Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 61


"Jadi apa pria brengsek ini tidak pernah menceritakan sesuatu tentangku padamu?"


Velicia yang sedari tadi hanya diam memandangi wajah Davin yang tak kunjung sadarkan diri terkejut akan sosok wanita yang belum lama ini ia maki maki karna sebuah kesalah pahaman.


Dirinya yang merasa bersalah kala itu hanya menggeleng pelan karna merasa malu telah menuduh wanita baik seperti Vania sebagai perebut suami orang atau pelakor.


Vania: "Dasar ****!" makinya setelah memukul pelan lengan Davin yang membuat Velicia membulatkan matanya.


Vania: "Pantas saja istrimu menerkamku sesuai dugaanmu" ocehnya lagi pada pria yang bahkan sudah cukup lama tidak merespon ucapan semua orang termasuk Velicia.


Velicia: "Dia bercerita tentangku padamu?"


Vania: "Tentu saja!" sahutnya cepat lalu mengambil alih tempat duduk di sebelah Velicia yang bersebelahan dengan ranjang Davin.


Vania: "Hai **** pemalas. Bangun! bangun!"


Vania: "Jelaskan pada istrimu ini seperti apa hubungan kita. Jangan sampai dia menjambak rambutku lagi, bisa botak nanti orang cantik" celotehnya lagi dengan menepuk nepuk kaki yang telah terbaring cukup lama.


Akan tetapi Velicia yang melihat akan hal itu langsung menghentikannya, menahan tangan kanan Vania untuk berhenti mengusik Davin yang masih ingin berada di bawah alam sadarnya.


Menggeleng pelan sambil menjauhkan tangan Vania dari ranjang tempat suaminya berada.


Vania: "Kau sangat mencintainya yah?" tiba tiba kalimat itu dilayangkan pada Velicia yang langsung merasa canggung.


Kebingungan untuk menjawab hal yang sebenarnya sangat sederhana dan hanya memiliki dua jawaban antara tidak atau iya tidak mampu melesat bebas dari bibir Velicia.


Vania: "Tidak perlu dijawab, aku tahu kau tidak mencintainya" kesimpulannya sendiri membuat Velicia refleks menengok ke arahnya.


Vania: "Karna jika kau mencintainya kau tidak mungkin meminta cerai darinya bahkan di depan khalayak umum"


Sekelibat bayangan saat Velicia dan Davin berdebat di depan sebuah cafe yang dulu kerap ia dan Evan mantan kekasihnya kunjungi saat menjalin suatu hubungan melintas dalam pikirannya.


Bagaimana dirinya meminta untuk berpisah karna salah menuduh Davin telah berselingkuh darinya.


Vania: "Tapi jika kau memang tidak mencintainya, lalu untuk apa kamu berada disini?"


Vania: "Merasa iba kah?"


Vania: "Merasa tak enak hati pada keluarganya kah?"


Vania: "Atau kau merasa bersalah karna telah menuduhnya berselingkuh?"


Bukan hanya satu, bahkan segala pertanyaan Vania yang meluncur bebas ingin mencari suatu jawaban tak mampu Velicia berikan.


Dirinya hanya bisa bungkam sambil melihat ke arah Davin berada.


Vania: "Tinggalkan saja dia"


Nada suara rendah dan terdengar menuntut itu mengusik perasaan Velicia.


Vania: "Sudah tidak ada lagi tali yang dapat menghubungkan kalian, sudah tidak ada lagi yang dapat Davin lakukan untuk mengekangmu. Lalu untuk apalagi kamu berada disini?"


Vania: "Jika kau merasa iba, lebih baik kau buang jauh jauh perasaan iba mu untuk pria seperti Davin karna dia tidak membutuhkannya"


Vania: "Dan jika kau merasa bersalah pada Davin dan keluarganya, maka singkirkan pula perasaan itu. Karna sejak awal hubungan kalian hanya Davin lah yang bersalah"


Vania: "Davin bersalah karna telah memperkosamu, Davin bersalah karna memaksakan kehendaknya padamu, Davin bersalah karna tidak pernah jujur dan tidak mau menjelaskan kesalah pahaman diantara kalian. Namun Davin tidak bersalah jika kau langsung curiga padanya dan tidak percaya padanya, padahal jelas jelas dia sudah mengatakan bahwa dia tidak berselingkuh darimu bukan?"


Teman satu ASI yang telah dianggap saudara oleh Celine dan Davin terus saja memojokkan Velicia.


Menyindirnya dengan ucapan ucapan yang langsung terkena di hati Velicia namun menggunakan raut wajah tersenyum seolah sedang bercanda dengan Velicia.


