehatan dan menguasainya aku tidak akan butuh orang lain lagi untuk merawat putriku"


Davin: "Tapi disini kasusnya sudah berbeda Vei"


Davin: "Kita butuh orang lain untuk menyelamatkan Vania"


Davin: "Lagi pula yang merawat Vania adalah grandpa dan grandma nya, menurutmu mommy dan daddy akan membiarkan sesuatu terjadi pada Vania?"


Perkataan Davin sedikit menurunkan rasa khawatir pada diri Velicia.


Suatu kenyataan bahwa kedua orang tua Davin adalah dokter yang handal memang tidak perlu diragukan kembali.


Terlebih lagi, dibidang seperti ini ibu mertua dari Velicia memang sangat mengusainya.


Velicia: "Aku hanya takut terjadi apa apa pada Vania kita"


Davin: "Tidak akan"


Melihat akan rasa gusar pada diri istrinya membuat Davin tidak tahan untuk bisa menenangkannya.


Dirinya memeluk Velicia dalam duduknya, berusaha meyakinkan istrinya bahwa putri mereka pasti akan baik baik saja.


Menyalurkan rasa percaya diri bahwa akan ada terang setelah badai. Bahwa akan ada kebahagian setelah cobaan.


Davin: "Vei?" panggilnya lirih.


Velicia: "Hm?" sahutnya yang suaranya tertimbun oleh dada bidang suaminya.


Davin: "Kau ingat sesuatu?" tanyanya yang kali ini melepaskan pelukannya dan menatap lekat kedua mata istrinya.


Velicia: "Ingat apa?" tanyanya mengernyit.


Davin: "Kau lupa atau pura pura lupa?"


Velicia: "Aku saja tidak tahu apa yang kamu bicarakan"


CUP


Davin: "Sekarang sudah ingat?" tanyanya setelah sekilas mengecup bibir Velicia.


Sedangkan Velicia yang memang merasa tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya hanya menggeleng dengan bingung.


Dan karna jawaban istrinya itu yang terlihat seperti orang linglung membuat Davin hanya menarik nafas perlahan sambil memejamkan matanya.


Davin: "Selamat ulang tahun istriku tercinta"


CUP


Davin: "Semoga dengan bertambahnya usiamu dan bertambah dewasanya dirimu kamu bisa lebih baik lagi dalam menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu untuk anak anak kita" katanya terlontar setelah mencium kening Velicia.


Rasa haru itu tiba bersamaan dengan rasa senang yang tidak mau berkesudahan.


Dirinya baru saja ingat, bahwa ini adalah tanggal ulang tahunnya.


Tanggal dan bulan yang biasanya ia habiskan waktu bersama dengan keluarganya. Selalu dia habiskan dengan kedua orang tuanya mau pun Evna mantan kekasihnya.


Tapi kali ini, dirinya untuk pertama kalinya melewati hari ulang tahunnya dengan seseorang yang telah menjadi suaminya.


Seseorang yang tidak pernah terpikirkan akan menjadi penopang dalam hidupnya.


Seseorang yang kali ini sangat ingin selalu ada di sisinya kapan pun dan dimana pun.


Velicia: "Dan aku berharap dihari ulang tahunku, aku bisa bernasib sama seperti mommy mu" harapannya.


Davin: "Kenapa?"


Davin: "Kau ingin memiliki banyak anak seperti mommy?"


Davin: "Atau kau ingin memiliki putra seperti ku yang selalu menyayangi mommy nya?" tebaknya.


Velicia tersenyum akan sikap percaya diri Davin, dirinya hanya menggeleng pelan dalam dekapan suaminya yang masih saja terus menatapnya.


Velicia: "Aku ingin bernasib sama seperti mommy karna memiliki suami seperti daddy mu" katanya yang membuat Davin mengernyit.


Davin: "Kalau itu harapanmu, maka maaf aku tidak akan mewujudkannya" sahutnya yang kini melepas pelukannya.


Velicia: "Kenapa?" tanyanya heran.


Davin: "Karna aku bukan seorang pria hypersex seperti daddy ku, jadi jangan mengharap banyak padaku"