
"Bersiaplah, kita akan pulang ke Indonesia petang nanti"
Kalimat yang terdengar biasa itu mengalihkan segala pikiran Velicia yang masih diambang ketidak percayaan atas tindakan Mike yang membohonginya.
Davin: "Aku tidak ingin berdebat jadi lekas bersiaplah" lanjutnya yang semakin membuat Velicia bertambah jengkel.
Velicia: "Aku tidak ingin pulang" kalimat yang terlontar saat Davin baru saja turun dari ranjangnya.
Davin: "Aku tidak ingin berdebat Vei" lirikan matanya yang tajam sama sekali tak berpengaruh bagi Velicia yang memang ingin benar benar melawannya dan tak mau berada dalam kuasanya.
Velicia: "Jika pun aku ingin pulang. Aku tak ingin pulang bersamamu" sahutnya lagi.
Davin: "Benarkah?"
Davin: "Kau serius tidak ingin pulang bersamaku?"
Davin berjalan mendekat kearahnya, menampilkan raut biasa yang penuh ketenangan namun ada sisi gelap didalamnya.
Davin: "Tapi aku ingin kau pulang bersamaku" belainya pada pipi mulus yang mungil.
Velicia yang jijik pun menampiknya dan berusaha menghindar dari sentuhan pria yang kemarin sore baru saja menikmati tubuhnya lagi.
Velicia: "Menyingkirlah!" pekiknya berusaha menjaga jarak.
Yang Velicia takut kali ini Davin bisa saja menidurinya kembali seperti hari kemarin.
Jadi sebelum itu terjadi, Velicia harus benar benar menjaga jarak dari pria yang tak mau mendapat penolakan atau nanti dirinya akan mendapat pemaksaan.
Davin: "Apa kamu fikir cctv itu hanya akan merekam setiap kesibukanmu saja selama ini? Apa kamu tidak berfikir bahwa hal indah yang kemarin baru saja kita lewati bersama juga terekam didalamnya?"
Velicia tertegun dan menatap Davin horor, masih berada dalam kondisi antara tak percaya dan bingung yang bersinggungan.
Bagaimana mungkin Velicia melupakan itu batin gadis itu membayangkan segala kemungkinan.
Davin: "Ikut aku pulang, jika tidak kau pasti tahu apa yang akan aku lakukan untuk berikutnya"
Davin pergi dengan membawa cctv yang sebeser kepalan tangan itu menuju keluar kamar, sedangkan Velicia masih diam tertegun didalam kamar.
Masih terdiam dengan segala pikiran yang negatif dan pikiran buruk mengenai perkataan Davin.
Davin: "Jangan jauh jauh dariku, atau aku akan berbuat hal yang tak kau inginkan" katanya saat baru saja berada di bandara dan sedang mengantri check in.
Velicia: "Kau sedang mengancamku Davin?"
Davin: "Ya" sahutnya mantap lalu menggandeng tangan Velicia erat, bahkan sangat erat seolah gadis itu dilarang pergi jauh darinya.
Perjalanan yang sangat biasa saja, tak ada percakapan sama sekali antara dua manusia berlawan jenis itu. Bukan hanya saat delay pesawat yang tiba tiba terjadi karna perubahan cuaca, namun mereka juga saling bungkam saat didalam maskapai penerbangan.
Tak saling bertegur sapa atau saling melontarkan kalimat, hanya saja bagi mereka orang yang berlalu lalang melihatnya pasti mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
Terbukti dari tangan Davin yang tak pernah mau melepaskan genggaman eratnya pada gadis yang sedari tadi ditariknya kesana kesini sesuai keinginannya.
Bahkan saat hendak menuruni kabin pesawat yang mereka tunggangi telah sampai di tanah air, Davin masih dengan possensifenya menggandeng Velicia menuju tempat pengambilan barang bawaan.
Velicia: "Terima kasih atas tiket gratisnya" ucap gadis itu lalu hendak berlalu membawa koper kecil yang baru saja dia ambil.
Davin tak membiarkannya begitu saja. Dirinya lantas langsung mencekal pergelangan tangan gadis itu untuk tidak langsung pergi dari sisinya.
Velicia: "Apa?" tanya gadis itu sungguh jengah dengan perilaku Davin terhadapnya.
Velicia: "Apa masih kurang dirimu mencekik diriku akhir akhir ini?"
Davin tak menjawab atas ocehan gadis yang merasa dirinya tak terima atas perlakukan Davin terhadapnya.
Davin pula langsung menggandeng Velicia ke salah satu tempat duduk yang digunakan oleh beberapa orang yang telah check in untuk menunggu.
Velicia: "Apa maksudnya ini Davin?!" bentaknya saat Davin baru saja memberikan sebuah tiket pesawat lagi terhadapnya.
Davin: "Kenapa masih bertanya? kau lihat saja sendiri. Kau bisa membaca bukan wahai desainer muda yang berbakat?" sidirnya lalu duduk dengan tenang disebelah Velicia berada.
Sebuah tiket penerbangan Jakarta Surabaya yang akan take off tak lama lagi.
Velicia: "Aku ingin pulang kerumah ku sendiri" ucapnya bangkit yang langsung ditahan lengannya oleh Davin hingga membuat beberapa orang disebalahnya menatap mereka berdua.