Namun Velicia sendiri tahu bahwa Vania sedang menyindirnya, membodohi Velicia karna tidak percaya akan ucapan suaminya yang sebenarnya jujur pada dirinya.


Tapi apa ini sepenuhnya kesalahan Velicia?


Jika saja Davin menjelaskan yang sebenarnya mungkin itu semua tidak akan terjadi bukan?


Tidak akan ada kesalah pahaman, tidak akan ada kecelakaan dan yang pasti putri mereka seharusnya kini masih bersama dengan Velicia bukan?


Lalu pantaskah Velicia dianggap salah sepenuhnya oleh Vania?


Velicia tersenyum kecil, menatap lekat wajah Davin yang masih menggunakan alat bantu pernapasan.


Dengan perlahan dirinya mengelus punggung tangan suaminya, meraba betapa hangatnya kulit dari seorang pria dingin yang tidak mau menjelaskan perselisihan diantara mereka kala itu.


Davin memang lah salah karna tidak menjelaskannya, namun dirinya lebih bersalah karna tidak mendengarkan ucapan dari suaminya.


Velicia: "Aku akan tetap disini" ucapnya benar benar tulus.


Velicia: "Menunggunya hingga dia lelah karna terus menghindariku dengan cara tidur lelapnya"


Velicia: "Aku akan tetap disini selama dia masih berada disini, menemaninya dan menunggunya hingga terbangun lalu meminta maaf padanya atas semuanya. Entah itu kesalahanku, atau kesalahannya aku akan meminta maaf padanya"


Cepatlah bangun Vin, buka matamu dan marahi lah aku sesuka hatimu. Karna setelah itu kita harus menemui putri kita, mengunjunginya dan menghiburnya bahwa dia tidak sendirian meski kita sudah berbeda tempat dengannya batin Velicia dengan terus memperhatikan Davin yang masih terpejam.


Vania: "Atas dasar apa?" selanya langsung.


Velicia: "Atas dasar aku ingin belajar mempercayainya. Mengulang semuanya dengan tangan terbuka dan tanpa ada yang ditutup tutupi" sahutnya mantap dengan hingar bingar mata yang telah bersinar menantikan akan hal yang dia angankan.


Vania: "Kau serius?" tanyanya yang langsung ditanggapi dengan senyuman yang tak kalah lebar.


Vania: "Kau mungkin akan lebih tersiksa lagi saat kau mengatakan padanya bahwa kau telah mencintainya. Karna bagi Davin, beribu ribu wanita cantik akan kalah dengan satu wanita yang sungguh sungguh mencintainya. Dan kau pasti tahu, sikap otoriternya akan semakin berlaku disetiap harimu nanti" ucapnya mengingatkan.


Velicia: "Aku tahu" sahutnya cepat.


Velicia: "Dan aku menantikan akan hal itu"


Karna bagi Vania ini adalah berita besar yang harus ia sebarkan saat Davin telah sadar dan siap bersenda gurau lagi dengan dirinya.


Begitu pula dengan Velicia, dirinya mengetahui akan satu hal baru dari Vania mengenai Davin.


Yaitu Davin suka diperhatikan oleh orang yang ia sayangi, dan Davin tidak suka berbagi kasih dengan orang lain termasuk pada saudaranya.


Mungkin itu pula yang membuatnya memaksa baby Vania meminum ASI melalu botol susu karna Davin tidak ingin berbagi akan hal manis bahkan dengan putrinya sendiri.


"Eeeeh" erangan dari arah lain mengalihkan pandangan mereka berdua.


Mata hitam pekat yang telah terbuka dengan nafas yang kian memberat membuat kedua wanita itu lantas lebih mendekatkan diri.


Velicia: "Kau sudah sadar? Aku akan panggilkan dokter untukmu"


Velicia lantas bergegas menekan tombol yang berfungsi untuk memanggil dokter dari pihak rumah sakit. Berharap lekas hadir dan bisa cepat memeriksa keadaan sang suami yang telah tertidur dengan cukup lama.


Vania: "Akhirnya **** pemalas ini bangun juga" celotehnya dengan menepuk kaki Davin yang tidak terluka.


Namun yang diajak berbicara terus saja diam, memperhatikan setiap pergerakan Velicia bahkan saat Velicia pun ikut memperhatikannya dengan senyumannya yang tidak mau luntur karna Davin telah sadar dari komanya.


Vania: "Kau tahu.. dia hampir membunuhku. Jadi lekas lah sembuh agar aku bisa menghajarmu sebagai timbal balik" ocehnya terus.


