Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 70


"Aku tidak mau!" suara yang penuh akan penekanan disetiap suku katanya membuat Davin terdiam.


Untuk pertama kalinya setelah menikah Velicia berani menentang perintah Davin.


Karna terakhir Velicia membantah ucapan Davin adalah saat upaya Davin yang gencar memperkosanya dan mengurungnya karna ingin membuat Velicia mengandung anaknya dulu.


Tapi kini, Velicia yang ia kenal sebagai wanita yang berjuang dalam rasa sedih hanya untuk bertahan di sampingnya. Velicia yang sudah mencintai dan menahan semua rasa sakit hati karna ulah Davin yang menguji kesetiaannya kini berani menentangnya kembali.


Menentang keputusan Davin yang hendak mengirimnya kembali ke kota kelahiran Davin dan tempat tinggal keluarganya.


Velicia: "Aku mau tinggal dimana kamu tinggal" ucapnya tegas dengan raut wajah serius.


Davin: "Aku akan menjemputmu ke Surabaya nanti setelah semuanya selesai"


Velicia: "Aku tetap tidak mau!" kekehnya pada keputusannya sendiri.


Davin: "Jangan keras kepala Vei"


Velicia: "Kamu yang keras kepala Vin. Aku sudah bilang tidak mau, ya tidak mau. Kenapa kau terus memaksa ku untuk pergi ke Surabaya?"


Velicia: "Kau ingin menikah kan ku dengan daddy mu?"


Velicia: "Atau kau memang sengaja berpura pura sudah ingat padaku hanya untuk mengusirku secara halus supaya tidak ketahuan oleh keluargamu?" nada menuduh dan menelisik itu membuat Davin tidak nyaman saat mendengarnya yang tengah mulai menjalankan mobilnya.


Davin: "Keluargaku tidak ada yang tahu aku pura pura amnesia, terkecuali daddy ku yang tahu sendiri" ucapnya dengan melihat kaca spion mobil hendak parkir keluar.


Davin: "Hallo dad?" sapanya tiba tiba saat panggilan keluar itu disambut oleh lawan bicaranya.


"..."


Davin: "Apa yang daddy katakan pada Velicia?"


"..."


Davin: "Aku anakmu. Kau tahu bukan bahwa aku tidak bisa dibohongi sepertimu"


"..."


Davin: "Hari ini Velicia akan aku kirim ke Surabaya, daddy...


Velicia: "Aku tidak mau!" selanya saat sang suami tengah masih berbicara pada ayah mertuanya.


Davin: "Daddy jemputlah dia nanti di bandara" lanjutnya tidak menghiraukan istrinya.


Velicia: "Aku tidak mau Vin. Aku tidak mau!"


"..."


Davin: "Tidak bisa dad!"


"..."


Davin: "Velicia hamil. Ini di luar perkiraanku, aku tidak bisa"


"..."


Davin: "Cukup Vania dad. Cukup Vania, jangan lagi yang ini atau Davin tidak akan bisa lagi membedakan manusia"


Velicia terpana akan ucapan suaminya.


Jadi tidak hanya suaminya yang masih ingat dengan dirinya, namun Davin pun masih sangat ingat dengan Vania putri mereka?


Davin tidak lupa ingatan. Lalu bagaimana cara pria ini memendam rasa kehilangannya?


Rasa kehilangan pada bayi yang teramat Davin sayangi melebihi dari istrinya sendiri?


Velicia: "Aku tidak akan pergi kemana pun tanpa dirimu" kalimat pembuka saat Davin baru saja mematikan panggilannya.


Davin tak menjawab dan hanya terus fokus pada jalanan yang berada di hadapannya.


Velicia: "Vin?!" serunya karna merasa tak dihiraukan.


Velicia: "Davin?!" serunya lagi lebih keras karna masih tak dihiraukan.


Velicia yang sudah emosi karna Davin tak menghiraukannya membuat Davin pun ikut tersulut emosi akan ucapan Velicia yang seolah menjadi seorang ibu yang terlali kekanak kanakan.