Davin: "Duduk" perintahnya dengan arah pandangannya yang menginginkan gadis itu untuk duduk kembali di kursinya.
Velicia: "Aku mau pulang!" bentaknya sedikit lebih keras hingga membuat orang orang disekitarnya melihat pertengkaran kecil yang mereka buat.
Davin: "Baiklah" katanya sambil tersenyum.
Davin: "Silahkan kau bisa pulang kerumah mu sekarang juga" lanjutnya dengan semakin melebarkan senyumannya.
Davin: "Tapi...
Davin menggantungkan kalimatnya sebelum akhirnya mengambil sebuah ponsel miliknya yang terletak di jaket kulit yang dia kenakan.
Davin: "Tapi ku harap kau tidak melupakan sesuatu Vei"
🍂🍂🍂
Velicia: "Kau membawaku kemana?" kalimat pertama setelah mereka sama sama bungkam bahkan sejak debat singkatnya saat Velicia awalnya menolak untuk ikut atas kemauan Davin.
Davin: "Tak lama lagi kau juga akan tahu jawabannya" sahutnya kaku saat mereka sama sama berada dalam taxi bandara.
Velicia: "Vin...
Davin: "Bisakah kau diam seperti sebelumnya?" selanya menghentikan kalimat kedua yang akan diucapkan Velicia.
Gadis itu hanya tak habis pikir akan pikiran Davin yang membawanya secara tiba tiba bahkan tak memberitahunya terlebih dahulu bahwa akan dibawa menuju kota kelahiran pria yang tak mau kalah yang berada disampingnya yang kini tengah memejamkan matanya.
Yang Davin lakukan hanya mengancam mengancam dan mengancam dirinya dengan video rekaman cctv miliknya yang belum diketahui benar atau tidaknya keberadaan rekaman itu.
Tapi untuk sementara Velicia berniat mengulur waktu sambil memikirkan cara bagaimana dirinya bisa lepas dari Davin tanpa mengganggu masa depannya yang telah cerah siap menyambut dirinya.
Taxi yang mereka naiki mulai masuk kedalam sebuah gerbang besar dari sebuah rumah yang terlihat tertutup dari luar namun terlihat sangat indah setelah memasuki gerbang hitam yang lebar dan besar itu.
Jauh lebih besar dari rumah orang tuanya yang berada di Jakarta.
Terdapat kolam ikan dengan ukuran yang tak begitu besar, dikelilingi tanaman tanaman hias maupun bunga bunga yang tertata rapih dan bersih. Sangat terlihat terawat dan sangat sejuk dipandang oleh mata yang baru disuguhkan dari hiruk pikuk kota.
Terdapat pohon mangga yang sedang maraknya berbunga lebat dan semakin mempercantik keadaan.
Davin: "Ayo" ajaknya dengan mengulurkan tangan.
Velicia: "Aku bisa jalan sendiri" sahutnya tapi tak dihiraukan oleh Davin karna dia langsung menarik telapak tangan Velicia untuk dapat dia genggam.
Tak banyak bicara bahkan didepan para pekerja rumahnya yang ikut serta membawakan koper untuk keduanya.
Anak tangga demi anak tangga dilaluinya.
Velicia pun tak mau tertinggal untuk mengamati setiap interior yang ada.
Diruangan yang pertama dia masuki setelah melewati pintu pertama terlihat seperti klinik praktek, mulai dari aroma dan kondisinya yang tenang dengan dipenuhi warna warna kalem dan gelap.
Lalu mereka memasuki sebuah pintu lagi yang memiliki dua pilar dan lebih besar.
Disini sangat berbeda dengan yang tadi.
Ada begitu banyak hiasan bunga bunga plastik yang menyerupai bunga aslinya.
Kerang kerang besar yang ikut serta meramaikannya pun tak luput dari penglihatan Velicia.
Dan pada saat Velicia untuk kedua kalinya menaiki anak tangga yang ada, terdengar suara teriakkan yang langsung menghentikan langkahnya begitu pula dengan pria yang masih saja menggandengnya.
"Mommy.. kak Davin pulang nih mom!" teriak seorang gadis.
Davin pun akhirnya kembali berjalan dan juga memaksa Velicia untuk ikut serta bersamanya hingga anak tangga terkahir yang sudah berada dilantai dua.
"Davin?" sapa seorang wanita yang sudah terlihat paruh baya meski masih terlihat cantik.
Davin: "Davin pulang mom" katanya berdiri didepan mommy nya.
Mommy: "Siapa gadis ini?" tanya Melliza tak sabar ingin mengetahuinya.
Davin diam sejenak untuk melihat Velicia yang sedang melihat mommy nya.
Davin: "Dia adalah ibu dari anak anak Davin mom"
Satu kalimat yang dengan lancarnya Davin lontarkan membuat Melliza begitu pun Velicia sontak terkejut dibuatnya.
Velicia langsung berusaha melepaskan tangannya namun tidak bisa.
Mommy: "Davin?" instruksinya saat melihat putranya memaksa gadis yang berada disebelahnya.
Davin: "Davin akan jelaskan nanti mom, untuk saat ini biarkan Davin beristirahat" sahutnya lalu berlalu begitu saja tanpa mendengarkan kalimat kalimat Melliza berikutnya dengan memaksa Velicia untuk ikut masuk ke dalam kamar miliknya.