Velicia: "Kenapa?"


Karna merasa terus terusan diperhatikan, Velicia mulai ingin tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya saat baru bangun dari tidur lamanya.


Velicia: "Sekarang aku tahu kalau aku salah, jadi aku meminta maaf terlebih dahulu padamu"


Wanita itu lebih mendekatkan diri lagi, duduk dengan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Davin dengan kedua tangannya. Seolah ingin menyalurkan rasa bersalahnya pada pria itu.


Velicia: "Kau memaafkan ku kan? Sebagai gantinya aku akan menuruti semua keinginanmu"


Velicia: "Kau ingin aku menjauhi Evan kan?"


Velicia: "Aku telah menjauhinya sejak lama bahkan sebelum kamu memintanya. Yang waktu itu benar benar kebetulan, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan aku pun tidak banyak bicara dengannya. Sungguh aku tidak berbohong" terangnya terus ingin menjelaskan.


Segala panjang lebar yang Velicia bicarakan sama sekali belum mendapatkan tanggapan dari Davin, atau bahkan amukan atau amarah pun belum ada.


Velicia: "Aku tahu mungkin tak seharusnya membicarakan ini diwaktu kamu pertama kali membuka mata setelah tidur lama"


Velicia: "Namun aku tidak bisa menahannya, aku tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama darimu. Karna kamu lebih menyayanginya dariku, kamu lebih mengutamakannya dari segala kesibukanmu. Kamu berhak tahu secepatnya dan aku tidak ingin kamu tahu dari mulut orang lain selain aku"


Velicia menarik nafas perlahan, menatap sayu sepasang bola mata yang masih sedari tadi memperhatikannya tanpa henti.


Velicia: "Vania telah meninggal Vin" lirihnya yang membuat pria itu merespon untuk pertama kalinya.


Matanya membulat, keningnya mengernyit dan untuk seketika pandangannya beralih pada sosok lain yang duduk di sebelah Velicia sedari tadi tanpa berbicara dan hanya mendengarkan saat Velicia terus berucap pada suaminya.


Davin: "Vania"


Davin: "Bisakah kau usir dia untukku?" kalimat lirihnya membuat dua sosok wanita itu terkejut.


Terutama Velicia, namun wanita itu berusaha untuk memahami akan kondisi Davin. Mungkin saat ini Davin sangatlah marah padanya, dan Velicia harus memaklumi akan hal itu.


Velicia: "Apa aku tidak termaafkan?"


Davin: "Tidak" sahutnya cepat namun lirih yang membuat Velicia semakin terkejut.


Davin: "Aku tidak suka bercanda yang berlebihan" lanjutnya masih dengan kondisi lemasnya.


Velicia: "Aku tidak bercanda Vin. Sungguh, Vania telah meninggal"


Davin: "Lalu siapa yang di sebelah mu?"


Davin: "Apa kamu buta?"


Velicia tersentak akan kalimat yang dilontarkan Davin padanya. Sebegitu marah kah Davin terhadapnya hingga berbicara secara kasar padanya.


Davin: "Tolong usir dia, kepala ku sangat pusing" katanya pada Vania.


Vania: "Kau ingin ku hajar? Katakan kau ingin tidur untuk waktu berapa lama, aku akan menyesuaikan pukulanku terhadapmu" emosinya mulai meluap.


Davin: "Bisakah kau pergi sendiri? Aku ingin kesadaranmu saja"


Hati Velicia langsung begitu perih. Setelah dirinya memutuskan untuk kembali pada Davin dan memulai semua dari awal, memulai semua dengan kasih sayang layaknya semua pasangan tapi kali ini Davin lah yang tidak menginginkannya.


Davin: "Dan Vania?"


Davin: "Dimana Vallen?"


Vania: "Va.. Va.. Vaa. Vallen? Kau mencari Vallen?! katanya begitu terbata dan sangat terkejut.


Davin: "Ia. Dimana dia? Mengapa dia tidak ada namun ada wanita ini?"


Davin: "Siapa dia? Saudara jauhmu kah?"


Vania: "Dav.. percaya atau tidak aku akan benar benar memukulmu jika kau memanggil nama wanita itu lagi"


Davin: "Dia kekasihku, wajar bukan jika aku menyebutkan namanya. Apa masalahnya?"


Davin: "Dan kamu" katanya tertuju pada seorang wanita yang membisu dengan sejuta perasaannya yang tidak karuan.


Davin: "Bisakah kau pergi sebelum kekasihku datang kemari? Aku tidak ingin dia salah paham saat melihatmu duduk disini dengan tanganku yang kau pegang sedari tadi"