Davin: "Jaga ucapan mu. Dan jangan keras kepala" sahutnya sangat dingin dan tidak mau melihat ke arah istrinya.


Velicia: "A K U T I D A K M A U P E R G I!" pengejaannya penuh penekanan disetiap kata.


Davin: "Menurutlah jika kau memang mencintaiku dan mencintai calon anak kita"


Davin: "Aku tidak ingin kehilangan lagi. Maka ikuti perkataanku" tuturnya masih terdengar sangat dingin.


Velicia: "Kamu adalah seorang ayah yang sangat payah Vin"


Celaan yang mendalam dari bibir manis Velicia langsung menarik perhatian Davin seutuhnya.


Davin tiba tiba mengerem secara mendadak membuat Velicia sedikit terhuyung ke depan, bila saja sealbelt yang dikenakan olehnya tidak terpasang mungkin dirinya telah tersungkur ke depan.


Davin: "Jangan membuatku marah Vei"


Velicia: "Payah!" celanya lagi semakin membangkitkan amarah seorang Davin.


Velicia: "Kamu adalah ayah yang payah! PAYAH!"


Tubuh Davin menegang, nafasnya memburu akan kalimat menghina pada dirinya yang mempertanyakan sikap ke ayah annya dari mulut manis yang dulu tidak pernah berani menentangnya.


Velicia: "Kalau kamu pernah merasa kehilangan seharusnya kamu berusaha agar tidak kehilangan lagi. Bukan malah menyerah dan bergantung pada ayahmu" ocehnya menyudutkan pria yang tadinya siap menyembur mulut Velicia karna ucapannya.


Velicia: "Aku ini istri kamu! Dia ini anak kamu! Kenapa kamu titipkan aku dan dia pada daddy David?!"


Velicia: "Kamu mau menyerahkan aku pada daddy David supaya kamu bisa enak enakan dengan kakakku. Iya?!"


Davin: "Vei?"


Velicia: "Aku ini istri kamu"


Davin: "Dengarkan penjelasanku...


Velicia: "Aku istri kamu"


Belum juga Davin marah perihal dirinya yang dihina sebagai ayah yang tidak baik untuk anaknya dan suami yang tidak pantas untuk Velicia, namun wanita yang dicintai Davin dan tengah hamil anak keduanya kini menangis karna Davin yang hendak menitipkannya pada ayahnya di Surabaya.


Davin: "Aku melakukan itu untuk kebaikan kamu dan calon anak kita Vei" bujuknya pelan saat wanita itu semakin berderai air mata.


Velicia: "Apa yang kamu tahu tentang kebaikanku?!"


Velicia: "Memperkosa ku dulu, membuat diriku terpuruk dan mengalami serangan batin hingga berencana membunuhmu karna rasa takut kau sebut demi kebaikanku?"


Mata yang kian sembab, hidung yang bertambah tersumbat karna ingus dan wajah yang semakin memerah karna amarah membuat Davin hanya diam karna rasa bersalah.


Velicia: "Aku tidak mau pergi!"


Velicia: "Intinya aku tidak mau pergi. Tidak mau!"


Davin: "Baiklah" suara pelan yang diikuti belaian lembut pada bahu sebelah kiri Velicia belum bisa seutuhnya menenangkan wanita hamil itu.


Davin: "Tapi ada satu syara...


Velicia: "Aku tidak mau terima syarat apapun!" selanya masih dengan kondisi menangis.


Velicia: "Aku tidak akan pergi dan juga tidak akan menerima syarat satu pun darimu atau orang lain"


Davin: "Jangan menyulitkanku Vei"


Velicia: "Aku tidak perduli"


Velicia: "Aku akan tinggal bersamamu, denganmu dan sekamar denganmu. Aku tidak mau lagi tidur sendiri. Kau dengar?!"


Velicia: "Jangan harap aku akan membiarkanmu sekamar lagi dengan kak Lenci meski kau tidak melakukan apapun dengannya"


Velicia: "Aku tidak akan tinggal diam!"